Mau sharing nih. 1. Kapan kita set casing. a. Pernah nyambi jadi "wellsite geologist gelap" untuk sumur dekat kota subang, dimana casing bisa di set di sekitar 15 meter diatas formasi karbonate parigi yang diperkirakan berisi gas. Korelasi dengan sumur sekitarnya menunjukkan bahwa (mudah mudahan gak salah), lubang tetep aman di set sampai disekitar 45 meter diatas parigi, karena dari log composite yang ada tidak ada keterangan bahwa ada masalah dengan well testing di pariginya.
b. Di daerah ramba, ada baturaja klastik (cemented sandstone, tapi masih bagus permeabilitasnya) yang overlying diatas facies karbonat nya. Saya set casing persis masuk baturaja karbonatenya sekitar setengah meter saja dan itu aman. Karena drilling masih menggunakan kelly system, drilling setengah meter masih bisa terdeteksi dengan baik. c. di daerah suban, set casing sampai masuk sekitar 5 meter di baturaja masih oke. diatas baturaja suban ada shale yang cukup tebal (50 meter?) yang menunjukkan trend kompaksi normal (semakin resistive menuju ke baturajanya). Kita udah memberi aba aba ke drilling untuk menyiapkan lcm sebelum masuk ke brfnya. Pengalaman sumur sebelah, shale akan menjadi problem sewaktu melakukan open hole test kalo kita set casing masih belum menutup shale tersebut. jadi lebih aman masuk sedikit ke karbonate dan set casing. 2. Jenis LCM. Jenis yang paling sering digunakan adalah kalsium karbonat ditambah beberapa mika dan fiber. cuma harus hati hati kalo kita menggunakan LWD/MWD karena bisa jadi akan nge plug screen alat alat itu. 3. Blind drill vs LCM. Serngkali kalo sudah patah arang, blind drill adalah pilihan terbaik karena akan ngirit cost. problem nanti waktu logging kemungkinan stuck menjadi menjadi besar karena differential sticking. beberapa kali dilakukan under-pressure logging untuk menjaga lubang masih terisi oleh mud. Untuk formasi yang resistive seperti granite dan karbonat, pemilihan tool resistivity menjadi sulit karena kalo menggunakan laterolog rasanya gak mungkin mengingat selama blind drilling menggunakan air tawar sementara kalo menggunakan induction, formation resistivity melebihi 200 ohm. jadi dua duanya gak masuk spek tool sama sekali dan perhitungan log analysisnya menjadi gak menentu. Semoga membantu Salam Shofi On 6/16/06, sugeng.hartono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Amin, Untuk urusan ini, kawan-2 drilling lebih paham. Misalnya untuk sumur dangkal (3000 ft), sebelum pemboran masuk karbonat rangkaian pipa akan dicabut, nozle pada drilling bit akan dilepas, lalu pemboran dilanjutkan. Karena nozle sudah dilepas maka tekanan pada lubang bit-nozle berkurang sehingga tidak akan terjadi loss. Untuk sumur dalam (9000 ft) pemboran hanya dianjurkan menembus karbona max 10 ft saja; setelah logging, pipa casing akan diset dan disement. Selanjutnya pemboran di dalam karbonat akan menggunakan lumpur yang lebih ringan, ini untuk menghindari loss. Menunggu pemboran sampai tembus karbonat (dan hanya boleh dibor 10' ft saja) menjadi tugas wellsite geologist. Repotnya kalau ternyata kedalaman karbonat jauh lebih dalam dari perkiraan (prognosis). Ada yang mencoba pipa casing di-set +/- 200 ft di atas karbonat (kalau ini mah wellsite geologist sama sekali tidak ada beban); namun setelah ada masalah dengan lempung (swelling shale problem) barulah pipa casing di-set 10 ft masuk ke dalam karbonate. Jenis LCM yang dipakai biasanya disesuaikan dengan jenis fracture di karbonat, ada kwik-seal, frac-seal (kasar,sedang, halus), wall nut, serbuk gergaji, CaCO3, LCP-2000 (sejenis gel).l Intinya untuk menyumbat retakan formasi. Kawan drilling biasanya belajar dari pengalaman. Misalnya kalau membor di suatu lapangan (karbonat) selalu mendapat problem loss, maka mereka akan bertanya kepada geologist: Interval mana saja yang berproduksi; maksudnya kalau di bawah sana sudah tidak ada hidrokarbon (di bawah OWC misalnya) dan tidak perlu diproduksi, mengapa mesti dibor dan selalu ada problem loss (biaya menjadi lebih mahal). Dari jawaban geologist, mereka mengusulkan untuk membor hanya sampai lapisan yang produktif saja. Hasilnya: tidak pernah ada problem loss. Tetapi mereka juga pernah lakukan "blind drilling" artinya membor terus (sambil dipompakan air) walaupun tidak ada cutting sample yang naik ke permukaan. Setelah sampai kedalaman tertentu, mereka bisa lalukan logging (dalam lubang sumur hanya berisi air, tidak ada loss pada saat keadaan statik), lalu di-set pipa casing. Salam, Sugeng Shofi

