Netters, Apa ada yang bisa bantu ya ? 1. Ada yang bisa confirmasi ke sumber ini ? "Bu Lily Teknik Kimia, ITS: sebut kadar merkuri Lusi (Lumpur Sidoarjo) 2,565 mg/liter. Padahal ambang batas adalah 0.002 mg/liter.
2. Bahan apa lagi yang di maksudkan sebagai berbahaya ? Fenol, H2S, .... 3. Mau di buang kelaut dengan treatment seperti tailing? Termokline terdekat, mungkin adalah dekat subduction zone di selatan Selat Bali. Jaraknya adalah dari Porong ke ujungtimur Jatim (~ 210 km), lalu keselatan 140 km ( dengan total 3x70 km). 4. Ada yang tahu 7 lokasi semburannya ? Mungkin adalah sebagai patahan di permukaan. Lokasi-lokasinya, mungkin adalah kelipatan sekitar 70 m jaraknya. Bisa dengan peta Mas Vicky tuk perlihatkan lokasinya. Teman melihat sekitar 7 lokasi semburan di stand Lapindo SEG JKT. Koran beritakan semua semula 5 lokasi, dan 4 sudah tak aktif. 5. Ide Pak Arief Budiman, memang amat bagus, bikin cerobong. Walaupun demikian, mungkin bisa terangkan bagaimana atasi masalah yang belum kupecahkan. 5.a. Pengayakan, pemilahan bahan, pemisahan massa. Dengan adanya tanggul, semakin tinggi, ya berupa cerobong. Semakin tinggi tanggul/cerobong, maka akan ada pemisahan bahan. Yang berat terpisah dulu, yang ringan, termasuk air akan lebih tinggi perlu cerobongnya, dan terakhir gas. Gas adalah tak mengalir, mungkin baru 13.500 ft (2 km). Zona in adalah zona dimana uap air tak dapat lebih tinggi, dan inilah batas daerah ada hujan. Untuk lumpur apa memang hanya 36 ft ? Kurasa lebih. Namun saya belum tahu berapanya. Dan untuk airnya, apa tidak 1000 m, setebal overburden. Tanah "overburden" 1 km x 20 km x 10 km. 5.b. Bukankah kalau satu lubangnya di tutup, maka menjalarkan tekanan ke arah lain, misal ke bidang sesar ? Akibatanya akan ada lubang baru, yang mungkin d luar kolam lumpur yang ada ? Ini, yang kurasa usaha yang di hindari kini, menutup satu lubang, biar lumpur terpusat ngalir disitu, tak ke lubang-lubang lain, di sekitar sepanjang patahan (sebut saja sesar BanjarPanji), yang mungkin 14 km panjangnya, membentang timur-barat, atawa timurlaut-baratdaya. Dan usaha yang paling aman adalah menutup lubang (dekat sumur itu) di sutu kedalaman, misal 1 km itu, dengan "relief well". Tak begitu ? Arah sesarnya, saya duga ya tadi itu, kutanyakan garis lurus lokasi-lokasi sumur itu. 6. Katanya sulit sih, jadi alternatif adalah ke laut. Bagaimana supaya aman ? Model tailing ke thermoklin itu kan adalah kasus contoh/analogi. Kita deduksi dari ini, terdekat ya 3x70 km itu. Murah kali di banding kalau di darat lautannya. 7. Berapa merkusi di Minamata 1932-1968 per hari ? Bagaimana kasusnya ? Yang kutahu, Lusi dengan 2.565 mg/l, artinya perhari adalah 125 kg merkuri perhari. (detilnya, 2.5 mg/liter x 50.000 m3/hari x 1000 liter/m3 x 1 kg/1000.000 mg). Minamata, sejak di alirkan 1932, baru 20 th ada akibatnya: ada 5 orang sakit syaraf-otak, tak bisa jalan, mati kemudian. Jumlaha yang mati 1400, dari 10.000 yang di bayar pengobatannya, dari 2 juta orang yang terkontaminasi merkuri. Baru 40 th, perusahaan mau ganti rugi, ~@ USD 70.000 (exactnya 66.000). Kalau di buang di Selat Madura, yang kedalaman kurang dari 20 m, mungkin akibatnya lebih banyak penduduk terimbas. Tak hanya 2 jt, bisa lipat-lipat. 8. Tailing (cari emas), pakai water treatmen (menyaring merkuri) tidak ? 9. Fenol, itu akibatnya apa? 10. Lumpur, kalau dialirkan ke Selat Madra, tak kawatirkan pendangkalan pelabuhan Tanjung Perak? Bengan Solo aja di alirkan kearah utara, Ujung Pangkah, agar tak cepat mendangkalkan pelabuhan itu. Bagaimana ? 11. Minyak Jatim banyak merkurinya ? Berapa kandungannya ? Ato rahasia perusahaan ? Wah dah lebih 7 pertanyaan. Salam, Maryanto. Salam ku untuk Lusi ...., bilangin supaya gag nakal-nakal. --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

