kalo saja dulu ketika kuliah mengambil sarjana hingga doktor dan sekolah
disini dengan biaya sendiri tidak dengan bantuan subsidi dari pemerintah ...
eh maksudku subsidi dari negara, maka kepergian rekan-rekan doktor ini
tentunya tidak terasa "merugikan" bangsa dan negara yg telah mensubsidinya.
tentunya banyak rakyat yg 'merasa' ikut telah mensubsidinya ... mungkin
karena merasa sebagai pembayar pajak barangkali.
namun ketika saat subsidi pendidikan dll mulai ditata kembali, seolah kita
kehilangan 'sesuatu' ...toh memang legitimasi subsidi menjadi sebuah
keharusan penyelenggara negara karena undang-undang yang sudah disepakati
bersama juga.... kenapa kok ya terjadi justru pada saat sekolah terasa berat
saat ini ... kenapa juga bertepatan dengan dosen yg telah dipersiapkan dan
diharapkan mendidik anak bangsa ini memilih mengajar di LN ... ya barangkali
bukan salah mereka yang pergi ... barangkali saja ...

Mungkin kepergian doktor ini emang 'tidak selalu' hanya melulu karena materi
(gaji, atau sertifikasi penghargaan profesi dll)
tetapi aku jelas ngga dapat menggunakan argumentasi 'anomali' ini utk
melegitimasi kepergiannya ... karena barangkali saja di benak pak doktor ini
akan lebih bermanfaat buat umat manusia yg lebih "mendunia" ketimbang tetep
berada di negeri yg sudah morat-marit ini ... karena argumentasi fasilitas
penelitian hanya ada disana, fasilitas alat ada hanya ada disana, seperti
Pak habibie sendiri yg lebih suka tinggal di LN, juga agak aneh anak HBB pun
tidak 'diterima' dinegeri sendiri ... karena 'bau' kkn.
Namun sangat jelas para doktor ini diharapkan menjadi pendidik je ....
diharapkan memberikan 'sedikit' ilmunya utk ditularkan ke muridnya.

Mungkin memang tidak selalu karena materi .... walopun kalo dibaca ulang
alasan materi ini selalu saja muncul disetiap tulisan kegerahan ini. walopun
aku ya kadang heran ... apakah karena kecemburuan antar profesi ...
kecemburuan antar status kepegawaian .... semoga bukan karena tidak
menguntungkan dirinya maka yg menguntungkan dianggap yang paling benar
( ... juga semoga bukan karena ngga bisa ngeliat temennya seneng dan sukses
...
yang jadi dosen ngiri sama yang kerja jadi wirausaha .... :(
yang jadi dokter ngiri sama insinyur ... :(
si ekonom ngiri sama dokter bedah ... :(
yang kerja di swasta sebel karena ketidak adilan penghargaan profesinya
karena dibanding dengan si'bule' ....
yang kerja menjadi PNS (BUMN) 'ngiri' kalo dibanding dengan yg kerja di
swasta ...
walopun aku jg masih heran kalo banyak PNS (BUMN) yg punya rumah
'magrong-magrong' ..... (ah aku kok slalu suudzon saja ...)
memang tidak mudah membandingkan pendapatan lawyer dengan engineer
ndak sederhana membandingkan gaji PNS dengan swasta apalagi dengan kerja di
LN ...

hhmm kenapa bukan penghasilan yg dibandingkan :( .... bagaimana dengan
penghasilan perbulan ? Toh mereka di LN justru akan bekerja dengan lebih
'bersih' ... memperoleh pendapatan yang sesuai dengan gaji yg tertulis dalam
'slip gaji' bulanannya.

semoga saja mereka mencari yang lebih 'bersih' dan lebih 'mengharumkan' nama
Indonesia
semoga

Salam
RDP

"Mungkin subsidi sudah pantas dicabut ...walopun terasa perih !... .. bangsa
ini apa ya  masih harus terus prihatin ?"

----- Original Message -----
From: "Ade Kadarusman" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, June 21, 2003 8:02 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Malaysia Menculik Doktor-Doktor Indonesia


> Yah..terpakso ikut bicara, merasa tersindir....seeh.
>
> Sebenarnya kasus pembelotan doktor lulusan LN bukan berita baru, sudah
> dimulai sejak
> jaman Habiebie dan Ginanjar. Cuma sejak krismon, jumlah mereka yang
> membelot, yang enggak pulang2 atau diculik (apapun istilahnya) bertambah
> banyak dan lebih terbuka.
> Hampir sebagian besar mereka bekerja di Instansi pemerintah (termasuk
BUMN),
> di beberapa Instansi memang resmi mengijinkan (si doktor ini mengajukan
ijin
> resmi), tetapi banyak juga Instansi yang tidak mengijinkan. Untuk kasus
> terakhir, banyak yang membelot,
> dan tidak jelas statusnya (bekerja di LN tapi status PNS-nya tidak
hilang).
> Buat Instansi pemerintah sendiri adalah sebuah dilemma yang
berkepanjangan,
> kalaupun mereka dikeluarkan
> (trus ada penggantian biaya pendidikan sekalipun), buat Instansi
pemerintah
> adalah suatu
> kerugian besar, sebuah aset SDM yang tinggi. Tetapi disuruh tinggal di DN
> dengan gaji yang tidak layak, sungguh tidak manusiawi...he..he..he..he...
>
> Kuncinya seeh, mereka doktor yang kembali ke DN..harus KREATIF, terus
> berusaha
> meningkatkan pengetahuannya dan terbuka untuk mengerjakan apapun yang
> tersedia di DN.
> Banyak kawan-kawan saya yang menampik bekerja di LN, padahal gaji tinggi
> dengan
> standard bule!, tetapi mereka akhirnya bisa sukses di DN, tetapi memang
> melaui masa transisi
> yang sulit....he..he..he...
>
> Saya akui mungkin driver-nya pertama kali karena gaji yang tinggi, tapi
> kemudian gaji tsb menjadi tidak ada artinya, karena kesempatan dan
> penghargaan yang diberikan oleh
> Institusi LN kepada mereka, menjadikan penggereak utamanya.persis apa yang
> dikatakan  netter sebelumnya "Equal opportunity".
>
> Salam
> Ade Kadarusman
> -yang sedang bimbang menolak atau menerima tawaran kontrak bekerja 3 tahun
> di salah satu Institute terkenal di salah satu negara Asia Timur-sementara
> peraturan
> PNS tidak membolehkan.
> "gaji PNS 1,1 juta/bulan di Bandung atau 30 juta/bulan di LN plus intensif
> yang lain",
> pilihan yang sulit kan ?
>
>
> > Loh ini kan bukan berita baru.
> > sejak dulu juga banyak.
> > kalau tidak salah ada Doktor Geology yang akhir nya balik lagi ke sini
dan
> > aktif di milis ini.
> > saya pikir ini adalah  career development yang bagus, apalagi kalau
balik
> ke
> > Indonesia setelah beberapa saat di sana.
> > good luck untuk yang mau bekerja di luar negeri.  harap tetap aktif di
> milis
> > ini untuk berdiskusi walaupun jauh di negeri orang.
> >
> > fbs



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke