Pak Awang & all,
Keraguan akan hubungan Pamali breccia dengan genesis diamand di Kalimantan juga 
dikemukan oleh Bergman et al., 1987, yang me-reinterpretasi breccia tsb sbg 
sedimentary conglomerate. Nah pada tahun 1988, mereka menemukan minette (~8 
Ma), yang komposisinya diinterpretasi dari "enriched mantle source". Minette 
adalah biotite-K-feldspar-rich lamprophyre. Lamproites merupakan primary source 
of diamands di Australia and USA). Lamproitic-type ini lebih dipercaya sebagai 
sumber intan di kalimantan dibanding kimberlitic-type.
 
Salam, Arif

Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mengherankan, sejak Koolhoven (1935) menulis laporannya tentang asal intan 
Kalimantan ("Het Primaire Voorkomen van den Zuid-Borneo Diamant" - Primary 
Occurrences of the South Kalimantan Diamond), riset tentang ini tak mengalami 
kemajuan yang signifikan sampai saat ini pun. 

Prof. Adjat Sudradjat, di dalam bukunya, "Teknologi dan Manajemen Sumberdaya 
MIneral" (ITB, 1999) masih menulis bahwa asal intan Kalimantan ini tak 
diketahui dari mana. Lima puluh tahun sebelumnya (1949), van Bemmelen pun 
mengindikasikan hal yang sama. Memang, Koolhoven (1935) menyebutkan bahwa a 
pipe of ultrabasic rock yang disebutnya "Pamali intrusive breccia" adalah 
sumber intan di Kalimantan Selatan. Tetapi, semua buku menuliskan bahwa kadar 
intan di breksi Pamali (bukan Pemali seperti di Jawa Tengah ya..) sangat kecil, 
jauh di bawah kadar intan yang ditemukan di endapan placer-nya. Kata Pak 
Soetarjo Sigit dkk di bukunya "Mineral Deposits of Indonesia" (1962), tidak 
ekonomis menambang intan di breksi Pamali itu.

Ini kadar2 intan di Kalimantan Selatan (van Bemmelen, 1949 vol IB) : pipa 
ultrabasa breksi intrusif Pemali : 0,0035 karat/ton (1 karat intan = 0,20 g), 
enriched top soil Pamali : 0,035 karat/ton, diamond bearing gravels placer 
deposits : 0,47 karat/ton. Nah, intan terbesar yang pernah ditemukan di endapan 
plaser itu adalah yang ditemukan di desa Cempaka, Kal Sel seberat 166 karat (33 
gram). Cukup besar, hampir sebanding dengan intan Kohinoor kepunyaan raja 
Lahore, India sebelum dibelah (186 karat), tetapi jauh lebih kecil dibandingkan 
intan terbesar yang pernah ditemukan di Afrika Selatan, intan Cullinan (3024 
karat - 602 gram) yang kata buku Munaf (1956) - Ensiklopedia Indonesia 
(termasuk ensiklopedia Indonesia pertama) dihadiahkan pemerintah AfSel ke raja 
Inggris Edward VII.

Nah, benarkah Koolhoven bahwa breksi intrusif Pamali itu sumber primer intan di 
Martapura ? Tidak tahu, sebab praktis tak ada riset ke arah situ yang serius. 
Kalau melihat kadar2 intan antara placer deposits di Martapura dan primary 
deposits di breksi Pamali itu, maka diragukanlah kebenaran Koolhoven itu.

Koolhoven (1935) dan van Bemmelen (1949) menyebutkan bahwa breksi intrusif 
Pamali itu adalah model kimberlitic pipe intrusive di Afrika Selatan. Betulkah 
? Kadar intan yang dilaporkan mereka tak mendukung analogi ini. 

Anthony Evans dalam bukunya, "An Introduction to Economic Geology and Its 
Environmental Impact" (Blackwell Science, 1997) menulis kadar2 intan di pipa 
kimberlite/lamproite di seluruh dunia. Yang paling miskin (kimberlit Lesotho : 
0,309 karat/ton) - yang paling kaya (Argyle AK1 Lamproite di Australia Barat 
punya kadar intan 4 karat/ton). Bandingkan dengan kadar intan Pamali intrusive 
breccia yang hanya 0,0035 karat/ton. Bagaimana intan Martapura bisa punya kadar 
0,47 karat/ton ? Rasanya, proses enrichment pun tak akan mendongkrak kadar 
sampai 134 kali bukan ? Lalu, dari mana dong asal intan Martapura ?

Melihat peta penyebaran intan di seluruh dunia (Evans, 1997), jelas tergambar 
di situ bahwa deposit intan yang besar selalu berasosiasi dengan daerah 
continental craton (> 1500 Ma old). Teori terbaru sekarang tentang origin of 
diamonds adalah bahwa intan bukanlah hasil kristalisasi magma di intrusi 
ultrabasa (akan in-situ), tetapi bahwa intan adalah ex-situ, mereka adalah 
mineral2 di upper mantle yang terbawa hot plume mantle yang sedang up-welling. 
Maka, intan bukanlah fenokris, tetapi xenokris. Kita pernah diskusikan ini 
sedikit di milis IAGI saat kita membahas plume tectonics 4-5 tahun yl.

Nah, di Kalimantan kita punya craton kecil (Schwaner) yang disebut dan 
disatukan dengan Laut Jawa sampai ke Malaya oleh Ian Metcalfe (1996) menjadi SW 
Kalimantan craton. Dan di Kalimantan, intan tak hanya ada di Martapura, tetapi 
juga di Purukcahu (KalTeng) dan Sanggau (KalBar). Mengapa kita tak mencoba 
mengkaji origin of diamonds in Kalimantan secara lebih serius ? Atau, telah 
puas dengan karya klasik W.C.B. Koolhoven (1935) yang ditulis 70 tahun yang 
lalu ? 

salam,
awang



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

 






__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke