ikut nimbrung nih.....kang fajar gmna kabar nih....moga sehat sll 
yo,.....ingat bandung dah menunnguungumu...kayak lagunya aril...ha ha ha.
  Buat pak nur yang lg susash mikirin air tanah, secara umum apa yg dibilang 
kang fajar sih ada benarnya, tapi pembelajaran stratigrafi didaerah gunungapi 
jangan seratus persen disamakan dengan sedimentasi klasik alias sedimentasi ato 
stratigrafi kue lapis....legit lag..ha ha. Perlu dicermati bilamana kita yakin 
bahwa litologi dimana pak Nur ngebor produk gunungapi....maka sangat mungkin 
perbedaan kualitas air dgn tetangga ada, hal ini ada hunugannya dgn sistim 
pengendapan di daerah gunungapi yang saling tumpang tindih tak beraturan, belum 
jg dihubungkan dgn tinggat lapukan terhadap batuan klastik dan 
masifnya...karena komposisi yang menyertai sangat mungkin berbeda....trimakasih 
boleh kasih saran. trim
   
  salam
  hill

Fajar Lubis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Di daerah endapan produk gunungapi sepertinya kasus ini banyak terjadi..

Sulit untuk menentukan secara pasti penyebabnya, kalau kita tidak memahami 
sistem aliran airtanahnya secara regional dan lokal dulu. Pengkayaan besi (Fe) 
terjadi pada saat airtanah kontak dengan udara. Kadang ini perlu waktu, dalam 
kasus Pak Nur perlu beberapa hari. Penyebab pengkayaan ini secara sederhana 
diakibatkan oleh komposisi batuan di akifernya. Tapi terlalu cepat kalau 
dikatakan beda formasi pak, karena lapisan batuan yang samapun (kenyataannya) 
tidak ada yang homogen.

Membor ulang? Mungkin perlu dihitung dulu peluang dan nilai ekonomisnya dengan 
alternatif lain seperti pemasangan saringan air atau upaya penyediaan air 
bersama.

Mudah-mudahan bisa membantu,


Salam,
Fajar (1141)

"M. Nur Heriawan" wrote:
Mumpung ada yang sedang membahas masalah kualitas air
sumur, sekalian saya mohon pencerahan. Karena saya
mengalami hal yang mirip dialami oleh Pak FBS. 

Sumur bor (pantek) di rumah saya kedalamannya sekitar
25 m. Waktu mau ngebor dulu percaya aja sama tukang
bor yang tentu saja sudah punya pengalaman ngebor di
kompleks tsb. Dia bilang bahwa tetangga2 sebelah juga
dengan kedalaman segitu airnya keluar bagus, karena
dulu dia juga yang ngebor. Tapi ternyata untuk kasus
di rumah saya lain sama sekali, setelah beberapa hari
dipakai, airnya bau besi dan berbusa, warnanya agak
kekuningan, busa akan hilang jika air dibiarkan
beberapa saat. 

Yang membuat saya heran, kenapa air di tetangga
sebelah lebih baik padahal kedalaman sumurnya sama.
Apakah mungkin pada jarak yang begitu dekat terjadi
perbedaan formasi (akuifer)? Kalau rumput tetangga sih
kayaknya sama hijaunya dengan rumput di rumah saya
he..he..

Barangkali sumur saya harus dibor ulang dengan
kedalaman yang lebih besar ya. Mohon pencerahannya.
Terima kasih.




---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and 
always stay connected to friends.

 
---------------------------------
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.

Kirim email ke