Pak Awang,

Seingat saya ada dua kasus yang mirip (tapi tidak sama benar karena yang
keluar gas -atau juga lumpur tapi nggak kelihatan karena lokasinya di
offshore). Dua-duanya terjadi di tahun 70-80-an saya lupa persisnya. Saya
waktu tertarik membaca karena berhubungan dengan North Sokang dan kebetulan
juga laporannya dilengkapi gambar urut-urutan tenggelamnya si kapal.

- kasus tenggelamnya drill ship di sekitar Natuna (operatornya Mobil..?)
sumur mengalami kick (yang di jatim: loss), kemudian sumur disumbat. Dipikir
sudah aman, eh nggak tahunya beberapa jam kemudian mulai keluar gelembung
gas di salah satu sisi drill ship itu. Makin lama makin besar gelembungnya,
dan tentunya ini mempengaruhi berat jenis air. Akibatnya lama-lama si drill
shipnya miring ke arah yang ada gelembung gasnya (BJ lebih kecil) dan
beberapa jam kemudian terbalik total model tangkuban perahu.
Jadi setelah sumur disumbat rupanya si gas lari mendesak ke permukaan dan
menimbulkan rekahan yang makin lama makin besar.

- kasus kedua di selat malaka (operatornya Caltex atau Hudbay ..?)
mirip di atas, sumurnya kick, kemudian disumbat dan gas mendesak ke atas
lewat rekahan..... saya lupa apakah ini berupa platform atau barge yang
akhirnya juga tenggelam. Tapi seingat saya lokasinya di laut dangkal atau
bahkan transisi.

Dua-duanya ada gas yang keluar via rekahan setelah sumur disumbat dan
rasanya tidak ada yang mengkaitkan dengan gempa di laporan yang pernah saya
baca. Jadi mungkin kasusnya Lapindo ini sama, setelah disumbat si gas lari
via rekahan dan karena ini lokasinya di daratan maka airnya tentunya jadi
kelihatan berlumpur. Dari cerita teman-teman bahwa lumpur di Jatim sangat
encer, maka mungkin pada kasus di atas si lumpurnya tidak terlalu kelihatan
karena bercampur air laut.

Hal lain yang menarik adalah bahwa adanya keterangan pak Faiz (dir opsnya
Lapindo) bahwa ketiga titik semburannya membentuk garis lurus. Mungkin bisa
dilihat dari konfigurasi sigma-nya, apakah tidak mungkin ini merupakan "hole
breakout" skala besar.


salam,

----- Original Message -----
From: "Awang Harun Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, June 13, 2006 8:57 AM
Subject: RE: [iagi-net-l] Informasinya benar (Banjar Panji Mud-Extrusion)


Saat terjadi problem, data pertama yang selalu kita minta dan amati adalah :
kronologi sumur. Dari rentetan peristiwa di sumur itulah biasanya kita
memutuskan apa penyebab problem di sumur. Hanya, khusus untuk Banjar Panji
kita tak bisa mengesampingkan kasus gempa sebab semua semburan terjadi
setelah gempa terjadi. Semua yang ditanyakan Pak Rovicky sudah ada dalam
penelitian. Itu salah satu data yang kita kumpulkan. Maaf, saya tak bisa
ekspos di sini sebab saya hanya ingin mengklarifikasi apa yang saat ini
berkembang di media.

BPMIGAS pun pernah menghadapi claim kasus pipe sticking di Sumatra Utara
yang operatornya menunjuk ke Gempa Aceh sebagai penyebab utama. Operator
datang lengkap dengan seismogram dari BMG. Hanya, setelah dipelajari
diputuskan bahwa pipe sticking adalah akibat Baong shales. Semua yang pernah
mengebor di Sumatra Utara tahu pasti bagaimana ”baongnya” (nakal) si Baong
ini. Kebetulan, operatornya baru dan tak tahu si Baong gemar menjepit pipa.

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, June 13, 2006 1:34 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Informasinya benar (Banjar Panji Mud-Extrusion)

Ada cara yg juga objektif melihatnya adalah dengan melihat kejadian
secara chrono-logis. Dan kalau bisa diterjemahkan dalam 3 dimensi.
Jadi mendapat 4-D visualisasi.

- Kapan sumur tsb mulai ngedril dengan open hole ? Berapa openhole-nya ?
- Kapan mendapat Lost, kapan mendapat Gain, Kapan ditutup ?
- Kapan terjadi gempa ?
- Kapan Sumur teratasi ? Kapan Rig Move ?
- Kapan mulai ada semburan dari titik2 flow dijumpai ?
Ada yg tahu ?

'intuitif :
- bisa saja terjadi underground BO,
- bisa saja liquified induced by earthquake,
- mungkin saja dua-duanya ... atau
 ........ sesuatu yg kita memang tidak tahu sama sekali apa yg terjadi" ....
kita coba saja mengkaji "the possible explanation".

rdp
On 6/13/06, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Informasinya belum tentu benar ? Tak ada yang serakah. Media massa memang
sumber informasi, tetapi belum tentu akurat.
>
> Kemarin sore, pukul 16.00, datang telepon dan sms dari Metro TV untuk
mewawancarai saya di acara mereka pukul 18.00 tentang semburan lumpur di
sumur Banjar Panji-1 Lapindo Brantas. Tetapi, terpaksa saya tolak karena
pada saat yang sama tim BPMIGAS dan Lapindo mesti ke Komisi VII DPR untuk
urusan yang sama.
>
> Apa yang tengah terjadi dengan semburan lumpur di Banjar Panji-1 ? Tidak
ada yang bisa memastikan, sehingga penanganannya pun tak semudah blow out
seperti yang pernah terjadi di beberapa sumur (Randublatung, Pasirjadi,
Anggur, dll.). Mari kita lihat faktanya dulu.
>
> Kita punya fakta-fakta : lumpur yang tersembur adalah lumpur subsurface
(bukan lumpur pengeboran), analisis nannofosil di lumpur menunjukkan umur
sekitar Pliosen - sama dengan kandungan fosil di kedalaman 2000-6000 ft di
sumur tersebut, ppm cloride sekitar 10.000, lumpur mengandung material
volkanik, di awal2 semburan lumpur mengeluarkan gas H2S, temperatur lumpur
sekitar 40-50 deg C. Saat kejadian gempa Yogya 27 Mei 2006, dua stasiun BMG
di Surabaya mencatat goncangan di Surabaya II-III MMI dengan momen magnitude
3-3.9 Mw (skala Richter lebih kecil sedikit); di stasiun Karangkates
tercatat III-IV MMI dengan magnitude 4-4.9 Mw. Data seismik regional di
wilayah ini menunjukkan beberapa gejala diapir. Ada lima titik semburan
lumpur dan semuanya di luar titik sumur, permulaan semburan terjadi sejak
Senin 29 Mei 2006-Kamis 1 Juni 2006.
>
> Sesar regional di wilayah ini adalah strike-slip berarah BD-TL yang
memotong sampai ujung barat Madura dan ke selatan sampai ke Pegunungan
selatan. Flower structuring bisa diinterpretasikan terjadi juga di wilayah
Banjar Panji. Mengapa BPMIGAS dua tahun lalu menyetujui pemboran sumur ini ?
Karena : sumur ini merupakan sumur pertama yang akan dibor Lapindo Brantas
untuk mengetes deep prospect di Kujung I atau Prupuh reef, petroleum
system-nya memenuhi syarat, analogue discoveries sudah sangat banyak (Banyu
Urip, Mudi, Sukowati, BD, dll.), kalau sumur ini sukses rentetan implikasi
kesuksesannya akan panjang. Drilling hazard ? Ada tentu, overpressure dari
diapir dan kita sudah tau sebab ini wilayah rapid sedimentation di sekuen
Pliosen.
>
> Sumur dibor, ada beberapa hambatan overpressure, tetapi bisa diatasi. Set
casing, hasil LOT di shoe casing terakhir dan perjalanan profil MW versud
depth menunjukkan tak perlu set casing baru di sekuen bawahnya sampai
menembus target utama Prupuh (Set casing begitu masuk target karbonat sudah
sangat biasa dilakukan di Salawati Basin, no problem). Target utama Prupuh
ditembus (mungkin sudah tembus, walaupun turun cukup signifikan dibandingkan
prognosis) dan loss (biasa terjadi kan di porous reef yang baru terbuka).
Sumur distop mengatasi loss dan beberapa pekerjaan pipe sticking. Lalu
keluarlah semburan lumpur, gas, air pertama beberapa ratus meter dari kepala
sumur, saat itu sudah dua hari lewat gempa Yogya. Dan semburan2 pun berentet
terjadi sampai lima lokasi membentuk deretan yang lebih kurang BBD-TTL.
Tentu saja rig segera dievakuasi dan BOP ditinggalkan di kepala sumur.
Setelah itu, adalah cerita mengatasi banjir lumpur panas.
>
> Dari mana sumber lumpur itu ? Ini penafsiran saya berdasarkan hard data
analisis lumpur, data geologi sumur, geologi regional, data seismik, dan
analog dengan kejadian yang mirip2 di Porong (purba), Maumere, South Caspia,
dan Peloponnesus Basin di Yunani.
>
> Yang tengah terjadi di Banjar Panji adalah ekstrusi liquefied clay yang
berasal dari Upper Kalibeng clay di kedalalaman 4000-6000 ft yang
terlikuifikasi akibat clay tersebut mengalami sediment failures, kehilangan
shear strength-nya, kehilangan bearing capacity-nya. Semburan terjadi karena
liquefied clay ini punya tekanan hidrostatik dan pore pressure, lapisan
liquefied clay ini terpotong-potong sesar2 kecil (fissures) yang sampai ke
permukaan. Sesar2 ini adalah vents, sekali menemukan vents maka akan terjadi
release pressure agar terjadi equilibrium. Suatu liquefaction akan mengalami
tiga macam failures : lateral spreads, flow failures, loss of bearing
strength. Ini semua telah terjadi di Banjar Panji.
>
> Pertanyaannya : mengapa sampai tiba2 terjadi liquefaction ? Semua kasus
liquefaction yang pernah dilaporkan terjadi dan pernah ditulis di paper2
atau textbook adalah karena adanya sudden cyclic shocks/sudden cyclic loads.
Gempa adalah penyebab utama. Penyebab lain bisa storm waves, rock slides,
influx ground water yang tiba2.
>
> Sebelum liquefaction, tanah atau litologi akan kompak dan punya daya
dukung oleh pembebanan, secara mikroskopis, kompaksinya akan dihasilkan oleh
grains to grains batuan yang saling bersentuhan, ia akan rigid, punya
tekanan hidrostatik sebesar kedalaman lapisan ini terdapat, pore pressurenya
akan terjaga di bawah hidrostatic pressure. Tetapi, bila ada sudden clyclic
loads yang cukup besar, interstitial pore water akan bertambah tekanannya
minimal menyamai hidrostatik pressure-nya, dan mulailah tekanan air dari
pori mengganggu grain to grain touch lalu merusakkannya. Kompaksi langsung
hilang, bearing capacity hilang, shear strength hilang, sediment failures,
ia akan segera jadi dense slurry - bubur pekat- yang berkelakuan seperti
fluida.
>
> Mengapa gempa bisa menyebabkan liquefaction ? Karena P dan S wave-nya akan
mendistorsi struktur granular pori, sehingga ruang pori akan runtuh. Kolaps
pori ini akan menghilangkan grain to grain contact (bayangkan bangunan rumah
yang runtuh, di skala butiran batuan pun itulah yang terjadi). Kalau pori
runtuh, terjadilah fluidisasi. Di samping itu, P wave diketahui meningkatkan
pore water pressure pada setiap passage of shock waves.
>
> Dalam kasus Banjar Panji, saya percaya gempa Yogya mereaktivasi sesar2 di
atas Prupuh di sekuen Mio-Pliosen sampai Plistosen (Semilir/Lower Kalibeng ?
Upper Kalibeng, dan Pucangan). Gelombang gempa ini telah menjadi sudden
cyclic loads memicu liquefaction di Upper Kalibeng kedalaman 4000-6000 ft
karena sekuen inilah yang paling labil dan siap kehilangan bearing
capacitynya. Lalu, liquefied clay ini menyembur ke permukaan via venting
faults membawa H2S dari Prupuh carbonates yang baru terbuka karena terhubung
oleh sesar juga. Apakah ada efek drilling operation dalam kasus semburan
lumpur ini ? Harus ditanyakan dulu, apakah tumbukan bit atau overpull torque
bisa menggenerasikan P dan S wave seperti yang digenerasikan earthquake yang
akan membuat sediment failures ?
>
> Kesimpulan saya berbeda dengan Media Indonesia, kondisi geologi dan gempa
lah yang lebih dominan mendorong ekstrusi lumpur di Banjar Panji. Tak ada
lumpur disemburkan dari titik sumur, semua lumpur keluar dari sesar2 di
sekelilingnya. Tentu, kegiatan drilling juga punya andil - tapi bukan faktor
dominan.
>
> Di Yogyakarta, dilaporkan juga di rekahan2 baru yang merentang di
jalan-jalan raya dan wilayah perumahan penduduk, terjadi ekstrusi lumpur.
Liquefaction adalah gejala biasa suatu gempa.
>
> Kesimpulan saya tentu bisa berbeda dengan yang lain. Silakan dicermati.
Hanya, bencana tetap bencana, saya juga sedih, kok berturut-turut,...dan
saya melihat,  tak akan mudah mengatasinya...
>
> Salam,
> awang
>
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: Syaiful Jazan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Tuesday, June 13, 2006 9:20 AM
> To: [email protected]
> Subject: [iagi-net-l] Informasinya benar
>
> Apa yang diutarakan dibawah ini benar adanya,informasi yang sama juga saya
terima dari sumber yang bisa dipercaya.
>
> Kasihan....untuk semua yang jadi korban......!!!!,pelajaran yang sangat
berharga buat perusahan2 lokal lainnya.
>
> inga.....inga......jangan serakah....!!!
>
>
> Salam
> SJN
>
> -----Original Message-----
> From: OK Taufik [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Tuesday, June 13, 2006 8:25 AM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] 'Semburan' Lumpur dan gas didekat jaln tol SBY
>
>
> Diambil dari http://www.media-indonesia.com/
>
> Bagian Komentar Editorial
>
> TRUE STORY-1
>
> Mudah2an dengan tulisan ini bisa menjelaskan sejarah kejadiannya:
> Master plan untuk sumur ini adalah pada kedalaman 8500 Ft akan di set
> cassing dan di-cement, sehingga apabila terjadi semburan gas, kondisi
> sumur sudah aman karena arah semburan tdk akan ke formasi (menyamping)
> tapi bisa diarahkan ke atas dan semburan gas tsb mudah untuk di "kill"
> (kill well). Tetapi, pihak Lapindo tetap ngotot untuk terus ngebor
> sampai formasi limestone (gas) ditemukan tanpa memikirkan saftey-nya
> jika terjadi semburan. Dalam hitung2an bisnis artinya:masih ingin ketemu
> formasi gas yg lebih besar. Sampai kedalaman 9000Ft, pihak Lapindo
> diingatkan lagi untuk set casing karena semua orang di lokasi sudah
> ketar-ketir apabila terjadi semburan, blm ada proteksinya,lagi2, Lapindo
> menolaknya.Akhirnya di +/- 9200, terjadi loss total(indikasi telah masuk
> formasi gas) dan mulai terjadi kepanikan. Saat itupun sebenarnya keadaan
> masih bisa dikendalikan, harusnya langsung dipompakan cement untuk plug
> sumur, lagi2 Lapindo masih berpikir untuk menyelamatkan sumur yg sudah
> di bor dengan biaya $$$million. Jujur saja, untuk menghentikan semburan
> lumpur harus dilakukan pengeboran miring ke arah formasi gas tsb,utk
> proses ini akan butuh biaya $$$million dan baru bisa dilakukan setelah
> peralatan penunjang ada (rig, cement unit, dll), mungkin 3-4 bulan
> lagi,tergantung kecepatan Lapindo utk menyiapkan dana, teknisi, kontrak,
> dll untuk mulai pengeboran miring.Untuk mengaitkan gempa sbg penyebabnya
> adalah mungkin, tapi itu hanya 1% kemungkinannya.Mudah2an tulisan ini
> bisa memberikan gambaran secara lebih jujur ke media tanpa harus ada yg
> ditutup-tutupi.
>

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


--
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.8.3/362 - Release Date: 6/12/2006


--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.8.3/362 - Release Date: 6/12/2006


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke