1. Monetisasi penemuan minyak dan gas, alias memproduksi migas hasil penemuan baru, perlu waktu lama, lebih dari lima tahun untuk lapangan2 besar, untuk lapangan2 kecil yang merupakan satelit suatu lapangan bisa di bawah dua tahun. Lalu, kontrak2 baru itu bisa dibilang 80 % memundurkan pelaksanaan komitmennya. Monetisasi yang makan waktu lama dan pemunduran komitmen pekerjaan telah membuat kontrak baru yang ditandatangani tidak sejalan dengan peningkatan produksi minyak Indonesia. Lebih parah lagi, saat kontrak2 baru ditandatangani, realisasi eksplorasi tahun ini jelas tidak akan mencapai 100 %, saya bahkan meragukan lewat 60 % pun tidak ! Ini karena KPS2 besar dan lama membatalkan komitmen eksplorasinya dan menggantinya dengan sumur2 produksi (karena harga minyak bagus) dan alasan2 lain, serta KPS2 kecil dan baru memundurkan komitmennya. Kami tentu selalu mengejar dan menagih komitmen2 itu, tetapi itulah, jelas tak akan 100 %. Seharusnya kita sama-sama menyadari : barang sia pa tidak berinvestasi melalui eksplorasi jangan berharap produksi lima tahun ke depan akan menggembirakan, bahkan akan semakin parah. 2. KPS2 baru serempak menyatakan paket data yang disediakan Migas di bid-document tidak lengkap, menelusurinya ke mana adalah seolah berjalan di rimba belantara yang gelap. Maka, semua KPS baru serempak di program tahun pertamanya mengajukan pembelian data. Data berhamburan di mana-mana, di service companies pun ada. Tetapi Migas membuat peraturan, data harus dibeli di lembaga di bawah Migas (Patra Nusa Data), bila dibeli di luar tidak sah dan mungkin akan terancam non-cost recovery. Nah, di PND tak mudah juga menemukan data itu karena mungkin masih dipegang Pertamina, KPS2 lama, dsb. dsb. Sulit. Pak Prasidha dari PND silakan mengklarifikasi. 3. Profil perusahaan si bidder diteliti Migas, tahun-tahun pertama kecolongan, memang broker yang menang, dan menjualnya ke perusahaan lain. Tahun2 terakhir broker semakin berkurang walaupun tak bisa dihilangkan sebab broker dengan mudah berganti baju dan bisa pinjam perusahaan lain yang mapan. Perusahaan2 lain memang serius tetapi kesulitan finansial. Mereka terlalu berani langsung terjun menjadi KPS, harusnya bertahap mengerjakan lapangan2 tua, brown field, dulu baru eksplorasi dalam kontrak KPS. Yang mengherankan, blok yang sangat tinggi risikonya pun, yang KPS2 besar dan asing tidak berani, diambil juga, nah...sudah dua tahun mereka mandeg, studi pun tidak, apalagi seismik, apalagi bor.. Penandatanganan blok2 baru selalu menggembirakan, tetapi itu kalau diteruskan dengan pemenuhan komitmen yang serius. Dalam masa eksplorasi pertama 3-6 tahun mereka memang boleh memajumundurkan komitmen, nah saat mau masuk tahun ke-7 akan banyak yang berguguran, diterminasi oleh kontraknya sendiri ! Nah, alangkah sayangnya lahan eksplorasi dipegang suatu perusahaan tetapi 6 tahun ditidurkan ! salam, awang
Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: On 10/17/05, Awang Satyana wrote: > Tentu saja ini berkorelasi positif. Semakin banyak eksplorasi = semakin > banyak penemuan = semakin banyak kebutuhan tenaga geosaintis. Parameter yang > no. 1 dan 2 ada bukti statistiknya. Jadi jangan berharap banyak penemuan > kalau eksplorasi minim. > Ya saya setuju semakin banyak eksplorasi menjadi semakin banyak penemuan. Namun kalau kita melihat jumlah kontrak KPS yg ditandatangani tidak berkorelasi dengan produksi minyak di Indonesia. Kalau diplot antara jumlah KPS ditandatangani dengan produksi minyak di Indonesia maka tidak terlihat bahwa ada hubungan antara KPS yg ditanda tangani dengan Produksi minyak di Indonesia. > Hal lain yang penting, pengalaman tiga tahun menunjukkan bahwa pemenuhan > komitmen eksplorasi nyata (maksudnya survai seismik dan pengeboran) yang > dilakukan perusahaan2 baru ini sangat buruk (!), bonus-bonus mesti ditagih > berkali-kali, dan memundurkan komitmen dilakukan oleh semua perusahaan. > Alasan pemunduran komitmen sama : kesulitan data (bisa benar/bisa sekedar > alasan, yang jelas data adalah kambing hitam utama) > Kalau data ini dipakai sebagai alasan. Apa tindakan yg akan diambil oleh Migas atau BPMigas mengenai data ini ? Apakah ada pinalty utk perusahaan yg mangkir dari komitmen ini ? > Saya senang perusahaan2 migas nasional serempak berani eksplorasi, tetapi kok > tidak diikuti pemenuhan komitmen. Nah, serius gak sih mengambil blok ? > Maksudnya serempak berani eksplorasi ini maksudnya spent uang utk drilling, study dan atau seismic ? Mnurutku sih mereka serius mengambil blok, tetapi aku belum yakin yg baru-baru ini akan serius mengerjakannya sendiri, mengebor sendiri dan memproduksikan sendiri. Saya khawatir akhirnya hanya ingin menjadi broker. Yag jelas dengan menjadi broker sudah "make money". Walopun saya sendiri kurang begitu suka dengan broker ... kalau istilah kerennya CALO. Tapi saya tahu pasti dengan menjadi "broker KPS block"-pun bisa mendatangkan uang. Ada ngga ya etika bisnis ttg per-brokeran ini ? RDP --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) --------------------------------------------------------------------- --------------------------------- Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

