Buat negara berkembang, Protokol Kyoto tak mengatur emisi gas buang CO2, maka 
100 % gas CO2 kalau mau bisa dibuang ke udara atau ke laut. Indonesia yang 
telah menandatangani Protokol Kyoto pun tak kena larangan apa2 soal CO2, kalau 
NOx dan SOx ada nilai tertentu ambang batas diizinkan. Maka, KLH, institusi 
yang berwenang di Indonesia, tak mengatur masalah emisi CO2. 
 
Kalau mau, maka 100 % CO2 di Natuna D-Alpha itu bisa saja kalau mau dibuang ke 
udara. Itu memang tidak diatur-atur. Hanya, yang jadi masalah adalah tingkat 
opacity - kecerahan, kalau buangan CO2 menimbulkan opacity sampai tinggal 40 % 
di langit, itu tidak boleh (nanti pesawat2 saling tabrakan he..), kalau selama 
tidak menimbulkan gangguan opacity, ya 100 % CO2 yang diproduksi pun boleh2 
saja dibuang.
 
Itu kalau di kita, negara berkembang, kalau di negara maju tak boleh, ada 
ambang batasnya, karena langit mereka sudah fully polluted. Maka kalau akan 
diinjeksi ke formasi batuan, itu sebenarnya aturan di negara maju, bukan di 
negara berkembang. Kalau di Indonesia yang aturannya boleh dibuang, tetapi 
diinjeksi, maka Indonesia akan dapat point dari PBB. Tetapi harus diingat bahwa 
menginjeksi itu butuh biaya besar dan nanti pun di-cost recovery. Jadi, 
menginjeksi CO2 bukanlah beralasan lingkungan sebenarnya, sebab aturannya tak 
ada, tetapi harus diwaspadai juga sebagai project-oriented.
 
Kalau dulu di atmosfer kandungan CO2nya hanya seperti sekarang (< 1 %), maka 
tak akan ada lapisan2 batuan karbonat yang tebal2 seperti di Arab itu. Atmosfer 
Bumi memang pernah begitu banyak terakumulasi CO2 yang keluar dari interior 
Bumi pada Proterozoikum/Pra-Kambrium. Saat terbentuknya, atmosfer Bumi hanya 
kaya H dan He, dua unsur paling berlimpah di Alam Semesta. Kemudian, saat 
interior Bumi belum terdiferensiasi dengan baik, tak ada medan magnetik, dan 
akibatnya tak ada juga lapisan magnetosfer di langit. Karena tak ada 
magnetosfer, maka enak saja zarah-zarah (partikel) bermuatan (ion) hasil solar 
winds menyapu bersih cikal bakal-cikal bakal penyusun atmosfer Bumi. Nah, 
setelah ada magnetosfer, maka solar winds sebagian besar bisa ditangkal 
sehingga unsur2 penyusun atmosfer mulai terbentuk.
 
Lalu sejak Proterozoikum pun mante plume upwelling telah terjadi ke permukaan 
dan ini jadi volkanism skala global yang akan membuang CO2 dalam skala masif, 
dalam proses global outgassing, CO2 pun menjadi perisai Bumi, persis seperti 
langit Venus sekarang. Tetapi atmosfer Bumi tak tetap penuh CO2, radiasi 
ultraviolet memecah atmosfer melalui proses disosiasi fotokimia, menghasilkan 
uap air di atmosfer. Lalu terjadi hujan besar jutaan tahun yang menghasilkan 
laut2 di Bumi, CO2-nya terbawa turun ke laut dan menjadi paparan2 karbonat 
berumur Lower Cambrian di China, Siberia, dan Amerika Utara. Lama-kelamaan 
atmosfer yang komposisinya mirip sekarang makin terbentuk. Introduksi CO2 ke 
atmosfer dari volkanisme tinggal kecil saja. Introduksi CO2 skala besar ke 
atmosfer dari interior Bumi terjadi di Late Cretaceous, saat2 
Cenomanian-Maastrichtian volcanism terjadi seiring punahnya dinosaurus. Basalt 
Deccan Trap di India bisa jadi salah satu bukti volcanism itu.
 
Nah, begitu dongengnya...
 
salam,
awang
 
Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bagaimana dengan regulasi utk merelease CO2 ke udara bebas ?
Saya tahu gas ini tentunya bisa berbahaya bagi lingkungan. Namun kita
juga tahu wong daun saja melepas CO2 kalau malam hari kan, apalagi
kita yg menghembuskan nafas CO2 juga ?
Berapa prosen masih "diperbolehkan" ? Dan siapa yg berhak melarang
atau memperbolehkan ? pemerintah ? Apakah CO2 ini masuk dalam
perjanjian emisi gas buang ?

Dua bulan kmaren saya ngobrol dengan salah seorang temen Indonesia di
KL sini, yg crita bahwa mereka merilis CO2 ke udara, ntah berapa
prosen yg dilepas ke udara bebas, hanya memberikan hint bahwa
kandungannya asalnya lebih dr 50%. Tetapi katanya pemerintah My
memperbolehkannya tentunya ada ambangnya, namun angka ini yg saya
kurang tahu berapa prosennya.

Btw, dalam sejarah geologi kandungan C02 ini di udara pernah jauuuh
melampaui kondisi saat ini. Nah Pak Awang tentunya punya dongeng
sejarah CO2 ini, sejak jutaan tahun lalu.

RDP

=======
On 8/9/05, Awang Satyana wrote:
> Wajar kita takut dengan kandungan CO2 tinggi sebab CO2 akan langsung memotong 
> volume reserve dan sekalipun diproduksi akan butuh biaya tambahan sebab ia 
> gas korosif dan perlu teknologi serta alat khusus untuk memisahkannya dari 
> gas hidrokarbon. Sejarah perminyakan di Indonesia banyak menunjukkan 
> berakhirnya suatu blok karena CO2 yang tinggi, atau blok yang sudah sekian 
> lama tidur akibat CO2 tinggi. Sebagai eksplorasionis, maka kita sebaiknya 
> bisa berhitung dan meramalkan apakah blok2 yang akan kita ambil itu akan 
> punya CO2 tinggi atau tidak. Dengan modal data geokimia, geologi, dan 
> geofisika hal ini bisa kita prediksi dengan ketelitian cukup baik.
> 
> Kandungan CO2 berapa pun bisa dipisahkan. Sampai 15 % CO2 kelihatannya masih 
> ok saja. Bahkan sekarang ada turbin yang friendly terhadap CO2 sampai 30 %. 
> Biasanya, kalau CO2 > 30 % di surface facilities sudah mulai ada usulan untuk 
> instalasi separator CO2.
> 
> Alternatif 1-4 yang ditawarkan Pak Habibie itu akan wajar dan ekonomis kalau 
> produksi gas dari Natuna D-Alpha kecil saja, sehingga instalasi untuk 
> produksi 1-4 itu kecil saja dan ekonomis. Nah kalau produksi Natuna D-Alpha 
> 1000 MMCF ? Apa masih bisa ekonomis instalasi untuk produksi 1-4 ? Tidak. 
> Dan, Natuna D-Alpha hanya akan ekonomis bila diproduksi > 1 BCFG/day. Ingat 
> saja, cadangan lapangan gas super-raksasa ini 45 TCFG (sudah dipotong 
> kandungan CO2 yang 71 %). Maka, yang paling baik buat Natuna D-Alpha adalah 
> injeksi saja ke dalam reservoir. Jadi, teknologi yang ditawarkan Pak Habibie 
> bagus, tapi tidak tepat buat NAtuna D-Alpha.
> 
> Gas yang punya CO2 tinggi tidak akan lebih dari 5 USD/MMBTU harga di wellhead.
> 
> salam,
> awang
> 
> 
> 
> Bambang Murti wrote:
> Men temen,
> 
> Biasanya kalau kita nemuin adanya CO2 di reservoir, kita akan menjadi
> "takut" dengan biaya lifting yang tinggi.
> 
> Ada yang tahukah, seberapa tinggi kadar CO2 yang bisa ditolerir dalam
> suatu reservoir? Maksudku, dapat dipisahkan secara komersil?
> 
> Disisi lain, masih teringat pidato Oom Habibie duluuuuu waktu opening
> ceremony di IPA, beliau justru meng-address upside potential CO2 di
> D-Alpha.
> 
> Filosofi yang ditawarkan pada saat itu:
> 
> 1. Bikin es kering (dry ice) di D-Alpha
> 2. Bikin hydro power plant di Memberamo (Papua)
> 3. Bikin proses hidrolisa untuk memisahkan H + O dari air
> 4. Bikin synthetic methan dari kedua komponen tersebut (katanya
> sih, CO2 + H2O --> Cx Hy , nah ini kan sudah jadi hidrokarbon rantai
> pendek.
> 
> 
> 
> Pertanyaannya : "Mungkinkah" eh, sorry, nanti dikira "underestimate"
> sama si Oom, jadi, pertanyaannya dirubah menjadi "Kapankah ini akan
> terlaksana"??? Mumpung gas lagi US$ 8 per MMBTU nih...
> 
> (Ferdiiiii...ini aku ketularan ????? mu lagiiiiii)
> 
> Bambang

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke