Terimakasih Pak Koesoema. Analisa yang tajam. Kami cenderung pilihan kedua, yang kecil.
Kita lihat kalimat aslinya, Mas Moko Darjatmoko, menulis : ".... analisa Lily Pudjiastuti (ITS) tentang kandungan merkuri (Hg) yang didapati 2.565 mg/liter Hg (limit 0.002 mg/liter) yang dikutip Koran Tempo....." Tulisan itu, cenderung kami artikan berat merkuri (Hg) 2,565 mg/liter dari ambang batas 0,002 mg/liter (koma dalam bhs Indonesia). Bahwa satu liter air beratnya mendekati 1 kg (tergantung tekanan dan temperatur). Maka 1 liter Lusi yg 70 % air, ada sekitar 1 kg juga (bisa 1 sampai 3 kg). Persentasi berat merkuri 2,565 mg/l, menjadi= = 2,565 mg/liter x 1 kg/1.000.000 mg x 1 liter/1 kg x 100 % = 0,0002565 %. Lusi menghasilkan Hg 125 kg perhari. Nah, kalau pilihan pertama, yakni 2565 mg/liter, 1000 kalinya tadi, maka presentasi Hg menjadi 0,2565 %, suatu yang sudah masuk dalam arti mudah di tambang (0,2 % hingga 0,8 %). Kayalah kalau begini. (Nulis koma dan titik, kok ya ada salahnya saya nulisnya tadi, ikut-ikut sumber, dan campur). Apakah ada pendapat lain ? Lanjutan tadi: Untuk point: 5a. tanggul: Tinggi tanggul/cerobong bisa juga dengan model bejana berhubungan, model air artesis, atau gunung tertinggi suport airnya, mungkin Gunung Arjuno (~ 1.4 km amsl "above means sea level" ada mulai airnya melimpah), barulah cerobong tak keluar air. Ini kalau saja bukan overburden 1 km penyebabnya. Untuk gas, perlu cerobong 13.500 ft, batas uap air tertinggi. Untuk point:6, PIPONE (PIpa POrong ke subduction zoNE) (dari kata "pipone" Jawa berarti "pipanya" Indonesia), adalah jarak Porong, ketimur lewat 3 kelompok gunung Bromo, Argopuro, Ijen), ya mestinya orde 3 x 70 km. Lalu pipa ke selatan, menuju zubduction zone, jarak datar 140 km. Nah jarak miring ke kedalaman 3000 m kedalaman laut ? ya nambah dikit lah, jadi jarak miring 3010 m. Jadi total 210 + 3010 = 3220 m. Ya cuma kira-kira 3 kali lipat panjang dari rencana "casing yang belum terpasang" di sumur, 4000 ft. Dah, gag mikir apa-apa lagi. Tak begitu ? Untuk Mas Hery (komentar di bawah): Ha..ha..ha.. Mas Hery muncul. Iya Mas. Maunya 7 aja, namun gag bisa. Mungkin kita cari anggka 7-nya sbb: Minamata itu, efek baru ada sekitar 3x7 th (1932-1956, 24 th), yakni ada yang meninggal. Lalu 35 th, 5 x 7 th (1932-1968), baru di setop mengalirkan limbahnya. Dan baru sekitar 6 x 7 th (1932-1973, 41 th), perusahaan mau ganti rugi. Setelah 2x700 orang meninggal (Wikipedia). Penyelidikan merkuri di tubuh manusia, contohnya di rambut. Dari sekitar 5x700 sample (exactnya 3686 orang di AS), umumnya laki-laki 2.55 mikrogram/gram zat (disebut ppm), perempuan 1.4 ppm. Orang di daerah sekitar Minamata itu di Jepang sa'at itu 4 ppm, yang di Minamata 191 ppm, dan yang kena penyakit amat berat dengan 701 ppm (nah angka ~ 700 lagi kan, gampang ingatnya). Untuk orang dari 4 ppm merkuri menjadi 700 ppm, perlu berapa lama ? 21 th itu ? Wah, sakitnya lama, matinya pelan-pelan ya ? Salam, Maryanto. -----Original Message----- From: R.P. Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, August 31, 2006 2:05 PM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Lusi Kalau yang dimaksud 2,565 mg/liter itu adalah 2.565 gr/liter (karena ambangnya adalah 0.002 mg/l, masalah pengertian . dan , apakah . dalam bahasa Inggris yang sama dengan , dalam bahasa Indonesia) katakan pada ibu Lily bahwa beliau telah menemukan sumberdaya baru dalam lumpur: "bijih air raksa (Hg)" Kita dapat tambang air raksa dalam semburan lumpur. Menurut buku Exploration and Mining Geology dari Peters (1978): kadar bijih mercury adalah antara 0.2% sampai 8% Bahkan bijih Hg ini memprosesnya tidak sulit, sudah keluar sendiri, tidak perlu crusher dan sebagainya tinggal diolah atau disaring saja Tentu lain kalau yang dimaksud adalah 2.565 mg/liter. RPK. -----Original Message----- From: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Hery Harjono Sent: Thursday, August 31, 2006 11:23 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [HAGI-Network] Lusi Biasanya kelipatan 7. Ini kok 11 dik? Salam SALAM he he Hery ----- Original Message ----- From: "Maryanto (Maryant)" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, August 31, 2006 11:05 AM Subject: [HAGI-Network] Lusi Netters, Apa ada yang bisa bantu ya ? 1. Ada yang bisa confirmasi ke sumber ini ? "Bu Lily Teknik Kimia, ITS: sebut kadar merkuri Lusi (Lumpur Sidoarjo) 2,565 mg/liter. Padahal ambang batas adalah 0.002 mg/liter. 2. Bahan apa lagi yang di maksudkan sebagai berbahaya ? Fenol, H2S, .... 3. Mau di buang kelaut dengan treatment seperti tailing? Termokline terdekat, mungkin adalah dekat subduction zone di selatan Selat Bali. Jaraknya adalah dari Porong ke ujungtimur Jatim (~ 210 km), lalu keselatan 140 km ( dengan total 3x70 km). 4. Ada yang tahu 7 lokasi semburannya ? Mungkin adalah sebagai patahan di permukaan. Lokasi-lokasinya, mungkin adalah kelipatan sekitar 70 m jaraknya. Bisa dengan peta Mas Vicky tuk perlihatkan lokasinya. Teman melihat sekitar 7 lokasi semburan di stand Lapindo SEG JKT. Koran beritakan semua semula 5 lokasi, dan 4 sudah tak aktif. 5. Ide Pak Arief Budiman, memang amat bagus, bikin cerobong. Walaupun demikian, mungkin bisa terangkan bagaimana atasi masalah yang belum kupecahkan. 5.a. Pengayakan, pemilahan bahan, pemisahan massa. Dengan adanya tanggul, semakin tinggi, ya berupa cerobong. Semakin tinggi tanggul/cerobong, maka akan ada pemisahan bahan. Yang berat terpisah dulu, yang ringan, termasuk air akan lebih tinggi perlu cerobongnya, dan terakhir gas. Gas adalah tak mengalir, mungkin baru 13.500 ft (2 km). Zona in adalah zona dimana uap air tak dapat lebih tinggi, dan inilah batas daerah ada hujan. Untuk lumpur apa memang hanya 36 ft ? Kurasa lebih. Namun saya belum tahu berapanya. Dan untuk airnya, apa tidak 1000 m, setebal overburden. Tanah "overburden" 1 km x 20 km x 10 km. 5.b. Bukankah kalau satu lubangnya di tutup, maka menjalarkan tekanan ke arah lain, misal ke bidang sesar ? Akibatanya akan ada lubang baru, yang mungkin d luar kolam lumpur yang ada ? Ini, yang kurasa usaha yang di hindari kini, menutup satu lubang, biar lumpur terpusat ngalir disitu, tak ke lubang-lubang lain, di sekitar sepanjang patahan (sebut saja sesar BanjarPanji), yang mungkin 14 km panjangnya, membentang timur-barat, atawa timurlaut-baratdaya. Dan usaha yang paling aman adalah menutup lubang (dekat sumur itu) di sutu kedalaman, misal 1 km itu, dengan "relief well". Tak begitu ? Arah sesarnya, saya duga ya tadi itu, kutanyakan garis lurus lokasi-lokasi sumur itu. 6. Katanya sulit sih, jadi alternatif adalah ke laut. Bagaimana supaya aman ? Model tailing ke thermoklin itu kan adalah kasus contoh/analogi. Kita deduksi dari ini, terdekat ya 3x70 km itu. Murah kali di banding kalau di darat lautannya. 7. Berapa merkusi di Minamata 1932-1968 per hari ? Bagaimana kasusnya ? Yang kutahu, Lusi dengan 2.565 mg/l, artinya perhari adalah 125 kg merkuri perhari. (detilnya, 2.5 mg/liter x 50.000 m3/hari x 1000 liter/m3 x 1 kg/1000.000 mg). Minamata, sejak di alirkan 1932, baru 20 th ada akibatnya: ada 5 orang sakit syaraf-otak, tak bisa jalan, mati kemudian. Jumlaha yang mati 1400, dari 10.000 yang di bayar pengobatannya, dari 2 juta orang yang terkontaminasi merkuri. Baru 40 th, perusahaan mau ganti rugi, ~@ USD 70.000 (exactnya 66.000). Kalau di buang di Selat Madura, yang kedalaman kurang dari 20 m, mungkin akibatnya lebih banyak penduduk terimbas. Tak hanya 2 jt, bisa lipat-lipat. 8. Tailing (cari emas), pakai water treatmen (menyaring merkuri) tidak ? 9. Fenol, itu akibatnya apa? 10. Lumpur, kalau dialirkan ke Selat Madra, tak kawatirkan pendangkalan pelabuhan Tanjung Perak? Bengan Solo aja di alirkan kearah utara, Ujung Pangkah, agar tak cepat mendangkalkan pelabuhan itu. Bagaimana ? 11. Minyak Jatim banyak merkurinya ? Berapa kandungannya ? Ato rahasia perusahaan ? Wah dah lebih 7 pertanyaan. Salam, Maryanto. Salam ku untuk Lusi ...., bilangin supaya gag nakal-nakal. --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

