Di bawah ada contoh menarik yang saya lihat dibandingkan dengan (mungkin )
pemikiran sebagian tenaga ahli indonesia yang bekerja di luar negeri dan
enggak / belum mau pulang...
Dari contoh yang Mas Vicki sampaikan
terlihat bahwa tenaga ahli India dan Cina itu pulang ke negaranya bukan
karena ingin mendapatkan bayaran mahal/ fasilitas lebih dibandingkan yang
lainnya , tapi lebih bahwa ia ingin membuka usaha sendiri kemudian dengan
usahanya itu berkembang dengan pesat dan memberikan efek domino terhadap
yang lain..
Nah kalau hubungan dengan GGE , saya pikir sama masalahnya
apakah lalu dengan kesadaran adanya brain drain lalu BP Migas akan
memberikan kenaikan gaji dan fasilitas untuk para ahli tersebut jauh lebih
banyak daripada yang lain..?
apa lalu tidak diikuti dengan tuntutan juga untuk kenaikan gaji dan
fasilitas secara keseluruhan pegawai nasional yang kemudian menimbulkan
efek cost yang tinggi...?
( dan ini yang mungkin selalu menjadi alasan keberatan dari pemerintah /
management perusahaan tersebut )
Nah mungkin sekarang saatnya para ahli GGE yang sudah banyak nabung di
luar..pulang ke indonesia bisa membuka usaha yang mungkin berhubungan /
tidak dengan bidang geologi tapi bisa membawa efek domino yang bagus bagi
masyarakat kita....
Ferdi
" yang masih cuma ngimpi "
Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]>
11/05/2005 06:05 PM
Please respond to iagi-net
To: [email protected]
cc:
Subject: [iagi-net-l] Brain Drain : Dari Cibiran Menjadi Aset?
Contohnya, Miin Wu, "braindrainer" yang lulus PhD dari Stanford tahun
1976. Lalu dia bekerja sebagai profesional di Silicon Valley dan
kembali ke Taiwan 1989. Setelah kembali ke Taiwan, Wu mendirikan
perusahaan Macronix Co. Perusahaan ini kini menjadi salah satu
perusahaan semikonduktor terbesar di Taiwan dengan omset $ 300
juta/tahun dan menyerap 2 800 tenaga kerja.
Misalnya kisah Nagarajan, seorang "braindrainer" alumni Silicon Valley
yang kembali ke India. Tahun 2000 dia mendirikan perusahaan teknologi
informasi dengan cuma 20 pekerja. Pada tahun 2004 perusahaannya
mempunya 3 600 pekerja dengan laba $ 30 juta. Maka tak heran, jika
pemerintah India dengan optimis meramalkan bahwa lewat kehadiran
industri teknologi informasi ini India secara keseluruhan akan
mendapat laba $ 87 milyar dengan omset pasar $ 225 milyar dan akan
mampu menyediakan 2,2 juta lowongan pekerjaan di tahun 2008. Beberapa
intelektual India dengan bangganya menunjukkan beberapa WN Inggris
yang saat ini brain drain ke perusahaan India, karena perusahaan
tersebut mampu membayar ahli dari Inggris tersebut lebih daripada
Inggris sendiri!
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------