Pak Awang dan Pakde Rovicky, Untuk mengetahui apakah pemboran sudah menembus Gamping (Kujung) atau belum, tentunya kita dapat menggabungkan data VSP dengan data-2 lainnya, misalnya mudlog (yang dibuat mudloggers), progress sample log (yang dibuat wsg saat pemboran in progress), chart Geolograph dari drilling rig (memuat rekaman data: Depth, WOB, Rate of penetration - ini merekam setiap foot pemboran, jadi sangat akurat, torsi pipa bor, RPM-putaran pipa, pump pressure dll), juga print-out drilling data (merekam seluruh data: depth, wob, torsi pipa, rpm, pump pressure, total gas, gas chromatograph, kandungan H2S, CO2, flow rate dari lumpur bor yang dipompakan - dalam galon/menit, volume lumpur dalam tangki - untuk mengetahui apakah ada loss circulation atau gain, mud weight In and Out dll) dari Mudlogging unit yang biasanya merekam secara kontinyu. Karena belum dilakukan logging, jadi hanya data-data tersebut lah yang dapat kita pergunakan.
Salam, sugeng ----- Original Message ----- From: Rovicky Dwi Putrohari To: [email protected] Sent: Monday, July 02, 2007 8:13 AM Subject: Re: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo Pak Awang Mlesetnya perkiraan Top Kujung ini apakah karena depth conversion ataukah karena misinterpretation (facies identification error), ataukah dua-dua nya ? Seingatku sudah ada synthetic yang dibuat di BJP-1 ini. Jadi mungkin bisa di cross check apakah kita berbicara pada "spesies" yang sama dengan carbonates di Porong-1, ataukah beda. sorry intermezzo : Ada yang tahu kasus meledaknya sumur Geothermal Dieng, apa yang terjadi ? RDP On 7/2/07, Awang Satyana < [EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Heri, di kedalaman tersebut, selain data VSP ada data log konvensional (seperti GR, resistivity), tetapi tak bisa dipakai untuk prediksi top Kujung LS sebab perkiraan kedalaman tersebut belum ada data log-nya. Kita hanya mengandalkan VSP atau checkshot untuk memprediksi puncak suatu formasi yang belum dibor, tetapi hasil VSP pun tidak jelas juga, mungkin karena kehadiran beberapa seismic absorbent seperti yang diduga oleh Pak Yanto Salim. Akhirnya, di BJP-1 kita tak pernah tahu apakah sudah menembus gamping Kujung atau belum. Gamping ada, tetapi apakah itu gamping suatu puncak formasi atau sekedar sisipan tipis gamping di tengah sekuen silisiklastik, kita tak tahu. salam, awang heri ferius <[EMAIL PROTECTED] > wrote: Apa pada kedalaman 8750 ft ada logging lainnya, selain VSP ?. Gimana ya, cara memprediksi Top Kujung LS pada bagian yang belum dibor, seandainya hanya pakai data VSP ?. Mohon pencerahan. Salam HF ----- Original Message ----- From: yanto salim To: [email protected] Sent: Saturday, June 30, 2007 3:01 PM Subject: Hal: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo Pak Awang, Benar sekali "Mother earth" is un-predictable yang bisa kita lakukan adalah prediksi dari data yang ada, walaupun VSP dilaksanakan ternyata tidaka ada satupun perkiraan VSP yang mendekati (ada 3 prediksi). Tambahan saja, dengan adanya high absorbent di dekat permukaan energy seismik sudah tidak sampai dan sebetulnya juga di perparah dengan adanya sand setebal lebih dari 3000 feet. Seperti dikatakan ini adalah sand yang diketemukan pertama kali, jadi tidak ada referensi dan tentunya tidak akan terinterpretasi (walaupun data seismiknya berkwalitas baik). Salam, Yanto ---------------------------------------------------------------------------- Food fight? Enjoy some healthy debate in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A. -- http://rovicky.wordpress.com/

