Hal ini adalah pendekatan dengan dasar bahwa sequence stratigraphy sudah diketahui atau sudah terprediksi. Pendekatan ini sebetulnya sama saja dengan surface seismic karena memakai up-going signal atau refleksi dari batas impedans dibawah posisi well geophone. Metode yang terbaik adalah melaksanakan offset VSP, dimana energy source dari VSP away dari well bor. Up-going signal yang didapat akan merupakan seismic reflector yang akan lebih bagus datanya dari surface seismic.
Kalau ada reflector reflector yang lebih dalam dari lubang bor, maka data tersebut akan diwakili oleh seismic signal dibawah well TD. Dan reflector inilah yang diinterpretasi apakah Kujung L.S atau lainnya. Accuracy dari pendekatan ini tergantung dari seberapa baiknya data kita yang mewakili. Sering reflector yang muncul lebih banyak dari interpretasi normal seismik maka akibatnya terjadilah prediksi dengan beberapa kemungkinan. Metoda "look ahead" ini akan sangat sulit memprediksi lithology walaupun move-out velocitynya bisa dipakai sebagai tool interpretasi, biasanya bisa out of reality. Salam. Yanto Salim ----- Pesan Asli ---- Dari: heri ferius <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Minggu, 1 Juli, 2007 1:32:56 Topik: Re: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo Apa pada kedalaman 8750 ft ada logging lainnya, selain VSP ?. Gimana ya, cara memprediksi Top Kujung LS pada bagian yang belum dibor, seandainya hanya pakai data VSP ?. Mohon pencerahan. Salam HF ----- Original Message ----- From: yanto salim To: [email protected] Sent: Saturday, June 30, 2007 3:01 PM Subject: Hal: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo Pak Awang, Benar sekali "Mother earth" is un-predictable yang bisa kita lakukan adalah prediksi dari data yang ada, walaupun VSP dilaksanakan ternyata tidaka ada satupun perkiraan VSP yang mendekati (ada 3 prediksi). Tambahan saja, dengan adanya high absorbent di dekat permukaan energy seismik sudah tidak sampai dan sebetulnya juga di perparah dengan adanya sand setebal lebih dari 3000 feet. Seperti dikatakan ini adalah sand yang diketemukan pertama kali, jadi tidak ada referensi dan tentunya tidak akan terinterpretasi (walaupun data seismiknya berkwalitas baik). Salam, Yanto ----- Pesan Asli ---- Dari: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kamis, 28 Juni, 2007 3:23:05 Topik: Re: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo Pak Arman, Dari seismiknya gak terlalu jelas bahwa ada lapisan pasir setebal itu. Di permukaan banyak breksi volkanik yang akan menyerap banyak energi gelombang seismik, sehingga kualitas data seismik bisa memburuk jauh ke bawah. Design casing BJP-1 disusun dengan referensi utama sumur Porong-1 yang tak ada lapisan pasirnya, sehingga terjadi perbedaan jauh antara prognosis stratigrafi dengan kenyataan stratigrafi. Saat menembus pasir di kedalaman sekitar 8500 ft (8581 ft tepatnya) di mana diprediksi top gamping Kujung akan muncul, dilakukan beberapa kali stop drilling untuk cek sampel, tetapi tetap muncul 95 % batupasir dan 5 % gamping. Bor dilanjutkan sampai kedalaman 8750 ft. Stop drilling lalu dilakukan VSP. Dari data VSP didapat tiga kemungkinan top Kujung limestone : 8800 ft, 9400 ft, atau 9600 ft. Maka diputuskan untuk bor terus sampai ketemu gamping Kujung. Kita tahu batupasir ternyata muncul terus sampai kedalaman sekitar 9283 ft, ketika cutting gamping dominan lalu di TD sumur 9297 ft total loss. Apakah gamping Kujung sudah tertembus ? Tidak tahu. Apakah itu sampel gamping Kujung I ? Tidak tahu, saya pikir bukan, lebih muda atau jauh lebih muda. Bisa Pak Arman lihat, prosedur standar sudah dijalankan, memang harus VSP atau check shot dulu bila lapisan yang diharapkan tidak muncul-muncul. Secara regional, sekarang kita bisa memahami mengapa batupasir volkanik itu muncul di lokasi BJP. BJP adalah reef paling selatan dan itu sangat dekat dengan lidah pasir volkanik dari volcanic arc Intra-Miosen. Reef-reef di utara yang sezaman dengan BJP tak akan punya lidah pasir volkanik semacam itu, terlalu jauh. Tapi, kita tak bisa memperkirakannya sebelum drilling. Kita bisa melihat ada kemungkinan impurities itu (lihat paper saya di Satyana, 2005, IPA : "Tectono-volcanic setting on Oligo-Miocene carbonates of Java"), tapi tak bisa memperkirakannya justru muncul di BJP. No one knows perfectly how Mother Earth operates. Tapi, sekarang kita tahu bahwa semua reef di pinggir selatan Kendeng Deep akan berpotensi ditutupi lidah pasir volkanik, semakin ke baratdaya dari BJP semakin besar risikonya. salam, awang "Sunaryo Arman C." <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Awang, Ini agak melenceng sedikit dari topik utama, saya sebetulnya ingin tanya dari dulu tapi nggak sempat nulisnya. Di presentasinya Pak Rudi dulu ditunjukkan diagram prognosis vs actual dari sumur BP-1 yang saya lihat sangat berbeda, dalam arti batuan yang didapat sangat berbeda dengan yang diharapkan, Pak Awang bilang ada 3000 ft (1000 m) batupasir yang tidak diharapkan. Apakah pernah diadakan penelitian kenapa kok bisa begitu besar perbedaannya? 1000m batupasir kan mustinya mudah terlihat di seismik. Pada saat pengeboran dan diketahui ada penyimpangan dari prognosis apakah tidak dilakukan VSP atau check shot yang bisa digunakan sebagai bahan re evaluasi sebelum mengebor lebih jauh? Saya tanya ini karena dari pengalaman saya dulu kalau ada penyimpangan sampai beberapa puluh feet saja, kita akan berhenti dulu untuk run VSP atau check shot, dari situ kita mengambil keputusan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Arman ________________________________________________________ Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. http://id.mail.yahoo.com/

