Ingin juga saya urun rembug dalam masalah ini.

Soal nama semburan lumpur, apakah LULA, LUSI atau apa saja, tidak perlu 
dipermasalahkan. Saya sendiri sejak awal kejadian menamakannya dengan "Bledug 
Porong" yang identik dengan "Bledug Kuwu" di Wirosari, Purwodadi, Jawa Tengah. 
Karena dari awal pula (Juni 2006) saya mengatakan bahwa berdasarkan data yang 
ada kejadian tersebut merupakan mud vulcano, yang merupakan kejadian alam dan 
kemungkinan tidak berkaitan dengan adanya pemboran sumur BJP-1. Hal ini saya 
sampaikan selesai meeting di BP Migas tgl. 15 Juni 2006, ketika itu Awang tanya 
pada saya tentang hal tersebut, yang ternyata sama dengan dugaan dia. Bahkan 
Awang menambahkan data lainnya dan efek/akibat yang akan mengikutinya. Masalah 
ini juga saya sampaikan melalui "Mimbar Jum'at" mulai dari edisi No. 258 tgl.23 
Juni 2006, yang berjudul "Bencana Porong". Berbagai reaksi, baik kritik yang 
bernada memperingatkan sampai yang menakut-nakuti ditujukan kepada saya, karena 
dianggap melawan arus.

Kejadiannya memang 2 hari setelah gempa yang mengguncang Jogja dan sekitarnya. 
Oleh karena itu dalam beberapa "Mimbar Jum'at", saya mengatakan bahwa gempa 
Jogja, kemungkinan hanya merupakan pemicu aktivitas mud vulcano tsb., tetapi 
penyebab sebenarnya kemungkinan adalah : adanya getaran terus menerus dari 
mobil-mobil besar yang melintas di jalan toll di atas area shale diapir, dan 
beratnya beban bangunan di atas area tersebut. Sedangkan adanya pemboran sumur 
BJP-1, kalaupun ikut andil sebagai penyebab, kecil peranannya. Saya sampaikan 
juga melalui "Mimbar Jum'at" sejak awal (karena saya belum bergabung dengan 
iagi-net) bagaimana mengatasinya, yaitu agar segera melokalisir area luapan 
lumpur dan segera dibuatkan salurannya ke laut, karena lumpur akan terus 
mengalir sampai waktu yang tidak diketahui, bisa setahun, puluhan tahun atau 
mungkin ratusan tahun. Dan jika tidak segera diatasi, akan menjadi bencana yang 
lebih besar dan lebih parah akibatnya. Tetapi sebagaimana kita ketahui di negri 
ini, seringkali mencari kambing hitamnya dulu yang menjadi penyebab kejadian, 
kemudian berdasarkan asumsi itu baru dicari solusinya. Karena dari awal (dan 
sampai sekarang) yang menjadi kambing hitam adalah 100% Lapindo dengan pemboran 
sumur BJP-1, maka penanganan awal tertumpu kepada penanggulangan "drilling 
hazzard", bukan penanggulangan mud vulcano. Dan kita bisa lihat kenyataannya 
sekarang.

Barangkali itu saja yang ingin disampaikan, dan bagi rekan yang "berlangganan" 
mimbar jum'at, semuanya sudah tahu.
  ----- Original Message ----- 
  From: nyoto - ke-el 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, March 13, 2007 7:42 PM
  Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI


  Pak Achmad Luthfi ternyata sebagai seorang Ketua IAGI (Ikatan Ahli Geologi 
Indonesia) kurang teliti didalam menulis Respon-2 ini. Perhatikan didalam 
kalimat seperti tsb dibawah ini : 
  "Kita semua tahu bahwa semburan lumpur tersebut terjadi disekitar sumur BJP-1 
pada tanggal 29 Mei 2006 pagi beberapa menit setelah terjadi gempa Jogja". 

  Memang betul semburan lumpur panas tsb terjadi disekitar sumur BJP-1 pada 
hari Senin 29 Mei 2006 pagi, tetapi gempa Yogya terjadinya bukan hari Senin itu 
tetapi terjadinya 2 hari sebelumnya, yaitu hari Sabtu pagi2 sekali tanggal 27 
Mei 2006, bisa ditanyakan kepada orang2 di Yogyakarta yang mengalami sendiri 
gempa itu atau data2 gempa Yogya, dimana jelas terjadinya bukan hari Senin 29 
Mei melainkan hari Sabtu pagi2 tanggal 27 Mei 2006. 

  Apakah penyebutan terjadinya gempa Yogya tanggal 29 Mei 2006, sengaja akan 
dihubungkan dengan awal terjadinya semburan pertama lumpur panas Sidoardjo, 
supaya klop dengan teori pak Luthfi, yaitu penyebab terjadinya lumpur panas 
adalah akibat gempa Yogya ?  Tetapi sayang sekali teori itu banyak sekali 
kelemahannya pak (tidak didukung data yang benar). 

  Sekian dari saya, semoga pak Luthfi maklum.


  Wassalam,
  nyoto - TG'74




   
  On 3/13/07, Achmad Luthfi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
    RESPON-2 SURAT TERBUKA KEPADA KETUM IAGI

    LULA adalah sebutan lain dari LUSI yang sudah lebih dulu popular, tdk 
    ada makna lain dibalik itu, bahkan ada yang menyebutnya LULUK (Luapan
    Lumpur tanpa Kendali). Melihat skala luapan LULA yang begitu dahsya
    tentu tidak seorangpun diantara kita ada yang pernah memperkirakan ada
    semburan lumpur panas yang begitu dahsyat di cekungan jawa timur laut
    walaupun di cekungan ini banyak tersebar mud volcano. Kita semua tahu
    bahwa semburan lumpur tersebut terjadi disekitar sumur BJP-1 pada
    tanggal 29 Mei 2006 pagi beberapa menit setelah terjadi gempa Jogja. 
    Spontan muncul berbagai komentar yang berbuah opini dari yang berdasar
    scientific sampai yang non-scientific, makin hari makin kearah teknis,
    terbentuk opini penyebabnya adalah tidak set casing dalam selang yang 
    panjang di BJP-1. Kalo tidak salah seminggu kemudian Menteri ESDM
    membentuk tim investigasi yang diketuai oleh Dr. Ir. Rudy Rubiandini
    (Kang Rudy). Saya sering mengikuti diskusi teknis tim-nya Kang Rudy,
    setelah diputuskan melakukan serangkaian pekerjaan dari mulai snubbing 
    unit sampai relief well dan belum menampakkan hasilnya, IAGI mengundang
    Kang Rudy untuk jadi pembicara dalam buka puasa bersama tahun lalu di
    hotel Sahid, topiknya adalah hasil kerja Kang Rudy dalam upaya mematikan 
    LULA. Kang Rudy berpendapat bahwa air (panas) bertekanan tinggi berasal
    dari lubang bor kedalam 9000-an kaki, air mengalir keatas melalui lubang
    bor menggerus shale diatasnya sehingga terjadi perlumpuran yang terus 
    bergerak ke atas melalui zona lemah dan terus ke permukaan. Dalam
    kesempatan itu bagaimana kami bisa melakukan relief well sementara
    pantat kami (maaf ini asli ucapan Kang Rudy) dikejar lumpur panas
    (pemboran relief well spi kadalam 3600-an kaki gak maju2 sementara 
    permukaan lumpur panas naik begitu cepat). Salah seorang peserta buka
    puasa bernama Hari (PT. Saripari) bertanya: kalau melihat volume lumpur
    yang keluar mencapai seratusan meter kubik, diperlukan berapa banyak
    pompa duplex untuk mematikan semburan mengingat kapasitas pompa jauh
    lebih kecil dari volume lumpur yang keluar, mungkin diperlukan puluhan
    pompa sekaligus. Waktu itu saya gak jelas apa jawaban Kang Rudy. Bagi
    yang mengikuti seminar di BPPT yang lalu, pendapat Kang Rudy tersebut 
    mirip dengan teori satu (teori aliran) yang disampaikan/dipresentasikan
    oleh DR. Ir. Doddy Nawangsidi (itb) yang menyampaikan empat macam teori
    aliran, dengan fakta volume semburan lumpur Beliau mengemukakan bahwa 
    teori-1, teori-2, teori-3 tidak mungkin diterapkan untuk LULA, jadi yang
    paling mungkin adalah teori empat, yakni lumpur panas sampai ke
    permukaan tidak melalui lubang bor tapi melalui rekahan yang sangat
    besar, saya (DR. Doddy) tidak tahu bagaimana rekahan itu terjadi apakah 
    akibat tektonik atau bukan karena saya (DR. Doddy) bukan ahli geologi.
    Karena Kang Rudy sudah pernah berbicara di IAGI, teman2 panitia tidak
    mengundang Kang Rudy sahabat saya sebagai pembicara dalam seminar di
    BPPT yang lalu. Saya sangat menghargai DR. IR. Rudy Rubiandini, walaupun
    masih muda Kang Rudy seorang guru yang punya kompetensi tinggi
    dibidangnya (drilling engineering). Masih segar dalam ingatan saya dalam
    milis IAGI pernah heboh atas wawancara Kang Rudy dengan radio Elshinta. 
    Bagi saya persahabatan dan kerukunan adalah nomor satu baik seprofesi
    maupun antar profesi, kita harus kompak begitu kata Abah Yanto melalui
    SMS. Untuk itu saya minta sekjen IAGI utk melakukan klarifikasi kepada 
    Kang Rudy dan hasilnya dimuat di milis ini.  Saya percaya sebagai
    seorang guru, Kang Rudy tidak sedikitpun berniat/bermaksud menuduh atau
    menjelekkan rekan lain profesi. Sayang Kang Rudy mengajukan surat
    pengunduran diri (surat ditembuskan ke saya, tapi saya tidak tahu apakah 
    sudah disetujui oleh MESDM). Itulah ilustrasi pertemanan saya dengan
    Kang Rudy, kalau dalam seminar tersebut tidak mengundang Kang Rudy
    sebagai pembicara tidak ada maksud lain yang tersembunyi.

    DIMANA IAGI BERADA WAKTU TIM INVESTIGASI DIBENTUK? 

    Pada waktu rapat pembentukan tim investigasi, IAGI menugaskan DR. Edy
    Sunardi (Ketua Departemen Pengembangan Keilmuan). Kang Edy diminta untuk
    menjadi anggota tim investigasi, tapi Kang Edy tidak bersedia karena 
    sudah menjadi ketua tim IAGI untuk LULA. Apa yang dilakukan oleh tim
    IAGI? Tim yang dipimpin Kang Rudy bekerja di lapangan lebih dulu
    berfokus pada drilling engineering untuk mematikan LULA. Baru Kemudian
    tim IAGI melakukan observasi lapangan dan sampling lumpur. Pada saat 
    yang sama ada tim subsurface ITS yang dipimpin oleh DR. Ir. Maki
    melakukan survey VFL (Very Low Frequnce) dan tim dari geofisika itb yang
    melakukan survey mikro seismic dan pemetaan penyebaran lumpur dengan
    menggunakan foto udara yang dilakukan dgn cara sederhana (pesawat mainan 
    berkamera dikendalikan dengan remote control) semua tim bekerja 24 jam
    bergantian. Area survey meliputi daerah Banjarpanji dan sekitarnya. Tim
    IAGI, tim ITS, tim ITB melakukan diskusi secara intens di kampus ITS 
    maupun di hotel Shangrila bersama tim Kang Rudy.

    ...lanjutan epilog bersambung pada surat berikutnya........TOETOEGE
    (Bersambung)



    -----Original Message-----
    From: R.P. Koesoemadinata [mailto: [EMAIL PROTECTED]
    Sent: 25 Februari 2007 13:41
    To: [email protected]
    Subject: [iagi-net-l] Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI-(2) 

    SURAT TERBUKA KEPADA KETUA UMUM IAGI (2)



    Di lain pihak yang sangat menarik adalah  telah terungkapnya pula data
    pemboran yang pada waktu sebelumnya (terutama pada permulaan erupsi
    Lusi)
    tidak pernah muncul pada laporan pemboran, yaitu yaitu bahwa 10 menit 
    setelah terjadinya gempa di Jogya, terjadi 'partial loss' dari lumpur
    pemboran yang teramati pada mud pit. Hal yang sama diungkapkan pula oleh
    Dr.
    Doddy Nawangsidi, tetapi waktunya adalah 70 menit sesudah gempa (mungkin 
    Pak
    Doddy ini keliru membaca 1 sebagai 7). Ini data yang sangat menarik
    karena
    sebelum data ini belum pernah dilaporkan dan menunggu 7 bulan untuk
    terungkap. Di lain pihak Dr. Nawangsidi ini menunjukkan secara 
    kwantitafi
    dengan menggunakan rumus reservoir (Darcy) dengan parameter2 yang
    diasumsikan bagaimana tidak mungkinnya  laju (rate of production) jumlah
    air
    sebegitu besar (100 sampai 160 juta meter kubik per hari?) dari satu 
    lubang
    sumur yang menembus Kujung hanya 15 kaki saja.. Analisa ini tentu
    merupakan
    pukulan, paling tidak renungan, bagi mereka yang  berpendapat  bahwa
    gunung
    api lumpur ini bersumber dari air bertekanan tinggi dari reservoir 
    terumbu
    Kujung yang telah ditembus sumur BP-1, walaupun tentu orang dapat
    mempertanyakan data serta parameter yang diasumsikannya, serta adanya
    tambahan sumber air panas lainnya yang ikut terpicu dengan underground 
    blow-out dari Kujung ini.

    Mengenai stratigrafi lubang bor Dr. Adi Kadar dkk mengakui telah
    mereview
    serta menganalisa ulang data biostratigrafi dan disimpulkan bahwa
    seluruh
    lapisan batuan yang ditembus Banjar Panji hanyalah berumur Pleistocene 
    yang
    menimbulkan kesan bahwa Formasi Kujung tidak tersentuh oleh sumur bor
    ini.
    Juga telah ditekankan keberadaan diapirism dalam selang overpressured
    shale,
    yang banyak menganggap sebagai sumber lumpur. 

    Mengenai sumber air ini masih juga ada yang berpendapat bahwa lumpur ini
    berasal dari overpressured shale yang diyakini semua orang keberadaannya
    jauh di atas formasi Kujung, namun berdasarkan analisa penampang seismic 
    dibantah oleh Dr. Alam sebagai mud diapir. Dr. Adriano Mazzini  dari
    Oslo
    University masih berpandangan bahwa sumber lumpur ini adalah dari
    overpressured shale ini, tetapi ketika ditanyakan oleh Richard Davies 
    bagaimana begitu banyak air dapat dihasilkan dari overpressured shale
    ini,
    mengingat shale adalah impermeable, yang bersangkutan menghindar untuk
    menjawabnya dengan dalih pertanyaannya tidak jelas. Namun suatu hal 
    penting
    yang dikemukakannya adalah bahwa cekungan Jawa Timur adalah matang
    (ripe)
    atau rawan terjadinya gunung api lumpur dibuktikan dengan adanya
    overpressured shales dan banyaknya gunung api lumpur, tanpa pemboran 
    (atau
    gempa) pun gunungapi lumpur dapat terjadi sewaktu-waktu. Mengenai
    kayanya
    cekungan Jawa Timur Utara juga telah dibahas oleh Dr. Djajang  Sukarna,
    Kepala Badan Geologi, dalam keynote speech nya

    Yang menarik adalah makalah dari Dr. Gregorii Akhmanov dari Moscow
    University yang membahas mud volcanism di Elean Basins yang,  dengan
    tidak
    mengenyampingkan jenis gunungapi lumpur di daerah lain seperti shale
    diapirism,  menyatakan bahwa pembentukan mudvolcano di Elean basins
    adalah
    oleh hydro-fracturing. Hydro-fracturing adalah proses terjadinya LUSI
    yang
    dianut oleh mereka yang meyakini bahwa bahwa air dari Fm Kujung sebagai 
    penyebab semburan lumpur LUSI. Saya catat bahwa tidak ada makalah yang
    membahas berbagai jenis atau klasifikasi mudvolcano, sedangkan menurut
    hemat
    saya gunungapi lumpur itu ada berbagai jenis dengan yang disebabkan 
    shale
    diapirism di satu ujung (end member), biasanya merupakan lumpur kental
    dan
    membentuk keruncut yang terjal, dan jenis mud spring di ujung lain, yang
    sangat encer (kadar air yang sangat tinggi) dan nyaris tidak membentuk 
    kerucut atau kerucut yang sangat landai. Saya menganggap LUSI ini lebih
    sebagai jenis mud spring.



    Walaupun makalah-makalah pada umumnya membahas asal gunungapi lumpur
    disebabkan air yang bertekanan tinggi, yang boleh jadi disebabkan gempa, 
    namun  gunungapi Lusi disimpulkan selain terjadi secara alamiah juga
    disebabklan karena rekahan dan aktivitas tektonik yang diakibatkan oleh
    gempa bumi Jogya. Namun anehnya pada seluruh persidangan ini tidak
    satupun
    ada makalah yang membahas tektonik serta sistim sesar dari daerah
    Sidoarjo,
    bahkan peta geologi yang menunjukkan patahanpun nyaris tidak ada kecuali
    peta sesar Watukosek dengan satu garis saja yang menghubungkan Watukosek 
    dengan Lusi dan G. Anyar dengan arah NNE-SSW.dan sesar-sesar amblasan
    yang
    berarahkan WSW-ENE yang menghubungkan semburan-semburan lumpur yang
    sekarang
    sudah tidak aktif lagi.  Apa lagi pembahasan bagaimana  mekanisme gempa 
    bumi
    Jogya  dapat  mengakibatkan sesar (rekahan) itu sama sekali tidak ada.
    Inilah yang dikeluhkan Dr. Benyamin Sapiie dari ITB pada komentar yang
    diberikannya sesaat sebelum rumusan akhir dari hasil workshop ini 
    dibacakan.
    Beliau menyatakan betapa pentingnya kita menganalisa tegangan-tegangan
    tektonik yang aktif di daerah Sidoarjo ini untuk menentukan critical
    stresses yang didapatkan, namun pembahasan ini tidak ada sama sekali. 



    Sdr. Ketua yang terhormat.

    Saya sangat prihatin dengan hasil dari workshop yang disebutkan sebagai
    bertaraf internasional ini. Rumusan yang diberikan banyak tidak relevant
    dengan apa yang dibahas, bahkan cenderung bertolak belakang. Ini sangat 
    menyedihkan, orang awampun akan bertanya-tanya apakah kesimpulan dari
    workshop ini sudah ditentukan sebelumnya demi kepentingan nasional?
    Komentar
    di masyarakat ilmiah di luar negeri pun sudah bermunculan.

    Sampai di mana kebenaran pengamatan dan pendengaran  saya ini selama
    mengikuti persidangan  tentu akan ada  yang meragukannya mengingat usia
    saya
    yang sudah lanjut  ini. Untuk itu saya sudah meminta pada panitya supaya 
    bisa mendapatkan Power Point files dari presentasi masing-masing
    pembicara
    itu. Namun sayangnya panitiya hanya akan memberikannya sesudah dilakukan
    peng-edit-tan terlebih dulu (mengingat adanya data-data yang dianggap 
    confidential oleh BP Migas).



    Satu hal yang menarik adalah Workshop ini tidak memberikan rekomendasi
    mengenai langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi
    masalah ini, atau kapan . Padahal inilah yang ditunggu-tunggu oleh 
    masyarakat. Masyarakat tidak terlalu peduli mengenai apa penyebab
    gunungapi
    lumpur ini, walaupun mereka cenderung untuk menyalahkan pemboran. Yang
    berkepentingan dalam apa penyebab dari gejala ini adalah dalam masalah 
    soal
    siapa yang harus menanggung biaya penanggulangan bencana ini. Masyarakat
    hanya ingin mendengar bagaimana  bencana lumpur ini dapat dihentikan.
    Tentu
    saja kita bisa berdalih bahwa untuk dapat menghentikan semburan lumpur 
    itu
    kita harus tahu penyebabnya. Kalau panitya workshop ini berkeyakinan
    bahwa
    hasil workshop ini adalah LUSI murni gejala alam dan tidak dapat
    dihentikan
    dan tidak dapat diprediksikan kapan akan berhentiknya, maka satu-satunya 
    rekomendasi yang bisa diberikan adalah mengevakuasi (mengosongkan)
    daerah
    yang dipengaruhi LUSI, khususnya daerah yang bakal amblas, membangun
    tanggul
    sekitarnya serta mengalirkan airnya dengan saluran bertanggul ke laut, 
    sedangkan lumpur padatnya secara alamiah dapat ditinggalkan di daerah
    amblasan, bahkan mudah-mudahan dapat mengkompensasi amblasannya sendiri.
    Saya lihat ada lebih dari 1 makalah (a.l. dari Dr. Ir. Prihadi
    Sumintapura 
    dari ITB) para pakar kita  telah mampu melakukan deliniasinya. Saya
    sadar
    bahwa pernyataan demikian mungkin mempunyai dampak yang luas bagi
    masyarakat, tetapi saya kira itu satu-satunya rekomendasi yang dapat 
    diberikan kalau panitia perumus menganggap penyebab ini gejala alam yang
    tidak dapat dihentikan atau tidak dapat diprediksi kapan berhentinya..
    (bersambung)





    ------------------------------------------------------------------------ 
    ----
    Hot News!!!
    CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
    [EMAIL PROTECTED]
    Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual 
    Convention and Exhibition,
    Patra Bali, 19 - 22 November 2007
    ------------------------------------------------------------------------
    ----
    To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
    To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
    Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
    Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
    Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
    No. Rek: 123 0085005314 
    Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
    Bank BCA KCP. Manara Mulia
    No. Rekening: 255-1088580
    A/n: Shinta Damayanti
    IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
    IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
    ---------------------------------------------------------------------


    
---------------------------------------------------------------------------- 
    Hot News!!!
    CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
    Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
    29th IATMI Annual Convention and Exhibition, 
    Bali Convention Center, 13-16 November 2007
    ----------------------------------------------------------------------------
    To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
    To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
    Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
    Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
    Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
    No. Rek: 123 0085005314
    Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
    Bank BCA KCP. Manara Mulia
    No. Rekening: 255-1088580
    A/n: Shinta Damayanti
    IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
    IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
    ---------------------------------------------------------------------



Kirim email ke