Saya tertarik oleh pernyataan mas Bambang yang terakhir:
"Bisa ndak ya, ada institusi yang tegas, OK, kalau ente mau main
disini, bayar tuh signature bonus dalu baru kita tanda tangani kontrak ?
Lewat tenggat waktu yang disepakati, batal, kasihkan ke the next bidder."
Saya kira masukan yang sangat kena untuk pak Priyono di MIGAS. Mungkin
belum terlambat untuk tgl. 9 Juni nanti?
Djoko Rusdianto
"Bambang Murti" <[EMAIL PROTECTED]>
02/06/2005 09:48 AM
Please respond to iagi-net
To: <[email protected]>
cc:
Subject: [iagi-net-l] Block Award - Kebangkitan Industri Migas
Nasional !!
Kalau kita mencermati bid round yang dilakukan oleh Dirjen Migas
akhir-akhir ini, koq kelihatannya "big boy" yang turut bermain menjadi
semakin sedikit tetapi yang justru menggembirakan adalah banyaknya
"player-player" baru yang turut meramaikan kancah dunia industri penuh
resiko ini.
Ini yang perlu dicermati. Bisa saja ini ditafsirkan para "big boys"
tersebut sudah mulai jenuh dengan Indonesia (ndak juga sepenuhnya benar,
karena Chevron masih masukin bid buat somewhere in NE Java basin), atau
petroleum system yang "tersisa" (lha katanya ada 50 basin yang belum di
explore) sudah dianggap tidak mampu memenuhi portfolio mereka atau, nah
ini dia, getting confused dengan dinamika regulasi...kalau ini mah sudah
prejudice he he.
Kalau untuk yang "domestic player", bagusnya pengusaha kita sudah mulai
menyadari risk management. Jadi bukan lagi berpedoman pada invest hari
ini besok pagi sudah dapat revenue. Ini yang harus di-encourage !!. Ini
mudah-mudahan bisa menjadi era fajar baru dalam industri migas nasional
!!
Cuma, dari sekian banyak national player, kayaknya hanya segelintir yang
benar-benar menekuni dan menjalankannya. Sebagian besar lainnya, rasanya
hanya menjadi, sorry, dalam bahasa yang "bloody word", calo. Boro-boro
melakukan petroleum operation, signature bonus, information bonus &
education bonus yang seharusnya dibayarkan kepada pemerintah dalam
tenggat waktu 1 bulan semenjak signing agreement saja ndak bisa
dipenuhi. Quo vadis ??
Nah sekarang kalau kita melihat (ini juga prejudice) sisi negatifnya,
kan kasihan itu blok yang sudah susah-susah dipersiapkan oleh Dirjen
Migas, hanya di-anggur-kan saja. Berapa potensi yang menjadi kedaluwarsa
? Apa ini bukan menjadi pelecehan komersial?.
Memang bener sih, ada yang pernah bilang, salah satu penyebab kemunduran
teknologi di Amrik justru karena banyaknya engineer mereka yang lebih
senang bermain di Wall Street dibanding pegang lumpur dan oli. Lha ini
kelihatannya yang justru dijadikan acuan oleh "sebagian" pengusaha
nasional kita, kalau bisa dapetin duit dari dagang blok, ngapain mesti
susah-susah meng-operate? Lah ini jadinya kan cuman main-main port folio
? Bisa ndak ya, ada institusi yang tegas, OK, kalau ente mau main
disini, bayar tuh signature bonus dalu baru kita tanda tangani kontrak ?
Lewat tenggat waktu yang disepakati, batal, kasihkan ke the next bidder
(kalau ada) ?
Hwarakadah, bangun kesiangan nih ... :-)
BSM
----------------------------------------------------------------------
This e-mail, including any attached files, may contain confidential and
privileged information for the sole use of the intended recipient. Any
review, use, distribution, or disclosure by others is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient (or authorized to receive
information for the intended recipient), please contact the sender by
reply e-mail and delete all copies of this message.