Terima kasih sekali pak Awang atas penjelasannya, saya yakin pak Awang pasti
mempunyai data2 yang sangat komplit tentang geologi Jawa Timur, khususnya di
sekitar Sidoardjo, juga dengan study2 - penyelidikan2 geologi didaerah tsb.
yang telah pak Awang lakukan.
Dari data seismik yang pak Awang jelaskan, ternyata memang di Jawa Timur
banyak sekali daerah yang berpotensi besar untuk terjadinya mud-volcano.
Justru dari sini, pikiran saya malah berkembang (seperti telaahannya pak
Arman - Calgary) bahwa kalau memang banyak daerah2 di Jatim yang berpotensi
besar untuk terjadinya mud-volcano, kenapa mud-volacano-nya "hanya" muncul
di sebelah sumur BJP-1 (beberapa puluh meter jaraknya) & bukan muncul di
beberapa daerah2 lainnya, yang lokasinya "berjauhan" dengan sumur BJP-1 ?
Soalnya kalau teori interpretasinya pak Awang mengatakan bahwa LUSI purely
di-trigger oleh gempa Yogya, maka logika normal akan mengatakan bahwa
mud-volcano-nya "pasti" akan muncul juga paling tidak di-beberapa daerah di
Jatim atau bahkan bisa sampai ke Madura Strait, yang menurut penjelasan pak
Awang data seismik menunjukkan potensi mud-volcano yangbsangat besar, sampai
kesana juga.
Dan lagi pula karena penyebaran daerah berpotensi mud-volcano itu mulai dari
Jawa Tengah (Purwodadi - Wirosari dengan bleduk Kuwu), maka kalau gempa
Yogya adalah penyebab terjadinya mud-volcano baru itu atau bisa memperparah
mud-volcano yang sudah ada (bleduk Kuwu), dimana daerah ini (Purwodadi) jauh
lebih dekat lokasinya dengan pusat gempa Yogya dibanding dengan Sidoardjo,
kenapa effect gempa tsb tidak dijumpai di daerah Purwodadi ini ? Dimana
secara logika hal ini adalah sangat2 masuk akal kalau effect gempa Yogya
akan menimbulkan mud-volcano baru disekitar Purwodadi juga pada saat2 itu.
Yang dalam email saya sebelumnya saya katakan daerah2 yang dekat Yogya (yang
jelas maksud saya bukan dekat Yogya itu Sleman ataupun Kotagede, karena
sayapun tahu bahwa Sleman & Kotagede itupun bukan daerah yang berpotensi
bisa terjadi mud-volcano).
Jadi menurut keimpulan saya, dari penjelasan2 & data2 tsb diatas, maka kalau
LUSI itu kejadian awalnya dipicu oleh purely gempa Yogya, saya kira itu
kesimpulan yang sangat sumir sekali.
Karena saya bukan peneliti masalah LUSI, tetapi hanya mengamati dari data2
yang ada & berita2 serta tulisan2 di email & diskusi2 dengan beberapa teman2
yang "pernah" bekerja di daerah Sidoardjo maupun "pernah" bekerja di
Lapindo. Sayapun ingat bahwa salah seorang ahli geologi Jepang yang ikut
dalam international-workshopnya pak Luthfi, dalam komentarnya telah
mengatakan bahwa sulit untuk mempercayai kalau LUSI diakibatkan oleh gempa
Yogya karena letaknya yang relatif jauh (beberapa ratus kilometers) dan
waktunya juga berbeda 2 hari kemudian. Cuman saya lupa namanya siapa
geologist Jepang tsb.
Jadi saya tidak sependapat kalau pak Awang menyebutkan bahwa geologist asing
yang mengatakan bahwa LUSI diakibatkan oleh sumur BJP-1 adalah hanya satu
orang saja, karena geologist Jepang itupun juga berpendapat sama (setuju
kalau LUSI adalah di-trigger oleh sumur BJP-1, biarpun berikutnya yang
terjadi adalah mud-volcano tsb berkembang sangat fantastis dan telah berubah
menjadi bencana alam, yang dipicu oleh problem drilling di sumur LAPINDO :
BJP-1).
Problem drilling yang terjadi di sumur BJP-1 itu (kick & lost yang akhirnya
menjadi blow-out atau under-ground blow-out). Kalau misalnya didalam sumur
tsb sebelumnya sudah di-set casing yang menutupi dinding lubang sumur
(karena sudah ada interval panjang yang "open hole") , maka untuk
meng"handle" problem drillingnya saat itu, saya yakin akan jauh "lebih
mudah" dibanding kalau belum ada casingnya, seperti yang terjadi saat itu.
Jadi ya gara2 belum ada casingnya tsb, maka peng-handle-an drilling
problemnya menjadi jauh lebih sulit & ternyata semakin parah, karena memang
formasi didaerah itu adalah mempunyai potensi yang besar akan terjadinya
mud-volcano.
Karena terjadinya perubahan "keseimbangan" pressure bumi didalam permukaan
tanah tsb-lah, hal inilah yang berpotensi untuk "memicu" sang calon
mud-volcano (baby mud-volcano) untuk "lahir" dipermukaan bumi, karena memang
calon mud-volcano tsb sifat fisiknya akan selalu berusaha mencari zona2
lemah untuk me-release high pressure yang sangat besar dikandungnya.
Nah karena terjadi perubahan "kesimbangan" tekanan didalam bumi itulah (yang
diakibatkan oleh problem drilling sumur BJP-1, yaitu dengan terjadinya kick
& lost, otomatis orang2 drillingnya akan berbuat sesuatu untuk menghentikan
kick & lost tsb, dengan jalan menambah ataupun mengurangi hidrostatik
pressure didalam lubang sumur tsb yaitu dengan menambah atau mengurangi mud
weightnya).
Dimana hal ini jelas akan mempengaruhi "kesimbangan" pressure bumi didaerah
itu, nah dari situlah se-akan2 baby mud-volcano tadi di-"usik" untuk
"bangun" & akhirnya lahirlah bayi mud-volcano tsb kepermukaan tanah, dan
karena potensinya sangat besar (very high pressure formation), maka
mud-volcano tsb makin lama akan semakin membesar & otomatis akan
membuat/mencari zona2 lemah lagi disekitar lokasi sumur tsb & bermunculanlah
mud-volcano2 baru dibeberapa tempat disekitar sumur tsb.
Karena didalam lubang sumur tsb telah diisi dengan drilling mud yang sudah
cukup berat (pressure-nya lebih besar dari tekanan dari dalam formasi), maka
baby mud-volcano tsb otomatis akan mencari2 zona2 yang lebih lemah disekitar
sumur tsb & tidak akan jauh2 dari tempat tsb, maka bermunculanlah
mud-volcano2 baru disekitar sumur yang berjarak hanya beberapa puluh meter,
dan tidak sampai ber-kilo2 meter dari lokasi sumur itu.
Dan ternyata mud-volcano2 baru tsb tidak muncul jauh2 dari lokasi sumur tsb,
karena memang pemicunya (titik awal daerah yang lemah) berada disitu.
Sedang kalau bukan sumur BJP-1 itu sebagai pemicunya, maka logikanya
mud-volcano2 baru akan bermunculan juga dibeberapa daerah lain yang letaknya
berjauhan dengan lokasi sumur BJP-1 tsb, bisa2 muncul juga di daerah Madura,
Purwodadi atau daerah2 sepanjang dari Purwodadi Jateng memanjang ke Jatim &
Madura Strait.
Tetapi hal tsb tidak kita jumpai.
Nah apakah dari data2 & penelaahan2 tsb diatas, masihkah ada yang
berpendapat bahwa LUSI disebabkan (dipicu) awalnya dari gempa Yogya ?
Rasanya koq sumir sekali pendapat tsb.... paling tidak itu menurut logika
normal saya ..... namanya interpretasi, maka yang mempunyai pendapat lain
juga boleh2 & sah2 saza .... gitu aja koq repot ....
Wassalam,
nyoto-TG'74
(mohon maaf, jadi panjang sekali komentarnya)
On 3/14/07, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
>
> Pak Nyoto,
>
>
>
> Semua mud volcano di Indonesia dan di seluruh dunia muncul di suatu
kawasan geologi yang tidak stabil dan tertekan. Kawasan tidak stabil itu
tempat sedimen diendapkan begitu cepatnya sehingga tak punya waktu
terkompaksi dengan baik, tak ada proses dewatering sempurna . Di Indonesia,
wilayah seperti itu ada di dua tempat yang sangat menonjol : Kendeng
Deep-Madura Strait dan foredeep Sorong Fault di utara Papua dari
Salawati-Mamberamo-Sepik-Ramu di utara PNG. Di forearc basin yang dalam pun
ada seperti di Sawu Basin yang timbul akibat collision Australia. Maka di
wilayah2 ini banyak mud volcano dijumpai. Sedimentasi tak stabil, terangkat,
dan tertekan, akan mudah memunculkan mudvolcano.
>
>
>
> Kita cek peta fisiografi Jawa van Bemmelen (1949), khusus bagian Jawa
Tengah-Jawa Timur. Sedimentasi tak stabil akan ada di dua tempat : Depresi
Solo dan Jalur Antiklinorium Kendeng. Jalur antiklinorium ini dulunya adalah
cekungan panjang (trough) yang sangat dalam tempat sedimen volkanoklastik
Neogen diendapkan di sini. Lalu pada Mio-Plio-Plistosen terangkat dan
tertekan sangat kuat dengan dominasi arah kompresi (vergency) ke utara.
Kompresi karena subduction di selatan Jawa telah sangat menekan Kendeng Deep
ini. Maka, elisional condition sebagai syarat mud volcanoing pun terbentuk
di Kendeng Deep. Dalam kondisi sedimen tak stabil yang undercompacted dan
sangat tertekan, mud volcano bisa muncul. Sidoarjo adalah wilayah di bagian
selatan Kendeng Deep yang menerus ke Madura Strait. Kalau saya bisa membagi
data seismik di Selat Madura yang belum tiga tahun diakuisisi di
sini....waw....mengerikan Pak mud volcanonya...
>
>
>
> Mengapa LUSI bukan timbul di daerah dekat Yogya ? Tak ada fisiografi yang
mendukung terbentuknya dalaman seperti Kendeng Deep di situ. Di wilayah
Yogya dan sekitarnya adalah batuan masif Old-Andesite dan karbonat Wonosari
yang menyusun Pegunungan Selatan. Tak ada sedimen tidak stabil diendapkan di
situ. Tak ada kondisi elisional yang akan mendorong mud volcanism di wilayah
Yogyakarta. Waktu gempa 27 Mei 2006 ada beberapa semburan air dan lumpur di
wilayah ini, tetapi itu hanya gejala likuifaksi di kedalaman dangkal, zone
air tanah. Maka, secara geologi tak mungkin ada LUSI di dekat Yogya.
>
>
>
> Mengapa baru dua hari setelah gempa Yogya terjadi semburan LUSI ? Semua
pengaktifan skala besar geologi karena gempa terjadi umumnya beberapa hari
sesudah gempa. Aktivitas awan panas Merapi pun meningkat dua hari setelah
gempa, aktivitas awan panas Semeru pun terjadi dua hari setelah gempa Yogya
(data NASA 29 Mei 2006). Saat gempa menggoncang Nias tahun 2005 dengan
kekuatan 8 SR pun gunung Talang aktif setelah beberapa hari. Tetapi, ada
gejala yang lebih instan akibat gempa ini di sekitar LUSI, yaitu menurunnya
produksi sumur Carat. Sumur Carat berlokasi di sekitar sumur Banjar Panji
juga.
>
>
>
> Sesar regional ala Sumatra Fault sebagai tectonic freeway dari Yogya ke
LUSI memang tidak ada, tetapi analisis citra, gravity dan peta permukaan
menunjukkan hadirnya sekian banyak sesar2 mendatar (kebanyakan dextral) yang
berpola right-stepping sejak dari Opak Fault sampai ke sesar mendatar besar
di sekitar Banjar Panji (Sesar Watukosek). Coba kalau kita plot semua
episentrum gempa afterschock dalam 2 hari setelah mainshock gempa Yogya maka
akan membuat cluster ke arah NE sesuai dengan berjalannya pola
right-stepping sesar2 tadi. Apa artinya ? Kalau saya menafsirkannya terjadi
propagasi gaya ke timurlaut dari mainshock. Interpretasi ini dikuatkan oleh
terukurnya getaran gempa Yogya pada lima menit pertama perekaman seismik
Hess di perairan Ujung Pangkah di utara Delta Bengawan Solo.
>
>
>
> Tentu saja, posisi sumur Banjar Panji-1 yang jaraknya hanya 200 meter dari
pusat semburan akan menjadi sasaran utama untuk pemikiran sebagai penyebab
semburan LUSI. Tak usah kita para geologist, masyarakat non-geologi pun
semua akan bilang begitu. Ini adalah "sebab-akibat" yang paling sederhana.
Media pun menyebarkan berita itu. Tak perlu analisis mendalam, tak perlu
melihat2 data regional, dll. Kalau itu blow-out biasa, saya juga tak akan
susah2 mengumpulkan segala data seismik, data regional, data kegempaan, dll.
Tetapi, yang tengah terjadi di LUSI bukanlah blow-out biasa, bukan gejala
liquefaction seperti saya duga pertama kali, tetapi erupsi mud volcano ala
Bledug Kuwu. Dan, sebab ada koinsiden dengan gempa Yogya 27 Mei 2006 dan
secara regional dan lokal banyak terpenuhinya syarat earthquake-triggering
mud volcanism, maka saya tak akan secepat orang lain menuduh sumur Banjar
Panji sebagai penyebab LUSI. Saya juga tak akan menafikan sumur Banjar Panji
sebagai penyebab LUSI. Semua harus dilihat dengan hati-hati sebab masalahnya
sungguh tak sederhana. Ocham/Ozzam Razor analysis di sini tak bisa dipakai
saya pikir, masalahnya kompleks.
>
>
>
> Secara internasional, hanya tulisan Richard Davis dkk. (University of
Durham) yang bilang bahwa LUSI akibat pemboran. Ini baru interpretasi,
sebab Richard Davis mengumpulkan datanya dari publikasi2 yang ada (termasuk
dari internet), bukan dari hard field data (keterangan dari Richard
Swarbick, co-authornya). Hard field data dikumpulkan oleh para peneliti dari
Jepang, Rusia dan Norwegia. Dan, tak ada peneliti dari Jepang/Rusia/Norwegia
yang bilang bahwa LUSI adalah akibat pemboran.
>
>
>
> Yang saya tulis di atas pun adalah fakta dan data, bukan interpretasi.
Tulisan saya ini hendaknya tidak diinterpretasikan bahwa saya mendukung
teori gempa sebagai asal semburan LUSI, saya hanya ingin melihat lebih jauh
kemungkinan gempa sebagai penyebabnya, sebab terlalu banyak yang apriori dan
menutup mata terhadap hal ini. Karena saya terdidik sebagai geologist yang
biasa bermain dalam skala spatial dan temporal, maka saya tak mungkin hanya
melihat LUSI sebagai berhubungan dengan Banjar Panji Lapindo, saya juga
harus melihat hubungannya dengan gempa Yogya 27 Mei 2006. Maka, saya tak
bisa secepat itu menunjuk Lapindo sebagai bertanggung jawab dalam hal ini.
>
>
>
> Salam ,
>
> awang
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: nyoto - ke-el [mailto: [EMAIL PROTECTED]
> Sent : Wednesday, March 14, 2007 8:58 C++
> To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI
>
>
>
>
> Justru saya sejak awal kurang sependapat dengan interpretasinya mas Nana
didalam "Mimbar Jum'at"-nya (tiap Jum'at saya terima via email) mas Nana
Djumhana tentang awal terjadinya LUSI/LULA tsb. Tetapi karena itu berupa
"Mimbar Jum'at" ya saya kira kurang pas untuk meng-counter-nya.
>
>
>
>
>
> Kalau sebagai triggernya adalah gempa, mengapa LUSI justru timbulnya di
Sidoardjo, bukan di-dekat2 daerah Yogyakarta ? Dan kenapa baru 2 hari
kemudian munculnya ? Itu bisa mungkin terjadi kalau misalnya memang ada
sesar/patahan regional yang besar sekali dengan trend dari Yogya ke
Sidoardjo, seperti sesar Semangko di sepanjang P.Sumatra yang mempunyai
panjang sampai berratus kilometer.
>
>
>
>
>
> Perlu diketahui bahwa awal mula terjadinya LUSI adalah setelah terjadinya
problem drilling di sumur BJP-1, dan terjadinya juga hanya beberapa meter
dari lokasi sumur (tidak sampai ber-kilo2 meter, sedang jarak LUSI dengan
gempa Yogya adalah ber-ratus2 km) dan terjadinya 2 hari kemudian. Jadi
menurut logika akal sehat, apakah masuk akal kalau trigger-nya LUSI adalah
gempa Yogya & bukan sumur BJP-1 yang sedanag mengalami problem drilling saat
itu ?
>
>
>
>
>
> Terbukti sudah 2 ahli bumi international (kalau tidak salah dari
Inggris/USA ? & dari Jepang) yang meng-interpretasikan bahwa kejadian LUSI
adalah dipicu oleh problem drilling di sumur BJP-1 & bukan oleh gempa Yogya.
>
>
>
> Interpretasi boleh berbeda, tetapi data/fakta yang ada seyogyanya jangan
diabaikan ataupun dirubah. Sebagai geologist memang kita bisa selalu
berbeda pendapat & interpretasi, itu sah2 saja, jadi ya silahkan saja kalau
mas Nana masih tetap mempercayai interpretasinya, sedang saya lebih ke
data/faktanya.
>
>
>
>
>
> Wass,
>
>
>
>
>
>
>
>
> ps: terima kasih tanggapannya mas Nana.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> On 3/14/07, Nana Djumhana < [EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
> Ingin juga saya urun rembug dalam masalah ini.
>
>
>
>
>
> Soal nama semburan lumpur, apakah LULA, LUSI atau apa saja, tidak perlu
dipermasalahkan. Saya sendiri sejak awal kejadian menamakannya dengan
"Bledug Porong" yang identik dengan "Bledug Kuwu" di Wirosari, Purwodadi,
Jawa Tengah. Karena dari awal pula (Juni 2006) saya mengatakan bahwa
berdasarkan data yang ada kejadian tersebut merupakan mud vulcano, yang
merupakan kejadian alam dan kemungkinan tidak berkaitan dengan adanya
pemboran sumur BJP-1. Hal ini saya sampaikan selesai meeting di BP Migas
tgl. 15 Juni 2006, ketika itu Awang tanya pada saya tentang hal tersebut,
yang ternyata sama dengan dugaan dia. Bahkan Awang menambahkan data lainnya
dan efek/akibat yang akan mengikutinya. Masalah ini juga saya sampaikan
melalui "Mimbar Jum'at" mulai dari edisi No. 258 tgl.23 Juni 2006, yang
berjudul "Bencana Porong". Berbagai reaksi, baik kritik yang bernada
memperingatkan sampai yang menakut-nakuti ditujukan kepada saya, karena
dianggap melawan arus.
>
>
>
>
>
> Kejadiannya memang 2 hari setelah gempa yang mengguncang Jogja dan
sekitarnya. Oleh karena itu dalam beberapa "Mimbar Jum'at", saya mengatakan
bahwa gempa Jogja, kemungkinan hanya merupakan pemicu aktivitas mud vulcano
tsb., tetapi penyebab sebenarnya kemungkinan adalah : adanya getaran terus
menerus dari mobil-mobil besar yang melintas di jalan toll di atas area
shale diapir, dan beratnya beban bangunan di atas area tersebut. Sedangkan
adanya pemboran sumur BJP-1, kalaupun ikut andil sebagai penyebab, kecil
peranannya. Saya sampaikan juga melalui "Mimbar Jum'at" sejak awal (karena
saya belum bergabung dengan iagi-net) bagaimana mengatasinya, yaitu agar
segera melokalisir area luapan lumpur dan segera dibuatkan salurannya ke
laut, karena lumpur akan terus mengalir sampai waktu yang tidak diketahui,
bisa setahun, puluhan tahun atau mungkin ratusan tahun. Dan jika tidak
segera diatasi, akan menjadi bencana yang lebih besar dan lebih parah
akibatnya. Tetapi sebagaimana kita ketahui di negri ini, seringkali mencari
kambing hitamnya dulu yang menjadi penyebab kejadian, kemudian berdasarkan
asumsi itu baru dicari solusinya. Karena dari awal (dan sampai sekarang)
yang menjadi kambing hitam adalah 100% Lapindo dengan pemboran sumur BJP-1,
maka penanganan awal tertumpu kepada penanggulangan "drilling hazzard",
bukan penanggulangan mud vulcano. Dan kita bisa lihat kenyataannya sekarang.
>
>
>
>
>
> Barangkali itu saja yang ingin disampaikan, dan bagi rekan yang
"berlangganan" mimbar jum'at, semuanya sudah tahu.
>
>
>
> ----- Original Message -----
>
>
> From: nyoto - ke-el
>
>
> To: [email protected]
>
>
>
> Sent: Tuesday, March 13, 2007 7:42 PM
>
>
>
> Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI
>
>
>
>
>
>
> Pak Achmad Luthfi ternyata sebagai seorang Ketua IAGI (Ikatan Ahli Geologi
Indonesia) kurang teliti didalam menulis Respon-2 ini. Perhatikan didalam
kalimat seperti tsb dibawah ini :
>
>
> "Kita semua tahu bahwa semburan lumpur tersebut terjadi disekitar sumur
BJP-1 pada tanggal 29 Mei 2006 pagi beberapa menit setelah terjadi gempa
Jogja".
>
>
>
>
>
> Memang betul semburan lumpur panas tsb terjadi disekitar sumur BJP-1 pada
hari Senin 29 Mei 2006 pagi, tetapi gempa Yogya terjadinya bukan hari Senin
itu tetapi terjadinya 2 hari sebelumnya, yaitu hari Sabtu pagi2 sekali
tanggal 27 Mei 2006, bisa ditanyakan kepada orang2 di Yogyakarta yang
mengalami sendiri gempa itu atau data2 gempa Yogya, dimana jelas terjadinya
bukan hari Senin 29 Mei melainkan hari Sabtu pagi2 tanggal 27 Mei 2006.
>
>
>
>
>
> Apakah penyebutan terjadinya gempa Yogya tanggal 29 Mei 2006, sengaja akan
dihubungkan dengan awal terjadinya semburan pertama lumpur panas Sidoardjo,
supaya klop dengan teori pak Luthfi, yaitu penyebab terjadinya lumpur panas
adalah akibat gempa Yogya ? Tetapi sayang sekali teori itu banyak sekali
kelemahannya pak (tidak didukung data yang benar).
>
>
>
>
>
> Sekian dari saya, semoga pak Luthfi maklum.
>
>
>
>
>
>
>
>
> Wassalam,
>
>
> nyoto - TG'74
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> On 3/13/07, Achmad Luthfi < [EMAIL PROTECTED] > wrote:
>
> RESPON-2 SURAT TERBUKA KEPADA KETUM IAGI
>
> LULA adalah sebutan lain dari LUSI yang sudah lebih dulu popular, tdk
> ada makna lain dibalik itu, bahkan ada yang menyebutnya LULUK (Luapan
> Lumpur tanpa Kendali). Melihat skala luapan LULA yang begitu dahsya
> tentu tidak seorangpun diantara kita ada yang pernah memperkirakan ada
> semburan lumpur panas yang begitu dahsyat di cekungan jawa timur laut
> walaupun di cekungan ini banyak tersebar mud volcano. Kita semua tahu
> bahwa semburan lumpur tersebut terjadi disekitar sumur BJP-1 pada
> tanggal 29 Mei 2006 pagi beberapa menit setelah terjadi gempa Jogja.
> Spontan muncul berbagai komentar yang berbuah opini dari yang berdasar
> scientific sampai yang non-scientific, makin hari makin kearah teknis,
> terbentuk opini penyebabnya adalah tidak set casing dalam selang yang
> panjang di BJP-1. Kalo tidak salah seminggu kemudian Menteri ESDM
> membentuk tim investigasi yang diketuai oleh Dr. Ir. Rudy Rubiandini
> (Kang Rudy). Saya sering mengikuti diskusi teknis tim-nya Kang Rudy,
> setelah diputuskan melakukan serangkaian pekerjaan dari mulai snubbing
> unit sampai relief well dan belum menampakkan hasilnya, IAGI mengundang
> Kang Rudy untuk jadi pembicara dalam buka puasa bersama tahun lalu di
> hotel Sahid, topiknya adalah hasil kerja Kang Rudy dalam upaya mematikan
> LULA. Kang Rudy berpendapat bahwa air (panas) bertekanan tinggi berasal
> dari lubang bor kedalam 9000-an kaki, air mengalir keatas melalui lubang
> bor menggerus shale diatasnya sehingga terjadi perlumpuran yang terus
> bergerak ke atas melalui zona lemah dan terus ke permukaan. Dalam
> kesempatan itu bagaimana kami bisa melakukan relief well sementara
> pantat kami (maaf ini asli ucapan Kang Rudy) dikejar lumpur panas
> (pemboran relief well spi kadalam 3600-an kaki gak maju2 sementara
> permukaan lumpur panas naik begitu cepat). Salah seorang peserta buka
> puasa bernama Hari (PT. Saripari) bertanya: kalau melihat volume lumpur
> yang keluar mencapai seratusan meter kubik, diperlukan berapa banyak
> pompa duplex untuk mematikan semburan mengingat kapasitas pompa jauh
> lebih kecil dari volume lumpur yang keluar, mungkin diperlukan puluhan
> pompa sekaligus. Waktu itu saya gak jelas apa jawaban Kang Rudy. Bagi
> yang mengikuti seminar di BPPT yang lalu, pendapat Kang Rudy tersebut
> mirip dengan teori satu (teori aliran) yang disampaikan/dipresentasikan
> oleh DR. Ir. Doddy Nawangsidi (itb) yang menyampaikan empat macam teori
> aliran, dengan fakta volume semburan lumpur Beliau mengemukakan bahwa
> teori-1, teori-2, teori-3 tidak mungkin diterapkan untuk LULA, jadi yang
> paling mungkin adalah teori empat, yakni lumpur panas sampai ke
> permukaan tidak melalui lubang bor tapi melalui rekahan yang sangat
> besar, saya (DR. Doddy) tidak tahu bagaimana rekahan itu terjadi apakah
> akibat tektonik atau bukan karena saya (DR. Doddy) bukan ahli geologi.
> Karena Kang Rudy sudah pernah berbicara di IAGI, teman2 panitia tidak
> mengundang Kang Rudy sahabat saya sebagai pembicara dalam seminar di
> BPPT yang lalu. Saya sangat menghargai DR. IR. Rudy Rubiandini, walaupun
> masih muda Kang Rudy seorang guru yang punya kompetensi tinggi
> dibidangnya (drilling engineering). Masih segar dalam ingatan saya dalam
> milis IAGI pernah heboh atas wawancara Kang Rudy dengan radio Elshinta.
> Bagi saya persahabatan dan kerukunan adalah nomor satu baik seprofesi
> maupun antar profesi, kita harus kompak begitu kata Abah Yanto melalui
> SMS. Untuk itu saya minta sekjen IAGI utk melakukan klarifikasi kepada
> Kang Rudy dan hasilnya dimuat di milis ini. Saya percaya sebagai
> seorang guru, Kang Rudy tidak sedikitpun berniat/bermaksud menuduh atau
> menjelekkan rekan lain profesi. Sayang Kang Rudy mengajukan surat
> pengunduran diri (surat ditembuskan ke saya, tapi saya tidak tahu apakah
> sudah disetujui oleh MESDM). Itulah ilustrasi pertemanan saya dengan
> Kang Rudy, kalau dalam seminar tersebut tidak mengundang Kang Rudy
> sebagai pembicara tidak ada maksud lain yang tersembunyi.
>
> DIMANA IAGI BERADA WAKTU TIM INVESTIGASI DIBENTUK?
>
> Pada waktu rapat pembentukan tim investigasi, IAGI menugaskan DR. Edy
> Sunardi (Ketua Departemen Pengembangan Keilmuan). Kang Edy diminta untuk
> menjadi anggota tim investigasi, tapi Kang Edy tidak bersedia karena
> sudah menjadi ketua tim IAGI untuk LULA. Apa yang dilakukan oleh tim
> IAGI? Tim yang dipimpin Kang Rudy bekerja di lapangan lebih dulu
> berfokus pada drilling engineering untuk mematikan LULA. Baru Kemudian
> tim IAGI melakukan observasi lapangan dan sampling lumpur. Pada saat
> yang sama ada tim subsurface ITS yang dipimpin oleh DR. Ir. Maki
> melakukan survey VFL (Very Low Frequnce) dan tim dari geofisika itb yang
> melakukan survey mikro seismic dan pemetaan penyebaran lumpur dengan
> menggunakan foto udara yang dilakukan dgn cara sederhana (pesawat mainan
> berkamera dikendalikan dengan remote control) semua tim bekerja 24 jam
> bergantian. Area survey meliputi daerah Banjarpanji dan sekitarnya. Tim
> IAGI, tim ITS, tim ITB melakukan diskusi secara intens di kampus ITS
> maupun di hotel Shangrila bersama tim Kang Rudy.
>
> ...lanjutan epilog bersambung pada surat berikutnya........TOETOEGE
> (Bersambung)
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: R.P. Koesoemadinata [mailto: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: 25 Februari 2007 13:41
> To: [email protected]
> Subject: [iagi-net-l] Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI-(2)
>
> SURAT TERBUKA KEPADA KETUA UMUM IAGI (2)
>
>
>
> Di lain pihak yang sangat menarik adalah telah terungkapnya pula data
> pemboran yang pada waktu sebelumnya (terutama pada permulaan erupsi
> Lusi)
> tidak pernah muncul pada laporan pemboran, yaitu yaitu bahwa 10 menit
> setelah terjadinya gempa di Jogya, terjadi 'partial loss' dari lumpur
> pemboran yang teramati pada mud pit. Hal yang sama diungkapkan pula oleh
> Dr.
> Doddy Nawangsidi, tetapi waktunya adalah 70 menit sesudah gempa (mungkin
> Pak
> Doddy ini keliru membaca 1 sebagai 7). Ini data yang sangat menarik
> karena
> sebelum data ini belum pernah dilaporkan dan menunggu 7 bulan untuk
> terungkap. Di lain pihak Dr. Nawangsidi ini menunjukkan secara
> kwantitafi
> dengan menggunakan rumus reservoir (Darcy) dengan parameter2 yang
> diasumsikan bagaimana tidak mungkinnya laju (rate of production) jumlah
> air
> sebegitu besar (100 sampai 160 juta meter kubik per hari?) dari satu
> lubang
> sumur yang menembus Kujung hanya 15 kaki saja.. Analisa ini tentu
> merupakan
> pukulan, paling tidak renungan, bagi mereka yang berpendapat bahwa
> gunung
> api lumpur ini bersumber dari air bertekanan tinggi dari reservoir
> terumbu
> Kujung yang telah ditembus sumur BP-1, walaupun tentu orang dapat
> mempertanyakan data serta parameter yang diasumsikannya, serta adanya
> tambahan sumber air panas lainnya yang ikut terpicu dengan underground
> blow-out dari Kujung ini.
>
> Mengenai stratigrafi lubang bor Dr. Adi Kadar dkk mengakui telah
> mereview
> serta menganalisa ulang data biostratigrafi dan disimpulkan bahwa
> seluruh
> lapisan batuan yang ditembus Banjar Panji hanyalah berumur Pleistocene
> yang
> menimbulkan kesan bahwa Formasi Kujung tidak tersentuh oleh sumur bor
> ini.
> Juga telah ditekankan keberadaan diapirism dalam selang overpressured
> shale,
> yang banyak menganggap sebagai sumber lumpur.
>
> Mengenai sumber air ini masih juga ada yang berpendapat bahwa lumpur ini
> berasal dari overpressured shale yang diyakini semua orang keberadaannya
> jauh di atas formasi Kujung, namun berdasarkan analisa penampang seismic
> dibantah oleh Dr. Alam sebagai mud diapir. Dr. Adriano Mazzini dari
> Oslo
> University masih berpandangan bahwa sumber lumpur ini adalah dari
> overpressured shale ini, tetapi ketika ditanyakan oleh Richard Davies
> bagaimana begitu banyak air dapat dihasilkan dari overpressured shale
> ini,
> mengingat shale adalah impermeable, yang bersangkutan menghindar untuk
> menjawabnya dengan dalih pertanyaannya tidak jelas. Namun suatu hal
> penting
> yang dikemukakannya adalah bahwa cekungan Jawa Timur adalah matang
> (ripe)
> atau rawan terjadinya gunung api lumpur dibuktikan dengan adanya
> overpressured shales dan banyaknya gunung api lumpur, tanpa pemboran
> (atau
> gempa) pun gunungapi lumpur dapat terjadi sewaktu-waktu. Mengenai
> kayanya
> cekungan Jawa Timur Utara juga telah dibahas oleh Dr. Djajang Sukarna,
> Kepala Badan Geologi, dalam keynote speech nya
>
> Yang menarik adalah makalah dari Dr. Gregorii Akhmanov dari Moscow
> University yang membahas mud volcanism di Elean Basins yang, dengan
> tidak
> mengenyampingkan jenis gunungapi lumpur di daerah lain seperti shale
> diapirism, menyatakan bahwa pembentukan mudvolcano di Elean basins
> adalah
> oleh hydro-fracturing. Hydro-fracturing adalah proses terjadinya LUSI
> yang
> dianut oleh mereka yang meyakini bahwa bahwa air dari Fm Kujung sebagai
> penyebab semburan lumpur LUSI. Saya catat bahwa tidak ada makalah yang
> membahas berbagai jenis atau klasifikasi mudvolcano, sedangkan menurut
> hemat
> saya gunungapi lumpur itu ada berbagai jenis dengan yang disebabkan
> shale
> diapirism di satu ujung (end member), biasanya merupakan lumpur kental
> dan
> membentuk keruncut yang terjal, dan jenis mud spring di ujung lain, yang
> sangat encer (kadar air yang sangat tinggi) dan nyaris tidak membentuk
> kerucut atau kerucut yang sangat landai. Saya menganggap LUSI ini lebih
> sebagai jenis mud spring.
>
>
>
> Walaupun makalah-makalah pada umumnya membahas asal gunungapi lumpur
> disebabkan air yang bertekanan tinggi, yang boleh jadi disebabkan gempa,
> namun gunungapi Lusi disimpulkan selain terjadi secara alamiah juga
> disebabklan karena rekahan dan aktivitas tektonik yang diakibatkan oleh
> gempa bumi Jogya. Namun anehnya pada seluruh persidangan ini tidak
> satupun
> ada makalah yang membahas tektonik serta sistim sesar dari daerah
> Sidoarjo,
> bahkan peta geologi yang menunjukkan patahanpun nyaris tidak ada kecuali
> peta sesar Watukosek dengan satu garis saja yang menghubungkan Watukosek
> dengan Lusi dan G. Anyar dengan arah NNE-SSW.dan sesar-sesar amblasan
> yang
> berarahkan WSW-ENE yang menghubungkan semburan-semburan lumpur yang
> sekarang
> sudah tidak aktif lagi. Apa lagi pembahasan bagaimana mekanisme gempa
> bumi
> Jogya dapat mengakibatkan sesar (rekahan) itu sama sekali tidak ada.
> Inilah yang dikeluhkan Dr. Benyamin Sapiie dari ITB pada komentar yang
> diberikannya sesaat sebelum rumusan akhir dari hasil workshop ini
> dibacakan.
> Beliau menyatakan betapa pentingnya kita menganalisa tegangan-tegangan
> tektonik yang aktif di daerah Sidoarjo ini untuk menentukan critical
> stresses yang didapatkan, namun pembahasan ini tidak ada sama sekali.
>
>
>
> Sdr. Ketua yang terhormat.
>
> Saya sangat prihatin dengan hasil dari workshop yang disebutkan sebagai
> bertaraf internasional ini. Rumusan yang diberikan banyak tidak relevant
> dengan apa yang dibahas, bahkan cenderung bertolak belakang. Ini sangat
> menyedihkan, orang awampun akan bertanya-tanya apakah kesimpulan dari
> workshop ini sudah ditentukan sebelumnya demi kepentingan nasional?
> Komentar
> di masyarakat ilmiah di luar negeri pun sudah bermunculan.
>
> Sampai di mana kebenaran pengamatan dan pendengaran saya ini selama
> mengikuti persidangan tentu akan ada yang meragukannya mengingat usia
> saya
> yang sudah lanjut ini. Untuk itu saya sudah meminta pada panitya supaya
> bisa mendapatkan Power Point files dari presentasi masing-masing
> pembicara
> itu. Namun sayangnya panitiya hanya akan memberikannya sesudah dilakukan
> peng-edit-tan terlebih dulu (mengingat adanya data-data yang dianggap
> confidential oleh BP Migas).
>
>
>
> Satu hal yang menarik adalah Workshop ini tidak memberikan rekomendasi
> mengenai langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi
> masalah ini, atau kapan . Padahal inilah yang ditunggu-tunggu oleh
> masyarakat. Masyarakat tidak terlalu peduli mengenai apa penyebab
> gunungapi
> lumpur ini, walaupun mereka cenderung untuk menyalahkan pemboran. Yang
> berkepentingan dalam apa penyebab dari gejala ini adalah dalam masalah
> soal
> siapa yang harus menanggung biaya penanggulangan bencana ini. Masyarakat
> hanya ingin mendengar bagaimana bencana lumpur ini dapat dihentikan.
> Tentu
> saja kita bisa berdalih bahwa untuk dapat menghentikan semburan lumpur
> itu
> kita harus tahu penyebabnya. Kalau panitya workshop ini berkeyakinan
> bahwa
> hasil workshop ini adalah LUSI murni gejala alam dan tidak dapat
> dihentikan
> dan tidak dapat diprediksikan kapan akan berhentiknya, maka satu-satunya
> rekomendasi yang bisa diberikan adalah mengevakuasi (mengosongkan)
> daerah
> yang dipengaruhi LUSI, khususnya daerah yang bakal amblas, membangun
> tanggul
> sekitarnya serta mengalirkan airnya dengan saluran bertanggul ke laut,
> sedangkan lumpur padatnya secara alamiah dapat ditinggalkan di daerah
> amblasan, bahkan mudah-mudahan dapat mengkompensasi amblasannya sendiri.
> Saya lihat ada lebih dari 1 makalah (a.l. dari Dr. Ir. Prihadi
> Sumintapura
> dari ITB) para pakar kita telah mampu melakukan deliniasinya. Saya
> sadar
> bahwa pernyataan demikian mungkin mempunyai dampak yang luas bagi
> masyarakat, tetapi saya kira itu satu-satunya rekomendasi yang dapat
> diberikan kalau panitia perumus menganggap penyebab ini gejala alam yang
> tidak dapat dihentikan atau tidak dapat diprediksi kapan berhentinya..
> (bersambung)
>
>
>
>
>
>
------------------------------------------------------------------------
> ----
> Hot News!!!
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
> [EMAIL PROTECTED]
> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual
> Convention and Exhibition,
> Patra Bali, 19 - 22 November 2007
>
------------------------------------------------------------------------
> ----
> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>
---------------------------------------------------------------------
>
>
>
----------------------------------------------------------------------------
> Hot News!!!
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
> 29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
> Bali Convention Center, 13-16 November 2007
>
----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>
---------------------------------------------------------------------
>
>
>
>
>
>