On Thu, 17 Feb 2005 20:26:39 +0100, Noor Syarifuddin > From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]> > > Memang secara tak sadar kita akan menyatakan bahwa ini "hukum pasar" > > dan hukum pasar "supply demand" merupakan nilai ukur "pembenaran". > > Akhirnya tak terasa kita (termasuk saya dulu) menilai bahwa kejadian > > brain drain ini adalah keniscayaan. > > > Vick, > Anda pernah melakukannya dan bahkan sekarang sedang mengulanginya, jadi > kalimat ini bikin aku bingung apa maksudnya....... > > salam,
Sesuatu sistem nilai yg membenarkan atau menyalahkan dan dipakai untuk menilai sebuah keterjadian itu yg saya maksudkan sebagai sebuah "pembenaran". Kita memang tidak pernah tau apa yg bener-bener benar. Namun dari tolok ukur "supply demand" maka brain drain adalah keniscayaan, yg bisa dianggap "benar" menurut tolok ukur tadi. Dan bisa saja menjadi seusatu yg menguntungkan. Namun kalau aku sekarang berdiri sebagai seorang Indonesian, dimana tentunya tolok ukurnya nasionalisme, maka kejadian brain drain menjadi hal yang "salah" atau "merugikan" Indonesia. Nah apa yg terpenting bagi seseorang, yg akhirnya dipakai untuk melakukan penilaian atau "judging" ini yg tentunya masing2 kepala berbeda, artinya sangat relatip antara satu orang dengan orang lain. Bahkan bisa saja relatip terhadap waktu untuk satu orang, contohnya ya saya sendiri saja lah. Saya dulu menganggap itu hal yg wajar (keniscayaan) karena tolok ukurku "supply and demand". Tapi sekarang aku berdiri dengan tolok ukur nasionalisme, menjadikan brain-drain adalah sesuatu yg salah yg harus diperbaiki. Kenapa aku bilang tak sadar, karena biasanya kita secara otomatis akan menilai atau mengukur sesuatu menggunakan tolok ukur yg kita anggap paling penting. Nah misalnya aku merasa yg terpenting itu "ridho allah", maka bisa jadi kejadian "brain drain" maunya Gusti. Sehingga kalau aku ikutan sebagai bagian drain maka aku tidak berdosa, wong membela keluarga (demi sekolah anak2 misalnya). Tapi jelas bukan berarti yg ikutan "drain" ngga nasionalis looh... Jangan dibalik ... :) Toh seperti yg banyak disitir ... "untuk apaan sih nasionalis .... ?" "wong ga dapet duik ini !" Makanya seperti yg kubilang, kalau dari sisi Indonesia, "brain drain" ini merugikan. gitu. RDP --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

