Mau ikutan komentar boleh ya..

Mengenai kampus berbasis bisnis sebenarnya kan berasal dari peraturan 
pemerintah yang mengharuskan perguruan tinggi untuk membiayai diri sendiri 
(istilah nya kalau tidak salah otonomi kampus).
Pada waktu di buat peraturan nya banyak yang pro dan kontra.

Ijinkanlah saya memberikan sedikit pendapat:
Kalau untuk mendanai riset saya pikir tidak apa kalau mengharuskan perguruan 
tinggi untuk mandiri.
Tapi kalau untuk pendidikan mencerdaskan bangsa, saya kira pemerintah harus 
mengeluarkan uang negara.  Ini adalah salah satu kewajiban negara dan hak 
warganegara.
Cuma memang sering riset sangat menunjang proses ajar-mengajar, baik dari segi 
dana maupun proses dan hasil riset.  Tapi fasilitas dasar yang diperlukan untuk 
proses ajar-mengajar harus keluar dari kocek pemerintah.

Salah satu hal yang digaris bawahi oleh yang pro peraturan ini adalah dengan 
berbasis bisnis maka PerTi tahu apa yang diperlukan dunia nyata(bisnis), dan 
sudah mempersiapkan mahasiswa/i untuk siap pakai.

hal yang lain,
Saya sebenarnya bingung kenapa harus dikelompok-kelompokan menjadi satu 
fakultas.  Itu mungkin warisan dari  Belanda.
Yang saya perhatikan dari beberapa universitas  di Amerika tidak ada fakultas 
Teknik atau MIPA atau   yang lainnya.
yang ada Geology Depatment atau Geophysics Depatment ,  Petroleum Engineering 
Department.  berdiri sendiri2. Yang ambil jurusan geophysics harus ambil 
physical geology dari geology department.  demikian juga yang dari geology 
harus ambil basic seismic dari geophysics department,  dst... dst...
(note: matakuliah yang ketiga department tsb ada hanya 'petrophysics')
Jadi daripada susah meng-kelompokkannya, yah sebaiknya biarkan berdiri sendiri. 
 
jadi nanti department nya jadi banyak dong?  yah nggak apa2 diperusahaan saja 
sudah mulai di buat organization chart yang parallel bukan top-down.
ah .... tapi saya tidak tahu bagaimana repot nya mengatur perguruan tinggi.
di milis ini banyak yang dosen, ketua jurusan, dekan, dan rektor., dst.  juga 
banyak yang mantan.

mudah2an pendapat ini bisa memberikan input positip

fbs
pernah jadi dosen tembak di Perti Negeri dan swasta.

nb: ITB pernah menerima mahasiswa yang "jagoan" olahraga tanpa tes.  bagaimana 
kelanjutannya?

----- Original Message ----
From: Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, July 13, 2007 4:40:51 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Geologi ITB maju atau mundur



 







 

<!--
 _filtered {font-family:Tahoma;panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4;}
 _filtered {font-family:"Bodoni MT";panose-1:2 7 6 3 8 6 6 2 2 3;}
/* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
        {margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;font-size:12.0pt;font-family:"Times 
New Roman";}
a:link, span.MsoHyperlink
        {color:blue;text-decoration:underline;}
a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed
        {color:purple;text-decoration:underline;}
span.EmailStyle17
        {font-family:Arial;color:navy;}
 _filtered {margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;}
div.Section1
        {}
-->


Rekan saya - Firman GEA - ini benar-benar 
tajam dalam menelisik permasalahan, indah dalam mengungkapkan, dan rasanya 
"mak-nyuuuus" membaca tulisannya; terutama karena hal ini terkait erat dengan 
nasib / masa-depan pendidikan geologi di bekas almamater-nya, almamater-saya, 
juga almamater kang yrs, dan ladang pengabdiannya rekan 
Mino....

 

Walaupun ini adalah forumnya IAGI - bukan hanya 
kawan2 dari ITB saja yang ada di sini - tapi permasalahan ganjelan suara hati 
broer Mino yang dikeluarkan dengan nada ''pertanyaan2" dan 
"kekuatiran2" tentang trend pendidikan geologi ini nampaknya perlu juga 
disimak dan di'saur-manuk'-i oleh kawan-kawan di komunitas geosains dari 
mana-pun asal almamater-nya.

 

Sebenarnyalah, beberapa minggu sebelum, 
dan juga pada waktu serah-terima kepengurusan PP-IAGI Januari 2006... saya 
(sebagai Ketua IAGI dan ex-Ketua IAGI) disambati oleh para sesepuh 
pendidikan di Geologi ITB dan juga rekan-rekan saya yang mengajar disana 
tentang 
masalah yang dikemukakan broer Mino tersebut. Waktu itu , istilahnya: 
penjajag-an kalau-kalau IAGI bisa melakukan sesuatu dalam rangka 
memberikan opini - referensi - kritik terhadap kebijakan baru ITB dalam 
bongkar-pasang Departemen2 di FIKTM dan yang terkait. Memang saat itu waktu-nya 
mefet sekali, lagipula saya sedang dalam masa transisi: lengser 29 Nov 
2005, serah terima 12 Januari 2006, jadi gak "elok" kalo bikin kebijakan2, 
keputusan2, dsb..... sehingga saya sarankan para sesepuh pendidikan geologi dan 
kawan2 dosen tsb meneruskan "sambatan-nya" ke Ketua IAGI yang baru, yang 
kebetulan juga berasal dari almamater yang sama. Jadi, permasalahan ganjelan 
suara hati ini sebenarnya sudah beredar lebih dari 1-1/2 tahun berputar-putar 
mendatar mengaduk-aduk perasaan tapi tetap saja membentur-bentur dinding 
tong-lingkaran-setan diseputaran kampus Ganesha. Nah,.. ketika rekan Mino mulai 
posting, kemudian disambut oleh kang YRS yang pragmatis tapi menyemangati, 
dan Firman-Gea yang bijaksana, maka mulai keluarlah ganjelan itu ke 
permukaan. Mudah-mudahan ada partisipasi dari kawan-kawan komunitas geosains 
Indonesia di milis ini yang bisa memberikan pencerahan, dan kalau bisa: jalan 
keluar -- dari ganjelan perasaan yang diungkapkan broer Mino 
tersebut.

 

Salam

 

ADB

 

  


  ----- Original Message ----- 

  From: 
  Firman Gea 

  To: [email protected] 

  Sent: Friday, July 13, 2007 12:02 
PM

  Subject: RE: [iagi-net-l] Geologi ITB 
  maju atau mundur

  


  
  Punten ikut 
  nimbrung.
 
    
 
  Saya koq gak 
  melihat ada hubungannya dengan tren “global” terhadap kebijakan pembagian 
  jurusan di ITB ini. Menurut saya ini mah murni “kreatifitas” (baca: 
keisengan) 
  orang-orang di rektorat yang ngerasa mumpung lagi pegang posisi penting aja, 
  gak lebih. Setara lah dengan fenomena UAN yang akhir2 ini malah kok kelihatan 
  ruwet, padahal dulu baik-baik aja.
 
    
 
  Tapi 
  bagaimanapun, efek “pengglobalan” pendidikan tinggi ini semestinya dikritisi. 
  Yang ada di benak kita sekarang seakan-akan model perkembangan pendidikan 
  tinggi saat ini adalah suatu keharusan yang mau tidak mau dan suka tidak suka 
  harus seperti ini. Padahal sebenarnya jika kita memilki konsep “Pendidikan 
  Kerakyatan”, dan kita biarkan konsep ini berkembang dengan baik, dan terus 
  berkembang dengan baik, banyak orang di negeri ini yang yakin bahwa tidak 
  perlu membangun sebuah mall untuk membiayai proses belajar-mengajar di 
kampus. 
  Tidak perlu menerapkan program jalur khusus untuk membiayai proses belajar 
  mengajar di kampus. Tidak perlu melihat dosen-dosen pengajar dan guru-guru 
  yang kita hormati dan banggakan hilir mudik menjadi konsultan di berbagai 
  perusahaan.
 
    
 
  Yang terlihat 
  sekarang, kita semua melumrahkan hal tersebut. Menurut banyak dari kita 
  mengatakan itu mah memang sudah seharusnya seperti itu. Jadi, kesan jelas 
yang 
  bisa kita tangkap adalah Pendidikan Tinggi di NKRI berbasis bisnis, 
dijalankan 
  oleh bisnis, dan demi kemaslahatan bisnis. Ini
 kan menyedihkan. Jika para pembuat kebijakan 
  di negeri ini, petinggi perguruan tinggi, mahasiswa, masyarakat umum, kaum 
  intelektual, mau secara serius dan benar-benar brainstorming secara bebas, 
  tidak berpikir untuk mengambil keputusan yang asal dan gampang saja, dan mau 
  berpikir secara murni kebenaran akademis, saya yakin, konsep pengembangan 
  Pendidikan Tinggi di NKRI tidak akan seperti sekarang ini, yaitu berbasis 
  bisnis, oleh bisnis, dan demi kemaslahatan bisnis. Banyak cara yang lebih 
  elegan dan sinergi dengan Jiwa Buana Pendidikan Tinggi untuk membiayai proses 
  pendidikan itu sendiri, tidak dengan sekedar 
  berbisnis.
 
    
 
  Salam,
 
  Firman 
  Fauzi
 
    
 
  
  
  
  

  From: 
  [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, July 13, 2007 10:28 
  AM
To:
 [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Geologi ITB 
  maju atau mundur

 
    
 
  >Ben

Jangan kecil hati , ini adalah 
  kecenderungan "global" , ITB tidak mampu melawan tarikan tarikan demi 
  perkembangan .
Sehinggga dengan kondisi ITB sebagai BMHN dan tarikan global 
  yang selalu menjadikan perhitungan ekonomi nya (atau DUIT) sebagai panglima 
  maka ITB harus menjadi pragmatis , semakin pragmatis dia maka ITB akan 
  lebih bisa survive dan berkembang (itu yang ada dibenak Pak rektor dan 
  pimpinan ITB saat ini).
Dus , kalau Anda berfikir terlalu murni 
  seabagai Ilmuwan , maka Anda akan dan tidak akan  bisa menangkap ide 
  "besar" ini.
Lihat saja , kemarin kan baru 
  akan di - buka ITB filial Kota Delta , nah ini
 kan kecenderungan 
  global . Lihat saja di Jakarta Universitas 2 Ostrali buka cabang , bahkan ada 
  yang buka kantor-nya di RUKO . Untung
 kan ITB - mah akan dibuatkan kampus , yang 
  pasti megah.

Jadi suara Anda itu se-olah2 seperti teriakan satu orang 
  ditengah
 padang pasir.
Tapi jangan berkecil 
  hati.Tetaplah berkiparah dalam ilmu yang Kau yakini benar.

si 
  Abah


    Rekan2 IAGI Yth, suatu perkembangan 
  atau fenomena baru dalam pendidikan 
> geologi di ITB terjadi saat ini. 
  Dimana pada waktu yang lalu di kejutkan 
> oleh perubahan nama 
  departemen menjadi Prodi yang membawahi KK (kelompok 
> keahlian). Saat 
  ini terbagi menjadi dua KK yaitu KKGP (Geologi dan 
> Paleontologi) and 
  KKGT (Geologi terapan). Keluaran baru prodi geologi 
> dipindahkan ke 
  fakultas baru dengan nama yaitu Fakultas Ilmu dan Teknik 
> Kebumian 
  (FITB) bersama-sama dengan Oceanography dan Meterologi. 
> Sedangkan 
  Teknik Geofisika, Teknik Pertambangan dan Teknik Perminyakan 
> menjadi 
  satu fakultas baru dengan nama Fakultas Tambang dan Teknik 
> 
  Perminyakan (FTTP??). Yang lalu semuanya bernaung di bawah satu fakultas 
  
> dengan nama Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral. saya pikir 
  ini 
> sudah sangat benar sesuai dengan harifah keilmiuan dan tujuan ITB 
  sebagai 
> sekolah teknik yang juga umum dipakai dibanyak institusi 
  dinegara-negara 
> lain. 
> 
> Terlepas dari keanehan yang 
  amat sangat berupa pemisahan semua ilmu2 yang 
> memakai geologi dari 
  geologi sendiri sebagai dasarnya(terutama antara 
> geologi dan 
  geofisik). Apakah perubahan ini menuju pada sesuatu yang baru 
> dan 
  benar untuk masa yang akan datang? atausebuah pembodohan yang 
> 
  mengembalikan posisi kita pada tahun 1900. Dimana pada saat itu ilmu 
> 
  geologi masih dianggap sebagai ilmu science murni ???. Saat ini kita tahu 
  
> bahwa perkembagan ilmu kita sudah menjadi applied science dengan 
  pemakaian 
> yang sangat luas dari keteknikan, air, mineral, energi. 
  lingkungan dan 
> mitigasi bencana. Jawaban ini perlu saya bagi dengan 
  teman di dunia 
> Industri maupun pendidikan dari institusi lain di 
  Indonesia dan negara 
> lainnya. Apakah betul jika sebagai prediksi 
  ekstrim perkembangan kedepan 
> semua ilmu geologi yang bersifat terapan 
  porsi besarnya akan diambil oleh 
> tenik geofiska, tambang dan 
  perminyakan??? 
> 
> Ben Sapiie/Dosen Struktur Geologi,KKGP -ITB 
  
> 
> 





Kirim email ke