Agus 

Saya sependapat dengan Anda , sebagaimana saya tukis
dalam e-mail sebelumnya , yang saya maksudkan dengan ke"halusan"
ML adalah caranya dia bertutur dalam buku.
Nah dengan melihat dua
contoh diatas dapatlah dikatakan bahwa manusia itu sangatlah tidak
sempurna , dan tidak akan pernah ada manusia yang "indepndent"
100 % ,sehingga tidak punya intereset sama sekali.
Mengapa Pram diam
pada masa orde lama ????
Karena walaupun dia sastrawan dia bukan
junalis , akan tetapi sastrawan yang mengerti politik (ingat dia menamakan
pendapatnta Pramisma ),sehingga kalau untukl tujuan-nya yan lebih
besar  dia bisa memilih diam.
Berlainan dengan ML yang jurnalis
dan satrawan , sebagai jurnalis dia tidak bisa diam !!!
Lha jurnalis
kok diam , kan ndak mungkin .

Kedua orang ini mempunyai
"kehebatan" - nya masing masing , nah marilah kita menghargai
kehebatan-nya itu.

Dalam sejarah manusia , semua tokoh tida
pernah TIDAK memiliki kelemahan dalam sejarah kehidupan-nya..

Kalau dalam istilah religi "hanya Tuan-lah yang Maha
Sempurna"

Si-Abah

______________________________________________________________________

+_____________________________________________________________________

Si-Abah

________________________________________________________________________

Si-Abah>

________________________________________________________________________
 Yth. pak Awang dan teman-teman semua, 
> 
> Mohon
maaf saya ikut nimbrung nih, tampaknya kita harus berhati-hati 
>
memasuki wilayah wacana ini, dengan lebih peka/sensitif lagi, apalagi 
> untuk wilayah publik yang lebih luas lagi. Apapun respek,
penghargaan 
> kita terhadap seseorang, tentunya tidak menghalangi
kita untuk tidak 
> kritis. Walaupun tampaknya wacana ini hanya
menyentuh wilayah sastra 
> ataupun budaya, tapi tampak nuansa
politisnya sangat kental. Seperti 
> lazimnya ranah politik, fakta
dan data sering tertutupi kepentingan 
> golongan atupun komunitas
tertentu. 
> 
> Saya cuma ingin berusaha menyeimbangkan
wacana ini dengan wacana yang 
> berseberangan, yang walaupun
referensinya sementara ini hanya 
> berdasarkan ingatan semata
(tetapi bisa dilacak, dan diyakini faktanya). 
> Benar, seperti
Uni Yuriza Noor kemukakan tentang Mochtar Lubis, bahkan 
> beliau
merupakan lawan polemik yang sangat tangguh. Kedua-duanya 
>
sama-sama pernah merasakan 'penindasan' rezim yang pernah berkuasa, 
> bahkan Mochtar, lebih 'lama' masa penindasannya, yaitu pada masa
orde 
> lama dan baru, sedangkan Pram hanya pada orde baru saja
(walaupun masa 
> pengasingan Pram di P. Buru lebih lama). Mokhtar
dua kali mengalami 
> pembreidelan,(kasus Manikebu dan harian
Indonesia Raya), sedangkan Pram 
> hanya pada masa orde baru saja.
Dari sini saja tampak bahwa Mochtar 
> lebih universal
perjuangannya terhadap totaliterisme, KKN, penghianatan 
>
terhadap demokrasi dll. Sedangkan Pram 'membisu seribu basa' kalau 
> tidak dapat dikatakan 'membonceng' arus kepentingan orde lama, vis
a 
> vis, kaum Marxis atau lebih dikenal sebagai diktator
proletariat. 
> Dalam hal ini tampaknya Pram lebih beruntung
karena trend wacana global 
> kiwari kaum humanis lebih memihak
kepadanya (Post-Marxist?), sedangkan 
> tipikal humanismenya
Mochtar kurang diminati, terkaburi oleh euphoria 
> 'post-marxist'
ini. Dapat dikatakan juga, Pram lebih piawai mengemas 
> tema,
teknik narasi, bahkan lebih kaya penguasaan wacana socio-historis, 
> sehingga tampak lebih mengena pada trend pasar humanisme global.

> 
> Selanjutnya tidak dapat dikatakan Pram sangat
eksesif meperjuangkan 
> kepentingan kaum tertindas. Sangat jelas
fakta sejarah yang merekam, 
> 'hiprokitnya' / ke diktatoran
budaya' Pram dengan Lekranya, menghantam 
> kelompok Mochtar
dengan Manikebunya. Sedangkan Mochtar tidak pernah 
> membonceng
kekuasaan siapapun (baik orde lama, orde baru, orde 
> silumanpun)
untuk menindas lawan-lawan budaya atau ideologinya 
> Hal inilah
yang membuat Mochtar dan kawan-kawan eks Manikebunya, 
> memprotes
keras pemberian hadiah Magsaysay, beberapa belas tahun yang 
>
lalu kepada Pram. Saya kira protes Mochtar dkk. Bukan karena ideologi 
> Pram, tapi lebih kepada ketidak konsistenan Pram dalam bersikap,
yang 
> terkesan pilih-pilih rezim, kritis pada suatu rezim, tapi
tidak pada 
> rezim lainnya. 
> 
> Saya juga
kurang setuju pendapat bahwa Mochtar lebih lembut paparannya 
>
dibanding Pram. Justru Mochtar lebih keras mengkritik penguasa, bahkan 
> bukan dalam bentuk sastra saja, malah langsung menyerang jantung
politik 
> kekuasaan pada masa Orba (dalam artikel-artikel
jurnalistik), khususnya, 
> sampai-sampai korannya dibreidel
(termasuk tulisan-tulisannya yang 
> mengkritik praktek-praktek
KKN di Pertamina pada masa itu).Ingat pula 
> bahwa Mochtar dapat
dikatakan mewakili etnis Sumatra/Tapanuli yang 
> dianggap lebih
lugas. 
> 
> Ada lagi hal yang 'tidak dibela' oleh Pram
(karena berlawanan 
> kepentingan/ideologi?). Taufik Ismail -
sastrawan yang sangat lembut dan 
> halus (termasuk kelompok
manikebu) dibandingkan dengan Pram maupun 
> Mochtar - malahan
pernah memaparkan fakta yang amat sangat mengerikan 
> (saya
mengikuti sendiri paparan Taufik, di Balikpapan, tahun 2001 yang 
> lalu, juga pernah dimuat di Tempo/Gatra? Tahun-tahun itu). Taufik

> kemukakan bahwa belum pernah dalam sejarah peradaban manusia
ini suatu 
> rezim ideologis yang membantai 100 JUTA MANUSIA
secara kumulatif dalam 1 
> ABAD (1900 - 2000), selain REZIM
KOMUNIS DI SEANTERO DUNIA, dari Rusia, 
> Cina, Eropa Timur,
Kampuchia/Khmer, Kuba dll. (sayang sekali, tampaknya 
> saya harus
mencari-cari lagi tulisan Taufik, karena tertumpuk tidak 
> keruan
ketika menyelamatkan buku-buku dari amukan banjir Februari yang 
>
lalu). Wallahua'lam. Lebih kurangnya , mohon maaf. 
> 
>
Agus Sutoto 
> 
> PS. : Uni Yuriza, sekali2 ambil cuti ke
Jakarta, pada saat Book Fair 
> (Maret, Juni, September,
biasanya). Saya pernah dapet diskon buku 
> gila-gilaan, hanya 40
ribuan - dari harga lebih dari 100 ribuan, setebal 
>> 500
halaman. Judulnya Holy Blood, Holy Grail, lumayan baru, terbitan 
> July 2006, suatu buku yang menginspirasi The Da Vinci Code yang 
> legendaris itu. 
> 
> -----Original Message-----

> 
From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Thursday, July 19, 2007 3:25 PM 
> To:
[email protected] 
> Subject: RE: [iagi-net-l] OOT "Saya
Terbakar Amarah Sendirian" ! 
> 
> Sayangnya, mengapa
Mochtar Lubis mesti mengembalikan penghargaan Raymond 
> Magsaysay
yang diterimanya saat Pram diganjar penghargaan tersebut tahun 
>
1995 ? Protes karena seorang yang dicap marxist diganjar penghargaan ? 
> Ah, itu kan karena kisah lama perseteruan antara Mochtar Lubis
dengan 
> Pram tahun 1960-an. Asyik juga mengikuti karya sastra
Mochtar Lubis, 
> terutama "Harimau-Harimau !" 
> 
> Mbak Yuriza, jalan-jalannya jangan hanya ke Gramedia, ke
Jakarta saja 
> kalau sedang digelar pameran buku di Senayan, 3x
setahun oleh IKAPI. 
> Banyak sekali buku bagus, dari penerbit
bagus dan sangat beragam, dengan 
> harga discount yang besar lagi
- one stop shopping ! Mei lalu saya dapat 
> dua buku klasik
kumpulan prosa dan puisi "Gema Tanah Air" dari H.B. 
>
Jassin - masih buku2 aslinya, sudah menguning, sisa di gudang Balai 
> Pustaka - yakin tak akan ada dim ana pun selain di Balai Pustaka.

> 
> Salam, 
> awang 
> 
>
-----Original Message----- 
> 
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Thursday, July 19, 2007
2:22 C++ 
> To: [email protected] 
> Cc:
[email protected] 
> Subject: Re: [iagi-net-l] OOT "Saya
Terbakar Amarah Sendirian" ! 
> 
> Abah, 
>

> Saya rasa tulisan tulisannya Mochtar Lubis juga cantik dan
berat seperti 
> Pram, dia pun juga seorang idealis yang mengusung
pesan nasionalis. 
> Sayang semenjak tergusurnya Indonesia Raya
namanya kok hilang ya ..... 
> at 
> least dari perhatian
orang umum seperti saya ... 
> Pram dikagumi oleh "pihak
luar", tapi selain dia juga ada penulis 
> penulis 
>
lain yang keren punya .... kenapa kita cuma menengok kearah Pram ?, 
> karena 
> "orang luar" menengok kedia?. 
> Sayangnya kalau kita jalan jalan ke Gramed saat ini, nggak ada buku
buku 
> bernuansa seperti itu lagi, apakah jaman sudah berubah
sehingga orang 
> lebih 
> global cara berpikirnya ?. 
> 
> y 
> 
> 
> 
> 
>

> [EMAIL PROTECTED] 
> 
> 
> 
>
07/19/2007 01:51 
> To 
> PM [email protected] 
> 
> 
> cc 
> 
> 
> Please
respond to 
> Subject 
> <[EMAIL PROTECTED] Re:
[iagi-net-l] OOT "Saya 
> Terbakar 
> .id> Amarah
Sendirian" ! 
> 
> 
> 
> 
>

> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>

> Awang 
> 
> Sedari saya kecil saya sudah
mengagumi Amarhum , buku buku lama eperti 
> Ceritera dari Blora ,
Keluarga Gerilya dsb saya baca berkali-kali. 
> Buku yang baru
sudah sedikit berubah , lebih romantis walaupun pesan 
> pesannya
mengeai penderitaan rakyat tertindas masih 
> mengemuka dengan
nyata . 
> 
> Apakah dia seorang marxist ? 
> 
> Menurut saya dia berfikiran atau menganut sikap / pemikiran seorang

> marxist 
> walaupun dia tidak mengakui-nya.Coba saja
baca dengan teliti pesan pesan 
> dalam buku buku-nya. 
>
Tapi dia adalah mrxist nasionalist. 
> Dia seorang nasionalist
yang mendambakan bangsa Indonesia bisa makmur 
> dan 
>
adil sejahtera , sebagimana diamanatkan dalam mukdimah Konstitusi kita.

> ==================sorry deleted to shorten
mail========================= 
> 
> 
>
----------------------------------------------------------------------------

> Hot News!!! 
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by
30 March 2007 to 
> [EMAIL PROTECTED] 
> Joint
Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 
>
29th IATMI Annual Convention and Exhibition, 
> Bali Convention
Center, 13-16 November 2007 
>
----------------------------------------------------------------------------

> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id 
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta 
> No. Rek: 123
0085005314 
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
> Bank BCA KCP. Manara Mulia 
> No. Rekening: 255-1088580 
> A/n: Shinta Damayanti 
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> 
> 

Kirim email ke