Pak Ferdi...
Kalau soal harga..suatu saat akan menjadi murah. Wong, seliter air kemasan
saja pernah lebih mahal dari seliter bensin :P. Hanya mungkin harus disiapkan
kalau saat itu tiba, kita sudah punya perhitungan yang akurat mengenai besaran
cadangan yang ada serta dampak lingkungannya (ini asumsi kalau air laut di
tepian Kaltim tercemar dan biaya remediasinya lebih mahal :)
Eksploitasi sistem airtanah tersier di Indonesia seringkali dihindari karena
masalah kualitas (kaya dengan garam dan mineral) dan asumsi bahwa air tersebut
masuk dalam tipe air formasi (non renewable). Tapi saya pikir tidak bisa
dipukul rata seperti itu...Data yang disebutkan pak Agus kelihatannya bisa
mendukung hipotesa ini.
Evaluasi sumberdaya air bersih dari tahun ke tahun menunjukkan air permukaan
semakin tidak bisa diandalkan untuk sepanjang tahun, air hujan untuk daerah
perkotaan kelihatannya terus mengalami ancaman fenomena hujan asam. Pilihannya
lainnya :
1. Destilasi air laut dengan catatan tidak terjadi pencemaran dan
perekonomian kita tumbuh dengan baik.
2. Pemakaian airtanah dengan catatan tidak tercemar dan bisa berkelanjutan
(Di Jakarta sedang berkembang pemikiran untuk menyimpan kelebihan air permukaan
pada saat banjir ke dalam tanah untuk digunakan pada saat kemarau dengan metode
injeksi (artificial recharge) atau peresapan alami)..dan itu tadi, ada
perhitungan cadangan yang akurat dan sistem pengelolaannya sehingga bisa
direncanakan dengan lebih baik.
3. Mengimpor air bersih seperti Singapura
4. Mengekstraksi air dari batulempung, mineral atau bahan organik lainnya (ini
masih wacana)
5. menekan kebutuhan rakyat Indonesia akan sumber air bersih.
6. ....
Mudah-mudahan kalau `bom waktu` ini datang, kita sudah siap....
Salam,
Fajar 1148
---------------------------------
Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.