Tolong disebutkan saja PCR = polymerase chain reaction, reaksi berantai untuk 
menguatkan DNA. Dari satu molekul DNA dipisahkan dua DNA strands (pisahan), 
tambahkan primer-nya. Masuk ke siklus pertama tambahkan DNA polymerase (ini 
sejenis enzim), lalu pisahkan dua DNA strands, tambahkan primer. Masuk ke 
siklus kedua tambahkan lagi DNA polymerase, pisahkan lagi dua DNA strands dan 
tambah lagi primer, dst, dst sampai DNA teramplifikasi.
   
  Metode amplifikasi DNA melalui PCR ditemukan Kary Mullis, ilmuwan eksentrik 
yang dihadiahi nobel kimia tahun 1993. Sejak itu dia makin eksentrik saja. 
Kredibilitasnya rusak saat dia berteori bahwa AIDS bukan disebabkan HIV.
   
  Kalau ke Tarsius sp (sejenis monyet mini) memang perlu dilakukan penguraian 
sekuen DNA untuk lebih memahaminya, kalau ke polen atau foram ? Kalau kita 
hanya ingin mengenal taxa-nya atau spesiesnya, ah .. berlebihan. Lagipula taxa 
dan spesies polen atau foram sudah dibuktikan dengan penerusnya yang hidup pada 
masa kini. Silakan baca "History of Tropical Mangrove", yang bercerita tentang 
polen purba dan masa kini, oleh Bob Morley (palinologist terkenal yang tinggal 
di Bogor).
   
  Buat saya, DNA untuk polen/foram hanya bagus (mungkin) untuk riset, bukan 
untuk routine job. Morfometrik telah terbukti bagus buat mereka.
   
  salam,
  awang

Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  ---------- Forwarded message ----------
--------------------------------------------------------------------------

Mengapa analisis DNAnya tidak berhasil, penjelasannya
kurang lebih begini. Saya jelaskan sebelumnya bahwa
DNA dalam fosil sudah terfragmentasi dan dalam jumlah
yang sangat sedikit. Untuk diamplifikasi menggunakan
PCR kita memerlukan yang namanya primer, yaitu sekuens
DNA pembantu yang mengapit DNA yang akan kita
amplifikasi. Kalau tujuan forensik dan diagnostik
primernya sudah tersedia secara komersial. Kemungkinan
kegagalan amplifikasi karena primernya tidak tepat,
sehingga DNA tidak teramplifikasi. Sebaiknya pakai
adaptor (ini sudah terlalu teknis), jadi DNA mana pun
yang sudah terfragmentasi bisa diamplifikasi. Saya
nggak tau apakah ini juga sudah dilakukan. Kalau tidak
teramplifikasi, bisa dilakukan yang namanya re-PCR,
dari hasil PCR awal yang tidak terdeteksi. Kalau
alatnya menggunakan real time PCR, kita bisa tahu
seberapa banyak DNA yang teramplifikasi sehingga kita
bisa estimasi perlu tidaknya re-PCR.

Menurut Bapak-bapak yang lainnya yang menganggap bahwa
tanpa DNA saja sudah cukup dan bahwa analisis
molekuler dalam biostratigrafi atau lainnya dianggap
rame-ramein saja, itu sih mah sah-sah saja, seperti
yang saya bilang di awal, masing-masing peneliti punya
argumentasi, dan mestinya kalau pijakannya sama maka
argumenasi bisa lebih terarah.

Tentang mahalnya PCR, sebetulnya ga juga. Kalau di
Mikro UI (dan di tempat-tempat lain, misalnya di
Biotek UNPAD, dll) sekali PCR bisa di atas Rp.
100.000, ya wajar karena mereka profit oriented.
Sebetulnya modalnya ga sampai Rp 40.000 sekali
running. Yang mahal adalah sekuensing DNAnya yang
sejauh ini masih dilakukan di Eijkman Institute for
Molecular Biology di Jakarta, sekali sekuensing itu
Rp. 165.000 or so. Modalnya ga sampai segitu lah kalau
punya alat sekuensing (yang mahal harganya).

Perlu diketahui juga bahwa walaupun sekuens DNA itu 10
pangkat sembilan panjangnya untuk masing-masing
kromosom (kalau di urai bisa mengelilingi bumi), tetap
bagi kami molecular biologist, punya genetic marker
untuk menentukan masing-masing kedudukan living
organism dalam pohon filogenetiknya, karena dalam
sekuens DNA itu ada yang namanya highly variable
(yaitu urutan DNAnya sangat bervariasi, disebabkan
oleh rentannya mutasi di daerah tersebut, digunakan
untuk menentukan subspesies bahkan spesies kriptik)
dan yang higly conserved, yaitu DNA yang sangat
terkonservasi untuk menentukan kedudukan taksonomi di
atas ordo. Dan kami juga punya bidang ilmu yang
namanya bioinformatics yang urusannya membantu para
ahli filogenetik untuk menjajarkan sekuens DNA dan
kemudian menempatkan masing-masing ke dalam posisi
taksonominya, otomatis keluar dengan titik percabangan
evolusinya ada di mana, indeks keanekaragaman
genetiknya bagaimana dan lain-lain.

Jadi, kesimpulan whether or not you are interested in
using DNA sequence for your own research, it is up to
you, folks.

wassalam,
Trina


> ---------------------------- Original Message
> ----------------------------
> Subject: Re: [iagi-net-l] Re: DNA on fossil --> Re:

>
--------------------------------------------------------------------------
>
> Teman2,
>
> Rasanya memang berlebihan seperti kata Pak Awang
> analisis DNA untuk fosil
> polen dan foram, meski jika dipandang dari sudut
> ilmu pengetahuan hal
> tersebut ya sah-sah saja.
> Saya pernah mencoba melakukan analisis DNA - sebut
> saja paleo-DNA untuk
> fosil vertebrata, tepatnya tulang metatarsal dari
> fosil Bovidae (kelompok
> kerbau-sapi dan banteng) berumur Plestosen Tengah
> dari Formasi Kabuh,
> Perning, Jawa Timur. Fosil yang saya pilih, secara
> megaskopis sangat
> sedikit mengalami ubahan ataupun proses
> mineralisasi, karena untuk
> analisis DNA yang diperlukan salah satunya yang
> penting adalah
> kandungan/unsur zat organiknya, berupa protein.
> Analisis saya lakukan di
> Laboratorium DNA Prodi (dulu namanya Departemen)
> Biologi ITB, yang
> alatnya cukup canggih, hasil kerjasama dengan pihak
> Jepang, kalau tidak
> salah dari University of Nagoya. Sayang tidak
> berhasil, karena ternyata
> yang namanya fosil, semua unsur organiknya sangat2
> sedikit bahkan dapat
> dikatakan sudah hilang akibat proses
> ubahan/mineralisasi dan impurities
> yang terjadi selama proses fosilisasi. Jadi ya
> sayang sekali, karena
> tadinya saya berharap bisa melacak garis keturunan
> fosil yang saya
> analisis tersebut melalui paleo-DNA.
>
> Wassalam,
>
> Yahdi Zaim
> Prodi Teknik Geologi
> KK Geologi dan Paleontologi
> FIKTM - ITB
>
>
> ----- Original Message -----
> From: "Awang Satyana" 
> To: ;
> 
> Sent: Wednesday, February 08, 2006 3:54 PM
> Subject: Re: [iagi-net-l] Re: DNA on fossil --> Re:
> [iagi-net-l]
> Biostratigraphi di shelf atau delta
>
>
> > Wah, apa perlunya mengurai sekuen DNA suatu
> spesies pollen atau foram
> ?Palinologist mendeskripsi polen untuk mengetahui
> spesiesnya agar
> diketahui zonasi umur dan tempat hidupnya untuk
> membantu penafsiran
> stratigrafi dan lingkungan pengendapan batuan yang
> mengandung polen itu.
> >
> > Kalau sang palinologist sudah tahu itu
> Florschuetzia trilobata yang biasa
> > hidup di antara 35-25 Ma, atau F. levipoli yang
> biasa hidup di 25-10 Ma,
> dan puluhan ribu taxa lagi (diversitas di Indonesia
> untuk Recent taxa
> sangat ekstrim, sampai 30.000 taxa kata Haseldonck,
> 1977), apakah perlu
> mengurai sekuen DNA-nya ? Info apa lagi yang mau
> diambil selain
> identifikasi jenis yang sudah bisa dilakukan tanpa
> mengurai kode2
> genetik yang terkunci di sekuen DNA pun.
> >
> > Memang sih kita juga tahu bahwa DNA itu memuat
> informasi yang
> > menakjubkan. Empat nukleotida pada inti DNA : ATCG
> (adenin, timin,
> sitosin, guanin) pada komosom manusia bisa membuat
> variasi sekuen yang
> jumlahnya luar biasa. 23 kromosom setiap sel sperma
> atau telur misalnya
> bisa berisi sekitar 3 miliar nukleotida. Tapi,
> semaju sekarang pun
> biologi molekuler, miliaran kode sekuen itu hanya
> mirip
> "celotehan-celotehan" yang riuh rendah karena kita
> tak memahami bahasa
> mereka.
> >
> > Dalam biomedis, DNA memang butuh, sebab kita
> perlu menggali lebih banyak
> > info yang dibawa satu spesies, Homo sapiens -
> manusia. Mengenal manusia
> tanpa melibatkan biomolekuler memang dangkal - tapi
> untuk
> mengidentifikasi fosil polen atau foram dengan
> melibatkan DNA, padahal
> tujuannya hanya identifikasi spesies yah buat saya
> sih berlebihan,
> sementara kita pun belum bisa menguraikan kode
> miliaran kombinasi
> sekuen nukleotida itu. Perlukah kita mengetahui
> seluruh aspek kehidupan
> Florschuetzia
> > meridionalis, dari mana asalnya, bagaimana
> hidupnya, perkawinan2 yang
> pernah dialaminya, dll. Kalau kita jawab : perlu,
> yah memang mengurai
> sekuen DNA yang ada di selnya memang diperlukan
> sebab itu tak bisa
> diperoleh dari sekedar deskripsi.
> >
> > Hanya, saat ini rasanya belum perlu. Teknik2 DNA
> adalah alat utama di
> > biomedis dan paleoantropologi - sebab kita hanya
> berhubungan dengan satu
> spesies : manusia (atau hominid), sementara kita
> ingin menggali banyak
> informasi daripadanya. Kalau kita hanya ingin
> mengenal spesies dari
> puluhan ribu taxa pollen ? Deskripsi pun sudah
> cukup.
> >
> > salam,
> > awang
> >
> > Rovicky Dwi Putrohari wrote:
> > Dear Trina,
> > Apakah teknik2 PCR yang anda lakukan ini juga
> dilakukan di Indonesia ?
> Saya tahu beberapa alat PCR di Lab Mikrobiologi UI.
> Tetapi mereka
> menggunakannya utk mikrobiologi klinik. Belum sampai
> ke fossil,
> > tentunya sampel preparasinya akan sangat berbeda.
> Namun masih manual,
> belum otomatis. Apakah alat-alatnya juga sama ?
> >
> > Selama ini sepertinya biaya utk PCR dalam isolasi
> DNA masih relatip
> mahal (100-200 ribu rups .... ini harga utk
> kebutuhan klinis looh (Rumah
> Sakit). Reagent-reagent kitsnya pun kebanyakanmasih
> impor. Saya ngga tau
> apakah Trina tahu dimana ada reagent kits yg dibuat
> didalam negeri yg
> mungkin lebih ekonomis.
> >
> > Kalau boleh Trina cerita Donk buat temen-temen
> IAGI (Ikatan Ahli Geologi
> Indonesia) ini tentang identifikasi DNA. Dasar teori
> yang basic-basic
> dasar bagian bottom yg paling mudah saja lah.
> >
> > Thx
> >
> > RDP
>

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------



                        
---------------------------------
 Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.

Kirim email ke