Nha. Ikut nimbrung ach.
Pencerahan Pak Oki ini menurut saya mulai memfokus ke inti kontroversi teori
evolusi. Yaitu menerangkan bagaimana munculnya spesies baru secara RANDOM ?
dan hasilnya pun terlalu canggih, punya keteraturan yang tinggi. Dus,
pertama-tama harus dibatasi topik evolusi adalah menyangkut
biologi/paleontologi saja. Kalau evolusi tektonik mah gak masalah, dari dulu
batunya juga itu-itu juga, tidak terjadi spesies batuan baru.
Pertanyaannya dalam case Pak Oki adalah: seandainya manusia masa depan yang
tinggi gede itu dikawinkan dengan generasi Adam-Eva jaman dulu, kira-kira
menghasilkan keturunan atau tidak ya ? Kalau iya, berarti masih satu
species, berarti belum evolve, donk. Sama saja dengan manusia yang sejaman
di masa kini antara Negro item keling dengan bule. Variasi luarnya juga
sangat banyak. Yang jadi persoalan adalah kenampakan luar yang bervariasi
pada manusia (bandingkan negro dengan bule, cina dll) ternyata hanya
perbedaan ras saja, yang artinya memerlukan kondom agar supaya tidak terjadi
pembuahan. Ilustrasi tentang proyek Hilter juga baru pada tahap ras saja,
jadi belum menembus "dinding" evolusi. Itupun gagal (?).
Sedangkan keledai dengan kuda konon,atau dengan zebra, meskipun mirip-mirip
secara fisik tapi tidak memerlukan kondom, karena dijamin tak akan berbuah.
Lha waktu Darwin mengamati paruh burung-burung itu, apa dia bikin kawin
silang antara macam-macam burung-burung itu, untuk membuktikan terjadi
evolusi pada burung. (baca: lebih dari satu spesies).
Bila evolusi ini sekedar urusan saintifik saja memang gak masalah, seperti
dibilang oleh Pak Rovikcy. Tapi nyatanya dulu memang begitu, munculnya teori
ini ternyata disantap langsung juga oleh kaum anti agama/ateis dipakai
sebagai justifikasi untuk menyebarluaskan pandangan ateisme, penjajahan ke
dunia ketiga (dengan asumsi yang lemah memang layak ditaklukkan dan dijajah
berdasarkan prinsip survival of the fittest), serta untuk membebaskan diri
dari dominasi agama (mungkin waktu itu: gereja).
Saya kok jadi bingung, siapa sih sebenarnya yang sok jago duluan ?
Survival of the fittest itu, sekedar mempertahankan diri dari degenerasi,
ataukah memang major mechanism untuk memunculkan species baru ? Mutasi gen
juga tidak pernah dibuktikan valid, karena dalam eksplerimen ternyata
hasilnya malah ancur-ancuran, bukannya muncul spesies baru. Jangankan mutasi
gen, dengan cloning saja (gennya tetap, cuman prosesnya direkayasa) hasilnya
sangat tidak stabil.
Yang paling tidak mengenakkan bagi dunia ilmu, dan ini yang harus kita jawab
sebagai masyarakat ilmiah, dari bacaan harun yahya adalah tuduhan dia bahwa
para ilmuwan telah menipu dunia dengan bukti-bukti palsu untuk
menjustifikasi teori evolusi. Ada setumpuk tuduhan di buku-bukunya itu
silakan para pakar paleontologi menyanggahnya.
Kalau ini benar, wah sungguh memalukan. Meskipun van Bemmelen juga kabarnya
pernah menipu-nipu dikit dalam menyajikan data petrologi gunung krakatau
agar dicapai suatu kesimpulan yang indah.
Salam
Sunu.
-----Original Message-----
From: Musakti, Oki [SMTP:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, August 29, 2003 2:17 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [iagi-net-l] Evolusi ===> Sudut pandang lain
yoooook.
Wah kalau sudah keluar masalah iman-iman an, aku nyerah dah...
Sudah tentu saya punya pendapat sendiri, tapi rasanya ya nggak cocok juga
kalau dipaparkan di forum yang heterogen macam ini. Soalnya namanya iman, as
implied itu khan sangat personal sekali, kadang kadang bisa di nalar (dalil
tiada agama/iman tanpa akal) tapi sering-sering berupa hidayah (kalau AKU
kehendaki niscaya semua mahluk akan beriman).
Kembali kemasalah evolusi:
Kalau memang teorinya Darwin (survival of the fittest) itu benar,
maka menurut logika saya, dalam beberapa generasi kedepan, mayoritas manusia
akan mempunyai tinggi badan yang lebih dari generasi sebelumnya. Sebabnya,
manusia (terutama pria) yang relative lebih tinggi, akan mempunyai
evolutionary advantage karena dianggap lebih fit (pernah ada survey di AS
yang hasilnya menyatakan bahwa dalam ras yang sama, orang yang lebih tinggi
relative berpenghasilan lebih baik dari rekannya yang lebih pendek). Belum
lagi ada nilai2 subyektif seperti 'ketampanan' (lebih tinggi lebih macho
dll) yang kemungkinan juga berakar dari instink evolusi. Akibatnya, si
pendek akan susah dapat pasangan(jodoh) dan keturunannya (yang cenderung
pendek juga) akan makin sedikit hingga ahirnya punah.
Juga apabila computer dan handphone akan jadi trend teknologi yang
cukup lama, manusia generasi depan akan cenderung mempunyai jari panjang dan
lentik karena lebih suitable untuk mengetik dan ber SMS-an Gak tahu logika
saya ini benar apa tidak, karena nggak mesti bahwa si tinggi dan/atau si
jari lentik akan menghasilkan keturunan yang mempunyai 'sifat' yang sama.
Namun hal ini kalau nggak salah sudah pernah diujicobakan oleh NAZI Jerman
dengan proyek Aryan Master Race nya...
Salam
Oki
(Tidak tinggi dan berjari buntek')
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------