Ternyata tidak cuma geologist yang didatangkan dari Indonesia..:D...Inilah
yang akan terjadi jika ingin mendapatkan yang terbaik tapi cuma mau bayar
murah. Cara 'terbaik' untuk menarik perhatian pemerintah terhadap
kesejahteraan para dosen kita???
min 

Malaysia Menculik Doktor-Doktor Indonesia
19 Jun 2003 21:33:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen 
Pendidikan Nasional, Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan bahwa banyak 
orang pintar Indonesia yang mendapat gelar doktor dari luar negeri, yang 
kemudian memilih tinggal dan bekerja di Malaysia, Singapura atau Brunei. 
"Parahnya, mereka ini yang benar-benar jago-jago. Doktor-doktor lulusan
Yale, 
Cranfield, Stanford, MIT dan lain-lain," ujar Satryo ketika ditemui seusai 
acara Seminar Nasional Hasil Penelitian Perguruan Tinggi di Komplek
Bidakara, 
Jakarta, Kamis (19/6) siang.

Menurut Satryo, mereka yang kabur ini semuanya adalah doktor bidang ilmu 
eksakta seperti teknik, fisika, computer dan sejenisnya. Data yang pada
pihak 
Dikti, saat ini sekitar 20-an doktor Indonesia lulusan luar negeri telah 
"diculik" Malaysia. "Sisanya, sekitar 2-3 orang bekerja di Brunei dan
sekitar 
lima orang bekerja di Singapura," katanya.

Eksodus orang-orang jenius ini, menurut Satryo, disebabkan PTN tempat mereka

bekerja sebelumnya tidak mampu memberikan renumerasi yang layak. "Guru besar

(profesor) seperti saya hanya menerima Rp 2,5 juta per bulan. Sementara gaji

mereka di Malaysia, kalau dikonversi ke rupiah, sekitar Rp 50 juta per
bulan. 
Itu belum termasuk fasilitas perumahan dan pendidikan gratis untuk anak 
mereka," katanya dengan senyum miris.

Selain alasan renumerasi, banyak dari mereka yang merasa membutuhkan situasi

tempat kerja yang benar-benar membawa tantangan. Mereka, kata Satryo, ingin 
sekali agar ilmu yang mereka dapatkan benar-benar dapat didayagunakan secara

optimal.

"Dan harus diakui, Malaysia dan Negara-negara lain mampu menghadirkan hal 
tersebut," ujar Satryo. Salah satunya contohnya, adalah Malaysia saat ini 
telah mengembangkan Pusat Biotech Valley di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, 
semacam Silicon Valley di Amerika Serikat.

Pihaknya, menurut Satryo, sebenarnya sudah mencoba habis-habisan untuk 
membujuk mereka tetap tinggal. Tetapi karena kebanyakan dari mereka sudah 
menyelesaikan ikatan dinas mengajar selama sembilan tahun, maka ia tidak
punya 
kekuasaan untk menahan.

"Bahkan saat ini saya sudah menerima 20-an permohonan ijin dari
doktor-doktor 
lain untuk bekerja di Malaysia. Bahkan perusahaan disana, sudah bersedia 
mengganti biaya kompensasi beassiwa pendidikan dan ikatan dinas yang sudah 
dibayar pemerintah," katanya lagi-lagi dengan nada miris.

Padahal biaya yang telah dikeluarkan pihak penyedia dana di luar negeri 
(tempat belajar sebelumnya) dan pemerintah tidaklah sedikit. "Untuk satu
tahun 
pendidikan doktor di luar negeri, mereka bisa menghabiskan biaya sekitar US
$ 
30 ribu," ujar Satryo.

Satryo menilai, hal ini harus mendapat perhatian yang serius karena kalau
ini 
dibiarkan, Indonesia akan kehilangan banyak SDM berkualitas yang notebene 
tidak mudah untuk menghasilkannya. "Sementara Malaysia yang akan 
ongkang-ongkang kaki menikmati kerja keras kita," ujarnya.

Pihak Dikti sebenarnya hendak mengusulkan agar pemerintah melakukan langkah 
khusus dengan meluncurkan crash program untuk memperbaiki renumerasi mereka.

"Banyak dari mereka yang bicara sama saya, asalkan digaji Rp 7 juta sebulan,

mereka mau bekerja di sini," kata Satryo. Ia mengusulkan dana yang diterima 
Dirjen Dikti yang hanya Rp 4 milliar pertahun, menjadi Rp 14 milliar
pertahun.





***  Private and Confidential   ***
The information in this email is confidential and is intended only for the person(s) 
named. 
Any other distribution, copying or disclosure is prohibited. If you are not the 
intended recipient, 
please notify the sender immediately or telephone Premier Oil on +44 (0) 20 7730 1111

Kirim email ke