Kasus ini bolak - balik saja....

kalau kerja di kps....orang lokal selalu dianggap tidak mampu (alias 
sering disia - sia / dianggap tidak berpengalaman dsb...) dengan segala 
kriteria yang tidak terbuka ....
kalau kerja di luar ..dikatakan brain drain....

enggak semua kerja cuma melulu demi uang kok...
tapi kalau enggak ada kepastian di dalam negeri / kps (karier maupun 
development ) ...ya mending keluar..jadi kontraktor saja di negara 
lain...enggak ada karier /development 
tapi dapat duit lumayan....

coba buat statistik antara expat dan lokal employee di kps ...baik 
experience / tanggung jawab/fasilitas/gaji  dsb....pasti njomplang..

mungkin ada ide dari SDM BPMIGAS ...?
 
Regards

Ferdi

"Yang masih coba tetap setia di KPS "





Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
16/02/2005 04:31 PM
Please respond to iagi-net

 
        To:     [email protected]
        cc: 
        Subject:        Re: FW: [iagi-net-l] Formasi PP-IAGI 2005 - Perubahan 
Pengurus


SDM BPMIGAS sudah mencermati brain drain ini kok, coba perhatikan kalau 
ada rapat2 RPTK/RPTKA, tapi hak bekerja di mana saja adalah hak asasi 
setiap orang dan BPMIGAS tak akan mencegah2. Hanya, kalau semakin banyak 
tenaga expat di oil companies, inilah suatu kompensasi brain drain tenaga 
nasional yang berpengalaman. Ada yang keluar, ada yang masuk, wajar saja. 
Dan, ini pula biasanya yang dijadikan alasan para oil companies untuk 
meminta agar para expat-nya diperpanjang masa kerjanya di Indonesia : 
"kami kekurangan tenaga nasional berpengalaman Pak, banyak yang keluar dan 
pergi ke Malaysia dan Timur Tengah". Nah...daripada menerima fresh grad 
yang butuh >5 tahun dididik biar bepengalaman, jalan pintas dipakai, 
mendatangkan expat atau memperpanjang yang sudah 6 tahun di Indonesia.
 
Kalau banyak tenaga nasional berpengalaman di Indonesia, BPMIGAS akan 
punya cukup amunisi buat menangkal dan tidak memperpanjang expat, kalau 
tidak...? 
 
Ini tidak berakhir di BPMIGAS saja, tetapi bergulir juga di BAPENAS dan 
Depnaker. Katanya SDM BPMIGAS mau membahas masalah brain drain ini. 
 
Sekali lagi, bekerja di mana saja adalah hak asasi setiap orang, hanya 
satu "drain" tak akan berdiri sendiri dan bukannya tanpa akibat. Kalau ada 
brain drain maka akan ada kekosongan di tempat yang ditinggalkan. Kalau 
tempat itu diisi expat, yah... negara membayar lebih mahal sebenarnya .
 
Salam,

awang

"Shofiyuddin"



ess.com> cc:

Subject: FW: [iagi-net-l]
Formasi PP-IAGI 2005 - Perubahan Pengurus
02/16/2005

12:42 PM

Please respond

to iagi-net







Yang lainnya bakalan nyusul seiring dengan keinginan untuk go
international dan untuk investasi buat masa depan anak anaknya. Gaji dan
fasilitas barangkali faktor utama yang mendorong mereka kerja di
overseas ini.
Yang aku cukup tertarik adalah bagaimana reaksi negara dalam hal ini BP
Migas (?) melihat hal ini. Kemarin waktu ada isu wellsite geologist dari
india, kita sudah kelihatan panik sehingga buru buru dicari dan dibuat
listnya. Sekarang bagaimana?



Salam
Shofi



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke