Awang 

Ini adalah kelemahan manusia ,
siapa=pun dia termasuk ML .
Jelas ML akan mendendam kepada Pram ,
karena berkat pemerintahan BK yang sangat condong pada NASAKOM , dan
kemudian "terpaksa" mendukung PKI , BK harus
"mengganyang" antek nekolim .

Nah ML dengan Indonesia
Raya - nya pun termasuk kedalam- nya , dan berkat itulah ML kemudian
keluar masuk penjara , yang kemudian dirasakan-nya juga pada masa Orde
Baru.

Generasi saua merasakan sekali tekanan tekanan politik
dari PKI dan slagorde-nya, jadi kalau ML menaruh dendam kepada PKI ,
dimana Pram salah satu alat-nya , logis logis saja.
Sekali lagi kita
tidak dapat menghilangkan jasa seseorang , walaupun ybs pernah
"khilaf"., menurut saya jasa tetaplahh jasa , kehilafan adalah
hal lain.

Si-Abah

_________________________________________________________________________


> Sayangnya, mengapa Mochtar Lubis mesti mengembalikan
penghargaan Raymond 
> Magsaysay yang diterimanya saat Pram
diganjar penghargaan tersebut tahun 
> 1995 ? Protes karena
seorang yang dicap marxist diganjar penghargaan ? 
> Ah, itu kan
karena kisah lama perseteruan antara Mochtar Lubis dengan 
> Pram
tahun 1960-an. Asyik juga mengikuti karya sastra Mochtar Lubis, 
>
terutama "Harimau-Harimau !" 
> 
> Mbak Yuriza,
jalan-jalannya jangan hanya ke Gramedia, ke Jakarta saja 
> kalau
sedang digelar pameran buku di Senayan, 3x setahun oleh IKAPI. 
>
Banyak sekali buku bagus, dari penerbit bagus dan sangat beragam, dengan

> harga discount yang besar lagi - one stop shopping ! Mei lalu
saya dapat 
> dua buku klasik kumpulan prosa dan puisi "Gema
Tanah Air" dari H.B. 
> Jassin - masih buku2 aslinya, sudah
menguning, sisa di gudang Balai 
> Pustaka - yakin tak akan ada
dim ana pun selain di Balai Pustaka. 
> 
> Salam, 
> awang 
> 
> -----Original Message----- 
>

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Thursday, July 19, 2007 2:22 C++ 
> To:
[email protected] 
> Cc: [email protected] 
> Subject:
Re: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! 
> 
> Abah, 
> 
> Saya rasa tulisan tulisannya
Mochtar Lubis juga cantik dan berat seperti 
> Pram, dia pun juga
seorang idealis yang mengusung pesan nasionalis. 
> Sayang
semenjak tergusurnya Indonesia Raya namanya kok hilang ya ..... 
>
at 
> least dari perhatian orang umum seperti saya ... 
>
Pram dikagumi oleh "pihak luar", tapi selain dia juga ada
penulis 
> penulis 
> lain yang keren punya .... kenapa
kita cuma menengok kearah Pram ?, 
> karena 
> "orang
luar" menengok kedia?. 
> Sayangnya kalau kita jalan jalan ke
Gramed saat ini, nggak ada buku buku 
> bernuansa seperti itu
lagi, apakah jaman sudah berubah sehingga orang 
> lebih 
> global cara berpikirnya ?. 
> 
> y 
> 
> 
> 
> 
> 
> [EMAIL PROTECTED] 
> 
> 
> 
> 07/19/2007 01:51 
> To 
> PM [email protected] 
> 
> 
> cc 
> 
> 
> Please respond to 
> Subject 
> <[EMAIL PROTECTED] Re: [iagi-net-l] OOT "Saya 
>
Terbakar 
> .id> Amarah Sendirian" ! 
> 
>

> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>

> 
> 
> 
> Awang 
> 
>
Sedari saya kecil saya sudah mengagumi Amarhum , buku buku lama eperti 
> Ceritera dari Blora , Keluarga Gerilya dsb saya baca berkali-kali.

> Buku yang baru sudah sedikit berubah , lebih romantis walaupun
pesan 
> pesannya mengeai penderitaan rakyat tertindas masih 
> mengemuka dengan nyata . 
> 
> Apakah dia seorang
marxist ? 
> 
> Menurut saya dia berfikiran atau menganut
sikap / pemikiran seorang 
> marxist 
> walaupun dia tidak
mengakui-nya.Coba saja baca dengan teliti pesan pesan 
> dalam
buku buku-nya. 
> Tapi dia adalah mrxist nasionalist. 
>
Dia seorang nasionalist yang mendambakan bangsa Indonesia bisa makmur 
> dan 
> adil sejahtera , sebagimana diamanatkan dalam
mukdimah Konstitusi kita. 
> 
> Apakah dia perlu
penghargaan ? 
> 
> Saya kira orang seperti Pram tidak
merasa perlu piagam penghargan , akan 
> tetapi kita sebagai
bangsa yang besar wajib memberikan pengargaan 
> kepadanya , bkan
saja untuk karya sastranya , akan tetapi onsistensi-nya 
> dalam
bersikap sebagi nasionalist yang konsisten. 
> Hanya sayang-nya
bangsa kita ini punya penyakit "aneh" , yaitu takut 
>
mengargai karya warga bangsa-nya sendiri . 
> Lihat saja IAGI ,
berkali kali saya menyatakan didalam iagi-net , betapa 
>
penting-nya memberikan penghargaan profesional kepada warag negara RI 
> atau 
> fuhak lain yang memberikan kontribusi yang luar
biasa kepada kebumian 
> Indonesia , Ndak ada tuh yang menanggapi
. Apa ini bukan aneh (kata saya 
> dan Anda). 
> Sampai
adik saya yang saya sangat sayangi dan hormati -pun , ADBt yang 
>
katanya geologist Merdeka tidak berani untuk melakukan hal itu dimasa 
> kepengurusan-nya 
> 
> So ,jangan berkecil hati
lah. 
> 
> Si-Abah 
> 
>
______________________________________________________________________ 
> 
> 
> Judul subyek di atas adalah judul sebuah buku
relatif baru (Desember 
>> 2006) tentang Pramoedya Ananta Toer,
banyak dianggap sebagai sastrawan 
>> terbesar Indonesia dan
dunia luar mengakuinya sebagai sastrawan kelas 
>> dunia,
terbitan Kepustakaan Populer Gramedia. Buku ini memuat 
>>
serangkaian wawancara antara Andre Vltchek dan Rossie Indira dengan 
> Pram 
>> pada Desember 2003-Maret 2004, dua tahun lebih
sebelum Pram meninggal 
>> dunia pada akhir April 2006. Andre
adalah seorang penulis, wartawan, 
>> sineas, dan analis
politik asal Eropa Tengah. Rossie adalah penulis, 
>> sineas
dan arsitek Indonesia. Kedua orang ini mahir berbahasa Rusia 
>
dan 
>> Ceko, bahasa yang dipakainya ketika ngobrol dengan adik
Pram yang 
> pernah 
>> lama tinggal di Rusia.
Wawancara dengan Pram sendiri diadakan dalam 
>> bahasa
Indonesia sebab Pram menolak berbahasa Inggris, seperti juga ia 
>> menolak menulis buku2-nya dalam bahasa Inggris, walaupun
buku2nya 
> telah 
>> diterjemahkan kedalam banyak
bahasa. 
>> 
>> 
>> 
>>
Wawancara bersifat langsung, menukik ke semua pokok persoalan, 
>
termasuk 
>> masalah2 kritis seperti komunisme, atheisme,
pembantaian Cina di 
>> Indonesia, dan borok-borok rekayasa
politik Indonesia. Tegang 
>> membacanya, bersiaplah dengan
berbagai guncangan ! Tetapi, akan juga 
>> kita temukan di
dalamnya sebuah nasionalisme ala Pram, yang disebutnya 
>>
Pramisme. Akan juga kita temukan sebuah keunggulan individualisme yang 
>> memukau, semangat pantang menyerah yang patut diteladani, tak
kenal 
>> kompromi, keras, dan penghargaan yang hebat terhadap
bahasa Indonesia. 
>> 
>> 
>> 
>> Berikut beberapa pendapat dari buku tersebut menurut analisis
politik 
>> Andre Vltchek. 
>> 
>> 
>> 
>> Abad kedua puluh ditandai dengan hampir tiada
hentinya pesta terror 
> dan 
>> kekerasan serta
penipuan dan pangkhianatan. Setiap manusia di berbagai 
>>
belahan dunia menyadari bahwa kebohongan yang diulang seribu kali pada 
>> akhirnya dapat menjadi kebenaran, bahwa pendudukan yang brutal
dapat 
>> diartikan sebagai pembebasan, dan membunuh jutaan
orang tak berdosa 
>> dapat dibenarkan oleh para pemimpin
negara-negara adikuasa atau bukan 
>> adikuasa sebagai harga
yang harus dibayar demi kemajuan kemanusiaan, 
>> peradaban,
dan kepentingan nasional. Jutaan orang lenyap di 
>>
krematorium-krematorium, di kamp-kamp konsentrasi, di medan perang, 
>> ataupun di puing-puing kota yang hancur oleh bom. 
>> 
>> 
>> 
>> Tetapi, di
tengah-tengah penjarahan dan kesemrawutan, ada 
>>
manusia-manusia luar biasa yang berpendirian teguh dan terus melawan 
>> arus demi membela mereka yang teraniaya, mereka yang tersudut,
dan 
> para 
>> korban pemerintahan yang kejam dan
sewenang-wenang. Ini adalah 
>> manusia-manusia yang menentang
demagogi, militerisme, dan kekuatan 
>> ekonomi dengan dua alat
perlawanan terkuat yang diciptakan dan dikenal 
>> manusia :
pengetahuan dan kebenaran. 
>> 
>> 
>>

>> Orang-orang luar biasa ini melawan kebohongan dengan
kata-kata 
> sederhana 
>> yang masuk akal, melawan
mitos-mitos yang membahayakan dengan 
>> fakta-fakta, melawan
fanatisme agama dengan kebenaran. Sebagian dari 
>> mereka
menghadapi kegilaan ini dengan senyuman sarkastik di bibir, 
>>
sebagian lagi dengan ekspresi keras dengan mulut terkatup. 
>>

>> 
>> 
>> Indonesia adalah negeri
kepulauan terluas di dunia dengan ragam 
> budaya, 
>>
suku, dan bahasa yang menakjubkan. Keragaman ini dipersatukan setelah 
>> Perang Dunia II. Sebelumnya, Indonesia dijajah dan diperas oleh

>> kekuatan-kekuatan penjajah selama ratusan tahun. Tahun 1945
Indonesia 
>> merdeka, sebuah awal yang membanggakan. Tetapi,
20 tahun kemudian, 
> 1965, 
>> mulailah terror
kediktatoran militer ! 
>> 
>> 
>> 
>> Guru-guru dibunuh, studio film dan teater ditutup, bahasa
Mandarin dan 
>> hampir semua simbol kebudayaan Cina dilarang.
Ratusan ribu, bahkan 
>> mungkin jutaan orang kehilangan nyawa
: orang-orang Cina, orang-orang 
>> komunis, orang-orang
atheis, orang-orang berpikiran maju, dan kaum 
>> minoritas.
Ketidaktoleransian politik, etnik, dan agama mencengkeram 
>>
negeri ini sejak itu, dan semakin memburuk. Kemampuan orang 
>>
berargumentasi, bertanya, dan membandingkan sudah hilang, kreativitas 
>> dihancurkan dan didiskreditkan, keanekaragaman tidak didukung.

>> 
>> 
>> 
>> Lalu Indonesia
pun mengalami kehancuran sosial. Mayoritas penduduk 
> hidup 
>> dalam kondisi mengenaskan : tidak punya air layak minum, tidak

> menikmati 
>> aliran listrik, lebih daripada
setengah penduduk hidup dengan 
>> penghasilan kurang daripada
dua dollar AS per hari. Di Indonesia semua 
>> penduduk
diwajibkan menganut salah satu agama, tetapi di Indonesia 
> juga

>> terjadi ketidakberperikemanusiaan dan kebrutalan. Kebenaran
jarang 
>> sekali mengemuka, para seniman harus tunduk kepada
aturan, media massa 
>> melakukan sensornya sendiri. 
>> 
>> 
>> 
>> Tetapi, seorang
lelaki asal Blora bernama Pramoedya Ananta Toer, 
> selama 
>> 40 tahun ini terus menulis, mencoba merumuskan inti dan sejarah

>> bangsanya yang masih belia dan menderita. Pram menulis di
penjara, di 
>> kamp militer, di rumahnya sebagai terpidana
tahanan rumah. Pram 
> menulis 
>> dalam
"pengasingan diri", menulis dalam keadaan marah dan ngeri 
> melihat 
>> situasi dan kondisi negerinya. Banyak
bukunya dibakar, yang selamat 
> dari 
>> api kemudian
dilarang beredar. 
>> 
>> 
>> 
>> Beberapa cuplikan wawancara : 
>> 
>> 
>> 
>> T : Apakah perbedaan antara penjajahan Belanda
dan Jepang ? 
>> 
>> J : Belanda mementingkan hukum
sedangkan Jepang tidak. Dalam waktu 
> tiga 
>> hari
setelah mendarat di Jawa, hampir semua serdadu Jepang terlibat 
>> dalam pemerkosaan wanita-wanita lokal. Pada saat itu wanita2
banyak 
> yang 
>> mencoreng-moreng mukanya sendiri
dengan arang agar tidak dikenali 
>> sebagai wanita. Nenek2 pun
melakukannya. Sejak awal invasi banyak 
>> kejadian aneh.
Serdadu Jepang membuka pintu2 toko orang Cina dan 
>>
mempersilakan para gerombolan pribumi untuk mengambil barang2nya. 
> Lalu, 
>> tiga hari kemudian gerombolan2 itu ditembak
mati. Yang baik dari 
>> penjajahan Jepang hanya satu :
kewajiban berbahasa Indonesia. Bahasa 
>> Indonesia berkembang
pesat sejak saat itu. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Jika kita menganalisis kudeta 1965 setelah hampir 40 tahun,
ada 
> dua 
>> teori dasar yang mengemuka tentang apa
yang terjadi. Versi pertama, 
> yang 
>> resmi, bahwa
PKI-lah dalang G30S, bahwa PKI-lah yang menculik dan 
>>
membunuh para jenderal. Versi kedua adalah yang terwakili dalam 
>
"Cornell 
>> Paper", bahwa peristiwa G30S pada
pokoknya merupakan konflik intern di 
>> tubuh Angkatan Darat.
Namun demikian, ada pula versi lain yang 
> sekarang 
>> mulai diadopsi oleh berbagai pihak di dunia, termasuk oleh para

>> sejarahwan terkemuka di Indonesia, yaitu bahwa kudeta
tersebut 
> dilakukan 
>> oleh salah satu faksi di
militer yang pro-Soeharto, dan didukung oleh 
>> Amerika
Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Apa pendapat Bung 
>>
mengenai hal ini ? 
>> 
>> J : Tentu saja tujuan
utama negara-negara Barat adalah menggulingkan 
>> Soekarno
karena tiga prinsipnya : anti-klonialisme, anti-imperialisme, 
>> anti-kapitalisme. Dan mereka yang ingin menjatuhkan Soekarno
dan yang 
>> mau berkuasa mengambil kesempatan dari adanya
friksi di dalam militer, 
>> yang terpecah antara pendukung
Soekarno dan pendukung Soeharto. Pada 
>> saat kudeta, salah
satu faksi merencanakan dan melaksanakan pembunuhan 
>>
jenderal-jenderal, dan hal inilah yang memicu pembunuhan missal dan 
>> pendekanan-penekanan yang yang dilakukan oleh pendukung
Soeharto. 
>> Korban2 pada saat itu termasuk orang-orang
komunis, cina, dan 
> pendukung 
>> Soekarno. Jadi,
menurut saya, ini yang terjadi : Militer dan Soeharto 
>>
melakukan kudeta, dan kemudian mereka membunuh dua juta orang, dan 
>> menimpakan kesalahannya kepada orang lain. Anda mengerti tidak
? 
> Mereka 
>> membunuh dua juta orang untuk balas
dendam terhadap apa yang 
> sebenarnya 
>> mereka
lakukan sendiri ! 
>> 
>> Di zaman kerajaan dahulu,
kita punya cerita yang sama, yaitu cerita 
>> tentang Kebo Ijo,
Ken Arok, dan Tunggul Ametung. Setelah Ken Arok 
>> membunuh
Tunggul Ametung, Ken Arok cuci tangan, dan setelah mengambil 
>> alih kekuasaan, Ken arok memerintahkan untuk menghukum mati
Kebo Ijo, 
>> temannya karena menuduh Kebo Ijolah pembunuh
Tunggul Ametung. Ken Arok 
>> sengaja meminjamkan keris Mpu
Gandring yang haus darah itu kepada Kebo 
>> ijo beberapa hari
sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Sialnya 
>> Kebo
ijo, dia suka pamer kepada siapa pun dan mengaku2 bahwa keris 
>
bagus 
>> itu adalah kerisnya sendiri. Maka ketika di tubuh
Tunggul Ametung 
>> tertancap keris Ken Arok, orang tahu itu
adalah keris Kebo Ijo. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Berapa orang yang dibunuh setelah kudeta itu ? 
>> 
>> J : Menurut Sudomo jumlahnya dua juta orang.
Tapi pembunuhan tersebut 
>> terutama dilakukan di bawah
perintah Sarwo Edhie Wibowo, yang pada 
> saat 
>> itu
dengan bangga mengatakan pasukannya telah membunuh tiga juta 
>
orang. 
>> Dan dia hanya mengatakan soal korban di Pulau Jawa
saja. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Ada
beberapa dokumen yang menunjukkan dan beberapa ilmuwan yang 
>>
berpendapat bahwa militer amerika dan Indonesia merencanakan bersama 
>> kudeta 1965... 
>> 
>> J : jangan lupa
senjata Amerika yang paling ampuh adalah dollarnya. 
> Dan 
>> jangan lupa pula bahwa Eisenhower, Presiden AS pada saat itu,

>> memerintahkan untuk menyingkirkan Soekarno. Dia mengatakan
hal ini 
> dalam 
>> beberapa pidatonya. Dan CIA
memperalat Soeharto untuk melaksanakan hal 
>> ini. Amerika
punya pengaruh yang sangat besar terhadap militer 
>>
Indonesia, dan kemudian pada Golkar. Walaupun pada saat itu kami sudah 
>> menjadi tahanan politik, kami selalu tahu bahwa Amerika pasti
berada 
> di 
>> belakang hal ini. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Apakah Bung seorang Marxis ?

>> 
>> J : Bukan, saya bukan Marxis, tapi
"Pramis". Saya tidak pernah 
> menganut 
>>
suatu ajaran apa pun, saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri. 
>
Belajar 
>> dari pengalaman hidup sendiri. Tapi saya percaya
pada keadilan dan 
>> kesetaraan sosial. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Apakah bung setuju dengan
pendapat bahwa hal paling luar biasa 
> yang 
>> bisa
dilakukan oleh seorang penulis untuk bangsanya adalah ketika ia 
>> bisa mengungkapkan bagian paling kelam bangsanya itu ? 
>> 
>> J : Tidak, saya tidak setuju dengan pendapat
itu. Saya selalu melihat 
>> dunia ini secara dialektik. Jadi
saya tidak pernah menggambarkan 
>> kejelekannya saja, tapi
juga kebaikannya. Kalau saya gambarkan 
>> keburukannya saja,
mungkin saya bisa sakit. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Baru2 ini Gus Dur mengatakan pada kami bahwa dia sangat 
> menghormati 
>> Bung dan merencanakan untuk membuat
yayasan dengan nama Bung. Yayasan 
>> ini dimaksudkan untuk
membantu para korban 1965 dan keluarganya. 
> Apakah 
>> Bung punya harapan bahwa hal ini dapat memmbawa perubahan ? 
>> 
>> J : Sebagai mantan Ketua NU, Gus Dur ikut merasa
berdosa atas apa yang 
>> terjadi di masa lalu (pembantaian
orang-orang yang dianggap komunis 
>> pasca kudeta 1965). Dia
merasa bersalah, walaupun secara pribadi dia 
>> tidak terlibat
dalam pembunuhan2 itu. Itu sih bagus-bagus saja, Cuma 
>>
masalahnya Gus Dur itu terlalu dekat dengan militer, karena dia masih 
>> membutuhkan dukungan politik dan perlindungan dari mereka
sebelum 
>> pemilu. Paling tidak dia membutuhkan perlindungan.
Semua politikus 
> kita, 
>> kan, sangat oportunis. 
>> 
>> 
>> 
>> Akhir wawancara.

>> 
>> 
>> 
>> T : Jadi Bung
hidup terasing di negeri Bung sendiri ? 
>> 
>> J :
Ya, saya hidup di dunia saya sendiri. Di luar itu yang ada hanya 
>> korupsi. Satu-satunya pemimpin, Soekarno, sudah tidak ada lagi.
Inilah 
>> balasan Indonesia pada saya. Negara yang dulu saya
perjuangkan 
> sekarang 
>> dalam proses pembusukan,
jadi bagaimana saya tidak marah ? Sangat 
>> bertolak-belakang
dengan negara yang kami cita-citakan dahulu. 
> Hari-hari 
>> ini semakin banyak memori yang kembali. Kebanyakan teman saya
sudah 
>> tidak ada lagi. Saya teringat akan dua juta orang
yang dibunuh dan 
>> sungai-sungai penuh dengan mayat sehingga
airnya menjadi merah karena 
>> darah. Bagaimana orang bisa
membunuh sesamanya seperti itu ? Saya 
> tidak 
>> bisa
bicara lagi soal hal ini. Terlalu emosional bagi saya. 
>> 
>> 
>> 
>> Ada ratusan tanya-jawab yang
sangat kritis dan menukik pada pokok 
>> persoalan dapat
ditemukan di buku ini tentang sejarah, kolonialisme, 
>>
Soekarno, kudeta 1965, Jawanisme, Soeharto, Timor, Aceh, dan masa 
> depan 
>> Indonesia. Walaupun Pram tidak percaya kepada
agama, berpendapat bahwa 
>> berdoa adalah seperti mengemis,
hanya percaya kepada dirinya sendiri 
> dan 
>> hanya
bisa bergantung kepada dirinya sendiri - membaca buku-buku 
>
sastra 
>> dan roman sejarah yang ditulisnya kita akan
menemukan nasionalisme dan 
>> humanisme di dalamnya. Dan,
kekuatan individual seorang Pram sangat 
>> mengagumkan ! 
>> 
>> 
>> 
>> Sebuah proyek buku
"Ensiklopedia Kepulauan Indonesia" akan 
>>
dikerjakannya dengan berbekal kepada referensi sepanjang empat meter 
>> yang telah dikumpulkannya. Apa daya, maut menjemputnya lebih
dahulu 
> saat 
>> usianya 81 tahun pada 30 April 2006.
Konsisten, tidak kenal kompromi, 
>> kekuatan, dan semangat
sampai akhir ! 
>> 
>> 
>> 
>>
Sayang, sering kita selalu terlambat menghargai jasa seseorang. 
>> Negara-negara lain lebih dahulu menghargai Pram. Inilah daftar

>> penghargaan buat Pram : 
>> 
>> 
>> 
>> 1988 PEN/Barbara Goldsmith Freedom to Write
Award. 
>> 
>> 1989 The Fund for Free Expression
Award, New York, USA. 
>> 
>> 1992 English P.E.N
Centre Award, Great Britain. 
>> 
>> 1992 Stichting
Wertheim Award, Netherland. 
>> 
>> 1995 Ramon
Magsaysay Award for Journalism, Literature, and Creative 
>>
Communication Arts. 
>> 
>> 1999 Doctor Honoris
Causa from the University of Michigan. 
>> 
>> 1999
Chancellor's Distinguished Honor Award from the University of 
>> California, Berkeley. 
>> 
>> 2000
Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres Republic of France. 
>> 
>> 2000 11th Fukuoka Asian Culture Prize. 
>> 
>> 2004 Norwegian Authors' Union award for his
contribution to world 
>> literature and his continuous
struggle for the right to freedom of 
>> expression. 
>> 
>> 2005 Global Intellectuals Poll by the Prospect.

>> 
>> 
>> 
>> Pram juga
beberapa kali masuk nominator hadiah Nobel. Tetapi, seperti 
> di

>> buku ini, mengenai penghargaan Pram hanya bilang :
"tak pernah 
>> mengharapkannya". "Saya mencoba
untuk tidak terlalu mengharapkan 
> apa-apa 
>> dari
dunia luar. Saya belajar untuk mengandalkan diri saya sendiri. 
>> Bahkan saya tidak pernah minta apapun dari orang tua saya
sendiri" 
>> 
>> 
>> 
>>
Berikut adalah karya utama Pram, masih banyak karya2nya yang di luar 
>> ini. 
>> 
>> 
>> 
>> Kranji-Bekasi Jatuh (1947) 
>> 
>>
Perburuan (The Fugitive) (1950) 
>> 
>> Keluarga
Gerilya (1950) 
>> 
>> Bukan Pasarmalam (1951) 
>> 
>> Cerita dari Blora (1952) 
>> 
>> Gulat di Jakarta (1953) 
>> 
>> Korupsi
(Corruption) (1954) 
>> 
>> Midah - Si Manis Bergigi
Emas (1954) 
>> 
>> Cerita Calon Arang (The King,
the Witch, and the Priest) (1957) 
>> 
>> Hoakiau di
Indonesia (1960) 
>> 
>> Panggil Aku Kartini Saja I
& II (1962) 
>> 
>> The Buru Quartet 
>> 
>> Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980) 
>> 
>> Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980)

>> 
>> Jejak Langkah (Footsteps) (1985) 
>> 
>> Rumah Kaca (House of Glass) (1988) 
>> 
>> Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982)

>> 
>> Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's
Soliloquy) (1995) 
>> 
>> Arus Balik (1995) 
>> 
>> Arok Dedes (1999) 
>> 
>>
Mangir (1999) 
>> 
>> Larasati (2000) 
>>

>> 
>> 
>> "Soliloquy" -
Nyanyi Sunyi, novelnya tentang penderitaan yang tak bisa 
>>
terucapkan di kamp konsentrasi Buru, tak hendak selamanya akan sunyi. 
>> Karya2 Pram sekarang bisa ditemukan cukup mudah di mana saja,
bahkan 
> ada 
>> penerbit yang khusus menerbitkan
buku2nya, yang bertahun-tahun lalu 
>> dilarang. 
>>

>> 
>> 
>> "Memukau...pilu tiada
akhir" (Noam Chomsky) 
>> 
>> 
>>

>> Salam, 
>> 
>> awang 
>>

>> 
>> 
>> 
>> 
>>

>> 
>> 
> 
> 
> This e-mail
(including any attached documents) is intended only for the 
>
recipient(s) named above. It may contain confidential or legally 
> privileged information and should not be copied or disclosed to, or

> otherwise used by, any other person. If you are not a named
recipient, 
> please contact the sender and delete the e-mail from
your system. 
> 
>
------------------------------------------------------------------------

> ---- 
> Hot News!!! 
> CALL FOR PAPERS: send
your abstract by 30 March 2007 to 
> [EMAIL PROTECTED] 
> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the

> 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, 
> Bali
Convention Center, 13-16 November 2007 
>
------------------------------------------------------------------------

> ---- 
> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id 
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta 
> No. Rek: 123
0085005314 
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
> Bank BCA KCP. Manara Mulia 
> No. Rekening: 255-1088580 
> A/n: Shinta Damayanti 
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> 
> 
>
----------------------------------------------------------------------------

> Hot News!!! 
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by
30 March 2007 to 
> [EMAIL PROTECTED] 
> Joint
Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 
>
29th IATMI Annual Convention and Exhibition, 
> Bali Convention
Center, 13-16 November 2007 
>
----------------------------------------------------------------------------

> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id 
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta 
> No. Rek: 123
0085005314 
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
> Bank BCA KCP. Manara Mulia 
> No. Rekening: 255-1088580 
> A/n: Shinta Damayanti 
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> 
> 

Kirim email ke