Betul Mas Kabul, maksudnya ngetik "beberapa hari" yang terketik
"beberapa menit", maklumlah setelah seharian bekerja menangani berbagai
dokumen (WP&B, POD, AFE, dsb) yg sangat rawan tuntutat/gugatan,
kesempatan merespon imil sebelum pulang jam 19.11.

-----Original Message-----
From: Kabul Ahmad [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 15 Maret 2007 14:08
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI

Oaalah si Lusi ini kok lama-lama jadi seperti teka-teki :

Duluan mana Ayam dengan Telur ?

Gempa atau Driling ? Bencana Alam atau Ulah manusia ?

Wong wis cetho melo-melo..
Salam IAGI...
KA
----- Original Message ----- 
From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, March 14, 2007 10:04 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI


> Menghubungkan gempa dengan semburan memang bukan hal tidak mungkin
> karena secara statistik memang ada didaerah lain yang menunjukkan hal
> itu. Tentusaja sebagai geologi tidak serta merta menggunakan data
> statistik, karena setiap data memilki karakteristik sendiri-sendiri.
> Setiap data point memilki attribut-attribut sehingga memenuhi
> persyaratan untuk menunjukkan korespondensi (relasi).
>
> Dalam hal gempa menyebabkan reaktivasi semburan mud volkano bisa
> dilihat persyaratannya yang dilihat dengan cara fisis yaitu diukur
> atau ada hal-hal dalam bentuk ukuran "measurement". Faktor-faktor yang
> mempengaruhi tentu saja "besaran getaran". Kita sangat beruntung
> karena ada ilmu gempa yang menggunakan ukuran ini misalnya MMI. MMI
> ini mengukur (mengestimasi) besarnya kekuatan getaran di titik yang
> diukur.
>
> Secara grafis dapat digambarkan seperti yang ada disini :
>
http://rovicky.wordpress.com/2006/06/27/mungkinkah-gempa-penyebab-mud-fl
ow/
> Juga yang dipertontonkan bulan lalu di BPPT disini (trims Pak
Koesoema):
>
http://dongenggeologi.files.wordpress.com/2007/02/earthquake-trigger-lus
i.jpg
>
> Gambar pertama menunjukkan bahwa intensitas diatas 6 MMI (ditempat
> itu) yang akan menyebabkan reaktivasi dari mudvulkano (ingat
> "re-aktivasi", bukan pembentukan mudvolkano baru !).
>
> Dua gambar itu jelas menunjukkan bahwa sangat sulit gempa jogja 
> menyebabkan LuSi
> Atau dalam bahasa awam "jauh panggang dari api". Walaupun secara
> ilmiah api memang menyebabkan air itu mendidih, tetapi tidak bisa
> menyatakan kalau ada api selalu akan menyebabkan air mendidih, kan ?
> Menurut info di IAGI-net tulisan Pak Awang di stasiun Karangkates
> tercatat III-IV MMI ...
> bisa dibaca ulang lengkapnya disini :
>
http://hotmudflow.wordpress.com/2006/06/13/iagi-net-l-informasinya-benar
-banjar-panji-mud-extrusion/
>
> Bagaimana kalau dengan hitung2an, ya siapa tahu pengukuran yang di
tretes
> menurut perhitungan rekan saya yang terurai disini :
>
http://hotmudflow.wordpress.com/2006/07/05/gempa-yogya-bikin-mud-volcano
-di-porong/
> Diperkirakan getaran sekitar 4.9 Mw ... sangat sesuai dengan yang
> terukur di Karangkates maupun Surabaya yang kira-kira III-IV MMI.
>
> Memang kadangkala kita terperangah dengan besarnya dampak yang hanya
> karena kesalahan kecil. Akupun melihat dimensi dampak lumpurnya saja
> menjadi terbelalak. Seolah kagak percaya apa iya ngebor ukuran 12 inci
> bisa menyebabkan dampak sebesar itu ?
>
> Kalau menggunakan pemikiran "trigger mechanism" yang menjalar dengan
> "domino effect" dicampur dengan teori "butterfly effect", hal-hal
> kecil memang bisa saja menyebabkan perubahan besar.
> wadduh tapi ini tidak mudah membuktikanya secara matematika ataupun
> fisika .... memang angel ...tetapi bukan tidak mungkin dilakukan  :(
>
>
> rdp
>
> On 3/14/07, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>>
>>
>>
>> Pak Nyoto,
>>
>>
>>
>> Semua mud volcano di Indonesia dan di seluruh dunia muncul di suatu 
>> kawasan
>> geologi yang tidak stabil dan tertekan. Kawasan tidak stabil itu
tempat
>> sedimen diendapkan begitu cepatnya sehingga tak punya waktu
terkompaksi
>> dengan baik, tak ada proses dewatering sempurna. Di Indonesia,
wilayah
>> seperti itu ada di dua tempat yang sangat menonjol : Kendeng
Deep-Madura
>> Strait dan foredeep Sorong Fault di utara Papua dari
>> Salawati-Mamberamo-Sepik-Ramu di utara PNG. Di forearc basin yang
dalam 
>> pun
>> ada seperti di Sawu Basin yang timbul akibat collision Australia.
Maka di
>> wilayah2 ini banyak mud volcano dijumpai. Sedimentasi tak stabil, 
>> terangkat,
>> dan tertekan, akan mudah memunculkan mudvolcano.
>>
>>
>>
>> Kita cek peta fisiografi Jawa van Bemmelen (1949), khusus bagian Jawa
>> Tengah-Jawa Timur. Sedimentasi tak stabil akan ada di dua tempat : 
>> Depresi
>> Solo dan Jalur Antiklinorium Kendeng. Jalur antiklinorium ini dulunya

>> adalah
>> cekungan panjang (trough) yang sangat dalam tempat sedimen
volkanoklastik
>> Neogen diendapkan di sini. Lalu pada Mio-Plio-Plistosen terangkat dan
>> tertekan sangat kuat dengan dominasi arah kompresi (vergency) ke
utara.
>> Kompresi karena subduction di selatan Jawa telah sangat menekan
Kendeng 
>> Deep
>> ini. Maka, elisional condition sebagai syarat mud volcanoing pun 
>> terbentuk
>> di Kendeng Deep. Dalam kondisi sedimen tak stabil yang undercompacted
dan
>> sangat tertekan, mud volcano bisa muncul.  Sidoarjo adalah wilayah di

>> bagian
>> selatan Kendeng Deep yang menerus ke Madura Strait. Kalau saya bisa 
>> membagi
>> data seismik di Selat Madura yang belum tiga tahun diakuisisi di
>> sini....waw....mengerikan Pak mud volcanonya...
>>
>>
>>
>> Mengapa LUSI bukan timbul di daerah dekat Yogya ? Tak ada fisiografi
yang
>> mendukung terbentuknya dalaman seperti Kendeng Deep di situ. Di
wilayah
>> Yogya dan sekitarnya adalah batuan masif Old-Andesite dan karbonat 
>> Wonosari
>> yang menyusun Pegunungan Selatan. Tak ada sedimen tidak stabil
diendapkan 
>> di
>> situ. Tak ada kondisi elisional yang akan mendorong mud volcanism di 
>> wilayah
>> Yogyakarta. Waktu gempa 27 Mei 2006 ada beberapa semburan air dan
lumpur 
>> di
>> wilayah ini, tetapi itu hanya gejala likuifaksi di kedalaman dangkal,

>> zone
>> air tanah. Maka, secara geologi tak mungkin ada LUSI di dekat Yogya.
>>
>>
>>
>> Mengapa baru dua hari setelah gempa Yogya terjadi semburan LUSI ?
Semua
>> pengaktifan skala besar geologi karena gempa terjadi umumnya beberapa

>> hari
>> sesudah gempa. Aktivitas awan panas Merapi pun meningkat dua hari
setelah
>> gempa, aktivitas awan panas Semeru pun terjadi dua hari setelah gempa

>> Yogya
>> (data NASA 29 Mei 2006). Saat gempa menggoncang Nias tahun 2005
dengan
>> kekuatan 8 SR pun gunung Talang aktif setelah beberapa hari. Tetapi,
ada
>> gejala yang lebih instan akibat gempa ini di sekitar LUSI, yaitu 
>> menurunnya
>> produksi sumur Carat. Sumur Carat berlokasi di sekitar sumur Banjar
Panji
>> juga.
>>
>>
>>
>> Sesar regional ala Sumatra Fault sebagai tectonic freeway dari Yogya
ke 
>> LUSI
>> memang tidak ada, tetapi analisis citra, gravity dan peta permukaan
>> menunjukkan hadirnya sekian banyak sesar2 mendatar (kebanyakan
dextral) 
>> yang
>> berpola right-stepping sejak dari Opak Fault sampai ke sesar mendatar

>> besar
>> di sekitar Banjar Panji (Sesar Watukosek). Coba kalau kita plot semua
>> episentrum gempa afterschock dalam 2 hari setelah mainshock gempa
Yogya 
>> maka
>> akan membuat cluster ke arah NE sesuai dengan berjalannya pola
>> right-stepping sesar2 tadi. Apa artinya ? Kalau saya menafsirkannya 
>> terjadi
>> propagasi gaya ke timurlaut dari mainshock. Interpretasi ini
dikuatkan 
>> oleh
>> terukurnya getaran gempa Yogya pada lima menit pertama perekaman
seismik
>> Hess di perairan Ujung Pangkah di utara Delta Bengawan Solo.
>>
>>
>>
>> Tentu saja, posisi sumur Banjar Panji-1 yang jaraknya hanya 200 meter

>> dari
>> pusat semburan akan menjadi sasaran utama untuk pemikiran sebagai 
>> penyebab
>> semburan LUSI. Tak usah kita para geologist, masyarakat non-geologi
pun
>> semua akan bilang begitu. Ini adalah "sebab-akibat" yang paling 
>> sederhana.
>> Media pun menyebarkan berita itu. Tak perlu analisis mendalam, tak
perlu
>> melihat2 data regional, dll. Kalau itu blow-out biasa, saya juga tak
akan
>> susah2 mengumpulkan segala data seismik, data regional, data
kegempaan, 
>> dll.
>> Tetapi, yang tengah terjadi di LUSI bukanlah blow-out biasa, bukan
gejala
>> liquefaction seperti saya duga pertama kali, tetapi erupsi mud
volcano 
>> ala
>> Bledug Kuwu. Dan, sebab ada koinsiden dengan gempa Yogya 27 Mei 2006
dan
>> secara regional dan lokal banyak terpenuhinya syarat 
>> earthquake-triggering
>> mud volcanism, maka saya tak akan secepat orang lain menuduh sumur
Banjar
>> Panji sebagai penyebab LUSI. Saya juga tak akan menafikan sumur
Banjar 
>> Panji
>> sebagai penyebab LUSI. Semua harus dilihat dengan hati-hati sebab 
>> masalahnya
>> sungguh tak sederhana. Ocham/Ozzam  Razor analysis di sini tak bisa 
>> dipakai
>> saya pikir, masalahnya kompleks.
>>
>>
>>
>> Secara internasional, hanya tulisan Richard Davis dkk. (University of
>> Durham) yang bilang bahwa LUSI akibat pemboran. Ini baru
interpretasi,
>> sebab Richard Davis mengumpulkan datanya dari publikasi2 yang ada 
>> (termasuk
>> dari internet), bukan dari hard field data (keterangan dari Richard
>> Swarbick, co-authornya). Hard field data dikumpulkan oleh para
peneliti 
>> dari
>> Jepang, Rusia dan Norwegia. Dan, tak ada peneliti dari 
>> Jepang/Rusia/Norwegia
>> yang bilang bahwa LUSI adalah akibat pemboran.
>>
>>
>>
>> Yang saya tulis di atas pun adalah fakta dan data, bukan
interpretasi.
>> Tulisan saya ini hendaknya tidak diinterpretasikan bahwa saya
mendukung
>> teori gempa sebagai asal semburan LUSI, saya hanya ingin melihat
lebih 
>> jauh
>> kemungkinan gempa sebagai penyebabnya, sebab terlalu banyak yang
apriori 
>> dan
>> menutup mata terhadap hal ini. Karena saya terdidik sebagai geologist

>> yang
>> biasa bermain dalam skala spatial dan temporal, maka saya tak mungkin

>> hanya
>> melihat LUSI sebagai berhubungan dengan  Banjar Panji Lapindo, saya
juga
>> harus melihat hubungannya dengan gempa Yogya 27 Mei 2006. Maka, saya
tak
>> bisa secepat itu menunjuk Lapindo sebagai bertanggung jawab dalam hal

>> ini.
>>
>>
>>
>> Salam,
>>
>> awang
>>
>>
>>
>> -----Original Message-----
>>  From: nyoto - ke-el [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>>  Sent: Wednesday, March 14, 2007 8:58 C++
>>  To: [email protected]
>>  Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum
IAGI
>>
>>
>>
>>
>> Justru saya sejak awal kurang sependapat dengan interpretasinya mas
Nana
>> didalam "Mimbar Jum'at"-nya (tiap Jum'at saya terima via email) mas
Nana
>> Djumhana tentang awal terjadinya LUSI/LULA tsb.  Tetapi karena itu
berupa
>> "Mimbar Jum'at" ya saya kira kurang pas untuk meng-counter-nya.
>>
>>
>>
>>
>>
>> Kalau sebagai triggernya adalah gempa, mengapa LUSI justru timbulnya
di
>> Sidoardjo, bukan di-dekat2 daerah Yogyakarta ?  Dan kenapa baru 2
hari
>> kemudian munculnya ?  Itu bisa mungkin terjadi kalau misalnya memang
ada
>> sesar/patahan regional yang besar sekali dengan trend dari Yogya ke
>> Sidoardjo, seperti sesar Semangko di sepanjang P.Sumatra yang
mempunyai
>> panjang sampai berratus kilometer.
>>
>>
>>
>>
>>
>> Perlu diketahui bahwa awal mula terjadinya LUSI adalah setelah
terjadinya
>> problem drilling di sumur BJP-1, dan terjadinya juga hanya beberapa
meter
>> dari lokasi sumur (tidak sampai ber-kilo2 meter, sedang jarak LUSI
dengan
>> gempa Yogya adalah ber-ratus2 km) dan terjadinya 2 hari kemudian.
Jadi
>> menurut logika akal sehat, apakah masuk akal kalau trigger-nya LUSI 
>> adalah
>> gempa Yogya & bukan sumur BJP-1 yang sedanag mengalami problem
drilling 
>> saat
>> itu ?
>>
>>
>>
>>
>>
>> Terbukti sudah 2 ahli bumi international (kalau tidak salah dari 
>> Inggris/USA
>> ? & dari Jepang) yang meng-interpretasikan bahwa kejadian LUSI adalah

>> dipicu
>> oleh problem drilling di sumur BJP-1 & bukan oleh gempa Yogya.
>>
>>
>>
>> Interpretasi boleh berbeda, tetapi data/fakta yang ada seyogyanya
jangan
>> diabaikan ataupun dirubah.  Sebagai geologist memang kita bisa selalu
>> berbeda pendapat & interpretasi, itu sah2 saja, jadi ya silahkan saja

>> kalau
>> mas Nana masih tetap mempercayai interpretasinya, sedang saya lebih
ke
>> data/faktanya.
>>
>>
>>
>>
>>
>> Wass,
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> ps: terima kasih tanggapannya mas Nana.
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> On 3/14/07, Nana Djumhana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>>
>>
>> Ingin juga saya urun rembug dalam masalah ini.
>>
>>
>>
>>
>>
>> Soal nama semburan lumpur, apakah LULA, LUSI atau apa saja, tidak
perlu
>> dipermasalahkan. Saya sendiri sejak awal kejadian menamakannya dengan
>> "Bledug Porong" yang identik dengan "Bledug Kuwu" di Wirosari,
Purwodadi,
>> Jawa Tengah. Karena dari awal pula (Juni 2006) saya mengatakan bahwa
>> berdasarkan data yang ada kejadian tersebut merupakan mud vulcano,
yang
>> merupakan kejadian alam dan kemungkinan tidak berkaitan dengan adanya
>> pemboran sumur BJP-1. Hal ini saya sampaikan selesai meeting di BP
Migas
>> tgl. 15 Juni 2006, ketika itu Awang tanya pada saya tentang hal
tersebut,
>> yang ternyata sama dengan dugaan dia. Bahkan Awang menambahkan data 
>> lainnya
>> dan efek/akibat yang akan mengikutinya. Masalah ini juga saya
sampaikan
>> melalui "Mimbar Jum'at" mulai dari edisi No. 258 tgl.23 Juni 2006,
yang
>> berjudul "Bencana Porong". Berbagai reaksi, baik kritik yang bernada
>> memperingatkan sampai yang menakut-nakuti ditujukan kepada saya,
karena
>> dianggap melawan arus.
>>
>>
>>
>>
>>
>> Kejadiannya memang 2 hari setelah gempa yang mengguncang Jogja dan
>> sekitarnya. Oleh karena itu dalam beberapa "Mimbar Jum'at", saya 
>> mengatakan
>> bahwa gempa Jogja, kemungkinan hanya merupakan pemicu aktivitas mud 
>> vulcano
>> tsb., tetapi penyebab sebenarnya kemungkinan adalah : adanya getaran 
>> terus
>> menerus dari mobil-mobil besar yang melintas di jalan toll di atas
area
>> shale diapir, dan beratnya beban bangunan di atas area tersebut. 
>> Sedangkan
>> adanya pemboran sumur BJP-1, kalaupun ikut andil sebagai penyebab,
kecil
>> peranannya. Saya sampaikan juga melalui "Mimbar Jum'at" sejak awal 
>> (karena
>> saya belum bergabung dengan iagi-net) bagaimana mengatasinya, yaitu
agar
>> segera melokalisir area luapan lumpur dan segera dibuatkan salurannya
ke
>> laut, karena lumpur akan terus mengalir sampai waktu yang tidak 
>> diketahui,
>> bisa setahun, puluhan tahun atau mungkin ratusan tahun. Dan jika
tidak
>> segera diatasi, akan menjadi bencana yang lebih besar dan lebih parah
>> akibatnya. Tetapi sebagaimana kita ketahui di negri ini, seringkali 
>> mencari
>> kambing hitamnya dulu yang menjadi penyebab kejadian, kemudian 
>> berdasarkan
>> asumsi itu baru dicari solusinya. Karena dari awal (dan sampai
sekarang)
>> yang menjadi kambing hitam adalah 100% Lapindo dengan pemboran sumur 
>> BJP-1,
>> maka penanganan awal tertumpu kepada penanggulangan "drilling
hazzard",
>> bukan penanggulangan mud vulcano. Dan kita bisa lihat kenyataannya 
>> sekarang.
>>
>>
>>
>>
>>
>> Barangkali itu saja yang ingin disampaikan, dan bagi rekan yang
>> "berlangganan" mimbar jum'at, semuanya sudah tahu.
>>
>>
>>
>> ----- Original Message -----
>>
>>
>> From: nyoto - ke-el
>>
>>
>> To: [email protected]
>>
>>
>>
>> Sent: Tuesday, March 13, 2007 7:42 PM
>>
>>
>> Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum
IAGI
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> Pak Achmad Luthfi ternyata sebagai seorang Ketua IAGI (Ikatan Ahli 
>> Geologi
>> Indonesia) kurang teliti didalam menulis Respon-2 ini. Perhatikan
didalam
>> kalimat seperti tsb dibawah ini :
>>
>>
>> "Kita semua tahu bahwa semburan lumpur tersebut terjadi disekitar
sumur
>> BJP-1 pada tanggal 29 Mei 2006 pagi beberapa menit setelah terjadi
gempa
>> Jogja".
>>
>>
>>
>>
>>
>> Memang betul semburan lumpur panas tsb terjadi disekitar sumur BJP-1
pada
>> hari Senin 29 Mei 2006 pagi, tetapi gempa Yogya terjadinya bukan hari

>> Senin
>> itu tetapi terjadinya 2 hari sebelumnya, yaitu hari Sabtu pagi2
sekali
>> tanggal 27 Mei 2006, bisa ditanyakan kepada orang2 di Yogyakarta yang
>> mengalami sendiri gempa itu atau data2 gempa Yogya, dimana jelas 
>> terjadinya
>> bukan hari Senin 29 Mei melainkan hari Sabtu pagi2 tanggal 27 Mei
2006.
>>
>>
>>
>>
>>
>> Apakah penyebutan terjadinya gempa Yogya tanggal 29 Mei 2006, sengaja

>> akan
>> dihubungkan dengan awal terjadinya semburan pertama lumpur panas 
>> Sidoardjo,
>> supaya klop dengan teori pak Luthfi, yaitu penyebab terjadinya lumpur

>> panas
>> adalah akibat gempa Yogya ?  Tetapi sayang sekali teori itu banyak
sekali
>> kelemahannya pak (tidak didukung data yang benar).
>>
>>
>>
>>
>>
>> Sekian dari saya, semoga pak Luthfi maklum.
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> Wassalam,
>>
>>
>> nyoto - TG'74
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> On 3/13/07, Achmad Luthfi <[EMAIL PROTECTED] > wrote:
>>
>> RESPON-2 SURAT TERBUKA KEPADA KETUM IAGI
>>
>>  LULA adalah sebutan lain dari LUSI yang sudah lebih dulu popular,
tdk
>>  ada makna lain dibalik itu, bahkan ada yang menyebutnya LULUK
(Luapan
>>  Lumpur tanpa Kendali). Melihat skala luapan LULA yang begitu dahsya
>>  tentu tidak seorangpun diantara kita ada yang pernah memperkirakan
ada
>>  semburan lumpur panas yang begitu dahsyat di cekungan jawa timur
laut
>>  walaupun di cekungan ini banyak tersebar mud volcano. Kita semua
tahu
>>  bahwa semburan lumpur tersebut terjadi disekitar sumur BJP-1 pada
>>  tanggal 29 Mei 2006 pagi beberapa menit setelah terjadi gempa Jogja.
>>  Spontan muncul berbagai komentar yang berbuah opini dari yang
berdasar
>>  scientific sampai yang non-scientific, makin hari makin kearah
teknis,
>>  terbentuk opini penyebabnya adalah tidak set casing dalam selang
yang
>>  panjang di BJP-1. Kalo tidak salah seminggu kemudian Menteri ESDM
>>  membentuk tim investigasi yang diketuai oleh Dr. Ir. Rudy Rubiandini
>>  (Kang Rudy). Saya sering mengikuti diskusi teknis tim-nya Kang Rudy,
>>  setelah diputuskan melakukan serangkaian pekerjaan dari mulai
snubbing
>>  unit sampai relief well dan belum menampakkan hasilnya, IAGI
mengundang
>>  Kang Rudy untuk jadi pembicara dalam buka puasa bersama tahun lalu
di
>>  hotel Sahid, topiknya adalah hasil kerja Kang Rudy dalam upaya
mematikan
>>  LULA. Kang Rudy berpendapat bahwa air (panas) bertekanan tinggi
berasal
>>  dari lubang bor kedalam 9000-an kaki, air mengalir keatas melalui
lubang
>>  bor menggerus shale diatasnya sehingga terjadi perlumpuran yang
terus
>>  bergerak ke atas melalui zona lemah dan terus ke permukaan. Dalam
>>  kesempatan itu bagaimana kami bisa melakukan relief well sementara
>>  pantat kami (maaf ini asli ucapan Kang Rudy) dikejar lumpur panas
>>  (pemboran relief well spi kadalam 3600-an kaki gak maju2 sementara
>>  permukaan lumpur panas naik begitu cepat). Salah seorang peserta
buka
>>  puasa bernama Hari (PT. Saripari) bertanya: kalau melihat volume
lumpur
>>  yang keluar mencapai seratusan meter kubik, diperlukan berapa banyak
>>  pompa duplex untuk mematikan semburan mengingat kapasitas pompa jauh
>>  lebih kecil dari volume lumpur yang keluar, mungkin diperlukan
puluhan
>>  pompa sekaligus. Waktu itu saya gak jelas apa jawaban Kang Rudy.
Bagi
>>  yang mengikuti seminar di BPPT yang lalu, pendapat Kang Rudy
tersebut
>>  mirip dengan teori satu (teori aliran) yang
disampaikan/dipresentasikan
>>  oleh DR. Ir. Doddy Nawangsidi (itb) yang menyampaikan empat macam
teori
>>  aliran, dengan fakta volume semburan lumpur Beliau mengemukakan
bahwa
>>  teori-1, teori-2, teori-3 tidak mungkin diterapkan untuk LULA, jadi
yang
>>  paling mungkin adalah teori empat, yakni lumpur panas sampai ke
>>  permukaan tidak melalui lubang bor tapi melalui rekahan yang sangat
>>  besar, saya (DR. Doddy) tidak tahu bagaimana rekahan itu terjadi
apakah
>>  akibat tektonik atau bukan karena saya (DR. Doddy) bukan ahli
geologi.
>>  Karena Kang Rudy sudah pernah berbicara di IAGI, teman2 panitia
tidak
>>  mengundang Kang Rudy sahabat saya sebagai pembicara dalam seminar di
>>  BPPT yang lalu. Saya sangat menghargai DR. IR. Rudy Rubiandini,
walaupun
>>  masih muda Kang Rudy seorang guru yang punya kompetensi tinggi
>>  dibidangnya (drilling engineering). Masih segar dalam ingatan saya
dalam
>>  milis IAGI pernah heboh atas wawancara Kang Rudy dengan radio
Elshinta.
>>  Bagi saya persahabatan dan kerukunan adalah nomor satu baik
seprofesi
>>  maupun antar profesi, kita harus kompak begitu kata Abah Yanto
melalui
>>  SMS. Untuk itu saya minta sekjen IAGI utk melakukan klarifikasi
kepada
>>  Kang Rudy dan hasilnya dimuat di milis ini.  Saya percaya sebagai
>>  seorang guru, Kang Rudy tidak sedikitpun berniat/bermaksud menuduh
atau
>>  menjelekkan rekan lain profesi. Sayang Kang Rudy mengajukan surat
>>  pengunduran diri (surat ditembuskan ke saya, tapi saya tidak tahu
apakah
>>  sudah disetujui oleh MESDM). Itulah ilustrasi pertemanan saya dengan
>>  Kang Rudy, kalau dalam seminar tersebut tidak mengundang Kang Rudy
>>  sebagai pembicara tidak ada maksud lain yang tersembunyi.
>>
>>  DIMANA IAGI BERADA WAKTU TIM INVESTIGASI DIBENTUK?
>>
>>  Pada waktu rapat pembentukan tim investigasi, IAGI menugaskan DR.
Edy
>>  Sunardi (Ketua Departemen Pengembangan Keilmuan). Kang Edy diminta
untuk
>>  menjadi anggota tim investigasi, tapi Kang Edy tidak bersedia karena
>>  sudah menjadi ketua tim IAGI untuk LULA. Apa yang dilakukan oleh tim
>>  IAGI? Tim yang dipimpin Kang Rudy bekerja di lapangan lebih dulu
>>  berfokus pada drilling engineering untuk mematikan LULA. Baru
Kemudian
>>  tim IAGI melakukan observasi lapangan dan sampling lumpur. Pada saat
>>  yang sama ada tim subsurface ITS yang dipimpin oleh DR. Ir. Maki
>>  melakukan survey VFL (Very Low Frequnce) dan tim dari geofisika itb
yang
>>  melakukan survey mikro seismic dan pemetaan penyebaran lumpur dengan
>>  menggunakan foto udara yang dilakukan dgn cara sederhana (pesawat
mainan
>>  berkamera dikendalikan dengan remote control) semua tim bekerja 24
jam
>>  bergantian. Area survey meliputi daerah Banjarpanji dan sekitarnya.
Tim
>>  IAGI, tim ITS, tim ITB melakukan diskusi secara intens di kampus ITS
>>  maupun di hotel Shangrila bersama tim Kang Rudy.
>>
>>  ...lanjutan epilog bersambung pada surat berikutnya........TOETOEGE
>>  (Bersambung)
>>
>>
>>
>>  -----Original Message-----
>>  From: R.P. Koesoemadinata [mailto: [EMAIL PROTECTED]
>>  Sent: 25 Februari 2007 13:41
>>  To: [email protected]
>>  Subject: [iagi-net-l] Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI-(2)
>>
>>  SURAT TERBUKA KEPADA KETUA UMUM IAGI (2)
>>
>>
>>
>>  Di lain pihak yang sangat menarik adalah  telah terungkapnya pula
data
>>  pemboran yang pada waktu sebelumnya (terutama pada permulaan erupsi
>>  Lusi)
>>  tidak pernah muncul pada laporan pemboran, yaitu yaitu bahwa 10
menit
>>  setelah terjadinya gempa di Jogya, terjadi 'partial loss' dari
lumpur
>>  pemboran yang teramati pada mud pit. Hal yang sama diungkapkan pula
oleh
>>  Dr.
>>  Doddy Nawangsidi, tetapi waktunya adalah 70 menit sesudah gempa
(mungkin
>>  Pak
>>  Doddy ini keliru membaca 1 sebagai 7). Ini data yang sangat menarik
>>  karena
>>  sebelum data ini belum pernah dilaporkan dan menunggu 7 bulan untuk
>>  terungkap. Di lain pihak Dr. Nawangsidi ini menunjukkan secara
>>  kwantitafi
>>  dengan menggunakan rumus reservoir (Darcy) dengan parameter2 yang
>>  diasumsikan bagaimana tidak mungkinnya  laju (rate of production)
jumlah
>>  air
>>  sebegitu besar (100 sampai 160 juta meter kubik per hari?) dari satu
>>  lubang
>>  sumur yang menembus Kujung hanya 15 kaki saja.. Analisa ini tentu
>>  merupakan
>>  pukulan, paling tidak renungan, bagi mereka yang  berpendapat  bahwa
>>  gunung
>>  api lumpur ini bersumber dari air bertekanan tinggi dari reservoir
>>  terumbu
>>  Kujung yang telah ditembus sumur BP-1, walaupun tentu orang dapat
>>  mempertanyakan data serta parameter yang diasumsikannya, serta
adanya
>>  tambahan sumber air panas lainnya yang ikut terpicu dengan
underground
>>  blow-out dari Kujung ini.
>>
>>  Mengenai stratigrafi lubang bor Dr. Adi Kadar dkk mengakui telah
>>  mereview
>>  serta menganalisa ulang data biostratigrafi dan disimpulkan bahwa
>>  seluruh
>>  lapisan batuan yang ditembus Banjar Panji hanyalah berumur
Pleistocene
>>  yang
>>  menimbulkan kesan bahwa Formasi Kujung tidak tersentuh oleh sumur
bor
>>  ini.
>>  Juga telah ditekankan keberadaan diapirism dalam selang
overpressured
>>  shale,
>>  yang banyak menganggap sebagai sumber lumpur.
>>
>>  Mengenai sumber air ini masih juga ada yang berpendapat bahwa lumpur
ini
>>  berasal dari overpressured shale yang diyakini semua orang
keberadaannya
>>  jauh di atas formasi Kujung, namun berdasarkan analisa penampang
seismic
>>  dibantah oleh Dr. Alam sebagai mud diapir. Dr. Adriano Mazzini  dari
>>  Oslo
>>  University masih berpandangan bahwa sumber lumpur ini adalah dari
>>  overpressured shale ini, tetapi ketika ditanyakan oleh Richard
Davies
>>  bagaimana begitu banyak air dapat dihasilkan dari overpressured
shale
>>  ini,
>>  mengingat shale adalah impermeable, yang bersangkutan menghindar
untuk
>>  menjawabnya dengan dalih pertanyaannya tidak jelas. Namun suatu hal
>>  penting
>>  yang dikemukakannya adalah bahwa cekungan Jawa Timur adalah matang
>>  (ripe)
>>  atau rawan terjadinya gunung api lumpur dibuktikan dengan adanya
>>  overpressured shales dan banyaknya gunung api lumpur, tanpa pemboran
>>  (atau
>>  gempa) pun gunungapi lumpur dapat terjadi sewaktu-waktu. Mengenai
>>  kayanya
>>  cekungan Jawa Timur Utara juga telah dibahas oleh Dr. Djajang
Sukarna,
>>  Kepala Badan Geologi, dalam keynote speech nya
>>
>>  Yang menarik adalah makalah dari Dr. Gregorii Akhmanov dari Moscow
>>  University yang membahas mud volcanism di Elean Basins yang,  dengan
>>  tidak
>>  mengenyampingkan jenis gunungapi lumpur di daerah lain seperti shale
>>  diapirism,  menyatakan bahwa pembentukan mudvolcano di Elean basins
>>  adalah
>>  oleh hydro-fracturing. Hydro-fracturing adalah proses terjadinya
LUSI
>>  yang
>>  dianut oleh mereka yang meyakini bahwa bahwa air dari Fm Kujung
sebagai
>>  penyebab semburan lumpur LUSI. Saya catat bahwa tidak ada makalah
yang
>>  membahas berbagai jenis atau klasifikasi mudvolcano, sedangkan
menurut
>>  hemat
>>  saya gunungapi lumpur itu ada berbagai jenis dengan yang disebabkan
>>  shale
>>  diapirism di satu ujung (end member), biasanya merupakan lumpur
kental
>>  dan
>>  membentuk keruncut yang terjal, dan jenis mud spring di ujung lain,
yang
>>  sangat encer (kadar air yang sangat tinggi) dan nyaris tidak
membentuk
>>  kerucut atau kerucut yang sangat landai. Saya menganggap LUSI ini
lebih
>>  sebagai jenis mud spring.
>>
>>
>>
>>  Walaupun makalah-makalah pada umumnya membahas asal gunungapi lumpur
>>  disebabkan air yang bertekanan tinggi, yang boleh jadi disebabkan
gempa,
>>  namun  gunungapi Lusi disimpulkan selain terjadi secara alamiah juga
>>  disebabklan karena rekahan dan aktivitas tektonik yang diakibatkan
oleh
>>  gempa bumi Jogya. Namun anehnya pada seluruh persidangan ini tidak
>>  satupun
>>  ada makalah yang membahas tektonik serta sistim sesar dari daerah
>>  Sidoarjo,
>>  bahkan peta geologi yang menunjukkan patahanpun nyaris tidak ada
kecuali
>>  peta sesar Watukosek dengan satu garis saja yang menghubungkan
Watukosek
>>  dengan Lusi dan G. Anyar dengan arah NNE-SSW.dan sesar-sesar
amblasan
>>  yang
>>  berarahkan WSW-ENE yang menghubungkan semburan-semburan lumpur yang
>>  sekarang
>>  sudah tidak aktif lagi.  Apa lagi pembahasan bagaimana  mekanisme
gempa
>>  bumi
>>  Jogya  dapat  mengakibatkan sesar (rekahan) itu sama sekali tidak
ada.
>>  Inilah yang dikeluhkan Dr. Benyamin Sapiie dari ITB pada komentar
yang
>>  diberikannya sesaat sebelum rumusan akhir dari hasil workshop ini
>>  dibacakan.
>>  Beliau menyatakan betapa pentingnya kita menganalisa
tegangan-tegangan
>>  tektonik yang aktif di daerah Sidoarjo ini untuk menentukan critical
>>  stresses yang didapatkan, namun pembahasan ini tidak ada sama
sekali.
>>
>>
>>
>>  Sdr. Ketua yang terhormat.
>>
>>  Saya sangat prihatin dengan hasil dari workshop yang disebutkan
sebagai
>>  bertaraf internasional ini. Rumusan yang diberikan banyak tidak
relevant
>>  dengan apa yang dibahas, bahkan cenderung bertolak belakang. Ini
sangat
>>  menyedihkan, orang awampun akan bertanya-tanya apakah kesimpulan
dari
>>  workshop ini sudah ditentukan sebelumnya demi kepentingan nasional?
>>  Komentar
>>  di masyarakat ilmiah di luar negeri pun sudah bermunculan.
>>
>>  Sampai di mana kebenaran pengamatan dan pendengaran  saya ini selama
>>  mengikuti persidangan  tentu akan ada  yang meragukannya mengingat
usia
>>  saya
>>  yang sudah lanjut  ini. Untuk itu saya sudah meminta pada panitya
supaya
>>  bisa mendapatkan Power Point files dari presentasi masing-masing
>>  pembicara
>>  itu. Namun sayangnya panitiya hanya akan memberikannya sesudah
dilakukan
>>  peng-edit-tan terlebih dulu (mengingat adanya data-data yang
dianggap
>>  confidential oleh BP Migas).
>>
>>
>>
>>  Satu hal yang menarik adalah Workshop ini tidak memberikan
rekomendasi
>>  mengenai langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk
menanggulangi
>>  masalah ini, atau kapan . Padahal inilah yang ditunggu-tunggu oleh
>>  masyarakat. Masyarakat tidak terlalu peduli mengenai apa penyebab
>>  gunungapi
>>  lumpur ini, walaupun mereka cenderung untuk menyalahkan pemboran.
Yang
>>  berkepentingan dalam apa penyebab dari gejala ini adalah dalam
masalah
>>  soal
>>  siapa yang harus menanggung biaya penanggulangan bencana ini.
Masyarakat
>>  hanya ingin mendengar bagaimana  bencana lumpur ini dapat
dihentikan.
>>  Tentu
>>  saja kita bisa berdalih bahwa untuk dapat menghentikan semburan
lumpur
>>  itu
>>  kita harus tahu penyebabnya. Kalau panitya workshop ini berkeyakinan
>>  bahwa
>>  hasil workshop ini adalah LUSI murni gejala alam dan tidak dapat
>>  dihentikan
>>  dan tidak dapat diprediksikan kapan akan berhentiknya, maka
satu-satunya
>>  rekomendasi yang bisa diberikan adalah mengevakuasi (mengosongkan)
>>  daerah
>>  yang dipengaruhi LUSI, khususnya daerah yang bakal amblas, membangun
>>  tanggul
>>  sekitarnya serta mengalirkan airnya dengan saluran bertanggul ke
laut,
>>  sedangkan lumpur padatnya secara alamiah dapat ditinggalkan di
daerah
>>  amblasan, bahkan mudah-mudahan dapat mengkompensasi amblasannya
sendiri.
>>  Saya lihat ada lebih dari 1 makalah (a.l. dari Dr. Ir. Prihadi
>>  Sumintapura
>>  dari ITB) para pakar kita  telah mampu melakukan deliniasinya. Saya
>>  sadar
>>  bahwa pernyataan demikian mungkin mempunyai dampak yang luas bagi
>>  masyarakat, tetapi saya kira itu satu-satunya rekomendasi yang dapat
>>  diberikan kalau panitia perumus menganggap penyebab ini gejala alam
yang
>>  tidak dapat dihentikan atau tidak dapat diprediksi kapan
berhentinya..
>>  (bersambung)
>>
>>
>>
>>
>>
>>
------------------------------------------------------------------------
>>  ----
>>  Hot News!!!
>>  CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
>>  [EMAIL PROTECTED]
>>  Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual
>>  Convention and Exhibition,
>>  Patra Bali, 19 - 22 November 2007
>>
------------------------------------------------------------------------
>>  ----
>>  To unsubscribe, send email to:
>> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
>>  To subscribe, send email to:
>> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
>>  Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>>  Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>>  Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>>  No. Rek: 123 0085005314
>>  Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>>  Bank BCA KCP. Manara Mulia
>>  No. Rekening: 255-1088580
>>  A/n: Shinta Damayanti
>>  IAGI-net Archive 1:
>> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
>>  IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>> ---------------------------------------------------------------------
>>
>>
>>
------------------------------------------------------------------------
----
>>  Hot News!!!
>>  CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
>> [EMAIL PROTECTED]
>>  Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
>>  29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
>>  Bali Convention Center, 13-16 November 2007
>>
------------------------------------------------------------------------
----
>>  To unsubscribe, send email to:
>> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
>>  To subscribe, send email to:
>> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
>>  Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>>  Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>>  Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>>  No. Rek: 123 0085005314
>>  Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>>  Bank BCA KCP. Manara Mulia
>>  No. Rekening: 255-1088580
>>  A/n: Shinta Damayanti
>>  IAGI-net Archive 1:
>> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
>>  IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>> ---------------------------------------------------------------------
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>
>
> -- 
> http://rovicky.wordpress.com/
>
>
------------------------------------------------------------------------
----
> Hot News!!!
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to 
> [EMAIL PROTECTED]
> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
> 29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
> Bali Convention Center, 13-16 November 2007
>
------------------------------------------------------------------------
----
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
> 



------------------------------------------------------------------------
----
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
------------------------------------------------------------------------
----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke