Pak Awang, dari lapangan2 utara laut jawa itu memang hanya Zulu dan Bima yang 
memiliki API 21deg dari komposit crudenya, berbeda jauh dengan Arjuna, Arimbi 
dan Zelda, Cintanatomas (ex maxus) yang berada pd kisaran 32-37deg. 
  

Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  API rendah (heavy oils) juga bisa berhubungan dengan source facies. Dari 
statistik 7000 sampel minyak seluruh dunia yang diketahui dengan baik 
korelasinya terhadap batuan induk, diketahui bahwa minyak yang berasal dari 
source marine carbonate dapat punya API di antara 10-40 deg API (kondisi tak 
biodegraded), rata-rata 25-35 deg API. Minyak Salawati yang ada di sekitar 
Walio Field (Kasim, Jaya, Walio, Linda, Sele, dan sekitarnya) adalah contoh 
yang baik.

Minyak Seram, seperti ditulis Herry dan Ariadi, juga memberikan contoh yang 
baik. Baik minyak yang di Pleistosen Fufa maupun minyak yang ada di Middle 
Jurassic Manusela keduanya punya API berat. Memang ada yang terbiodegradasi 
seperti di Bula dan seepages di dekatnya karena reservoirnya dangkal, tetapi 
yang di East Nief dan Oseil, API-nya pun rendah walau tak terbiodegradasi.

Bula oil seep lumayan terbiodegradasi karena n-parafin dan isoprenoidnya 
hilang, tetapi steran-nya tak terganggu sama sekali. Minyak dari Mesozoik East 
Nief atau Oseil (API 15-24) punya pristane/phytane rendah (0.48-0.77), sulfur 
tinggi (0.94-2.95 wt %). Sangat khas minyak2 dari lingkungan anoxic. Fraksi 
saturate masih > 60 %, menunjukkan minyak tak terbiodegradasi. 

Biomarkernya menunjukkan bahwa minyak ini berasal dari anoxic marine carbonate 
source rocks. Buktinya, minyak menunjukkan low diasterane ratios, low tricyclic 
terpanes, high norhopane/hopane ratios, dan high 30-norhopanes. Ini adalah 
ciri-ciri clay-poor anoxic carbonate source rocks. Oleanane tak ditemukan, juga 
C26 24-nordiacholestane ratio rendah. Dua ciri ini telah cukup untuk mengatakan 
bahwa minyak berasal dari source rocks berumur Jurassic atau lebih tua. Kalau 
kita lihat stratigrafinya, maka bisa dipastikan bahwa source rock untuk East 
Nief/Oseil/Bula adalah late-Triassic-middle Jurassic Saman-Saman carbonates. 
Tak mengherankan API-nya berat walaupun tak terbiodegradasi. 

Kalau terjadi keseragaman API di sekitar 20 deg untuk lapangan2 ex ARCO NWJ dan 
lapangan2 Tarakan, agak mengherankan sebab fluvio-deltaik Talang Akar atau 
lacustrine Banuwati source rocks dan juga fluvio-deltaik Meliat/Santul source 
rocks tak mungkin menghasilkan API serendah itu walaupun di kasus low maturity. 
Tipe2 batuan induk seperti ini punya rata2 API 35-45. Atau, terjadi massal 
biodegradation, atau Baturaja marine carbonates source-nya ? Bagaimana ni Ar ?

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: Ariadi Subandrio [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, May 18, 2006 12:54 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Heavy Oil Fields in Indonesia

Dari yg dilakukan Kufpec pada salahsatu DST-nya bahkan ada yang dibawah 15 API, 
tepatnya 14.7 deg API. Lapangan2 ex ARCO NWJ dan lapangan2 dari Tarakan juga 
memiliki API yang relatif rendah, kisaran 20.

ar-



Herry Maulana wrote:
Oseil Field (15-22 deg API) dan Bula Field mungkin masuk kategori heavy oil. 
Keduanya berada di Pulau Seram PSC (Kufpec operated) .

Herry


"Iman Argakoesoemah" 

energi.com> cc: 
Subject: [iagi-net-l] Heavy Oil Fields in Indonesia 
17/05/2006 03:12 PM 
Please respond to 
iagi-net 





Apakah ada lapangan minyak yang heavy oil (< 15 deg API) di Indonesia ?
Kalau ya, dimana ?

Thanks. Iman
                
---------------------------------
Blab-away for as little as 1ยข/min. Make  PC-to-Phone Calls using Yahoo! 
Messenger with Voice.

Kirim email ke