Pak Awang, Waduh, kalu denger pak Awang habis jalan-jalan, rasanya "meri" deh...dibanding kita-kita yang tertinggal dibalik meja he..he...
Lha itu, kapan batasan mau pakai nama lithostrat atau pakai chronostrat. Kalau deket-deket mah, boleh-boleh aja kan? Gimana misalnya, kalau saya bilang, Pucangan di subsurface di Mojokerto sudah deepwater? Upper Kalibeng-nya memiliki cirri-ciri Turbidit trus hewan-nya (paleontologi maksudku, supaya ndak dikacaukan dengan Megantropus paleojavanicus) juga menunjukkan minimum outer neritic. Lha horizon ini disekitar kota nJombang, muncul sebagai "Klitik" limestone. Makin puyeng kan ? He..he..he... penyegaran sehabis field trip ya. Di daerah ini, basement belum kelihatan hingga 6 seconds TWT. Surface seepages, berjibun, malah di Mojokerto ada gas seepage raksasa (mungkin sekarang sudah "game over", mirip seperti Mrapen. Hanya disini ada shallow ground water, sehingga seepagenya seperti mendidih. Dulu, waktu saya masih muda, sempat lihat orang-orang sak desa kalau mau masak tinggal korek-korek tanah, lantas nyalain api, jadi deh kompor gas alami. Dulu pak Harsono pernah menyebut-nyebut tentang Ngawi subzone sebagai alternative Kendeng zone bagian selatan, cuman saya belum "dong" criteria-nya seperti apa. Ada yng bisa bantu? Bambang -----Original Message----- From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, February 01, 2006 3:31 PM To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED] Subject: [iagi-net-l] Kontroversi Pucangan-Kabuh dan "Homo mojokertensis" Berikut ini sebuah uraian yang didasarkan kepada ekskursi geologi lapangan yang dilakukan oleh BPMIGAS bekerja sama dengan UGM pada 25-29 Januari 2006 minggu lalu. Tujuan utama ekskursi ini adalah untuk mengenal petroleum geology Zone Kendeng Jawa Timur, endapan volkaniklastiknya (turbidit Kerek, Pucangan, Kabuh), dan peluangnya untuk menjadi reservoir hidrokarbon. Zone Kendeng adalah terusan Zone Bogor-North Serayu di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Peluang dan tantangan hidrokarbon zone deepwater Jawa di Bogor-North Serayu-Kendeng Trough bisa dibaca di paper yang saya tulis untuk Deepwater Symposium Asia-Australasia IPA (Satyana & Armandita, 2004). Wilayah ini jangan dibiarkan tetap tertidur, siapa tahu ini wilayah hidrokarbon masa depan. Kali ini, saya tidak bercerita peluang dan risiko hidrokarbon Zone Kendeng, tetapi bercerita tentang sesuatu yang sesungguhnya telah lama menjadi kontroversi geologi Pliosen/Plistosen Jawa Tengah-Jawa Timur dan kaitan paleo-antropologinya. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah tulis di milis ini : "Hominid Jawa in Problem", nah ini lanjutannya setelah melihat langsung di lapangan minggu lalu. "Nama Formasi Pucangan dan Kabuh berasal dari lokasi tipe Gunung Pucangan dan Desa Kabuh di Jawa Timur sekitar Mojokerto", kata Pak Wartono, dosen senior Geologi UGM yang mendampingi kami bersama Pak Budianto Toha (Geologi UGM). Pengecekan lapangan kami sejak Ngawi sampai Perning, Mojokerto menunjukkan bahwa apa yang ada di lokasi tipe formasi tak selalu sama di setiap wilayah yang dicantumkan di peta geologi berbatuan Formasi Pucangan dan Formasi Kabuh. Pucangan kadang2 sebagai konglomerat, lempung hitam, volkaniklastik, dll. begitu juga Formasi Kabuh. Lalu, saya ingat kedua formasi itu di Kubah Sangiran. Kedua formasi ini di Mojokerto, di dekat lokasi tipenya, yang dulu pernah dipetakan oleh Duyfjes, tak punya litologi yang sama dengan yang di Sangiran. Maka, masih layakah nama Pucangan dan Kabuh dipakai di Kubah Sangiran, di tempat yang sebenarnya sudah jauh dari lokasi tipenya itu ? Dan, persoalan menjadi tambah kompleks sebab, kata Pak Budianto Toha, lapisan Grenzbank (lapisan batas) yang terkenal banyak mengandung fosil vertebrata dan hominid itu tidak selalu terletak dijepit Pucangan dan Kabuh, ia menjemari bersama Kabuh dan Pucangan, artinya akan memusingkan pentarikhan relatif umur fosil yang ditemukannya. Kalau dulu Grenzbank selalu dianggap di bawah Kabuh (sehingga fosil di Grenzbank berumur lebih tua dari fosil di Kabuh), kini belum tentu, sebab Grenzbank karena hubungan menjemarinya bisa lebih muda dari Kabuh. Adalah fosil tengkorak anak yang ditemukan di lapisan Pucangan (atau Kabuh ?) di Perning, Mojokerto yang ketika di-dating absolut berumur sangat tua (1.81 Ma). Dari penampakannya, ini adalah Homo erectus seperti yang ditemukan di Kubah Sangiran yang telah banyak dilakukan dating dan menghasilkan range umur 1.2 - 0.7 Ma. Dating ini dilakukan Carl Swisher dan Garnis Curtis dari Laboratorium Geokronologi University of Berkeley, California. Publikasi penemuan ini, bersama dating baru fosil Homo erectus di Kubah Sangiran (1.66 Ma) - Swisher et al., 1994, mengejutkan komunitas paleo-antropologi. Problemnya, apakah fosil anak Mojokerto itu : Homo erectus, atau lebih tua, atau masa hidup Homo erectus tak semuda yang diperkirakan, atau Formasi Pucangan/Kabuh di Perning tak sama dengan Formasi Pucangan/Kabuh di Kubah Sangiran ?? Berbagai pendapat pernah dikeluarkan, baik yang menyerang metode geokronologi Swisher itu (misal Bergh et al., 1995), atau menamakan spesies baru saja buat a nak Mojokerto itu (Meganthropus palaeojavanicus, Homo paleojavanicus mojokertensis ?). Tahun 2002, Carl Swisher, Garniss Curtis, dan Roger Lewin menulis buku bagus tentang penelitiannya yang kontroversial itu "Java Man" (Scribner, New York). Buku ini bercerita tentang drama penemuan lapangan, publikasinya, dan perseteruan dengan para paleo-antropologists. Agustus 2005 lalu ada Joint Excursion antara ITB dan Goethe Universitat Jerman ke Sangiran-Trinil-Ngandong-Kedungbrubus-Mojokerto (tampat2 klasik penemuan fosil hominid Jawa). Masalah kontroversi dating "Homo mojokertensis" ini rupanya menjadi salah satu problem yang ingin dicari solusinya. Kata rekan Sunjaya, BPMIGAS, yang mengikuti ekskursi itu, ada dua ahli dari Australia yang mengumpulkan banyak sampel Pucangan/Kabuh dan mungkin fosil yang ditemukannya untuk dating. Belum ada kabarnya lagi tentang dating ini (mungkin Pak Yahdi Zaim/ Pak Yan Rizal bisa sharing info ?). Saya pun mengumpulkan sampel batuan Pucangan dan Kabuh yang problematik itu, sejak dari Ngawi sampai ke Perning. Kumpulkan dulu, siapa tahu kelak ada gunanya..., kapan lagi ke Perning ? Selagi sempat, selagi ada, selagi lewat (kata pedagang asongan di UKI, he..he..). Dari Dusun Perning, Mojokerto yang gersang, terkandung suatu problem paleo-antropologi yang besar. Jika anak Mojokerto itu sungguh-sungguh 1.8 Ma umurnya, seluruh pengertian kita tentang jalannya evolusi manusia (di Jawa khususnya) akan membutuhkan revolusi yang substantial. salam, awang --------------------------------- What are the most popular cars? Find out at Yahoo! Autos ---------------------------------------------------------------------- This e-mail, including any attached files, may contain confidential and privileged information for the sole use of the intended recipient. Any review, use, distribution, or disclosure by others is strictly prohibited. If you are not the intended recipient (or authorized to receive information for the intended recipient), please contact the sender by reply e-mail and delete all copies of this message. --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

