>
pertama-tama saya mohon maaf dgn komentar saya yg nyeleneh. Tapi hrs
diakui bhw kenyataan dilapangan memang menyakitkan, sehingga tenaga
prof.nasional tdk mendapatkan porsi yg pas dgn perkataan lain hanya jadi
ban serep.Banyak tenaga kita yg bagus2, sbg bukti dgn banyak tenaga ahli
kita yg berkiprah di internasional....Pihak operator/expart asing selalu
mempunyai presepsi yg negatif thd tenaga nasional ( walaupun ada memang
beberapa kaya gitu; tapi kan gak semuanya. )...kalau kita bilang
kecolongan kayak nya gak; lha waktu mengajukan rptka, kan disebutkan si
"john" itu keahliannya apa/pendidikan formalnya apa/ siapa yg menjadi
incumbent nya  dsb. dan ini kan di presentasikan didepan para pejabat yg
berwenang.dan kalau sekiranya ada hal2 yg mencurigakan, bisa
dipanggil/inerview/sebelum diteruskan unutk diberikan work permit dsb (
kalau ternyata mereka tidak becus jgn kasih work permit/ atau cabut work
permit nya...yang lebih celaka ada tenaga manegement nasional di company
tsb. biasanya lebih bule dari bulenya sendiri...yah sih persoalannya tdk
hanya sekedar tenaga kerja saja/sistem/kontrol/perlu dibenahi....supaya
pengelolaan kekayaan alam dinegeri dapat dipakai secara maksimal untuk
mensejahterakan rakyat banyak....dan ahirnya expat tdk sama dgn expert...

Wassalam

 Yth bapak "so what gitu lho",
>
>   Saya sangat tidak setuju dengan statement anda, karena  ini bukan
> sekedar "masalah So What Gitu Lho", tapi suatu "kecolongan" fundamental
> yang mesti cepat-cepat dibenahi dan dibuat jelas. Meng-ekspat-kan bule
> yang baru keluar sekolah untuk belajar di Indonesia, dan biayanya
> di-beban-kan ke cost-recovery, jelas-jelas "perampokan".
>
>   Sebenarnya peraturan authority MIGAS Indonesia sejak jaman dulu sangat
> jelas, bule-bule yang bisa ditempatkan disini (sebagai pegawai, expats,
> yang dianggap expert) adalah orang-orang yang seharusnya memang punya
> pengalaman luas di bidangnya, yang nantinya pengalamannya mesti dibagi
> ke pegawai lokal yang akan pegang post dia dalam beberapa tahun. Jadi,
> seperti sudah dikomentari mas Frank, mas Syaiful, sangatlah absurd untuk
> percaya kalau ada bule yang baru selesai sekolah 3 tahun yang lalu
> (apapun sekolah asalnya) ditempatkan di Indonesia, dibebankan pada
> recovery cost atau production cost, atau biaya apapun, dianggap expert,
> yang dianggap punya "kesaktian" lebih untuk dibagi. Yang terjadi, mereka
> "mengambil kesaktian%2

---------------------------------------------------------------------
siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini???
ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di Pulau Dewata!!!
semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional...
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke