Pak Bambang,
   
  Yah supaya kami yang di BPMIGAS ini tidak jadi "desk-bound geologists", maka 
suka rutin ke lapangan bekerja sama dengan IAGI atau PT (perguruan tinggi) 
terkait. Ada dalam rencana : ke Ciletuh-Sukabumi-Bayah, ke Bengkulu, ke Sumba, 
ke Seram, bahkan ke sekitar Yogya melihat runtuhnya candi-candi oleh Merapi - 
melihat stratigrafi, tektonik, dll. Kami juga suka mengirimkan rekan-rekan ke 
survey seismik atau pemboran, terutama buat yang dulunya tak berangkat sebagai 
field geophysicist, field geologist, atau wellsite geologist.
   
  Wilayah Kendeng pasti tempat bermainnya Pak Bambang saat masih dengan Lapindo 
ya, he..he... Ya memang kami juga melihat dan membanding2kan Merawu, Kerek, 
Klitik, Kalibeng, Pucangan, dan Kabuh. Betul memang yang namanya lokasi tipe 
itu kelihatannya harus punya areal penerapan yang dikontrol geologi setempat. 
Lokasi tipe Pucangan di Gunung Pucangan yang katakanlah batuannya konglomerat 
kan bisa jadi lempung hitam di Sangiran - secara krono sezaman, tetapi secara 
litologi sudah berbeda (sama halnya dengan membawa Talang Akar dan Baturaja 
dari Sumatra Selatan ke Jawa Barat). Wah, kelihatannya masih amat banyak 
pekerjaan stratigrafi Indonesia ini. Kita mulai saja dulu dengan yang 
produktif2, misalnya Mundu globigerinids di Selat Madura kita bandingkan dengan 
Kalibeng/Klitik di Kendeng atau Selorejo di Cepu.
   
  Ya wajar saja basement di Kendeng (Randublatung Zone sebenarnya) itu sampai 6 
sec TWT pun belum muncul karena dulu pun ia deepwater area, daerah depresi; 
lalu di Neogen-Pleistosen jalur ini makin ditenggelamkan oleh dua regim 
tektonik yang berlawanan. Di zone tengah Randublatung, di utaranya ada tektonik 
deformasi Rembang yang semua arah sesar naiknya ke selatan (southward 
vergency), di selatannya ada tektonik deformasi Kendeng yang arah sesarnya ke 
utara, maka Randublatung di tengah adalah blok turun untuk kedua deformasi itu 
- ia dipaksa ditekuk makin dalam oleh tektonik, maka wajar basement > 6 sec TWT 
belum muncul.

  Ngawi Subzone sih terminologi dari van Bemmelen (1949), sebagai salah satu 
subzone di peta fisiografi Jawa dan Madura, jadi bukan alternatif Kendeng dan 
bukan bagiannya (Ngawi justru bagian dari Solo Zone). Ini subzone yang mengapit 
Kendeng di selatan, dan bagian dari Zone Solo yang lebih besar yang sekarang 
banyak ditutupi gunungapi2 Kuarter. Kriterianya karena ia beda dengan Kendeng 
yang saat ini ditandai dengan antiklinorium, sementara Ngawi tidak, dan ia juga 
beda dari Solo karena tak terubah oleh uplift volkanisme Pliosen-Kuarter. 
Ngawi, Solo, Randublatung zone/subzone mulai sebagai central depression zone of 
Jawa.
   
  Rembesan gas di sekitar Mojokerto adalah berita menggembirakan, bukti lagi 
bahwa zone Randublatung/Kendeng prospektif - gejala yang sama banyak muncul di 
North Serayu di sebelah barat Kendeng.
   
  salam,
  awang
Bambang Murti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Pak Awang,

Waduh, kalu denger pak Awang habis jalan-jalan, rasanya "meri"
deh...dibanding kita-kita yang tertinggal dibalik meja he..he...

Lha itu, kapan batasan mau pakai nama lithostrat atau pakai chronostrat.
Kalau deket-deket mah, boleh-boleh aja kan?
Gimana misalnya, kalau saya bilang, Pucangan di subsurface di Mojokerto
sudah deepwater? Upper Kalibeng-nya memiliki cirri-ciri Turbidit trus
hewan-nya (paleontologi maksudku, supaya ndak dikacaukan dengan
Megantropus paleojavanicus) juga menunjukkan minimum outer neritic. Lha
horizon ini disekitar kota nJombang, muncul sebagai "Klitik" limestone.
Makin puyeng kan ? He..he..he... penyegaran sehabis field trip ya.

Di daerah ini, basement belum kelihatan hingga 6 seconds TWT. Surface
seepages, berjibun, malah di Mojokerto ada gas seepage raksasa (mungkin
sekarang sudah "game over", mirip seperti Mrapen. Hanya disini ada
shallow ground water, sehingga seepagenya seperti mendidih. Dulu, waktu
saya masih muda, sempat lihat orang-orang sak desa kalau mau masak
tinggal korek-korek tanah, lantas nyalain api, jadi deh kompor gas
alami.

Dulu pak Harsono pernah menyebut-nyebut tentang Ngawi subzone sebagai
alternative Kendeng zone bagian selatan, cuman saya belum "dong"
criteria-nya seperti apa. Ada yng bisa bantu?
Bambang

-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, February 01, 2006 3:31 PM
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] Kontroversi Pucangan-Kabuh dan "Homo
mojokertensis"

Berikut ini sebuah uraian yang didasarkan kepada ekskursi geologi
lapangan yang dilakukan oleh BPMIGAS bekerja sama dengan UGM pada 25-29
Januari 2006 minggu lalu. Tujuan utama ekskursi ini adalah untuk
mengenal petroleum geology Zone Kendeng Jawa Timur, endapan
volkaniklastiknya (turbidit Kerek, Pucangan, Kabuh), dan peluangnya
untuk menjadi reservoir hidrokarbon. Zone Kendeng adalah terusan Zone
Bogor-North Serayu di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Peluang dan tantangan
hidrokarbon zone deepwater Jawa di Bogor-North Serayu-Kendeng Trough
bisa dibaca di paper yang saya tulis untuk Deepwater Symposium
Asia-Australasia IPA (Satyana & Armandita, 2004). Wilayah ini jangan
dibiarkan tetap tertidur, siapa tahu ini wilayah hidrokarbon masa depan.

Kali ini, saya tidak bercerita peluang dan risiko hidrokarbon Zone
Kendeng, tetapi bercerita tentang sesuatu yang sesungguhnya telah lama
menjadi kontroversi geologi Pliosen/Plistosen Jawa Tengah-Jawa Timur dan
kaitan paleo-antropologinya. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah tulis
di milis ini : "Hominid Jawa in Problem", nah ini lanjutannya setelah
melihat langsung di lapangan minggu lalu. 

"Nama Formasi Pucangan dan Kabuh berasal dari lokasi tipe Gunung
Pucangan dan Desa Kabuh di Jawa Timur sekitar Mojokerto", kata Pak
Wartono, dosen senior Geologi UGM yang mendampingi kami bersama Pak
Budianto Toha (Geologi UGM). Pengecekan lapangan kami sejak Ngawi sampai
Perning, Mojokerto menunjukkan bahwa apa yang ada di lokasi tipe formasi
tak selalu sama di setiap wilayah yang dicantumkan di peta geologi
berbatuan Formasi Pucangan dan Formasi Kabuh. Pucangan kadang2 sebagai
konglomerat, lempung hitam, volkaniklastik, dll. begitu juga Formasi
Kabuh.

Lalu, saya ingat kedua formasi itu di Kubah Sangiran. Kedua formasi
ini di Mojokerto, di dekat lokasi tipenya, yang dulu pernah dipetakan
oleh Duyfjes, tak punya litologi yang sama dengan yang di Sangiran.
Maka, masih layakah nama Pucangan dan Kabuh dipakai di Kubah Sangiran,
di tempat yang sebenarnya sudah jauh dari lokasi tipenya itu ?

Dan, persoalan menjadi tambah kompleks sebab, kata Pak Budianto Toha,
lapisan Grenzbank (lapisan batas) yang terkenal banyak mengandung fosil
vertebrata dan hominid itu tidak selalu terletak dijepit Pucangan dan
Kabuh, ia menjemari bersama Kabuh dan Pucangan, artinya akan memusingkan
pentarikhan relatif umur fosil yang ditemukannya. Kalau dulu Grenzbank
selalu dianggap di bawah Kabuh (sehingga fosil di Grenzbank berumur
lebih tua dari fosil di Kabuh), kini belum tentu, sebab Grenzbank karena
hubungan menjemarinya bisa lebih muda dari Kabuh.

Adalah fosil tengkorak anak yang ditemukan di lapisan Pucangan (atau
Kabuh ?) di Perning, Mojokerto yang ketika di-dating absolut berumur
sangat tua (1.81 Ma). Dari penampakannya, ini adalah Homo erectus
seperti yang ditemukan di Kubah Sangiran yang telah banyak dilakukan
dating dan menghasilkan range umur 1.2 - 0.7 Ma. Dating ini dilakukan
Carl Swisher dan Garnis Curtis dari Laboratorium Geokronologi University
of Berkeley, California. Publikasi penemuan ini, bersama dating baru
fosil Homo erectus di Kubah Sangiran (1.66 Ma) - Swisher et al., 1994,
mengejutkan komunitas paleo-antropologi. Problemnya, apakah fosil anak
Mojokerto itu : Homo erectus, atau lebih tua, atau masa hidup Homo
erectus tak semuda yang diperkirakan, atau Formasi Pucangan/Kabuh di
Perning tak sama dengan Formasi Pucangan/Kabuh di Kubah Sangiran ??
Berbagai pendapat pernah dikeluarkan, baik yang menyerang metode
geokronologi Swisher itu (misal Bergh et al., 1995), atau menamakan
spesies baru saja buat a
nak
Mojokerto itu (Meganthropus palaeojavanicus, Homo paleojavanicus
mojokertensis ?).

Tahun 2002, Carl Swisher, Garniss Curtis, dan Roger Lewin menulis buku
bagus tentang penelitiannya yang kontroversial itu "Java Man" (Scribner,
New York). Buku ini bercerita tentang drama penemuan lapangan,
publikasinya, dan perseteruan dengan para paleo-antropologists. 

Agustus 2005 lalu ada Joint Excursion antara ITB dan Goethe
Universitat Jerman ke Sangiran-Trinil-Ngandong-Kedungbrubus-Mojokerto
(tampat2 klasik penemuan fosil hominid Jawa). Masalah kontroversi dating
"Homo mojokertensis" ini rupanya menjadi salah satu problem yang ingin
dicari solusinya. Kata rekan Sunjaya, BPMIGAS, yang mengikuti ekskursi
itu, ada dua ahli dari Australia yang mengumpulkan banyak sampel
Pucangan/Kabuh dan mungkin fosil yang ditemukannya untuk dating. Belum
ada kabarnya lagi tentang dating ini (mungkin Pak Yahdi Zaim/ Pak Yan
Rizal bisa sharing info ?).

Saya pun mengumpulkan sampel batuan Pucangan dan Kabuh yang
problematik itu, sejak dari Ngawi sampai ke Perning. Kumpulkan dulu,
siapa tahu kelak ada gunanya..., kapan lagi ke Perning ? Selagi sempat,
selagi ada, selagi lewat (kata pedagang asongan di UKI, he..he..).

Dari Dusun Perning, Mojokerto yang gersang, terkandung suatu problem
paleo-antropologi yang besar. Jika anak Mojokerto itu sungguh-sungguh
1.8 Ma umurnya, seluruh pengertian kita tentang jalannya evolusi manusia
(di Jawa khususnya) akan membutuhkan revolusi yang substantial.

salam,
awang



---------------------------------

What are the most popular cars? Find out at Yahoo! Autos 
----------------------------------------------------------------------
This e-mail, including any attached files, may contain confidential and 
privileged information for the sole use of the intended recipient. Any review, 
use, distribution, or disclosure by others is strictly prohibited. If you are 
not the intended recipient (or authorized to receive information for the 
intended recipient), please contact the sender by reply e-mail and delete all 
copies of this message.

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------



                
---------------------------------
 
 What are the most popular cars? Find out at Yahoo! Autos 

Kirim email ke