Abah,
Sulitnya jaminan suplai batubara ini kabarnya juga terjadi di pasokan untuk listrik, si pemasok lebih seneng jual keluar(ekspor) dibandingkan jual ke DN walaupun harus membayar pinalti karena sudah kontrak. Dalam skala yang lebih kecil dan dg teknologi yang relatif sederhana pun seperti Kokas Batubara ternyata juga masih harus impor, padahal permintaan dalam negeri cukup banyak untuk industri pengecoran logam. dengan harga batubara yang melambung maka harga kokas impor bisa mencapai 4000 an per Kg nya,( paling harga batubara mentahnya 400 Rp) padahal proses batubara menjadi kokas cukup dg teknologi sedrhana saja, memang dibutuhkan batubara yang relatif kualitas tinggi , namun bukan berarti tidak ada didalam negeri ( lha semuanya di ekspor , mungkin cari praktisnya saja , toh sudah laku keras tidak perlu repot memrosesnya) di era 90 an kalau tidak salah percobaan percobaan pencairan batubara untuk subtitusi BBM sudah ada, namun waktu itu karena harga minyak msih sekitar 20 an dollar maka belum ekonomis dan waktu itu akan ekonomis kalau harga minyaknya diatas 35 $ , lha sekarang sudah 60 an $ , baru dimulai pabriknya itupun masih banyak kendala baik suplainya maupun regulasinya .Seharusnya semua energi alternatif dg harga minyak yang tinggi sekarang ini sudah ekonomis, tapi ya itu tadi karena infrastrukturnya/regulasinya tdk mendukung ya masih tunggu tungguan terus para investornya. Keterjaminan pasokan energi primer ini rupanya juga meluas sepeti Gas misalnya, dg harga diluar yg tinggi maka , males jualan didalam negeri, selama didalam negeri tdk ada perlakuan khusus maka ya akan tertinggalkan terus, akhirnya tetep saja mengandalkan yang konvensioanal (BBM) dan ujung ujungnya subsidi semakin gede. sama sama diberikan subsidi , bisa nggak ya yang disubsidi itu Gas atau Geothermal yang memang kedua komoditi tsb melimpah, shg kedua komoditi tsb bisa berkembang, sedangkan minyaknya bisa dihemat. Dg asumsi harga gas 7-9 $ dan minyak 60$ dan setiap 1 liter BBM mennghasilkan 3 Kwh dan setiap btu sama dg 0.00029Kwh ,dan setiap 7 kg steam geothermal meneghasilkan 1 Kwh dengan harga steam 2-3 c$/kwh, mungkin dapat diketahui berapa kalau subsidi tersebut diberikan ke gas dan berapa kalau subsidi BBM dan berapa kalau subsidi Geothermal. memang ujung ujungnya harus ada terobosan diregulasinya yang langsung menyentuh di aplikasinya ( tidak sekedar wacana wacana ) sehingga setiap komoditi energi mempunyai tempat dan penanganan masing masing shg tdk disamaratakan, saya jadi ingat pepatah "Ayam mati keklaparan dilumbung padi" bisa bisa pepatah tsb berganti dg "Listrik mati kekurangan bahan bakar ditengah tengah lumbung energi "

ISM

----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, March 28, 2006 7:07 PM
Subject: Re: FW: [iagi-net-l] Proyek CTL China


>

 Rekan rekan

 Mulai terkuak salah satu "halangan" adalah regulasi , sebagai
profesional yang "cendekia" tentunya kita sudah harus mulai berfikir
(walaupun mungkin bukan kita yang akan langsung mengerjakannya),paling
tidak kita sudah mulai memetakan kearah itu.
Saya kira akan banyak disiplil ilmu yang terlibat kimia , geologi, tambang
teknik mesin dsb
Apakah kita akan baru mulai berfikir setelah seluruh batubara kita habis
diekspor , dan kita tidak punya batubara lagi.
INGAT BAHWA KITA DENGAN CADANGAN BATUBARA YANG TIDAK TERLALU BESAR DALAM
SKALA DUNIA , SAAT INI MENJADI PENGEKSPOR BATU BARA NOMOR TIGA DIDUNIA.

Bagaimanapun nita grup Bakrie harus kita dukung, kesulitan adalah tantangan .



Terima kasih atas respons-nya.

Si - Abah

___________________________________________________________________________






 Abah,
Info dari temen di TEKMIRA - bdg.
ars

-----Original Message-----
From: Hadi Nursarya [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, March 24, 2006 8:55 AM
To: Arifin Sodli
Subject: RE: [iagi-net-l] Proyek CTL China

Saya nggak sempet belajar lagi, tapi untuk melihat teknologi yang
sekarang sudah siap komersial seperti halnya teknologi sasol di afrika
yang juga telah kita kunjungi, jadi kita lagi melihat teknologi mana
yang dapat kita aplikasikan, kalau sekarang baru belajar untuk membuat
teknologi pencairan berdasarkan teknologi sasol kita akan ketinggalan,
teknologi jepang juga telah tersedia untuk jenis batubara low rank,
masalahnya investor untuk melakukan pencairan di indonesia dengan
teknologi yang ada tersebut belum ada yang mau, karena belum ada jaminan
regulasi yang jelas, terutama jaminan pasokan batubara untuk perusahaan
nontambang yang hanya ingin melakukan proses pencairan, sedangkan untuk
perusahaan tambang batubara sistem perijinan akan menyangkut regim
tambang(batubara) dan regim migas pada proses konversi menjadi cair,
dalam hal ini menyangkut kewajiban perpajakan dan non pajak, sedangkan
setelah menjadi cair jelas harus mengikuti aturan regim migas, salam
baut teman2 di jkt, wass wr wb

-----Original Message-----
From: Arifin Sodli [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 23 Maret 2006 11:24
To: Hadi Nursarya
Subject: FW: [iagi-net-l] Proyek CTL China
Importance: High

Di, rasanya anda ngerti bener soal ini kan sudah belajar di Beijing
tempo hari, sok atuh sharing di IAGI net. Biar rame dan pengetahuannya
nyebar.

Wassalam,
ars


-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, March 23, 2006 10:43 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Proyek CTL China


     Kalau Amerika Serikat saja mau belajar kepada Sasol , mengapa kita
     tidak ????
     Tapi ngomong ngomong , ada yang tahu prinsip teknologi-nya ?

     Si-Abah

________________________________________________________________________
____

 >
________________________________________________________________________

  What The U.S. Can Learn From Sasol
The company makes liquid fuel from coal, not Mideast oil. And its
margins are huge

Some 90 miles southeast of Johannesburg, the cooling towers and pipes of
a giant industrial installation sprawl across five square miles. What
happens at Secunda, as the place is known, is of great interest these
days. At a time of sky-high oil prices, Sasol Ltd. (SSL ), Secunda's
owner, churns out 160,000 barrels of gasoline, diesel fuel, and jet fuel
a day, enough to cover 28% of South Africa's needs, without using a
single drop of crude oil, imported or otherwise.

Sasol is not a household name, but maybe it should be. President George
W.
Bush wants to curb America's dependence on Middle East oil. Analysts
worry about a future gap between supplies and relentless demand. Yet
Sasol, with
$11.2 billion in revenues, is already enjoying huge commercial success
in an arena that has eluded U.S. companies -- making fuel from coal. It
is embarking on a program to brew clean-burning diesel from natural gas.
It may even link up with coal producers in the U.S. heartland. "What is
coming out of the U.S. makes us think there is a real business
opportunity for us," says Sasol CEO Pat Davies.

No wonder investors have boosted Sasol's New York Stock Exchange-traded
shares by almost 60% in a year, to 34. "You have to tip your hat to
them,"
says Bernard J. Picchi of New York's Foresight Research Solutions LLC.
"They've been doing [synfuels] longer than anyone else."

Sasol's technology for making gasoline from coal is named
Fischer-Tropsch, after the Germans who developed it in the 1920s. The
Third Reich used the process -- which employs heat, pressure, and
catalysts to transform carbon monoxide and hydrogen into fuels -- to
make diesel during World War II.
Similarly, South Africa's apartheid regime employed it to ease the
effects of the embargo in the '80s. Sasol has spent decades refining the
technology and now has a money-spinner. Assuming oil prices stay in
their current range, synfuels alone should earn Sasol $2 billion in
operating profits for the year ending June 30, 2006, says Picchi. The
fat profits have prompted some South African policymakers to call for a
windfall tax on Sasol, a development that recently affected the stock.

GOING ON THE ROAD
Sasol is supplementing its home operations with overseas ventures. The
first to come online will be gas-to-liquids <(SK>gtl) plants in Qatar
and Nigeria. GTL plants use a version of the coal-to-liquids technology
to make liquid fuels and petrochemicals from natural gas, which Qatar
has in abundance. The Qatar plant will eventually produce 34,000 barrels
a day of super-clean diesel fuel and other products for Europe. Sasol is
also allying its GTL technology with Chevron's (CVX ) exploration and
production skills. The two are building a facility at Escravos, Nigeria,
and planning another plant in Qatar.

One drawback: cost. Building a GTL plant can cost $40,000 per daily
barrel of capacity vs. $15,000 for a conventional oil refinery. But by
Sasol figures, the company can still make $30 a barrel if it gets
low-cost gas feedstock and crude stays fairly high. Picchi figures Sasol
will be getting gas in Qatar and Nigeria at the equivalent of $5 to $10
for a barrel of oil. He sees Sasol earning $350 million per year from
those ventures.

Making money out of coal-to-liquids is tougher, since the plants cost
more. Nonetheless, coal-rich Pennsylvania has assembled a package of
federal and state funding that comes close to the $625 million estimated
price tag of a pilot project. The facility, to make diesel from waste
coal, would use technology from Royal Dutch Shell (RD ) and Sasol.

Davies thinks such projects could be viable in the U.S. with oil prices
at $40 a barrel with "the right incentives." Even so, Sasol would have
to overcome concerns about CO2 emissions. Davies figures that by the
time Sasol invests in the U.S., its "processes will meet environmental
regulations." The hurdles are high. But Sasol has a technology that
every energy-hungry country wants to tap.
 READER COMMENTS>>




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------





---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke