Betul Mas Kabul, maksudnya ngetik "beberapa hari" yang terketik "beberapa menit", maklumlah setelah seharian bekerja menangani berbagai dokumen (WP&B, POD, AFE, dsb) yg sangat rawan tuntutat/gugatan, kesempatan merespon imil sebelum pulang jam 19.11.
-----Original Message----- From: Kabul Ahmad [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: 15 Maret 2007 14:08 To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI Oaalah si Lusi ini kok lama-lama jadi seperti teka-teki : Duluan mana Ayam dengan Telur ? Gempa atau Driling ? Bencana Alam atau Ulah manusia ? Wong wis cetho melo-melo.. Salam IAGI... KA ----- Original Message ----- From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Wednesday, March 14, 2007 10:04 PM Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI > Menghubungkan gempa dengan semburan memang bukan hal tidak mungkin > karena secara statistik memang ada didaerah lain yang menunjukkan hal > itu. Tentusaja sebagai geologi tidak serta merta menggunakan data > statistik, karena setiap data memilki karakteristik sendiri-sendiri. > Setiap data point memilki attribut-attribut sehingga memenuhi > persyaratan untuk menunjukkan korespondensi (relasi). > > Dalam hal gempa menyebabkan reaktivasi semburan mud volkano bisa > dilihat persyaratannya yang dilihat dengan cara fisis yaitu diukur > atau ada hal-hal dalam bentuk ukuran "measurement". Faktor-faktor yang > mempengaruhi tentu saja "besaran getaran". Kita sangat beruntung > karena ada ilmu gempa yang menggunakan ukuran ini misalnya MMI. MMI > ini mengukur (mengestimasi) besarnya kekuatan getaran di titik yang > diukur. > > Secara grafis dapat digambarkan seperti yang ada disini : > http://rovicky.wordpress.com/2006/06/27/mungkinkah-gempa-penyebab-mud-fl ow/ > Juga yang dipertontonkan bulan lalu di BPPT disini (trims Pak Koesoema): > http://dongenggeologi.files.wordpress.com/2007/02/earthquake-trigger-lus i.jpg > > Gambar pertama menunjukkan bahwa intensitas diatas 6 MMI (ditempat > itu) yang akan menyebabkan reaktivasi dari mudvulkano (ingat > "re-aktivasi", bukan pembentukan mudvolkano baru !). > > Dua gambar itu jelas menunjukkan bahwa sangat sulit gempa jogja > menyebabkan LuSi > Atau dalam bahasa awam "jauh panggang dari api". Walaupun secara > ilmiah api memang menyebabkan air itu mendidih, tetapi tidak bisa > menyatakan kalau ada api selalu akan menyebabkan air mendidih, kan ? > Menurut info di IAGI-net tulisan Pak Awang di stasiun Karangkates > tercatat III-IV MMI ... > bisa dibaca ulang lengkapnya disini : > http://hotmudflow.wordpress.com/2006/06/13/iagi-net-l-informasinya-benar -banjar-panji-mud-extrusion/ > > Bagaimana kalau dengan hitung2an, ya siapa tahu pengukuran yang di tretes > menurut perhitungan rekan saya yang terurai disini : > http://hotmudflow.wordpress.com/2006/07/05/gempa-yogya-bikin-mud-volcano -di-porong/ > Diperkirakan getaran sekitar 4.9 Mw ... sangat sesuai dengan yang > terukur di Karangkates maupun Surabaya yang kira-kira III-IV MMI. > > Memang kadangkala kita terperangah dengan besarnya dampak yang hanya > karena kesalahan kecil. Akupun melihat dimensi dampak lumpurnya saja > menjadi terbelalak. Seolah kagak percaya apa iya ngebor ukuran 12 inci > bisa menyebabkan dampak sebesar itu ? > > Kalau menggunakan pemikiran "trigger mechanism" yang menjalar dengan > "domino effect" dicampur dengan teori "butterfly effect", hal-hal > kecil memang bisa saja menyebabkan perubahan besar. > wadduh tapi ini tidak mudah membuktikanya secara matematika ataupun > fisika .... memang angel ...tetapi bukan tidak mungkin dilakukan :( > > > rdp > > On 3/14/07, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> >> >> >> >> Pak Nyoto, >> >> >> >> Semua mud volcano di Indonesia dan di seluruh dunia muncul di suatu >> kawasan >> geologi yang tidak stabil dan tertekan. Kawasan tidak stabil itu tempat >> sedimen diendapkan begitu cepatnya sehingga tak punya waktu terkompaksi >> dengan baik, tak ada proses dewatering sempurna. Di Indonesia, wilayah >> seperti itu ada di dua tempat yang sangat menonjol : Kendeng Deep-Madura >> Strait dan foredeep Sorong Fault di utara Papua dari >> Salawati-Mamberamo-Sepik-Ramu di utara PNG. Di forearc basin yang dalam >> pun >> ada seperti di Sawu Basin yang timbul akibat collision Australia. Maka di >> wilayah2 ini banyak mud volcano dijumpai. Sedimentasi tak stabil, >> terangkat, >> dan tertekan, akan mudah memunculkan mudvolcano. >> >> >> >> Kita cek peta fisiografi Jawa van Bemmelen (1949), khusus bagian Jawa >> Tengah-Jawa Timur. Sedimentasi tak stabil akan ada di dua tempat : >> Depresi >> Solo dan Jalur Antiklinorium Kendeng. Jalur antiklinorium ini dulunya >> adalah >> cekungan panjang (trough) yang sangat dalam tempat sedimen volkanoklastik >> Neogen diendapkan di sini. Lalu pada Mio-Plio-Plistosen terangkat dan >> tertekan sangat kuat dengan dominasi arah kompresi (vergency) ke utara. >> Kompresi karena subduction di selatan Jawa telah sangat menekan Kendeng >> Deep >> ini. Maka, elisional condition sebagai syarat mud volcanoing pun >> terbentuk >> di Kendeng Deep. Dalam kondisi sedimen tak stabil yang undercompacted dan >> sangat tertekan, mud volcano bisa muncul. Sidoarjo adalah wilayah di >> bagian >> selatan Kendeng Deep yang menerus ke Madura Strait. Kalau saya bisa >> membagi >> data seismik di Selat Madura yang belum tiga tahun diakuisisi di >> sini....waw....mengerikan Pak mud volcanonya... >> >> >> >> Mengapa LUSI bukan timbul di daerah dekat Yogya ? Tak ada fisiografi yang >> mendukung terbentuknya dalaman seperti Kendeng Deep di situ. Di wilayah >> Yogya dan sekitarnya adalah batuan masif Old-Andesite dan karbonat >> Wonosari >> yang menyusun Pegunungan Selatan. Tak ada sedimen tidak stabil diendapkan >> di >> situ. Tak ada kondisi elisional yang akan mendorong mud volcanism di >> wilayah >> Yogyakarta. Waktu gempa 27 Mei 2006 ada beberapa semburan air dan lumpur >> di >> wilayah ini, tetapi itu hanya gejala likuifaksi di kedalaman dangkal, >> zone >> air tanah. Maka, secara geologi tak mungkin ada LUSI di dekat Yogya. >> >> >> >> Mengapa baru dua hari setelah gempa Yogya terjadi semburan LUSI ? Semua >> pengaktifan skala besar geologi karena gempa terjadi umumnya beberapa >> hari >> sesudah gempa. Aktivitas awan panas Merapi pun meningkat dua hari setelah >> gempa, aktivitas awan panas Semeru pun terjadi dua hari setelah gempa >> Yogya >> (data NASA 29 Mei 2006). Saat gempa menggoncang Nias tahun 2005 dengan >> kekuatan 8 SR pun gunung Talang aktif setelah beberapa hari. Tetapi, ada >> gejala yang lebih instan akibat gempa ini di sekitar LUSI, yaitu >> menurunnya >> produksi sumur Carat. Sumur Carat berlokasi di sekitar sumur Banjar Panji >> juga. >> >> >> >> Sesar regional ala Sumatra Fault sebagai tectonic freeway dari Yogya ke >> LUSI >> memang tidak ada, tetapi analisis citra, gravity dan peta permukaan >> menunjukkan hadirnya sekian banyak sesar2 mendatar (kebanyakan dextral) >> yang >> berpola right-stepping sejak dari Opak Fault sampai ke sesar mendatar >> besar >> di sekitar Banjar Panji (Sesar Watukosek). Coba kalau kita plot semua >> episentrum gempa afterschock dalam 2 hari setelah mainshock gempa Yogya >> maka >> akan membuat cluster ke arah NE sesuai dengan berjalannya pola >> right-stepping sesar2 tadi. Apa artinya ? Kalau saya menafsirkannya >> terjadi >> propagasi gaya ke timurlaut dari mainshock. Interpretasi ini dikuatkan >> oleh >> terukurnya getaran gempa Yogya pada lima menit pertama perekaman seismik >> Hess di perairan Ujung Pangkah di utara Delta Bengawan Solo. >> >> >> >> Tentu saja, posisi sumur Banjar Panji-1 yang jaraknya hanya 200 meter >> dari >> pusat semburan akan menjadi sasaran utama untuk pemikiran sebagai >> penyebab >> semburan LUSI. Tak usah kita para geologist, masyarakat non-geologi pun >> semua akan bilang begitu. Ini adalah "sebab-akibat" yang paling >> sederhana. >> Media pun menyebarkan berita itu. Tak perlu analisis mendalam, tak perlu >> melihat2 data regional, dll. Kalau itu blow-out biasa, saya juga tak akan >> susah2 mengumpulkan segala data seismik, data regional, data kegempaan, >> dll. >> Tetapi, yang tengah terjadi di LUSI bukanlah blow-out biasa, bukan gejala >> liquefaction seperti saya duga pertama kali, tetapi erupsi mud volcano >> ala >> Bledug Kuwu. Dan, sebab ada koinsiden dengan gempa Yogya 27 Mei 2006 dan >> secara regional dan lokal banyak terpenuhinya syarat >> earthquake-triggering >> mud volcanism, maka saya tak akan secepat orang lain menuduh sumur Banjar >> Panji sebagai penyebab LUSI. Saya juga tak akan menafikan sumur Banjar >> Panji >> sebagai penyebab LUSI. Semua harus dilihat dengan hati-hati sebab >> masalahnya >> sungguh tak sederhana. Ocham/Ozzam Razor analysis di sini tak bisa >> dipakai >> saya pikir, masalahnya kompleks. >> >> >> >> Secara internasional, hanya tulisan Richard Davis dkk. (University of >> Durham) yang bilang bahwa LUSI akibat pemboran. Ini baru interpretasi, >> sebab Richard Davis mengumpulkan datanya dari publikasi2 yang ada >> (termasuk >> dari internet), bukan dari hard field data (keterangan dari Richard >> Swarbick, co-authornya). Hard field data dikumpulkan oleh para peneliti >> dari >> Jepang, Rusia dan Norwegia. Dan, tak ada peneliti dari >> Jepang/Rusia/Norwegia >> yang bilang bahwa LUSI adalah akibat pemboran. >> >> >> >> Yang saya tulis di atas pun adalah fakta dan data, bukan interpretasi. >> Tulisan saya ini hendaknya tidak diinterpretasikan bahwa saya mendukung >> teori gempa sebagai asal semburan LUSI, saya hanya ingin melihat lebih >> jauh >> kemungkinan gempa sebagai penyebabnya, sebab terlalu banyak yang apriori >> dan >> menutup mata terhadap hal ini. Karena saya terdidik sebagai geologist >> yang >> biasa bermain dalam skala spatial dan temporal, maka saya tak mungkin >> hanya >> melihat LUSI sebagai berhubungan dengan Banjar Panji Lapindo, saya juga >> harus melihat hubungannya dengan gempa Yogya 27 Mei 2006. Maka, saya tak >> bisa secepat itu menunjuk Lapindo sebagai bertanggung jawab dalam hal >> ini. >> >> >> >> Salam, >> >> awang >> >> >> >> -----Original Message----- >> From: nyoto - ke-el [mailto:[EMAIL PROTECTED] >> Sent: Wednesday, March 14, 2007 8:58 C++ >> To: [email protected] >> Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI >> >> >> >> >> Justru saya sejak awal kurang sependapat dengan interpretasinya mas Nana >> didalam "Mimbar Jum'at"-nya (tiap Jum'at saya terima via email) mas Nana >> Djumhana tentang awal terjadinya LUSI/LULA tsb. Tetapi karena itu berupa >> "Mimbar Jum'at" ya saya kira kurang pas untuk meng-counter-nya. >> >> >> >> >> >> Kalau sebagai triggernya adalah gempa, mengapa LUSI justru timbulnya di >> Sidoardjo, bukan di-dekat2 daerah Yogyakarta ? Dan kenapa baru 2 hari >> kemudian munculnya ? Itu bisa mungkin terjadi kalau misalnya memang ada >> sesar/patahan regional yang besar sekali dengan trend dari Yogya ke >> Sidoardjo, seperti sesar Semangko di sepanjang P.Sumatra yang mempunyai >> panjang sampai berratus kilometer. >> >> >> >> >> >> Perlu diketahui bahwa awal mula terjadinya LUSI adalah setelah terjadinya >> problem drilling di sumur BJP-1, dan terjadinya juga hanya beberapa meter >> dari lokasi sumur (tidak sampai ber-kilo2 meter, sedang jarak LUSI dengan >> gempa Yogya adalah ber-ratus2 km) dan terjadinya 2 hari kemudian. Jadi >> menurut logika akal sehat, apakah masuk akal kalau trigger-nya LUSI >> adalah >> gempa Yogya & bukan sumur BJP-1 yang sedanag mengalami problem drilling >> saat >> itu ? >> >> >> >> >> >> Terbukti sudah 2 ahli bumi international (kalau tidak salah dari >> Inggris/USA >> ? & dari Jepang) yang meng-interpretasikan bahwa kejadian LUSI adalah >> dipicu >> oleh problem drilling di sumur BJP-1 & bukan oleh gempa Yogya. >> >> >> >> Interpretasi boleh berbeda, tetapi data/fakta yang ada seyogyanya jangan >> diabaikan ataupun dirubah. Sebagai geologist memang kita bisa selalu >> berbeda pendapat & interpretasi, itu sah2 saja, jadi ya silahkan saja >> kalau >> mas Nana masih tetap mempercayai interpretasinya, sedang saya lebih ke >> data/faktanya. >> >> >> >> >> >> Wass, >> >> >> >> >> >> >> >> >> ps: terima kasih tanggapannya mas Nana. >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> On 3/14/07, Nana Djumhana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> >> >> >> Ingin juga saya urun rembug dalam masalah ini. >> >> >> >> >> >> Soal nama semburan lumpur, apakah LULA, LUSI atau apa saja, tidak perlu >> dipermasalahkan. Saya sendiri sejak awal kejadian menamakannya dengan >> "Bledug Porong" yang identik dengan "Bledug Kuwu" di Wirosari, Purwodadi, >> Jawa Tengah. Karena dari awal pula (Juni 2006) saya mengatakan bahwa >> berdasarkan data yang ada kejadian tersebut merupakan mud vulcano, yang >> merupakan kejadian alam dan kemungkinan tidak berkaitan dengan adanya >> pemboran sumur BJP-1. Hal ini saya sampaikan selesai meeting di BP Migas >> tgl. 15 Juni 2006, ketika itu Awang tanya pada saya tentang hal tersebut, >> yang ternyata sama dengan dugaan dia. Bahkan Awang menambahkan data >> lainnya >> dan efek/akibat yang akan mengikutinya. Masalah ini juga saya sampaikan >> melalui "Mimbar Jum'at" mulai dari edisi No. 258 tgl.23 Juni 2006, yang >> berjudul "Bencana Porong". Berbagai reaksi, baik kritik yang bernada >> memperingatkan sampai yang menakut-nakuti ditujukan kepada saya, karena >> dianggap melawan arus. >> >> >> >> >> >> Kejadiannya memang 2 hari setelah gempa yang mengguncang Jogja dan >> sekitarnya. Oleh karena itu dalam beberapa "Mimbar Jum'at", saya >> mengatakan >> bahwa gempa Jogja, kemungkinan hanya merupakan pemicu aktivitas mud >> vulcano >> tsb., tetapi penyebab sebenarnya kemungkinan adalah : adanya getaran >> terus >> menerus dari mobil-mobil besar yang melintas di jalan toll di atas area >> shale diapir, dan beratnya beban bangunan di atas area tersebut. >> Sedangkan >> adanya pemboran sumur BJP-1, kalaupun ikut andil sebagai penyebab, kecil >> peranannya. Saya sampaikan juga melalui "Mimbar Jum'at" sejak awal >> (karena >> saya belum bergabung dengan iagi-net) bagaimana mengatasinya, yaitu agar >> segera melokalisir area luapan lumpur dan segera dibuatkan salurannya ke >> laut, karena lumpur akan terus mengalir sampai waktu yang tidak >> diketahui, >> bisa setahun, puluhan tahun atau mungkin ratusan tahun. Dan jika tidak >> segera diatasi, akan menjadi bencana yang lebih besar dan lebih parah >> akibatnya. Tetapi sebagaimana kita ketahui di negri ini, seringkali >> mencari >> kambing hitamnya dulu yang menjadi penyebab kejadian, kemudian >> berdasarkan >> asumsi itu baru dicari solusinya. Karena dari awal (dan sampai sekarang) >> yang menjadi kambing hitam adalah 100% Lapindo dengan pemboran sumur >> BJP-1, >> maka penanganan awal tertumpu kepada penanggulangan "drilling hazzard", >> bukan penanggulangan mud vulcano. Dan kita bisa lihat kenyataannya >> sekarang. >> >> >> >> >> >> Barangkali itu saja yang ingin disampaikan, dan bagi rekan yang >> "berlangganan" mimbar jum'at, semuanya sudah tahu. >> >> >> >> ----- Original Message ----- >> >> >> From: nyoto - ke-el >> >> >> To: [email protected] >> >> >> >> Sent: Tuesday, March 13, 2007 7:42 PM >> >> >> Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI >> >> >> >> >> >> >> Pak Achmad Luthfi ternyata sebagai seorang Ketua IAGI (Ikatan Ahli >> Geologi >> Indonesia) kurang teliti didalam menulis Respon-2 ini. Perhatikan didalam >> kalimat seperti tsb dibawah ini : >> >> >> "Kita semua tahu bahwa semburan lumpur tersebut terjadi disekitar sumur >> BJP-1 pada tanggal 29 Mei 2006 pagi beberapa menit setelah terjadi gempa >> Jogja". >> >> >> >> >> >> Memang betul semburan lumpur panas tsb terjadi disekitar sumur BJP-1 pada >> hari Senin 29 Mei 2006 pagi, tetapi gempa Yogya terjadinya bukan hari >> Senin >> itu tetapi terjadinya 2 hari sebelumnya, yaitu hari Sabtu pagi2 sekali >> tanggal 27 Mei 2006, bisa ditanyakan kepada orang2 di Yogyakarta yang >> mengalami sendiri gempa itu atau data2 gempa Yogya, dimana jelas >> terjadinya >> bukan hari Senin 29 Mei melainkan hari Sabtu pagi2 tanggal 27 Mei 2006. >> >> >> >> >> >> Apakah penyebutan terjadinya gempa Yogya tanggal 29 Mei 2006, sengaja >> akan >> dihubungkan dengan awal terjadinya semburan pertama lumpur panas >> Sidoardjo, >> supaya klop dengan teori pak Luthfi, yaitu penyebab terjadinya lumpur >> panas >> adalah akibat gempa Yogya ? Tetapi sayang sekali teori itu banyak sekali >> kelemahannya pak (tidak didukung data yang benar). >> >> >> >> >> >> Sekian dari saya, semoga pak Luthfi maklum. >> >> >> >> >> >> >> >> >> Wassalam, >> >> >> nyoto - TG'74 >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> On 3/13/07, Achmad Luthfi <[EMAIL PROTECTED] > wrote: >> >> RESPON-2 SURAT TERBUKA KEPADA KETUM IAGI >> >> LULA adalah sebutan lain dari LUSI yang sudah lebih dulu popular, tdk >> ada makna lain dibalik itu, bahkan ada yang menyebutnya LULUK (Luapan >> Lumpur tanpa Kendali). Melihat skala luapan LULA yang begitu dahsya >> tentu tidak seorangpun diantara kita ada yang pernah memperkirakan ada >> semburan lumpur panas yang begitu dahsyat di cekungan jawa timur laut >> walaupun di cekungan ini banyak tersebar mud volcano. Kita semua tahu >> bahwa semburan lumpur tersebut terjadi disekitar sumur BJP-1 pada >> tanggal 29 Mei 2006 pagi beberapa menit setelah terjadi gempa Jogja. >> Spontan muncul berbagai komentar yang berbuah opini dari yang berdasar >> scientific sampai yang non-scientific, makin hari makin kearah teknis, >> terbentuk opini penyebabnya adalah tidak set casing dalam selang yang >> panjang di BJP-1. Kalo tidak salah seminggu kemudian Menteri ESDM >> membentuk tim investigasi yang diketuai oleh Dr. Ir. Rudy Rubiandini >> (Kang Rudy). Saya sering mengikuti diskusi teknis tim-nya Kang Rudy, >> setelah diputuskan melakukan serangkaian pekerjaan dari mulai snubbing >> unit sampai relief well dan belum menampakkan hasilnya, IAGI mengundang >> Kang Rudy untuk jadi pembicara dalam buka puasa bersama tahun lalu di >> hotel Sahid, topiknya adalah hasil kerja Kang Rudy dalam upaya mematikan >> LULA. Kang Rudy berpendapat bahwa air (panas) bertekanan tinggi berasal >> dari lubang bor kedalam 9000-an kaki, air mengalir keatas melalui lubang >> bor menggerus shale diatasnya sehingga terjadi perlumpuran yang terus >> bergerak ke atas melalui zona lemah dan terus ke permukaan. Dalam >> kesempatan itu bagaimana kami bisa melakukan relief well sementara >> pantat kami (maaf ini asli ucapan Kang Rudy) dikejar lumpur panas >> (pemboran relief well spi kadalam 3600-an kaki gak maju2 sementara >> permukaan lumpur panas naik begitu cepat). Salah seorang peserta buka >> puasa bernama Hari (PT. Saripari) bertanya: kalau melihat volume lumpur >> yang keluar mencapai seratusan meter kubik, diperlukan berapa banyak >> pompa duplex untuk mematikan semburan mengingat kapasitas pompa jauh >> lebih kecil dari volume lumpur yang keluar, mungkin diperlukan puluhan >> pompa sekaligus. Waktu itu saya gak jelas apa jawaban Kang Rudy. Bagi >> yang mengikuti seminar di BPPT yang lalu, pendapat Kang Rudy tersebut >> mirip dengan teori satu (teori aliran) yang disampaikan/dipresentasikan >> oleh DR. Ir. Doddy Nawangsidi (itb) yang menyampaikan empat macam teori >> aliran, dengan fakta volume semburan lumpur Beliau mengemukakan bahwa >> teori-1, teori-2, teori-3 tidak mungkin diterapkan untuk LULA, jadi yang >> paling mungkin adalah teori empat, yakni lumpur panas sampai ke >> permukaan tidak melalui lubang bor tapi melalui rekahan yang sangat >> besar, saya (DR. Doddy) tidak tahu bagaimana rekahan itu terjadi apakah >> akibat tektonik atau bukan karena saya (DR. Doddy) bukan ahli geologi. >> Karena Kang Rudy sudah pernah berbicara di IAGI, teman2 panitia tidak >> mengundang Kang Rudy sahabat saya sebagai pembicara dalam seminar di >> BPPT yang lalu. Saya sangat menghargai DR. IR. Rudy Rubiandini, walaupun >> masih muda Kang Rudy seorang guru yang punya kompetensi tinggi >> dibidangnya (drilling engineering). Masih segar dalam ingatan saya dalam >> milis IAGI pernah heboh atas wawancara Kang Rudy dengan radio Elshinta. >> Bagi saya persahabatan dan kerukunan adalah nomor satu baik seprofesi >> maupun antar profesi, kita harus kompak begitu kata Abah Yanto melalui >> SMS. Untuk itu saya minta sekjen IAGI utk melakukan klarifikasi kepada >> Kang Rudy dan hasilnya dimuat di milis ini. Saya percaya sebagai >> seorang guru, Kang Rudy tidak sedikitpun berniat/bermaksud menuduh atau >> menjelekkan rekan lain profesi. Sayang Kang Rudy mengajukan surat >> pengunduran diri (surat ditembuskan ke saya, tapi saya tidak tahu apakah >> sudah disetujui oleh MESDM). Itulah ilustrasi pertemanan saya dengan >> Kang Rudy, kalau dalam seminar tersebut tidak mengundang Kang Rudy >> sebagai pembicara tidak ada maksud lain yang tersembunyi. >> >> DIMANA IAGI BERADA WAKTU TIM INVESTIGASI DIBENTUK? >> >> Pada waktu rapat pembentukan tim investigasi, IAGI menugaskan DR. Edy >> Sunardi (Ketua Departemen Pengembangan Keilmuan). Kang Edy diminta untuk >> menjadi anggota tim investigasi, tapi Kang Edy tidak bersedia karena >> sudah menjadi ketua tim IAGI untuk LULA. Apa yang dilakukan oleh tim >> IAGI? Tim yang dipimpin Kang Rudy bekerja di lapangan lebih dulu >> berfokus pada drilling engineering untuk mematikan LULA. Baru Kemudian >> tim IAGI melakukan observasi lapangan dan sampling lumpur. Pada saat >> yang sama ada tim subsurface ITS yang dipimpin oleh DR. Ir. Maki >> melakukan survey VFL (Very Low Frequnce) dan tim dari geofisika itb yang >> melakukan survey mikro seismic dan pemetaan penyebaran lumpur dengan >> menggunakan foto udara yang dilakukan dgn cara sederhana (pesawat mainan >> berkamera dikendalikan dengan remote control) semua tim bekerja 24 jam >> bergantian. Area survey meliputi daerah Banjarpanji dan sekitarnya. Tim >> IAGI, tim ITS, tim ITB melakukan diskusi secara intens di kampus ITS >> maupun di hotel Shangrila bersama tim Kang Rudy. >> >> ...lanjutan epilog bersambung pada surat berikutnya........TOETOEGE >> (Bersambung) >> >> >> >> -----Original Message----- >> From: R.P. Koesoemadinata [mailto: [EMAIL PROTECTED] >> Sent: 25 Februari 2007 13:41 >> To: [email protected] >> Subject: [iagi-net-l] Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI-(2) >> >> SURAT TERBUKA KEPADA KETUA UMUM IAGI (2) >> >> >> >> Di lain pihak yang sangat menarik adalah telah terungkapnya pula data >> pemboran yang pada waktu sebelumnya (terutama pada permulaan erupsi >> Lusi) >> tidak pernah muncul pada laporan pemboran, yaitu yaitu bahwa 10 menit >> setelah terjadinya gempa di Jogya, terjadi 'partial loss' dari lumpur >> pemboran yang teramati pada mud pit. Hal yang sama diungkapkan pula oleh >> Dr. >> Doddy Nawangsidi, tetapi waktunya adalah 70 menit sesudah gempa (mungkin >> Pak >> Doddy ini keliru membaca 1 sebagai 7). Ini data yang sangat menarik >> karena >> sebelum data ini belum pernah dilaporkan dan menunggu 7 bulan untuk >> terungkap. Di lain pihak Dr. Nawangsidi ini menunjukkan secara >> kwantitafi >> dengan menggunakan rumus reservoir (Darcy) dengan parameter2 yang >> diasumsikan bagaimana tidak mungkinnya laju (rate of production) jumlah >> air >> sebegitu besar (100 sampai 160 juta meter kubik per hari?) dari satu >> lubang >> sumur yang menembus Kujung hanya 15 kaki saja.. Analisa ini tentu >> merupakan >> pukulan, paling tidak renungan, bagi mereka yang berpendapat bahwa >> gunung >> api lumpur ini bersumber dari air bertekanan tinggi dari reservoir >> terumbu >> Kujung yang telah ditembus sumur BP-1, walaupun tentu orang dapat >> mempertanyakan data serta parameter yang diasumsikannya, serta adanya >> tambahan sumber air panas lainnya yang ikut terpicu dengan underground >> blow-out dari Kujung ini. >> >> Mengenai stratigrafi lubang bor Dr. Adi Kadar dkk mengakui telah >> mereview >> serta menganalisa ulang data biostratigrafi dan disimpulkan bahwa >> seluruh >> lapisan batuan yang ditembus Banjar Panji hanyalah berumur Pleistocene >> yang >> menimbulkan kesan bahwa Formasi Kujung tidak tersentuh oleh sumur bor >> ini. >> Juga telah ditekankan keberadaan diapirism dalam selang overpressured >> shale, >> yang banyak menganggap sebagai sumber lumpur. >> >> Mengenai sumber air ini masih juga ada yang berpendapat bahwa lumpur ini >> berasal dari overpressured shale yang diyakini semua orang keberadaannya >> jauh di atas formasi Kujung, namun berdasarkan analisa penampang seismic >> dibantah oleh Dr. Alam sebagai mud diapir. Dr. Adriano Mazzini dari >> Oslo >> University masih berpandangan bahwa sumber lumpur ini adalah dari >> overpressured shale ini, tetapi ketika ditanyakan oleh Richard Davies >> bagaimana begitu banyak air dapat dihasilkan dari overpressured shale >> ini, >> mengingat shale adalah impermeable, yang bersangkutan menghindar untuk >> menjawabnya dengan dalih pertanyaannya tidak jelas. Namun suatu hal >> penting >> yang dikemukakannya adalah bahwa cekungan Jawa Timur adalah matang >> (ripe) >> atau rawan terjadinya gunung api lumpur dibuktikan dengan adanya >> overpressured shales dan banyaknya gunung api lumpur, tanpa pemboran >> (atau >> gempa) pun gunungapi lumpur dapat terjadi sewaktu-waktu. Mengenai >> kayanya >> cekungan Jawa Timur Utara juga telah dibahas oleh Dr. Djajang Sukarna, >> Kepala Badan Geologi, dalam keynote speech nya >> >> Yang menarik adalah makalah dari Dr. Gregorii Akhmanov dari Moscow >> University yang membahas mud volcanism di Elean Basins yang, dengan >> tidak >> mengenyampingkan jenis gunungapi lumpur di daerah lain seperti shale >> diapirism, menyatakan bahwa pembentukan mudvolcano di Elean basins >> adalah >> oleh hydro-fracturing. Hydro-fracturing adalah proses terjadinya LUSI >> yang >> dianut oleh mereka yang meyakini bahwa bahwa air dari Fm Kujung sebagai >> penyebab semburan lumpur LUSI. Saya catat bahwa tidak ada makalah yang >> membahas berbagai jenis atau klasifikasi mudvolcano, sedangkan menurut >> hemat >> saya gunungapi lumpur itu ada berbagai jenis dengan yang disebabkan >> shale >> diapirism di satu ujung (end member), biasanya merupakan lumpur kental >> dan >> membentuk keruncut yang terjal, dan jenis mud spring di ujung lain, yang >> sangat encer (kadar air yang sangat tinggi) dan nyaris tidak membentuk >> kerucut atau kerucut yang sangat landai. Saya menganggap LUSI ini lebih >> sebagai jenis mud spring. >> >> >> >> Walaupun makalah-makalah pada umumnya membahas asal gunungapi lumpur >> disebabkan air yang bertekanan tinggi, yang boleh jadi disebabkan gempa, >> namun gunungapi Lusi disimpulkan selain terjadi secara alamiah juga >> disebabklan karena rekahan dan aktivitas tektonik yang diakibatkan oleh >> gempa bumi Jogya. Namun anehnya pada seluruh persidangan ini tidak >> satupun >> ada makalah yang membahas tektonik serta sistim sesar dari daerah >> Sidoarjo, >> bahkan peta geologi yang menunjukkan patahanpun nyaris tidak ada kecuali >> peta sesar Watukosek dengan satu garis saja yang menghubungkan Watukosek >> dengan Lusi dan G. Anyar dengan arah NNE-SSW.dan sesar-sesar amblasan >> yang >> berarahkan WSW-ENE yang menghubungkan semburan-semburan lumpur yang >> sekarang >> sudah tidak aktif lagi. Apa lagi pembahasan bagaimana mekanisme gempa >> bumi >> Jogya dapat mengakibatkan sesar (rekahan) itu sama sekali tidak ada. >> Inilah yang dikeluhkan Dr. Benyamin Sapiie dari ITB pada komentar yang >> diberikannya sesaat sebelum rumusan akhir dari hasil workshop ini >> dibacakan. >> Beliau menyatakan betapa pentingnya kita menganalisa tegangan-tegangan >> tektonik yang aktif di daerah Sidoarjo ini untuk menentukan critical >> stresses yang didapatkan, namun pembahasan ini tidak ada sama sekali. >> >> >> >> Sdr. Ketua yang terhormat. >> >> Saya sangat prihatin dengan hasil dari workshop yang disebutkan sebagai >> bertaraf internasional ini. Rumusan yang diberikan banyak tidak relevant >> dengan apa yang dibahas, bahkan cenderung bertolak belakang. Ini sangat >> menyedihkan, orang awampun akan bertanya-tanya apakah kesimpulan dari >> workshop ini sudah ditentukan sebelumnya demi kepentingan nasional? >> Komentar >> di masyarakat ilmiah di luar negeri pun sudah bermunculan. >> >> Sampai di mana kebenaran pengamatan dan pendengaran saya ini selama >> mengikuti persidangan tentu akan ada yang meragukannya mengingat usia >> saya >> yang sudah lanjut ini. Untuk itu saya sudah meminta pada panitya supaya >> bisa mendapatkan Power Point files dari presentasi masing-masing >> pembicara >> itu. Namun sayangnya panitiya hanya akan memberikannya sesudah dilakukan >> peng-edit-tan terlebih dulu (mengingat adanya data-data yang dianggap >> confidential oleh BP Migas). >> >> >> >> Satu hal yang menarik adalah Workshop ini tidak memberikan rekomendasi >> mengenai langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi >> masalah ini, atau kapan . Padahal inilah yang ditunggu-tunggu oleh >> masyarakat. Masyarakat tidak terlalu peduli mengenai apa penyebab >> gunungapi >> lumpur ini, walaupun mereka cenderung untuk menyalahkan pemboran. Yang >> berkepentingan dalam apa penyebab dari gejala ini adalah dalam masalah >> soal >> siapa yang harus menanggung biaya penanggulangan bencana ini. Masyarakat >> hanya ingin mendengar bagaimana bencana lumpur ini dapat dihentikan. >> Tentu >> saja kita bisa berdalih bahwa untuk dapat menghentikan semburan lumpur >> itu >> kita harus tahu penyebabnya. Kalau panitya workshop ini berkeyakinan >> bahwa >> hasil workshop ini adalah LUSI murni gejala alam dan tidak dapat >> dihentikan >> dan tidak dapat diprediksikan kapan akan berhentiknya, maka satu-satunya >> rekomendasi yang bisa diberikan adalah mengevakuasi (mengosongkan) >> daerah >> yang dipengaruhi LUSI, khususnya daerah yang bakal amblas, membangun >> tanggul >> sekitarnya serta mengalirkan airnya dengan saluran bertanggul ke laut, >> sedangkan lumpur padatnya secara alamiah dapat ditinggalkan di daerah >> amblasan, bahkan mudah-mudahan dapat mengkompensasi amblasannya sendiri. >> Saya lihat ada lebih dari 1 makalah (a.l. dari Dr. Ir. Prihadi >> Sumintapura >> dari ITB) para pakar kita telah mampu melakukan deliniasinya. Saya >> sadar >> bahwa pernyataan demikian mungkin mempunyai dampak yang luas bagi >> masyarakat, tetapi saya kira itu satu-satunya rekomendasi yang dapat >> diberikan kalau panitia perumus menganggap penyebab ini gejala alam yang >> tidak dapat dihentikan atau tidak dapat diprediksi kapan berhentinya.. >> (bersambung) >> >> >> >> >> >> ------------------------------------------------------------------------ >> ---- >> Hot News!!! >> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to >> [EMAIL PROTECTED] >> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual >> Convention and Exhibition, >> Patra Bali, 19 - 22 November 2007 >> ------------------------------------------------------------------------ >> ---- >> To unsubscribe, send email to: >> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id >> To subscribe, send email to: >> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >> No. Rek: 123 0085005314 >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >> Bank BCA KCP. Manara Mulia >> No. Rekening: 255-1088580 >> A/n: Shinta Damayanti >> IAGI-net Archive 1: >> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> --------------------------------------------------------------------- >> >> >> ------------------------------------------------------------------------ ---- >> Hot News!!! >> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to >> [EMAIL PROTECTED] >> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the >> 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, >> Bali Convention Center, 13-16 November 2007 >> ------------------------------------------------------------------------ ---- >> To unsubscribe, send email to: >> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id >> To subscribe, send email to: >> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >> No. Rek: 123 0085005314 >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >> Bank BCA KCP. Manara Mulia >> No. Rekening: 255-1088580 >> A/n: Shinta Damayanti >> IAGI-net Archive 1: >> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> --------------------------------------------------------------------- >> >> >> >> >> >> > > > -- > http://rovicky.wordpress.com/ > > ------------------------------------------------------------------------ ---- > Hot News!!! > CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to > [EMAIL PROTECTED] > Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the > 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, > Bali Convention Center, 13-16 November 2007 > ------------------------------------------------------------------------ ---- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > ------------------------------------------------------------------------ ---- Hot News!!! CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ------------------------------------------------------------------------ ---- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- ---------------------------------------------------------------------------- Hot News!!! CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

