Ya saya mengerti karena "diburu waktu". Namun yg saya khawatirkan nantinya
ketika harga batubara sudah meninggi, energi geothermal akan masuk dalam
kondisi "kepepet" lagi. Dan akhirnya "tidak sempat" dimanfaatkan lagi.

Alih energi alternatif mnurutku "harus" dengan "paksaan" kebijakan khusus.
Ini merupakan salah satu cara utk ngakali harga pasar energi.


On 8/3/05, Liamsi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Pada waktu harga minyak masih rendah dg BBM yang disubsidi maka pilihan
jatuh pada BBM sehingga pada waktu sekarang ini harga BBM tinggi dan
Subsidi
semakin besar , maka dalam kondisi 'Kepanikan" ini harus segera
meninggalkan
BBM beralih ke Non BBM, Nah dalam kondisi yg serba "instan" ini maka
memang
pilihan ada pada batubara , karena waktu yang dibutuhkan uuntuk
membangunnya
pendek dan kapasitasnya besar.( makanya untuk menambah kapasitas 10.000 MW
dapat dipenuhi dalam 3 tahun. ) namun Apakah ada jaminan juga nantinya
harga
Batubara juga tidak akan melambung yang ujung ujungnya produsennya lebih
seneng jualan ke Ekspor.Sebagai perbandingan Biaya Produksi saat ini untuk
Batubara 135-200Rp/Kwh , gas 235-300 Rp/Kwh, Geothermal 300-400 Rp/Kwh dan
BBM 1700 - 2200 Rp/Kwh.Bagaimana nanti kalau Batubara dan Gas ( yg sama
sama
energi fosil ) melambung harganya, padahal energi yang lain tidak / belum
disiapkan.Oleh karena itu sepanjang semua sumber energi di pandang sama
keeknomiannya, maka sumber energi yang notabene terbarukan akan selalu
kalah
dg energi fosil.Seharusnya pengalaman dg BBM yang dulu paling murah
sekarang
bisa berlipat lipat harganya dijadikan pertimbangan untuk pengembaqngan
energi fosil yang lain. Celakanya lagi pusat beban jauh dari sumber
energinya.

Ism

Subject: Re: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical source based energy
policy'


> >
>   Rekan rekan
>
>   Memang benar diperlukan "geographical source based energy" spt yang
>   dikatakan Rovicky TAPI ini tidak  akan berarti apabila energi listrik
>   yang dihasilkan ditransfer ke Jawa untuk menghidupi industri di P.Jawa
.
>   Kita sama sama menyadari betapa beban sosial/ekonimi dan lingkungan
>   yang ditanggung oleh P.Jawa.
>
>   Strategi berikutnya adalah harus memaksa kegiatan ekonomi  pindah ke-
>   daerah yang memiliki sumber energi .(Sumbagsel, Kaltim , Kalsel)
>
>   Tentunya dengan syarat syarat yang menarik para pengusaha dan investor
>   (umpama : tax holiday bagi pajak daerah , energi mestimya lebih murah
>   dsb).
>
>   Apakah ini mungkin ?Saya kira sangat mungkin , apalagi kalau PemDa-nya
>   tidak berfikiran "ingin dapat PAD dalam waktu singkat" ( sehingga
>   baru saja investor kulonuwun sudah di"pajak"-i), dengan mengeluarkan
>   PerDa 2 yang kurang masuk akal.
>
>
>   Si - Abah
>
>
> ________________________________________________________________________
>
>
>
>
>
>   Perlunya "Geographical source based energy policy"
> >

http://rovicky.blogspot.com/2006/05/perlunya-geographical-source-based.html
> >
> >  Indonesia merupakan negara kepulauan terdiri atas ribuan pulau serta
> > sangat
> > beragam kandungan sumberdaya alamnya. Demikian juga kandungan
sumberdaya
> > energi alamiah masing-masing daerah ini sangat beragam. Alam memiliki
cara
> > tersendiri untuk menyebarkan kemakmuran dengan menebar berbagai macam
> > sumberdaya untuk daerah-daerah tertentu. Sayangnya manusia sering
malas
> > untuk menyelami bagaimana alam ini sudah membuat distribusi dengan
lebih
> > sempurna.
> >
> > Berita dibawah ini perlu dicermati :
> >
> > Kamis 4 Mei 2006 21:48:46 WIB
> > PLN Teruskan 10 Proyek
> > PLTU<http://www.minergynews.com/berita/20060504/20060504_2.shtml>
> > MinergyNews.Com, Jakarta
> > ------ quote ---
> > Adapun PLTU proyek PLN yaitu, PLTU Jabar Selatan (2x300 MW), PLTU
Jabar
> > Utara (2x 300 MW), PLTU Jatim Selatan (2x 300 MW), PLTU Labuan (300
MW),
> > PLTU Marunda (600 MW), PLTU Rembang (2 x 300 MW) PLTU Suralaya (2x 600
> > MW),
> > PLTU Teluk Naga (2 x 300 MW), PLTU Awar-awar (600 MW) dan PLTU Paiton
Baru
> > (2x 600 MW).
> >
> > Berita diatas seolah sebuah berita bagus tentang penambahan daya PLN
utk
> > kebutuhan di Jawa, namun sayangnya pembangkit-pembangkit yg dibangun
ini
> > harus mendatangkan sumber bahan bakarnya dari daerah lain. Batubara
> > sebagai
> > sumber bahan bakar PLTU ini harus didatangkan dari Kalimantan.
Tentusaja
> > dengan adanya proses pengangkutan serta pemindahan bahan bakar ini
akan
> > menyebabkan menurunnya efisiensi pemanfaatan energi.
> >
> > Dengan melihat hukum fisika saja sudah terlihat bahwa pengangkutan
akan
> > membutuhkan energi, dan saya pastikan pengangkutannya menggunakan BBM.
> > Rasanya kebijakan menyeluruh soal energi sangat memerlukan perlunya
> > "Geographical
> > source based energy policy". Kebijakan pemanfaatan energi disesuaikan
> > dengan
> > ketersediaannya secara geografis.
> >
> > Peta-peta energi yang telah saya tampilkan disini
> >
<
http://rovicky.blogspot.com/2006/04/ini-energi-bukan-sekedar-komoditi.html
>
sebelumnya
> > sangat jelas menunjukkan adanya distribusi sumber-sumber alam energi.
> >
> > - Sumatra Utara terdapat sumberdaya alam gas bumi dan geothermal.
> > - Sumatra tengah merupakan sumber penghasil minyakbumi. Tentunya
> > pembakaran
> > minyak mentah-pun akan cukup untuk membangkitkan energi listrik di
daerah
> > ini.
> > - Sumatra Selatan juga merupakan lumbung minyak serta gasbumi.
> > - Pulau Jawa merupakan tempat berkumpulnya energi Geothermal dan juga
gas
> > alam di Jawa Barat dan Jawa Timur.
> > - Pulau Bali, Pulau Lombok dan Pulau Nusa Tenggara merupakan tempat
> > berkumpulnya sumber daya energi geothermal.
> > - Kalimantan merupakan tempat deposit batubara.
> > dst
> >
> > Dengan demikian pembangunan PLTU - pembangkit listrik tenaga uap di
Jawa
> > merupakan tindakan yang sangat tidak tepat. Pembangunan PLTU ini akan
> > justru
> > mengurangi pemanfaatan potensi Geothermal di Jawa nantinya. Nilai
> > keekonomiannya akan menjadi bias dan nantinya hanya akan menyatakan
> > "terlanjur" yg hanya akan disesali dikemudian hari.
> >
> > Dengan demikian sangatlah perlu adanya "Geographical source based
energy
> > policy" di Indonesia yg memiliki kondisi geologi-geografi yang sangat
> > beragam.
> > --
> >
>
>
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
>
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




--
"uniformity does not necessarily signify connectivity"

Kirim email ke