Pak Awang, Data yang sempat saya ambil dari : http://wwwneic.cr.usgs.gov/, updated 4 Maret 2003, data gempa sejak sebisa orang mencatat, dan tercatat tertua sekitar 350 M. File yang kusimpan dengan 600 Kb ini telah saya hilangkan data kejadian dalam detik-nya, tinggal tgl, hari, tahun, skala, keterangan termasuk jumlah orang meinggal. Tapi gampang kok mengambilnya lagi, dan paling cukup semalaman-dua malaman sudah bisa.
Memang GUT "Grand United Theory" sudah amat cepat maju, setelah akseleasi tulisan Stephen Hawking th 80'an. Penulis web diatas menambahkan lagi, selain banyak penulis lain. Fisikawan ini menggrafikkan gempa itu. Bagus sekali uraian Pak Awang. Data-data yang saya peroleh menganjurkan saya bahwa kerak bumi naik-turun sebesar siklus SALAM. Besaran naik-turunnya juga sebanding dengan SALAM Unit (SU) pada fungsi waktu itu. Tapi ya saya tak mau gegabah mengumumkan pikiran ini. Ada pendapat jari-jari bumi membesar dari Permo ke sekarang (tapi tak di nyatakan kondisi sebelumnya). Ada baru-baru ini bahwa waktu sehari memanjang dari permo ke sekarang (22 jam ke 24 jam). Penentuan temperatur bumi masih besar standar deviasinya (Scotese, 2000). Ada data temperatur yang baik? Memang sedih melihat banyak korban gempa. Tapi memang gempa juga besar manfaatnya, misal gempa vulkanik, akan menyuburkan tanah, menyebabkan rejeki yang amat banyak untuk kelangsungan hidup manusia. Yang penting kini adalah menekan korban, dan memperbanyak manfaat. Model interdisiplin akan memperbaiki ketepatan prediksi. Sayangnya banyak bahasa dan kosa-kata yang saling awam. Paling baik menjadikan semua terukur tiap besarannya. Lalu listen, learn, and sumirized. Kok ga joint Hagi-network Pak? Salam, Maryanto. -----Original Message----- From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, June 15, 2004 10:03 Pagi To: [EMAIL PROTECTED] Subject: RE: [iagi-net-l] RE: Gunung Meletus dan Full-Moon Pak Maryanto, Thanks URL-nya, alamatnya mengingatkan saya ke teori fisika yang selama ini dicari-cari fisikawan teoretis : GUT - grand unified theory. Data gempa 1880-2000 yang Pak Maryanto kumpulkan bertanggal tidak, atau hanya tahun. Kalau tidak, maka akan sulit melacak kebersamaan kejadiannya dengan saat bulan purnama/bulan baru. Kemudian, magnitude gempa pun tentu akan menjadi screening saat pengumpulan data itu. Katakanlah seirama bahwa frekuensi gempa (magnitude ...?) memuncak setiap bulan purnama/baru, maka harus ada data pula bahwa gempa itu terjadi di kawasan bumi yang paling dekat dengan bulan. Bulan hanya seperempat bumi, tentu tak menyeluruh efek gempanya kalau iya berhubungan. Kemudian, posisi matahari-bulan-bumi tidak sama pada bulan purnama dan pada bulan baru. Gaya tarik bulan paling besar akan terjadi pada bulan baru bukan pada bulan purnama. Pada bulan purnama mestinya gaya tariknya ke bumi sedikit diperlemah oleh gaya tarik matahari walaupun matahari 150 juta km dan bulan hanya 384 ribu km dari bumi. Bumi ukurannya 4x bulan, jaraknya hanya 384 ribu km, densitasnya lebih besar dari bulan, akibatnya, gravitasinya akan kuat mempengaruhi gerak dan fisik bulan, makanya bulan jadi satelit bumi. Saya jadi ingat moonquakes, gempa di bulan, yang terukur oleh peralatan yang ditinggal misi Apollo. Apa penyebab moonquakes ? Bukan interaksi lempeng seperti di bumi, tetapi lebih disebabkan internal rock adjustment oleh tidal effect gravitasi bumi. Jadi, banyak yang harus divalidasi dulu sebelum menyebut gempa (apalagi volcanic eruption) berhubungan dengan periode fullmoon dan newmoon. Apakah benar seluruh kerakbumi "bernafas" naik turun seiring dengan revolusi bulan mengelilingi bumi. Hmm... Salam, awang Bambang Murti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Mas Maryanto, Ini bagian dari Salam hypothesa lagi-kah ?? Kebetulan few months ago saya ngeliat Discovery channel, ada geolog (atau tepatnya vulcanolog) yang mencoba untuk melihat hubungan kedua hal tersebut, full moon dan erupsi magmatis. Yang mereka jadikan objeknya adalah gunung berapi di daerah Hawaii, lavanya bersifat basaltis, cair sekalee, dan kalau saya ndak salah denger, maklum kuping melayu, mereka menyebutkan adanya korelasi antara full moon dengan intensitas erupsi. Coba aja kalau bisa minta file-nya dari Discovery...bakal menarik tuh...tapi, perlu juga dilihat korelasinya antara vulkanis yang bertype basaltis dan vulkanis yang ber-type intermediate....kali-kali aja juga ada hubungannya dengan kurang sajen...:) Salam, Bambang (mestinya Salam Pramuka gitu yah?) -----Original Message----- From: Maryanto [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, June 14, 2004 1:27 PM To: '[EMAIL PROTECTED]' Subject: RE: [iagi-net-l] RE: Gunung Meletus dan Full-Moon Apakah sudah di chek grafik gempa dengan grafik full moon-bulan mati th 2000-2004 di bawah ? http://www.grandunification.com/hypertext/Main_Pages/H1_Earthquakes.html#Ear thquakes Ini sepertinya yang di cari Pak Awang : grafik gempa versus waktu itu? Bisa ambil diinternetnya kan? Apa ada grafik dat lain menunjukkan ini? Data itu memperlihatkan bahwa gempa bisa setiap sa'at, tapi puncak kejadian adalah pada sekitar full moon dan atau pada bulan mati. Data saya adalah jumlah gempa besar (lebih 6 SR) dari th 1880-2000 (USGS). Rata-rata gempa besar adalah 10 kejadian pertahun. Gempa itu sekitar 1000 kejadian pada hanya seratus tahun kedepan. Melihat statistik itu untuk seluruh bumi, sepertinya, bila terjadi gempa pada suatu lokasi di bumi, maka di tempat lain menjadi tak terjadi gempa. Kalau tak ada penduduk, tentu tak ada korbannya. Sedihnya, gempa itu mencatatkan telah 3 juta orang meninggal pada 2000 th terakhir. Terbesar 830.000 orang di China. Ini pada paperku: The 10 highest earth quakes in last 100 years in the city, state, and scale are : Chile (9.5, 1960), Alaska (9.2, 1964), Aleutian (9.1, 1957), Kamchatka( 9.0, 1952), Ecuador( 8.8, 1906), Aleutian ( 8.7, 1965), Border of India-China( 8.6, 1950), Kamchatka( 8.5, 1923), Banda Sea (8.5, 1938), Kuril ( 8.5, 1963). The seven highest fatalities are : 830.000 (Shansi, China, 1556), 230.000 (Aleppo, Syria, 1138), 200.000 (Damghan, Iran, 856), 200.000 (Gansu, China, 1920), 200.000 (Xining, China, 1927), 150.000 (Ardabil, Iran, 893), 100.000 (Turkmenistan, 1948). Indonesia has 26 (3.5 %) out of big 787 world's earth quakes, with more then 20,000 persons killed." Salam, Maryanto. --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

