> Pak Firman, komentar yang bagus dan ideal. Hanya, seperti kata Abah,
> mungkin masa kini akan sulit membuat dan menjalankan kampus semacam yang > Pak Firman tulis. Idealnya sebuah kampus, yang menjadi lembaga > pendidikan dan diharapkan juga mendidik budi pekerti bukan hanya ilmu > pengetahuan, memang mestinya berbasis kerakyatan, sejalan dengan konsep > Taman Siswa Ki Hadjar Dewantara. Tetapi, sekarang ini konsep kampus > cenderung lebih dikendalikan oleh basis bisnis. Bukan hanya tingkat PT, > tetapi juga sudah merambah ke tingkat pendidikan menengah, dasar, bahkan > pra-sekolah. Maka, belakangan ini timbul pendapat umum : "sekolah hanya > untuk orang berduit". Sebuah perkembangan yang meresahkan ! Awang : Memang inilah salah satu akibat dari perubahan paradigma Depatemen yang mengurusi pendidikan. SANGAT meresahkan !!!! > > > > > > > > . Di sisi lain, saya mendengar banyak keluhan dari para mahasiswa bahwa dosennya > jarang hadir dalam perkuliahan, kuliah lebih sering ditunggui asisten > dosen. Sementara itu, jumlah mahasiswa baru yang diterima setiap tahun > semakin banyak dari berbagai jalur (regular & khusus). Padahal, apakah > mereka nantinya akan terdidik dengan baik ? Entahlah. "Mroyek" , ndak ada salahnya , hanya tentunya harus ada idealisme yang DITUNJANG oleh peraturan yang jelas , sehingga mahasiswa tidak terlantar. Ini adalah gabungan antara kesadaran Dosen dan konsistensi dri PT dalam melaksanakan peraturan yang dibuat-nya sendiri. > > > > Tridarma Perguruan Tinggi : (1) Pendidikan, (2) Penelitian, dan (3) > Pengabdian kepada Masyarakat, kelihatannya sudah tak berimbang lagi > dilakukan di banyak kampus. Darma no.3 saat ini terlalu menonjol, ini > implikasi peraturan bahwa kampus2 harus mengadakan dananya secara > swadaya. Kalau tak dapat banyak proyek (baca : pengabdian kepada > masyarakat), yah terpaksa dana diminta lebih dari para mahasiswa. BENAR sekali sehingga "mroyek" tidak akan dapat dihindarkan. > > > > Abah, memang ini tuntutan zaman, tetapi mestinya tak boleh terlalu > menuruti sisi pragmatis-nya. Kampus pun harus idealis. Maka, sebaiknya > diadakan saja rekonsiliasi (walaupun sukar) antara basis pendidikan > kerakyatan dan basis bisnis. SANGAT setuju. > > > > Pak Benyamin, akan halnya restrukturisasi Geologi ITB, saya sependapat > dengan pak Firman, yaitu bahwa pengaturan ini mungkin lebih bersifat > kepada "kreativitas" sementara. Kreativitas itu kalau dirasa berdampak > negatif maka kita bisa anggap kemunduran - hanya ini pasti relatif > bergantung kepada penilaian masing-masing orang. Yang sebenarnya, tentu > kita tahu bahwa geologi punya aspek-aspek pure science dan applied > science yang sama-sama kuat. Mungkin, yang membuat kreativitas ini > beranggapan bahwa semua applied sciences/engineering itu (maksudnya > teknik geofisika, pertambangan, dan perminyakan) menginduk kepada objek > Bumi yang ilmunya dipelajari oleh geologi, sehingga geologi-nya sendiri > dianggap "kurang" terapan. Tetapi, bukankah di dalam prodi geologi > sendiri ada KKGT (kelompok keahlian geologi terapan) yang mungkin cukup > mengakomodasi aspek terapan di geologi ? Inilah menurut saya anggapan yang kurang tepat , saya setuju pendapat Awang. > > > > Saya jadi ingat saat dulu memilih Geologi Unpad dan bukan Geologi ITB. > Alasannya, karena saya lebih suka dengan sains geologi daripada teknik > geologi. Di Unpad, saat itu geologi bernaung di bawah Fakultas MIPA > (saya pikir ini sains geologi), sedangkan di ITB saat itu geologi > bernaung di bawah Fakultas Industri (saya pikir ini teknik geologi). > Ternyata, dua2nya sama saja, kurikulumnya juga lebih kurang sama. > Rupanya karena tak ada Fakultas Industri di Unpad, ya geologi-nya > dimasukkan ke MIPA, barangkali begitu alasannya (atau Geologi ITB yang > mestinya masuk ke FMIPA ITB ?) > Padahal ternyata ITB dan UNPAD sama saja kan. si Abah > > >

