Sekedar usulan dan sumbang saran...mungkin sebenarnya sudah menjadi agenda Timnas penanggulangan lumpur. Saya harapkan demikian, karena saya tetap percaya kepada timnas. Solusinya ada 3 dalam kaitan faktor alam (geologis kan nggak ngurusin ganti untung/rugi kan), yaitu: 1. Menyetop semburan atau paling kurang mengurangi intensitasnya. Hal ini yang sudah sangat intens diusahakan oleh timnas Penanggulangan lumpur. Kalau berhasil alhamdulillah, kalau nggak ya namanya usaha. 2. Evakuasi/relokasi penduduk dan infrastruktur terkait dengan luasan daerah genangan dan amblesan. Nah ini perlu studi prediksi/pemodelan dan usaha surveillance yang harus dilakukan oleh instansi yang konsisten terus bekerja. Nggak bisa nungguin voluntary, apa gunanya anggaran negara kalau bukan untuk kebaikan rakyat. Dan ada payung hukum untuk enforcement evakuasi/relokasi. 3. Pengambilan keputusan mengenai material lumpur yang ada : mau dibuang ke laut atau dibiarkan saja tergenang jadi danau lumpur (termasuk potensi pemanfaatannya dan penataan ruang juga). Kalau masih ada energi, studi penyebab mud-volcano dan antisipasi agar tidak terulang juga bisa menjadi solusi tambahan terutama untuk kepentingan hukum dan bisnis. salam, ww
________________________________ From: nyoto - ke-el [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, March 16, 2007 3:54 PM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI Memang problem pokoknya saat ini sebetulnya bukan apa penyebab terjadinya LUSI, apakah karena drilling sumur BJP-1 atau karena gempa Yogya. Yang penting sekarang, apa langkah2 yang harus dilakukan oleh pemerintah sehubungan dengan "bencana alam nasional" tsb, saya sebut bencana alam nasional karena sudah berskala besar dampaknya. Sehingga pemerintah dalam hal ini harus bertindak tegas & cepat, jangan hanya me-nunggu2 hasil penyelidikan yang kurang jelas arahnya. Apakah kontraktor "harus" disalahkan atau tidak, terus ditetapkan siapa yang harus mengganti-rugi kepada rakyat yang menjadi korbannya, karena sudah terlalu banyak kerugian yang diderita masyarakat, kehilangan rumah tempat tinggal, halaman, kebun & pohon-tanaman, pabrik, lapangan pekerjaan, sekolah2 & tempat2/fasilitas2 umum lain terlalu banyak yang telah hilang. Dan diadakan program evakuasi permanen dengan menyiapkan lahan baru (kalau masih mungkin), atau dengan program transmigrasi sukarela, dll. Yang penting harus ada langkah nyata dari pemerintah pusat (jangan hanya mau menerima bagi hasil produksi minyak-gasnya saja, kalau terjadi kerugian juga harus mau dibagi hasil dengan pemerintah pusat yaitu mau ikut menggantirugi, misalnya), bukan hanya menunggu & menunggu saja ... apalagi yang ditunggu ? nunggu sampai terjadi korban lebih banyak lagi, dimana mungkin bisa terjadi amblesan yang boleh jadi spektakuler atau pelan2, tapi yang jelas semua merugikan masyarakat setempat, cepat atau lambat. Wass, On 3/16/07, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED] > wrote: Sedikit komentar dan pendapat, Perbedaan pendapat dari penyebab lusi menurut saya bisa salah satunya disebabkan karena perbedaan background ilmu pengetahuan. Misalkan, karena saya seorang operation geologist, yang lebih sedikit tahu tentang drilling practice dibandingkan pengetahuan saya tentang geologi regional, Tentunya pendapat saya akan lebih condong bahwa penyebab LUSI adalah akibat pengeboran, apalagi setelah membaca data2 pengeboran yang dipaparkan oleh saudara Sugeng Hartono (walaupun masih mungkin banyak data yang tidak diungkap). Walaupun secara pribadi, setelah membaca email2 sebelumnya yang diantaranya dari Pak Awang, saya tidak menutup diri bahwa ada faktor lain penyebab lusi. Yang saya ingin tanyakan dan concern saya adalah, apakah 2 pendapat ini pada akhirnya akan berdampak besar kepada masyarakat. - Apakah pendapat 1, yang menyatakan bahwa lusi karena pengeboran atau kelalaian, membuat masyarakat lebih diuntungkan karena mendapat ganti rugi dari pihak terkait ? - Dan apakah pendapat 2, yang menyatakan bahwa lusi karena gempa atau bencana alam, membuat masyarakt dirugikan karena TIDAK mendapat ganti rugi, karena berarti tidak ada pihak yang harus bertanggung jawab? Jikalau ini konsekuensinya, tentu akan sangat berat sekali membenarkan salah satu pendapat bila tidak ada bukti yang sangat akurat Diperlukan team yang solid dari berbagai kalangan yang berbeda background pengetahuan dan bukan hanya interpretasi pribadi masing2. Mohon maaf kalau ada kata2 yang salah, hanya pendapat pribadi Salam Romdoni edison sembiring <[EMAIL PROTECTED]> 03/16/2007 03:01 PM Please respond to iagi-net To: [email protected] cc: Subject: RE: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI Perbedaan pendapat membuat semakin banyak "solusi", walapun semuanya masih interpretasi dan asusmsi(kualitatif), bagi kita yang junior dengan mengikuti diskusi para senior2 kami semakin banyak tahu dan terkadang membuat semakin tidak ngeh ..... Seperti kata Ahli2 drilling sebelumnya, sangat penting untuk mendapatkan data primer pengeboran BP1, yang sampai sekarang belum bisa diakses, mungkin dari sana akan banyak hal yang bisa diketahui dan kuantitatif. Salam, /Edison Sembiring Landmark AFRICA --- Witan Ardjakusumah < [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > Setuju pak Nyoto, perbedaan harus disyukuri , > tentunya tanpa tuduhan > melakukan tindakan sumir kepada pihak yang mempunyai > pendapat yang > berbeza > > > > Selamat berlibur panjang > > Wass. > > Witan > > > > ________________________________ > > From: nyoto - ke-el [mailto: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Friday, March 16, 2007 9:30 AM > To: [email protected] > Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka > Kepada Ketua Umum IAGI > > > > Mas Arie, terima kasih komentarnya. > > Memang kalau saya ikut didalam penelitian/studinya, > jelas komentar saya > akan berbeda. Semua kan tergantung dari apa yang > kita "lihat", sedang > misalkan kita melihat barang yang sama aja, > kesimpulan kita bisa juga > saling berbeda, dan itulah perbedaan yang harus kita > syukuri, karena > kita telah diberikan akal olehNya untuk dipakai, > dimana hasil buah > pikiran kita bisa sama tetapi bisa juga berbeda , > kalau semua orang > didunia ini berpikiran sama ... ya malah repot > nantinya kan ... > > > hevenaiswiken .... > > > > wass, > > > > > > > > > > > On 3/16/07, Arie Purba Tata > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Nyoto, > > Saya pribadi mlihat respon bapak, sepertinya bapak > lebih ahli dan punya > data yang cukup, sehingga dengan mudahnya langsung > membantah, penelitian > yang memang dilakukan, ada baiknya kalo bapak > sendiri melakukan > penelitian yang sama kemudian dipresentasikan, > sehingga kita bisa lihat > dengan lebih bijak permasalahan nya, apa yang bapak > simpulkan di email > sebelumnya, saya kira sama dengan kesimpulan yang > diambil di acara yang > diadakan IAGI kemaren hanya pada saat itu tidak di > bilang presentage > drilling BJP-1 lebih besar atau pun sebaliknya. > > > > > > Wassalam > > Arie > > > > ________________________________ > > From: nyoto - ke-el [mailto: [EMAIL PROTECTED] ] > Sent: Friday, March 16, 2007 8:51 AM > To: [email protected] > Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka > Kepada Ketua Umum IAGI > > > > Oohalah maas, interpretasi koq ambil analognya yang > jauh2 sampai ribuan > kilometer to mas. > > Wong sudah jelas ada data yang hanya beberapa puluh > meter jaraknya, koq > yang dipakai yang berribu2 kilometers, tambah > semakin sumir dong nanti > kesimpulannya mas ...... hanya sebuah pendapat saja. > > > > > > > wass, > > > > > > > > On 3/16/07, Awang Harun Satyana < [EMAIL PROTECTED] > <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > Pak Rovicky, > > Kalau hanya melihat crossplot after-effect gempa > dengan sumbu2 distance > (terhadap episentrum) dan magnitude gempa memang > LUSI jauh di posisi > anomaly, sehingga kita yang menafsirkannya langsung > akan berkesimpulan > LUSI "jauh panggang dari api" sebagai diakibatkan > gempa. > > Tetapi, coba kita lihat slide2 selanjutnya dari > Prof. Mori itu, bahwa > banyak after-effect gempa yang bisa menimbulkan > banyak reaktivitas > gejala geologi seperti geothermal dalam jarak ribuan > km. Bahkan, saat > gempa Sumatra Desember 2004, spring water level di > Jepang terpengaruh > dalam jarak sekitar 6000 km. > > Lagipula, cross plot di atas itu tak pernah melihat > bagaimana kondisi > struktur bawah permukaan antara Pusat gempa dengan > terjadinya > after-effect. Kalau jaraknya > 1000 km, dan > magnitude < 5 Mw, tetapi ada > > tectonic freeway di kerak Bumi antara episentrum dan > tempat after-effect > terjadi (mis bud volcano), maka saya pikir mud > volcano akan tetap > terjadi walau posisi plot-nya jauh ke atas garis > batas di cross plot > tersebut. > > Benar kata pak Rovicky, statistik penting, tetapi > kita harus memeriksa > satu demi satu karakteristiknya. Korelasi tak > serta-merta bisa > menunjukkan pembenaran suatu gejala sebab di geologi > banyak parameter > yang variable-nya tak bisa dikuantifikasi. > > Salam, > awang > > -----Original Message----- > From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto: > [EMAIL PROTECTED] > <mailto: [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > ] > Sent: Wednesday, March 14, 2007 10:05 C++ > To: [email protected] > Subject: Re: [iagi-net-l] Respon-2 Surat Terbuka > Kepada Ketua Umum IAGI > > Menghubungkan gempa dengan semburan memang bukan hal > tidak mungkin > karena secara statistik memang ada didaerah lain > yang menunjukkan hal > itu. Tentusaja sebagai geologi tidak serta merta > menggunakan data > statistik, karena setiap data memilki karakteristik > sendiri-sendiri. > Setiap data point memilki attribut-attribut sehingga > memenuhi > persyaratan untuk menunjukkan korespondensi > (relasi). > > Dalam hal gempa menyebabkan reaktivasi semburan mud > volkano bisa > dilihat persyaratannya yang dilihat dengan cara > fisis yaitu diukur > atau ada hal-hal dalam bentuk ukuran "measurement". > Faktor-faktor yang > === message truncated === ________________________________________________________________________ ____________ Don't get soaked. Take a quick peek at the forecast with the Yahoo! Search weather shortcut. http://tools.search.yahoo.com/shortcuts/#loc_weather ------------------------------------------------------------------------ ---- Hot News!!! CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ------------------------------------------------------------------------ ---- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id <http://iagi.or.id/> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

