Seiring dengan zaman yang terus berubah, maka mau tidak mau kita harus siap
untuk mengantisipasi perubahan tersebut.
Kalo dulu intp seismic/log hanya pake teknik pat gulipat kertas, sekarang
sudah pake WS....so diperlukan pengetahuan untuk menguasai atau paling
tidak kenal/tahu tentang makhluk yang bernama WS. Kalo tidak nanti jadi
gaptek (gagap teknologi), itu kalo mau terjun di oil coy khususnya.
Syarat MSc...tentunya bukan standar yang menakutkan....karena IR (insinyur)
itu, kalo mau jujur, sudah sejajar dengan MSc, apalagi di Belanda, MScnya
mempunyai gelar insinyur....reason lainnya, bagi angkatan sepuh meraka
punya 2 ijazah, 1 sarjana muda yang untuk mendapatkannya juga tidak mudah
dan 2 ijazah sarjana penuhnya. Soal waktu tempuh studi, rata rata 4 tahun
untuk sarmud dan 2 tahun untuk sarjana penuh.....so total jendral sama
dengan waktu tempuh MScnya di luar sono. Mengenai beban kuliah juga sama.
Ada temen yang BSc lulusan state bilang nggak pernah mapping sendiri dengan
luas daerah 9x9 km, nggak pernah ngayak sampel untuk tesis sarjana seperti
kita yang lakukan di Indonesia. Persolaannya mengapa para IR Indonesia
hanya dihargai setara dengan S-1 atau BSc (????) sehingga para temen yang
jadi dosenpun tetap ngambil MSc walaupun sudah IR.
Untuk spesifikasi profesi, itu sepertinya sudah mengikuti hukum alam
kok.....dikitakan sudah ada geologis yang khusus jadi well site, mud
logger, petrophysicist, seismik intp, geol operation......dan adalagi yang
specnya sudah meluas seperti temen temen yang sudah jadi mgr, jadi vp, jadi
pemain saham, jadi pengusaha, jadi pedagang, jadi pengusaha sapu jagat dll
dll.
Nah jangan heranlah kalo ada coy yang minta macem macem persyaratan (dari
yang paling simpel sampe yang sangat detail) karena pasar mintanya begitu.
Jadi bagi temen temen, kalo syarat nggak klop dengan kita...ya nggak usah
nyoba....kalo merasa cocok, ada "NIAT" dan mau coba keluar kandang dengan
inisiatif sendiri tanpa harus menunggu giliran assignment....ya coba
saja....toh katanya $ bukan yang no.1 (bagi yang basic neednya sudah
mumpuni aja lho atau memang mempunyai pandangan yang selalu "think out the
box"). Nggak perlu takut nggak nasionalis lagi, wong passportnya masih
berlambang garuda kok dan yang di ME, My dll dll itu sesungguhnya penghasil
devisa lho.
Kapan ya, kita bukan lagi sebagai pekerja tapi sebagai pemberi kerja dan
mempunyai kehidupan yang lebih bermakna dari yang ada saat ini ?????
Salam,
ISW
"Shofiyuddin"
<[EMAIL PROTECTED] To: <[EMAIL PROTECTED]>
.com> cc:
Subject: RE: [iagi-net-l] Interesting
open job: worldwideworker
05/14/2004 08:43
AM
Please respond to
iagi-net
Uang memang penting tapi bukan untuk segalanya....saya setuju
Gaji yang tinggi bisa untuk menjadikan motivisasi kerja yang tinggi,
sebaliknya juga begitu.
Kalimat pertama diatas barangkali berlaku untuk orang yang sudah
tercukupi kebutuhan dasarnya, tapi saya yakin sulit berlaku untuk orang
yang masih ingin memenuhi kebutuhan dasarnya.
Shofi
From: Witan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Cak Noor,
Statement anda musti di ralat, geoscientist yang bagus enggak semuanya
pergi ke middle east dan Malaysia, banyak yang lebih bagus masih tetap
bertahan di Indonesia. Konon buat mereka duit bukan no 1...
Witan
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------