Kalau untuk konsumsi kurikulum sekolah sebaiknya memang ke-2 teori 
tersebut harusnya  dapat kesempatan untuk diajarkan. Tak ada yg perlu 
ditakutkan terjadi kebohongan ilmiah , toh dengan kemajuan teknologi 
kebenaran akan terungkap. Untuk zaman nagara teologis di europe dahulu, 
suara gerejakan jadi penetu..siapa yg berani bilang bumi ini tidak datar 
dan bumi bukanlah pusat tatasurya sebelum ditemukan teleskop, kaum ilmuwan 
kan kafir semua menurut gereja. Begitu pula saat darwin mengemukakan bahwa 
bahwa makhluk bersel satu itu bisa tercipta sendiri, dengan 
percobaannya..padahal dia tak punya tool pembesar yg canggih untuk sampai 
kesimpulan tersebut..coba saja dia punya SEM dia pasti lihat ada jasad 
renik .
Coba saja kaum arkeologi mau belajar biomolukeler..mereka mungkin punya 
kesimpulan yg tajam mengenai hominid, coba saja suatu saat kita 
mendapatkan sel atau jaringan hidup dari fosil yg diduga nenek moyang 
manusia ..sama tidak? merefer tidak?..bener-benar penantian yg 
menarik?!..ia nggak?!. Karena selama ini biomolekuler baru dilakukan 
terhadap makhluk hidup sekarang..nggak nyambungnya lagi sebagai sesama 
makhluk tegak, keluarga monyet gen-nya tak sama dengan keluarga Adam, 
malah paman Micky-mouse (tikus) yang lebih mirip ke keluarga Adam..kapan 
tikus jadi manusia, aku benar-benar menanti?.

waktu juga jadi handicap buat ke-2 belah pihak, karena orang sering 
merefer ke Injil (karena ilmuwan teori  ini asalnya dari komunitas 
western). Mengerikan bahwa bumi atau alam semesta baru diciptakan 4004BC, 
karena gas di total saja dari miosen. bahwa terjadi kesalahn penafsiran 
kitab suci bisa saja terjadi, namun hal yg naif pula bahwa tori ini harus 
dipertentangkan dengan acuan yg waktu salah. Tak seharusnyakan kita harus 
mewarisi kesalahan terebut..bahwa hakinul yakin alam semesta diciptakan 
dengan 6 massa dan itu milyaran tahun yg lalu, dan juga makhlup hidup 
lainnya, dengan manusia bisa didebatkan, mungkin bukan 4004BC bisa ratusan 
ribu tahun.karena bisa jadi pengetahan kita antara naiknya permukaan laut 
di Jaman Nuh dengan eranya Adam muncul, seperti missing link,,tak nyampai 
informasi kita mengenai era diantara Adam-Nuh. kebayang memang harus 
menyerahkan Ilmu Alam ke ahli agama, terlampau dangkal. Coba saja tanya 
soal kloning ke ustad kampung..pasti kelimpungan, padahanl Allah SWT sudah 
mengajarkan ke kita..Bahwa ada manusia tercipta tanpa ortu..Adam, ada juga 
manusia tercipta tanpa Ibu yakni Hawa (malah hasil kloning dari tulung 
rusuk Adam), lantas adapula manusia tercipta tanpa Ayah yakni Nabi Isa 
A.S..gampangkan membuat makhluk dari jaringannya sendiri..hanya mencipta 
(dari tiada menjadi ada) yg hak pregoratif Allah SWT.

moral berevolusikah?..aduh setahu saya moral dan iman saling terkait, 
kalau evolusi Iman..menurut saya puncaknya di Nabi Ibrahimlah..aku tak mau 
bertuhan bulan, yg hanya terbit malam hari, aku tak mau bertuhan matahari 
yg hanya terbit siang hari, aku tak mau bertuhan patung yg hanya bisa 
cicing wae..Akhirnya dia sampai ke Allah SWT yg Esa, dengan doktrin 
kepercayannya ada moral dan etika..sampai disempurnakan ke Nabi 
terakhir.setelah itu moral mengalami stagnasi? atau kemunduran? sosialism, 
imperialism, sekularism muncul muncul tokoh..tokoh yg tak masuk akal 
dengan didrive derivatif paham mereka, hitler sampai walter bush..nepotism 
sampai koruptor, etika barbarian mungkin lebih kental saat ini..atau 
amoral-kan jadi pegangan orang kebanyakan, hal-hal yg pernah dilakukan 
manusia terdahulu di zaman kedatangan para Holyman. Atau mungkin mutasi 
moral bung vick?..butuh pencerahan juga saya nih..

OK TAUFIK,
DKS/OPG/WSG
PHONE: 3327
EMAIL: [EMAIL PROTECTED]
off.room: OFF 116





Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
28/08/2003 09:54 AM
Please respond to iagi-net

 
        To:     [EMAIL PROTECTED]
        cc: 
        Subject:        Re: [iagi-net-l] Evolusi ===> Sudut pandang lain yoooook.


Saya setuju dengan pendapat Pak Zaim bahwa evolusi pun adalah bagian 
kemuliaan Sang Khalik. Tetapi di beberapa bagian dunia memang benar2 ada 
pertentangan keras antara kaum evolusionis dan kaum kreasionis. Siapa yang 
kuat, merekalah yang menentukan kurikulum sekolah. Sehingga, seperti di 
Kansas State dilarang mengajarkan teori evolusi di sekolah menengah karena 
kebetulan yang berkuasa di situ adalah kaum kreasionis. Begitu pula di 
beberapa negara bagian di Australia. Majalah New Scientist edisi akhir 
tahun 1999 mengangkat tema ini, termasuk tentang kasus hukum seorang 
profesor geologi pembela evolusi yang mengadukan kaum kreasionis karena 
menurutnya telah melakukan penipuan ilmiah dan menyebarkan kebohongan. Di 
Indonesia, seperti kata Pak Zaim "EGP" evolusi itu, memikirkan kekeringan 
saja dulu...
 
Salam,
Awang H. Satyana
Eksplorasi BP Migas


zaim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Rekans,
Sebenarnya, kalau mau merenung (ini kalau mau lho) dengan fikiran tenang 
dan
dengan waktu yang (lama - sesuai dengan evolusi) tenang pula, maka tidak 
ada
perbedaan atau pertentangan antara teori evolusi (proses perubahan) dan
agama yang dianggap menganut kreasionisme. Karena, sebenarnya dalam
kreasionisme / penciptaan ada proses yang panjang dimana selama itu 
terjadi
perubahan internal suatu organisme setelah berinteraksi dengan lingkungan
eksternalnya yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan unsur2
internalnya, sedankan dalam evolusi juga tetap ada penciptaan, karena 
tidak
mungkin suatu organisme muncul begitu saja tanpa suatu proses penciptaan,
yang pada dasarnya ya Allah SWT - lah Sang Penciptanya.
Sedangkan setahu saya, mereka yang belum bisa menerima evolusi memiliki
bayang2 fikiran yang a priori terhadap evolusi, dengan menafikkan data 
serta
ketakutan bahwa evolusi bisa menyesatkan, memurtadkan dan mengkafirkan
keimanan, termasuk apa yang diutarakan oleh Harun Yahya yang terkenal itu.
Lha soal sesat, murtad dan pengkafiran iman itu kan bisa saja terjadi 
tidak
karena teori evolusi kan ??.
Justru, bagi yang beriman penuh (Insya Allah) evolusi tersebut semakin
membuktikan kebesaran Illahi dalam kreasiNYA untuk mencapai tingkat
kesempurnaan dan dari sini kita akan semakin dekat dengan Allah SWT. Kita
jangan hanya berfikir bahwa Allah Maha Besar, Maha Bisa, sehingga Beliau
pasti mampu menciptakan semuanya serentak - sekali "gus"seperti sekarang 
ini
(tanpa proses perubahan : evolusi), tetapi hendaknya juga menyadari bahwa
Allah memberi kita kewajiban dan kewenangan untuk memikirkan tentang hasil
kreasiNYA ("Fikirkan dan pelajarilah ciptaanKU, tetapi jangan engkau
memikirkan bagaimana AKU).
Namun, setelah kita merasa mampu berfikir tentang ciptaanNYA ya jangan
merasa jumawa sehingga kita merasa lebih tahu dari Sang Pencipta dan
menafikkan Allah. Hal ini memang sangat riskan bagi orang2 yang 
berkecimpung
dalam dunia ilmu murni (geologi/paleontologi, biologi, astronomi dll) 
karena
merasa dapat mengetahui serta memahami segala rahasia alam dan 
kehidupannya,
padahal yang mereka ketahui itu hanya seper -nol koma nol-nol-nol dari 
yang
sebenarnya, berdasarkan kemampuan otaknya yang hanya berkapasitas 1100 -
1200 cc saja.

Bung Sanggam mengatakan seperti ini :
" si polan bilang cogito ergo sum, yg lain bilang aku beriman maka aku 
ada,
yang cool bilang aku berpikir maka gue makin bingung..."

Komentar saya :
" Lha yang lain lagi mengatakan :.....emangnya gue pikirin evolusi
itu.......kerja aja sekarang banyak PHK........."
Terima kasih,

Wassalam,

Yahdi Zaim
Dept. Tek. Geologi
FIKTM ITB






---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software

Kirim email ke