Maaf sedikit komentar,

Katanya jika ada 2 orang ahli geologi, minimal ada 3 pendapat. Saya
sependapat bahwa adanya perbedaan interpretasi di lingkungan ahli geologi,
merupakan hal yang biasa, justru perbedaan itu merupakan keindahan.
Bayangkan kalo semua manusia di muka bumi ini dalam banyak masalah
pendapatnya selalu sama, mungkin manusia sudah punah karena mengalami
kebosanan.

Namun di dalam menyikapi perbedaan tentang LUSI/ LULA/ BLEDUG PORONG dsb,
saya boleh sependapat dengan Cak NYOTO kan. Banyak temans yang berpendapat
bahwa peluang terbentuknya mud volcano di Jawa Timur cukup besar. Dari situ
dapat dikatakan bahwa potensi bencana luapan lumpur di bawah tlatah Porong
memang ada, namun tanpa ada pemicu yang kuat tentunya potensi bencana
tersebut akan tetap sekedar potensi.

Sekarang nasi telah menjadi bubur, tak ada gunanya kita berdebat terus
tentang *lebih tua mana antara telur dan ayam. *Yang penting...., sekarang
ini kita harus bekerja untuk mengelola semburan lumpur yang debit hariannya
sudah mencapai 150.000 m kubik, di samping tentunya menekan dampak negatif
semburan menjadi sekecil mungkin. Biarlah teman-teman yang ahli terus
mengkaji apa penyebab/ pemicu sebenarnya dari kejadian semburan lumpur
tersebut.

Wass.
Pardan - Dinas ESDM Jatim.




On 3/13/07, nyoto - ke-el <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Justru saya sejak awal kurang sependapat dengan interpretasinya mas Nana
didalam "Mimbar Jum'at"-nya (tiap Jum'at saya terima via email) mas Nana
Djumhana tentang awal terjadinya LUSI/LULA tsb.  Tetapi karena itu berupa
"Mimbar Jum'at" ya saya kira kurang pas untuk meng-counter-nya.

Kalau sebagai triggernya adalah gempa, mengapa LUSI justru timbulnya di
Sidoardjo, bukan di-dekat2 daerah Yogyakarta ?  Dan kenapa baru 2 hari
kemudian munculnya ?  Itu bisa mungkin terjadi kalau misalnya memang ada
sesar/patahan regional yang besar sekali dengan trend dari Yogya ke
Sidoardjo, seperti sesar Semangko di sepanjang P.Sumatra yang mempunyai
panjang sampai berratus kilometer.

Perlu diketahui bahwa awal mula terjadinya LUSI adalah setelah terjadinya
problem drilling di sumur BJP-1, dan terjadinya juga hanya beberapa meter
dari lokasi sumur (tidak sampai ber-kilo2 meter, sedang jarak LUSI dengan
gempa Yogya adalah ber-ratus2 km) dan terjadinya 2 hari kemudian.  Jadi
menurut logika akal sehat, apakah masuk akal kalau trigger-nya LUSI adalah
gempa Yogya & bukan sumur BJP-1 yang sedanag mengalami problem drilling saat
itu ?

Terbukti sudah 2 ahli bumi international (kalau tidak salah dari
Inggris/USA ? & dari Jepang) yang meng-interpretasikan bahwa kejadian LUSI
adalah dipicu oleh problem drilling di sumur BJP-1 & bukan oleh gempa
Yogya.

Interpretasi boleh berbeda, tetapi data/fakta yang ada seyogyanya jangan
diabaikan ataupun dirubah.  Sebagai geologist memang kita bisa selalu
berbeda pendapat & interpretasi, itu sah2 saja, jadi ya silahkan saja kalau
mas Nana masih tetap mempercayai interpretasinya, sedang saya lebih ke
data/faktanya.

Wass,


ps: terima kasih tanggapannya mas Nana.





On 3/14/07, Nana Djumhana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>  Ingin juga saya urun rembug dalam masalah ini.
>
> Soal nama semburan lumpur, apakah LULA, LUSI atau apa saja, tidak perlu
> dipermasalahkan. Saya sendiri sejak awal kejadian menamakannya dengan
> "Bledug Porong" yang identik dengan "Bledug Kuwu" di Wirosari, Purwodadi,
> Jawa Tengah. Karena dari awal pula (Juni 2006) saya mengatakan bahwa
> berdasarkan data yang ada kejadian tersebut merupakan mud vulcano, yang
> merupakan kejadian alam dan kemungkinan tidak berkaitan dengan adanya
> pemboran sumur BJP-1. Hal ini saya sampaikan selesai meeting di BP Migas
> tgl. 15 Juni 2006, ketika itu Awang tanya pada saya tentang hal tersebut,
> yang ternyata sama dengan dugaan dia. Bahkan Awang menambahkan data lainnya
> dan efek/akibat yang akan mengikutinya. Masalah ini juga saya sampaikan
> melalui "Mimbar Jum'at" mulai dari edisi No. 258 tgl.23 Juni 2006, yang
> berjudul "Bencana Porong". Berbagai reaksi, baik kritik yang bernada
> memperingatkan sampai yang menakut-nakuti ditujukan kepada saya, karena
> dianggap melawan arus.
>
> Kejadiannya memang 2 hari setelah gempa yang mengguncang Jogja dan
> sekitarnya. Oleh karena itu dalam beberapa "Mimbar Jum'at", saya mengatakan
> bahwa gempa Jogja, kemungkinan hanya merupakan pemicu aktivitas mud vulcano
> tsb., tetapi penyebab sebenarnya kemungkinan adalah : adanya getaran terus
> menerus dari mobil-mobil besar yang melintas di jalan toll di atas area
> shale diapir, dan beratnya beban bangunan di atas area tersebut. Sedangkan
> adanya pemboran sumur BJP-1, kalaupun ikut andil sebagai penyebab, kecil
> peranannya. Saya sampaikan juga melalui "Mimbar Jum'at" sejak awal (karena
> saya belum bergabung dengan iagi-net) bagaimana mengatasinya, yaitu agar
> segera melokalisir area luapan lumpur dan segera dibuatkan salurannya ke
> laut, karena lumpur akan terus mengalir sampai waktu yang tidak diketahui,
> bisa setahun, puluhan tahun atau mungkin ratusan tahun. Dan jika tidak
> segera diatasi, akan menjadi bencana yang lebih besar dan lebih parah
> akibatnya. Tetapi sebagaimana kita ketahui di negri ini, seringkali mencari
> kambing hitamnya dulu yang menjadi penyebab kejadian, kemudian berdasarkan
> asumsi itu baru dicari solusinya. Karena dari awal (dan sampai sekarang)
> yang menjadi kambing hitam adalah 100% Lapindo dengan pemboran sumur BJP-1,
> maka penanganan awal tertumpu kepada penanggulangan "drilling hazzard",
> bukan penanggulangan mud vulcano. Dan kita bisa lihat kenyataannya sekarang.
>
>
> Barangkali itu saja yang ingin disampaikan, dan bagi rekan yang
> "berlangganan" mimbar jum'at, semuanya sudah tahu.
>
> ----- Original Message -----
> *From:* nyoto - ke-el <[EMAIL PROTECTED]>
> *To:* [email protected]
>  *Sent:* Tuesday, March 13, 2007 7:42 PM
> *Subject:* Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum
> IAGI
>
>
> Pak Achmad Luthfi ternyata sebagai seorang Ketua IAGI (Ikatan Ahli
> Geologi Indonesia) kurang teliti didalam menulis Respon-2 ini. Perhatikan
> didalam kalimat seperti tsb dibawah ini :
> "Kita semua tahu bahwa semburan lumpur tersebut terjadi disekitar sumur
> BJP-1 pada tanggal 29 Mei 2006 pagi beberapa menit setelah terjadi gempa
> Jogja".
>
> Memang betul semburan lumpur panas tsb terjadi disekitar sumur BJP-1
> pada hari Senin 29 Mei 2006 pagi, tetapi gempa Yogya terjadinya bukan hari
> Senin itu tetapi terjadinya 2 hari sebelumnya, yaitu hari Sabtu pagi2 sekali
> tanggal 27 Mei 2006, bisa ditanyakan kepada orang2 di Yogyakarta yang
> mengalami sendiri gempa itu atau data2 gempa Yogya, dimana jelas terjadinya
> bukan hari Senin 29 Mei melainkan hari Sabtu pagi2 tanggal 27 Mei 2006.
>
> Apakah penyebutan terjadinya gempa Yogya tanggal 29 Mei 2006, sengaja
> akan dihubungkan dengan awal terjadinya semburan pertama lumpur panas
> Sidoardjo, supaya klop dengan teori pak Luthfi, yaitu penyebab terjadinya
> lumpur panas adalah akibat gempa Yogya ?  Tetapi sayang sekali teori itu
> banyak sekali kelemahannya pak (tidak didukung data yang benar).
>
> Sekian dari saya, semoga pak Luthfi maklum.
>
>
> Wassalam,
> nyoto - TG'74
>
>
>
>
>
> On 3/13/07, Achmad Luthfi <[EMAIL PROTECTED] > wrote:
> >
> > RESPON-2 SURAT TERBUKA KEPADA KETUM IAGI
> >
> > LULA adalah sebutan lain dari LUSI yang sudah lebih dulu popular, tdk
> > ada makna lain dibalik itu, bahkan ada yang menyebutnya LULUK (Luapan
> > Lumpur tanpa Kendali). Melihat skala luapan LULA yang begitu dahsya
> > tentu tidak seorangpun diantara kita ada yang pernah memperkirakan ada
> > semburan lumpur panas yang begitu dahsyat di cekungan jawa timur laut
> > walaupun di cekungan ini banyak tersebar mud volcano. Kita semua tahu
> > bahwa semburan lumpur tersebut terjadi disekitar sumur BJP-1 pada
> > tanggal 29 Mei 2006 pagi beberapa menit setelah terjadi gempa Jogja.
> > Spontan muncul berbagai komentar yang berbuah opini dari yang berdasar
> > scientific sampai yang non-scientific, makin hari makin kearah teknis,
> > terbentuk opini penyebabnya adalah tidak set casing dalam selang yang
> > panjang di BJP-1. Kalo tidak salah seminggu kemudian Menteri ESDM
> > membentuk tim investigasi yang diketuai oleh Dr. Ir. Rudy Rubiandini
> > (Kang Rudy). Saya sering mengikuti diskusi teknis tim-nya Kang Rudy,
> > setelah diputuskan melakukan serangkaian pekerjaan dari mulai snubbing
> >
> > unit sampai relief well dan belum menampakkan hasilnya, IAGI
> > mengundang
> > Kang Rudy untuk jadi pembicara dalam buka puasa bersama tahun lalu di
> > hotel Sahid, topiknya adalah hasil kerja Kang Rudy dalam upaya
> > mematikan
> > LULA. Kang Rudy berpendapat bahwa air (panas) bertekanan tinggi
> > berasal
> > dari lubang bor kedalam 9000-an kaki, air mengalir keatas melalui
> > lubang
> > bor menggerus shale diatasnya sehingga terjadi perlumpuran yang terus
> > bergerak ke atas melalui zona lemah dan terus ke permukaan. Dalam
> > kesempatan itu bagaimana kami bisa melakukan relief well sementara
> > pantat kami (maaf ini asli ucapan Kang Rudy) dikejar lumpur panas
> > (pemboran relief well spi kadalam 3600-an kaki gak maju2 sementara
> > permukaan lumpur panas naik begitu cepat). Salah seorang peserta buka
> > puasa bernama Hari (PT. Saripari) bertanya: kalau melihat volume
> > lumpur
> > yang keluar mencapai seratusan meter kubik, diperlukan berapa banyak
> > pompa duplex untuk mematikan semburan mengingat kapasitas pompa jauh
> > lebih kecil dari volume lumpur yang keluar, mungkin diperlukan puluhan
> > pompa sekaligus. Waktu itu saya gak jelas apa jawaban Kang Rudy. Bagi
> > yang mengikuti seminar di BPPT yang lalu, pendapat Kang Rudy tersebut
> > mirip dengan teori satu (teori aliran) yang
> > disampaikan/dipresentasikan
> > oleh DR. Ir. Doddy Nawangsidi (itb) yang menyampaikan empat macam
> > teori
> > aliran, dengan fakta volume semburan lumpur Beliau mengemukakan bahwa
> > teori-1, teori-2, teori-3 tidak mungkin diterapkan untuk LULA, jadi
> > yang
> > paling mungkin adalah teori empat, yakni lumpur panas sampai ke
> > permukaan tidak melalui lubang bor tapi melalui rekahan yang sangat
> > besar, saya (DR. Doddy) tidak tahu bagaimana rekahan itu terjadi
> > apakah
> > akibat tektonik atau bukan karena saya (DR. Doddy) bukan ahli geologi.
> > Karena Kang Rudy sudah pernah berbicara di IAGI, teman2 panitia tidak
> > mengundang Kang Rudy sahabat saya sebagai pembicara dalam seminar di
> > BPPT yang lalu. Saya sangat menghargai DR. IR. Rudy Rubiandini,
> > walaupun
> > masih muda Kang Rudy seorang guru yang punya kompetensi tinggi
> > dibidangnya (drilling engineering). Masih segar dalam ingatan saya
> > dalam
> > milis IAGI pernah heboh atas wawancara Kang Rudy dengan radio
> > Elshinta.
> > Bagi saya persahabatan dan kerukunan adalah nomor satu baik seprofesi
> > maupun antar profesi, kita harus kompak begitu kata Abah Yanto melalui
> > SMS. Untuk itu saya minta sekjen IAGI utk melakukan klarifikasi kepada
> >
> > Kang Rudy dan hasilnya dimuat di milis ini.  Saya percaya sebagai
> > seorang guru, Kang Rudy tidak sedikitpun berniat/bermaksud menuduh
> > atau
> > menjelekkan rekan lain profesi. Sayang Kang Rudy mengajukan surat
> > pengunduran diri (surat ditembuskan ke saya, tapi saya tidak tahu
> > apakah
> > sudah disetujui oleh MESDM). Itulah ilustrasi pertemanan saya dengan
> > Kang Rudy, kalau dalam seminar tersebut tidak mengundang Kang Rudy
> > sebagai pembicara tidak ada maksud lain yang tersembunyi.
> >
> > DIMANA IAGI BERADA WAKTU TIM INVESTIGASI DIBENTUK?
> >
> > Pada waktu rapat pembentukan tim investigasi, IAGI menugaskan DR. Edy
> > Sunardi (Ketua Departemen Pengembangan Keilmuan). Kang Edy diminta
> > untuk
> > menjadi anggota tim investigasi, tapi Kang Edy tidak bersedia karena
> > sudah menjadi ketua tim IAGI untuk LULA. Apa yang dilakukan oleh tim
> > IAGI? Tim yang dipimpin Kang Rudy bekerja di lapangan lebih dulu
> > berfokus pada drilling engineering untuk mematikan LULA. Baru Kemudian
> > tim IAGI melakukan observasi lapangan dan sampling lumpur. Pada saat
> > yang sama ada tim subsurface ITS yang dipimpin oleh DR. Ir. Maki
> > melakukan survey VFL (Very Low Frequnce) dan tim dari geofisika itb
> > yang
> > melakukan survey mikro seismic dan pemetaan penyebaran lumpur dengan
> > menggunakan foto udara yang dilakukan dgn cara sederhana (pesawat
> > mainan
> > berkamera dikendalikan dengan remote control) semua tim bekerja 24 jam
> > bergantian. Area survey meliputi daerah Banjarpanji dan sekitarnya.
> > Tim
> > IAGI, tim ITS, tim ITB melakukan diskusi secara intens di kampus ITS
> > maupun di hotel Shangrila bersama tim Kang Rudy.
> >
> > ...lanjutan epilog bersambung pada surat berikutnya........TOETOEGE
> > (Bersambung)
> >
> >
> >
> > -----Original Message-----
> > From: R.P. Koesoemadinata [mailto: [EMAIL PROTECTED]
> > Sent: 25 Februari 2007 13:41
> > To: [email protected]
> > Subject: [iagi-net-l] Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI-(2)
> >
> > SURAT TERBUKA KEPADA KETUA UMUM IAGI (2)
> >
> >
> >
> > Di lain pihak yang sangat menarik adalah  telah terungkapnya pula data
> >
> > pemboran yang pada waktu sebelumnya (terutama pada permulaan erupsi
> > Lusi)
> > tidak pernah muncul pada laporan pemboran, yaitu yaitu bahwa 10 menit
> > setelah terjadinya gempa di Jogya, terjadi 'partial loss' dari lumpur
> > pemboran yang teramati pada mud pit. Hal yang sama diungkapkan pula
> > oleh
> > Dr.
> > Doddy Nawangsidi, tetapi waktunya adalah 70 menit sesudah gempa
> > (mungkin
> > Pak
> > Doddy ini keliru membaca 1 sebagai 7). Ini data yang sangat menarik
> > karena
> > sebelum data ini belum pernah dilaporkan dan menunggu 7 bulan untuk
> > terungkap. Di lain pihak Dr. Nawangsidi ini menunjukkan secara
> > kwantitafi
> > dengan menggunakan rumus reservoir (Darcy) dengan parameter2 yang
> > diasumsikan bagaimana tidak mungkinnya  laju (rate of production)
> > jumlah
> > air
> > sebegitu besar (100 sampai 160 juta meter kubik per hari?) dari satu
> > lubang
> > sumur yang menembus Kujung hanya 15 kaki saja.. Analisa ini tentu
> > merupakan
> > pukulan, paling tidak renungan, bagi mereka yang  berpendapat  bahwa
> > gunung
> > api lumpur ini bersumber dari air bertekanan tinggi dari reservoir
> > terumbu
> > Kujung yang telah ditembus sumur BP-1, walaupun tentu orang dapat
> > mempertanyakan data serta parameter yang diasumsikannya, serta adanya
> > tambahan sumber air panas lainnya yang ikut terpicu dengan underground
> >
> > blow-out dari Kujung ini.
> >
> > Mengenai stratigrafi lubang bor Dr. Adi Kadar dkk mengakui telah
> > mereview
> > serta menganalisa ulang data biostratigrafi dan disimpulkan bahwa
> > seluruh
> > lapisan batuan yang ditembus Banjar Panji hanyalah berumur Pleistocene
> >
> > yang
> > menimbulkan kesan bahwa Formasi Kujung tidak tersentuh oleh sumur bor
> > ini.
> > Juga telah ditekankan keberadaan diapirism dalam selang overpressured
> > shale,
> > yang banyak menganggap sebagai sumber lumpur.
> >
> > Mengenai sumber air ini masih juga ada yang berpendapat bahwa lumpur
> > ini
> > berasal dari overpressured shale yang diyakini semua orang
> > keberadaannya
> > jauh di atas formasi Kujung, namun berdasarkan analisa penampang
> > seismic
> > dibantah oleh Dr. Alam sebagai mud diapir. Dr. Adriano Mazzini  dari
> > Oslo
> > University masih berpandangan bahwa sumber lumpur ini adalah dari
> > overpressured shale ini, tetapi ketika ditanyakan oleh Richard Davies
> > bagaimana begitu banyak air dapat dihasilkan dari overpressured shale
> > ini,
> > mengingat shale adalah impermeable, yang bersangkutan menghindar untuk
> > menjawabnya dengan dalih pertanyaannya tidak jelas. Namun suatu hal
> > penting
> > yang dikemukakannya adalah bahwa cekungan Jawa Timur adalah matang
> > (ripe)
> > atau rawan terjadinya gunung api lumpur dibuktikan dengan adanya
> > overpressured shales dan banyaknya gunung api lumpur, tanpa pemboran
> > (atau
> > gempa) pun gunungapi lumpur dapat terjadi sewaktu-waktu. Mengenai
> > kayanya
> > cekungan Jawa Timur Utara juga telah dibahas oleh Dr.
> > Djajang  Sukarna,
> > Kepala Badan Geologi, dalam keynote speech nya
> >
> > Yang menarik adalah makalah dari Dr. Gregorii Akhmanov dari Moscow
> > University yang membahas mud volcanism di Elean Basins yang,  dengan
> > tidak
> > mengenyampingkan jenis gunungapi lumpur di daerah lain seperti shale
> > diapirism,  menyatakan bahwa pembentukan mudvolcano di Elean basins
> > adalah
> > oleh hydro-fracturing. Hydro-fracturing adalah proses terjadinya LUSI
> > yang
> > dianut oleh mereka yang meyakini bahwa bahwa air dari Fm Kujung
> > sebagai
> > penyebab semburan lumpur LUSI. Saya catat bahwa tidak ada makalah yang
> > membahas berbagai jenis atau klasifikasi mudvolcano, sedangkan menurut
> >
> > hemat
> > saya gunungapi lumpur itu ada berbagai jenis dengan yang disebabkan
> > shale
> > diapirism di satu ujung (end member), biasanya merupakan lumpur kental
> > dan
> > membentuk keruncut yang terjal, dan jenis mud spring di ujung lain,
> > yang
> > sangat encer (kadar air yang sangat tinggi) dan nyaris tidak membentuk
> >
> > kerucut atau kerucut yang sangat landai. Saya menganggap LUSI ini
> > lebih
> > sebagai jenis mud spring.
> >
> >
> >
> > Walaupun makalah-makalah pada umumnya membahas asal gunungapi lumpur
> > disebabkan air yang bertekanan tinggi, yang boleh jadi disebabkan
> > gempa,
> > namun  gunungapi Lusi disimpulkan selain terjadi secara alamiah juga
> > disebabklan karena rekahan dan aktivitas tektonik yang diakibatkan
> > oleh
> > gempa bumi Jogya. Namun anehnya pada seluruh persidangan ini tidak
> > satupun
> > ada makalah yang membahas tektonik serta sistim sesar dari daerah
> > Sidoarjo,
> > bahkan peta geologi yang menunjukkan patahanpun nyaris tidak ada
> > kecuali
> > peta sesar Watukosek dengan satu garis saja yang menghubungkan
> > Watukosek
> > dengan Lusi dan G. Anyar dengan arah NNE-SSW.dan sesar-sesar amblasan
> > yang
> > berarahkan WSW-ENE yang menghubungkan semburan-semburan lumpur yang
> > sekarang
> > sudah tidak aktif lagi.  Apa lagi pembahasan bagaimana  mekanisme
> > gempa
> > bumi
> > Jogya  dapat  mengakibatkan sesar (rekahan) itu sama sekali tidak ada.
> > Inilah yang dikeluhkan Dr. Benyamin Sapiie dari ITB pada komentar yang
> >
> > diberikannya sesaat sebelum rumusan akhir dari hasil workshop ini
> > dibacakan.
> > Beliau menyatakan betapa pentingnya kita menganalisa tegangan-tegangan
> > tektonik yang aktif di daerah Sidoarjo ini untuk menentukan critical
> > stresses yang didapatkan, namun pembahasan ini tidak ada sama sekali.
> >
> >
> >
> > Sdr. Ketua yang terhormat.
> >
> > Saya sangat prihatin dengan hasil dari workshop yang disebutkan
> > sebagai
> > bertaraf internasional ini. Rumusan yang diberikan banyak tidak
> > relevant
> > dengan apa yang dibahas, bahkan cenderung bertolak belakang. Ini
> > sangat
> > menyedihkan, orang awampun akan bertanya-tanya apakah kesimpulan dari
> > workshop ini sudah ditentukan sebelumnya demi kepentingan nasional?
> > Komentar
> > di masyarakat ilmiah di luar negeri pun sudah bermunculan.
> >
> > Sampai di mana kebenaran pengamatan dan pendengaran  saya ini selama
> > mengikuti persidangan  tentu akan ada  yang meragukannya mengingat
> > usia
> > saya
> > yang sudah lanjut  ini. Untuk itu saya sudah meminta pada panitya
> > supaya
> > bisa mendapatkan Power Point files dari presentasi masing-masing
> > pembicara
> > itu. Namun sayangnya panitiya hanya akan memberikannya sesudah
> > dilakukan
> > peng-edit-tan terlebih dulu (mengingat adanya data-data yang dianggap
> > confidential oleh BP Migas).
> >
> >
> >
> > Satu hal yang menarik adalah Workshop ini tidak memberikan rekomendasi
> > mengenai langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi
> > masalah ini, atau kapan . Padahal inilah yang ditunggu-tunggu oleh
> > masyarakat. Masyarakat tidak terlalu peduli mengenai apa penyebab
> > gunungapi
> > lumpur ini, walaupun mereka cenderung untuk menyalahkan pemboran. Yang
> >
> > berkepentingan dalam apa penyebab dari gejala ini adalah dalam masalah
> >
> > soal
> > siapa yang harus menanggung biaya penanggulangan bencana ini.
> > Masyarakat
> > hanya ingin mendengar bagaimana  bencana lumpur ini dapat dihentikan.
> > Tentu
> > saja kita bisa berdalih bahwa untuk dapat menghentikan semburan lumpur
> >
> > itu
> > kita harus tahu penyebabnya. Kalau panitya workshop ini berkeyakinan
> > bahwa
> > hasil workshop ini adalah LUSI murni gejala alam dan tidak dapat
> > dihentikan
> > dan tidak dapat diprediksikan kapan akan berhentiknya, maka
> > satu-satunya
> > rekomendasi yang bisa diberikan adalah mengevakuasi (mengosongkan)
> > daerah
> > yang dipengaruhi LUSI, khususnya daerah yang bakal amblas, membangun
> > tanggul
> > sekitarnya serta mengalirkan airnya dengan saluran bertanggul ke laut,
> >
> > sedangkan lumpur padatnya secara alamiah dapat ditinggalkan di daerah
> > amblasan, bahkan mudah-mudahan dapat mengkompensasi amblasannya
> > sendiri.
> > Saya lihat ada lebih dari 1 makalah (a.l. dari Dr. Ir. Prihadi
> > Sumintapura
> > dari ITB) para pakar kita  telah mampu melakukan deliniasinya. Saya
> > sadar
> > bahwa pernyataan demikian mungkin mempunyai dampak yang luas bagi
> > masyarakat, tetapi saya kira itu satu-satunya rekomendasi yang dapat
> > diberikan kalau panitia perumus menganggap penyebab ini gejala alam
> > yang
> > tidak dapat dihentikan atau tidak dapat diprediksi kapan berhentinya..
> >
> > (bersambung)
> >
> >
> >
> >
> >
> > ------------------------------------------------------------------------
> >
> > ----
> > Hot News!!!
> > CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
> > [EMAIL PROTECTED]
> > Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual
> > Convention and Exhibition,
> > Patra Bali, 19 - 22 November 2007
> > ------------------------------------------------------------------------
> >
> > ----
> > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> >
> > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> > ---------------------------------------------------------------------
> >
> >
> > ----------------------------------------------------------------------------
> >
> > Hot News!!!
> > CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
> > [EMAIL PROTECTED]
> > Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
> > 29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
> > Bali Convention Center, 13-16 November 2007
> > ----------------------------------------------------------------------------
> >
> > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> >
> > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> > ---------------------------------------------------------------------
> >
> >
>

Kirim email ke