Minggu, 01 Juli 2007,
*Dr Ir Andang Bachtiar, sang Geolog Independen dan Lumpur Porong
*
Asyik Mendengar Batuan Berbicara
Di dunia geologi, nama Dr Ir Andang Bachtiar MSc tak asing lagi. "Geolog
independen" ini moncer sampai ke dunia internasional. Nama mantan ketua
Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) tersebut juga makin sering disebut
setelah musibah lumpur Lapindo terjadi.
ADA berkah tersembunyi dalam musibah lumpur Porong. Publik kini menoleh
kepada para geolog untuk menjelaskan semburan lumpur itu. Dr Ir Andang
Bachtiar MSc menyebut ada gejala the awakening of geologists (kebangkitan
para geolog). Ilmu geologi menjadi dikenal luas.
Andang, geolog berkelas internasional, itu pun kian bersemangat berbicara
geologi (dia menyebutnya "berteriak") kepada publik. "Saya ingin meramaikan
dunia geologi di Indonesia. Saya berniat menyosialisasikan apa itu geologi.
Sebab, banyak yang tidak paham tentang geologi di sini," kata arek Malang
itu saat bertandang ke Jawa Pos Jumat lalu.
Andang sendiri punya reputasi moncer. Jika Anda browsing di situs Google,
Anda akan menemukan 582 situs web yang mengandung nama Andang Bachtiar.
Memang tak semuanya memuat nama dia, namun sekitar separonya mencantumkan
nama Andang.
Kebanyakan adalah situs media massa yang memuat berita tentang musibah
semburan lumpur panas Lapindo. Sisanya atau situs yang berkaitan dengan
dunia geologi. Di situs-situs tersebut, dia banyak menyumbangkan
pengetahuannya.
Di sela-sela kepadatan aktivitasnya menjadi konsultan minyak (termasuk
menggarap order asing), Andang memang punya keasyikan berbicara kepada
publik, membimbing mahasiswa S-1 dan S-2, serta menjelajah alam. Dengan
keahliannya, dia terus berusaha memahami bumi.
"Puncak kenikmatan saya adalah berbicara dengan bebatuan," katanya serius.
"Puncak ilmu geologi memang ketika bumi berbicara kepada kita dan batu-batu
menceritakan dirinya," tambahnya.
Andang dikenal sebagai mantan ketua IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia).
Dia memimpin IAGI selama dua periode, yakni 2000-2002 serta 2002-2005.
"IAGI dulu dipegang orang-orang tua dan kebanyakan dari kalangan birokrat.
Setelah saya masuk, banyak anak muda yang memegang peran di IAGI," tutur
ayah enam anak itu.
Kalau ungkapan Andang kerap puitis, memang jiwa seninya kuat. Arek Malang
yang lahir pada Oktober 1961 tersebut dulu ingin menjadi seniman. Pada saat
berumur 15 tahun, di Malang dia sudah mendirikan grup teater yang diberi
nama Teater Putih. "Anak buah saya mahasiswa-mahasiswa," katanya. Dia pernah
tidur sekamar dengan Emha Ainun Najib dalam momen pementasan teater di
Surabaya.
Di antara 11 bersaudara anak pasangan mantan Rektor IKIP Malang Prof M.A.
Ichsan dengan mantan guru SMA Lastri Padmi, anak nomor lima itu dikenal
paling tidak bisa membantu pekerjaan rumah tangga. Dia bermain dan membaca
melulu.
"Dulu saya sering dimarahi kakak-kakak saya karena begitu bangun tidur
langsung membaca. Hobi saya memang maca, dolin (membaca, keluyuran). Tapi,
berkat suka membaca, saya menjadi lulusan terbaik di SMA," ungkap Andang
mengenang masa remajanya.
Setelah lulus dari SMAN 3 Malang pada 1977, dia mengatakan kepada ayahnya,
ingin meneruskan pendidikannya di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Namun,
sang ayah mengatakan ke IKIP Malang saja. Setelah lolos seleksi di sastra
Inggris, Andang tergoda temannya masuk ITB. Dia masuk pada 1978. "Saya itu
sebenarnya nggak suka bidang teknik. Masuk ITB, bingung, mau milih teknik
elektro, tapi nggak suka," katanya.
Ketika dalam keadaan bingung memilih jurusan itulah, Andang melihat
sejumlah mahasiswa gondrong di salah satu pojok kampus ITB. "Enak sekali,
mereka nyanyi-nyanyi terus…" kenangnya lantas tertawa. Ternyata, mereka
mahasiswa geologi.
Meski dia memilih secara awur-awuran, bidang geologi akhirnya membuat
Andang jatuh cinta berat. Lulus dari ITB, dia meniti karir di perusahaan
pertambangan asing Hafco. Setahun setelah bekerja di sana, dia menikahi
pujaan hatinya, Retno Pamedarsih Retno, wong Solo kelahiran 1960 yang
merupakan junior Andang di ITB. Retno di jurusan seni rupa.
Pernikahannya dengan Retno membuahkan enam anak. Nama-nama anak mereka
juga berbau seni dan geologi. Anak pertama, dia namai Gesit Mutiara, 20.
"Dia lahir waktu saya mengalami blow out di pengeboran minyak di Lapangan
Mutiara, Kalimantan," kisahnya.
Kemudian, yang kedua Hening Wangilalang, 16. Nama itu didapatkan ketika
dia sedang berpacaran di Bukit Dago nan hening penuh bau ilalang. Lalu,
Lintang Larasati, 13, nama puitis. Iban Getarjati, 11, nama yang dipilih
ketika dia berada di lokasi prospek pengeboran di kawasan Dayak Iban di
Kalimantan. Langit Jiwa Penyaksi, 9, nama puitis. Yang terakhir Jemari Angin
Mahat Bumi, 5.
"Nama Jemari itu saya dapatkan waktu sedang menyusun disertasi (program
master) di ITB. Waktu itu saya ditemani foto angin di daerah Colorado yang
tengah mengikis bebatuan," kenangnya.
Andang pernah bekerja cukup lama di perusahaan minyak Hafco. Pengusaha
minyak, seperti Hilmi Panigoro, adalah mantan rekan sejawatnya.
Ketika di Hafco, dia membuat jurnal harian yang detail hingga saat blow
out, laporannya itu dijadikan dasar untuk menyelesaikan masalah tersebut
dengan relief well. "Sampai CEO Hafco datang sendiri untuk menemui saya
(untuk berterima kasih)," kata Andang.
Setelah 17 tahun di Hafco, dia memutuskan keluar dan memilih aktif sebagai
geolog independen. Dia pun "merdeka" dengan menjadi konsultan minyak. Dia
menyebut rate-nya USD 1.500 per hari. Tapi, untuk aktivitas "membantu"
negara, dia tak hitungan. Seperti, menjadi pakar di Forum Konsultasi Daerah
Penghasil Migas atau membantu auditing migas pemerintah.
Andang pun bebas berkelana. Dia pernah menggigil saat meneliti batu
bersalju di Iran. Juga, pernah dirubung lalat (yang dia maklumi, karena
panjang usia lalat itu hanya tiga hari) di tengah gurun Australia. Dia juga
berkelana ke berbagai kawasan di Timur Tengah dan Asia Tengah. Selain itu,
dia berbicara di berbagai forum, seperti workshop soal lumpur Sidoarjo di
Flinders University bulan lalu.
Banyak di antara kunjungannya itu, dia didampingi istri tercinta yang
berperan pula sebagai dokumentator dengan kamera. "Kalau ada order di luar
negeri, saya bilang harus ada dua tiket serta kamar hotel dengan big sized
bed. Biasanya mereka (yang mengundang) mau. Kalau tidak, saya mending tidak
berangkat," tuturnya. (satriyo eko putro)
------------------------------
Building a website is a piece of cake.
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get
online.<http://us.rd.yahoo.com/evt=48251/*http://smallbusiness.yahoo.com/webhosting/?p=PASSPORTPLUS>