Setiap gempa habis menewaskan ribuan saudara-saudara kita sebangsa dan setanah 
air, sedih sekali rasanya... Ini bencana geologi, dan kita menyebut diri kita 
ahli geologi ?!

Apa yang bisa kita perbuat dengan prediksi/precaution/forecasting bencana yang 
satu ini ? Ingat selalu, ini tanggung jawab kita sebagai geologist yang telah 
memutuskan hidupnya untuk membaca alam. Sekalipun alam itu lembaran bukunya 
sudah hilang di sana-sini, sudah sobek, yang ada pun tintanya sudah kabur. 
Tetap saja, tak ada orang lain yang menekuni gempa selain geologist dan 
geophysicist. Jadi, harapan besar ditaruh kepada kita.

Berminggu-minggu saudara2 kita menatapkan mukanya ke Merapi, kita semua juga 
mau tak mau melihat Merapi karena pemberitaannya yang sangat luas. Hm...tak 
disangka-sangka, dari balik punggung kita justru serangan datang saat saudara2 
kita tak bersiap sedikitpun, saat masih menggeliat dari tidur yang lelap, dan 
dalam 57 detik saja 26.000 rumah diratakan Bumi. Miris melihat mayat2 kaku 
diangkut keluar dari puing-puing bangunan.

Tak ada yang menduganya, tak ada geologist satu pun yang menduganya. Kita hanya 
tahu jalur selatan Jawa rawan gempa. Dan, penelitian kegempaan Jawa minimal 
sekali, kalah jauh dengan barat Sumatra. Berapa banyak survey geomarin dari 
berbagai negara pernah melintas di barat Sumatra, dan berapa banyak di selatan 
Jawa ? Perbandingannya jomplang.

Setiap sehabis gempa kita belajar. Banyak paper ditulis sehabis tsunami Aceh. 
Para ahli geologi tersulut sesaat, tapi tak lama kemudian memudar...ini sudah 
karakter kitakah ?!

Di mana di selatan Jawa tempat2 interplate coupling, seismic gap area, wilayah2 
yang siap rupture dan menyemburkan malapetaka ke darat ? Tidak diketahui. Di 
barat Sumatra, hal ini diketahui di beberapa tempat. Di mana di selatan Jawa 
sesar-sesar yang bisa jadi "death line" saat terjadi estafet front rupture dari 
titik gempa ke daratan ? Ada, tetapi belum dipetakan dan diwaspadai. Sesar Opak 
salah satunya, Sesar Girindulu mungkin. Di mana di selatan Jawa yang bisa 
meredam gempa, tetapi di mana juga yang malah bisa memperkuat gempa ? Ini 
berhubungan dengan litologi penyusun. Bisa dibuat, tetapi belum dilakukan.

Saat ini, gempa Yogya paling tidak memberikan pelajaran kepada kita : jangan 
lengah, selalu waspada, jangan terlepas lagi pengamatan kita, dan jangan hanya 
gaung di muka ke belakangnya memudar. 

Dan, ini, semua wilayah indentasi di selatan Jawa secara seismik bisa 
berbahaya; kalau ada sesar2 model Sesar Opak bisa berbahaya lagi. Wilayah2 
seperti Kutowinangun-Kutoarjo-Purwodadi menjadi berbahaya sebab ia ada di 
sedimen lunak yang diapit dua masif karbonat (Sentolo dan Karangbolong). 
Pacitan boleh jadi berbahaya, tapi ia sempit dan didominasi batuan keras. Di 
Jawa Timur, yang berbahaya dari pelajaran Yogya ini adalah indentasi antara 
Lumajang-jember-Puger. Walaupun ada Nusa Barung sebagai barriernya, kalau 
episentrum terjadi di dekat Puger bagaimana, dan jelas indentasi di wilayah ini 
dibentuk sesar2 tegak utara-selatan. Tinggal dicari wilayah2 inter-plate 
coupling di depan daerah2 ini. Kalau ada, kapan kira2 pecah sebab laju kompresi 
dan slip vectornya saya pikir bisa diukur dengan GPS.

Betul kata Pak Rovicky, masih banyak PR-nya, sementara kemampuan kita 
terbatas...

Salam,
awang



-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, May 29, 2006 1:42 PM
To: [email protected]; HAGI-Net; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] Mengapa pengamatan kita terlepas ?

Gempa Yogyakarta menelan korban lebih dari 4000 nyawa manusia.
Peristiwa ini sangat mengagetkan dan menggegerkan siapa saja.
Bagaimana tidak, ketika semua mata tertuju pada Gunung Merapi yag
sedang bergejolak tiba-tiba sebuah daerah patahan (fault/rupture zone)
bergetar dengan kekuatan 6.3 Skala Richter dengan kedalaman 10 Km
(USGS) dengan daya rusak 6 hingga 7 skala MMI.

 Zona patahan penyebab gempa.

 Zona patahan (fault zone) ini sebenarnya sudah lama diketahui dan
dipetakan oleh ahli-ahli geologi. Lembar peta yogyakarta yang
diperbaharui dari peta-peta sebelumnya oleh Wartono (1995) juga sudah
memetakan zona patahan ini. Hampir semua mahasiswa geologi di
Yogyakarta mengenali patahan ini. Patahan ini memisahkan dataran
tinggi Wonosari yg bagian teratasnya terdiri atas singkapan
Batugamping Wonosari dengan dataran landai Yogyakarta yg merupakan
kaki Gunung Merapi.

 Mengapa pengamatan kita terlepas ?

 Daerah ini sebelumnya dikenal daerah dikenal "aman" terhadap gempa
bumi. Bahkan peta geologi teknik yg terbitkan oleh DGTL juga tidak
menyebutkan bahya gempa ini.
http://www.dgtl.esdm.go.id/peta_web/GT_YOGYA.html Bahaya-bahaya yg
disebutkan dalam peta itu adalah bahaya kebencanaan geologi yang
meliputi: bahaya letusan dan aliran lahar gunung Merapi, potensi
lempung mengembang, dan kerentanan terhadap kejadian longsoran.
Bencana bencana lain seolah terlewat dalam pemikiran.

 Selama ini belum ada catatan sejarah dari gempa tektonik yang merusak
di Yogyakarta. Sehingga bencana yg berhubungan dengan aktifitas Gunung
Merapi lebih menyita perhatian dibandingkan bencana gempa. Gunung
Merapi sangat sering menunjukkan aktifitasnya, bahkan menjadi sebuah
Gunung Api teraktif di dunia. Ketiadaan catatan khusus mengenai gempa
ini mungkin beberapa gempa yg terjadi dimasa lalu selalu dikaitkan
dengan kegiatan Merapi, sehingga kebencanaan gempa di Yogyakarta
tertutupi (overlooked).

 Banyak bangunan-bangunan tua (lebih dari 300 tahun) yg berada di
KotaGede serta Surakarta yang ikut roboh. Disini ada dua hal yg perlu
diketahui, yaitu : bangunan tersebut barangkali memang sudah tua dan
rapuh, dan yang kedua selama 350 tahun terakhir memang tidak tercatat
adanya gempa merusak. Dan barangkali inilah pertanda mengapa
kewaspadaan bahaya gempa tidak tercatat di daerah ini.

 Ada pelajaran baru buat kita semua, tentusaja.
 •    Sebuah patahan yg diperkirakan pasif (nonaktif) sangat mungkin
menjadi aktif karena trigger-triger tertentu, mungkin saja Patahan
Opak ini terpicu oleh aktifitas Gunung Merapi, atau juga saling
mempengaruhi. Bahaya bencana alam dapat terjadi dimana-mana dan tidak
disangka-sangka.
 •    Perlu perubahan carapandang suatu daerah dengan memperhatikan
potential desaster tidak hanya berdasarkan catatan sejarah (tertulis).
Banyak rekaman-rekaman geologi yg harus dipelajari seperti rekaman
gempa yg ada di batugamping terumbu yg usianya dalam jangka ribuan
tahun.
 •    Adanya beberapa patahan-patahan pasif yang paralel dan
berpasangan dengan Patahan Opak ini yg perlu diperhatikan, misal
Patahan Grindulu yg membentang sejajar dengan Patahan Opak dari daerah
Pacitan kearah Timur-laut. Kajian sejarah kegempaan yang terekam dalam
tanah berusia ribuan tahun sepangang sungai grindulu barangkali dapat
membantu memerikan periodisasi kegempaan di daerah ini.

 Masih banyak PeeR yang harus kita lakukan bersama.

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


-- 
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.7.3/350 - Release Date: 5/28/2006
 

-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.7.3/350 - Release Date: 5/28/2006
 

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke