Maaf email lama, tapi cukup menggelitik.
Semoga pak Luthfi tidak bertanya kepada ahli geologi bagaimana caranya
"melihat" migrasi minyak dari source ke batuan reservoar. Beberapa
pendekatan diperlukan untuk menggantikan fungsi mata untuk "melihat".
Menurut saya, yang perlu diperhatikan seberapa besar validitas dan tingkat
kemasukakalan dari pendekatan pendekatan tersebut berdasarkan kajian ilmu
yang ada.

Sekedar tergelitik saja ...
selamat pagi semuanya ....



On 3/28/07, Achmad Luthfi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 Tanya ahli bahasa/ahli hukum, menjadi saksi adalah mengatakan apa yang
kita saksikan dengan mata atau dengan pengalaman dan dengan ilmu. Kalo kita
tidak melihat/mengalami dan ilmu kita gak nyampe yha lebih baik bilang tidak
tahu. Contoh kalo melihat dengan ilmu, kalo ditanya "apakah betul perang
diponegoro berlangsung tahun 1825-1830" ? kita jawab yha betul, pertanyaan
berikut "apakah saudara menyaksikan ?" dijawab tidak (belum lahir),
pertanyaan berikut "saudara menjawab betul tapi saudara tidak pernah
menyaksikan, apakah jawaban saudara karangan belaka?" dijawab, jawaban saya
betul dan tidak dikarang. Pertanyaan berikut "kalo saudara yakin jawaban
saudara benar sedangkan saudara tidak menyaksikan bagaimana saudara tahu"
dijawab dari ilmu sejarah. Ini kelihatan sederhana kira2 begitulah
ber-liku2nya pertanyaan yang diajukan kepada saksi. Sebaiknya kalo ragu2 dan
tidak menyaksikan/mengalami dan ilmunya gak nyampe lebih baik dijawab tidak
tahu. Ini ilustrasi dari pengalaman real



Salam,



Kirim email ke