Wah, makin banyak "sejarahwan2" dari G&G ....... Enak dibaca tutur
bahasanya dan mudah dicerna, banyak yang sedikit "puitis" lagi. Kapan2
mestinya ada lomba penulisan sejarah geologi modern tapi dikemas dengan
bahasa bebas seperti ini ?? Misal dalam acara Annual Convention-nya IAGI
? 

 

Just a comment.

 

Thanks. Iman

 

________________________________

From: OK Taufik [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, July 20, 2007 3:57 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" !

 

Bagaimanapun sebagai humanis Muchtar Lubis tentunya tak terima kekejaman
PKI semasa 1948 dan 1965, ingat bahwa pembantaian yang sadis telah
dilakukan oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) yang berideologi marxisme
dalam Affair Madiun atau Peristiwa Madiun (Pemberontakan PKI di Madiun,
18 September 1948 pimpinan Muso dan Amir Syarifuddin). Dimana peristiwa
Madiun  menunjukkan tentang hilangnya kemanusiaan berganti dengan
kesadisan.  dokumentasi di kantor berita foto, Ipphos, menunjukkan
tentang foto genangan darah ulama yang disembelihi PKI (Partai Komunis
Indonesia) dalam Affair Madiun atau Peristiwa Madiun 18 Sepetember 1948.
Foto genangan darah ulama itu menunjukkan setebal bercenti-centi meter
saking banyaknya ulama yang disembelihi PKI. Di Kampung Gorang Gareng
Madiun saja, ada seratusan lebih ulama beserta keluarganya yang dibantai
PKI pimpinan Muso dan Amir Sjarifuddin.

Memang terjadi pergerakan massal untuk membalikkan fakta saat ini, bahwa
komunis lah sebenarnya yg paling humanis, dan paling menderita akibat
politik penguasa, menurut saya Pak Agus manusia-manusia yg melupakan
kekejaman PKI dan komunis lainnya didunia lain seperti kehilangan  hati
nuraninya.Hal yg sebenarnya ingin diungkap habis oleh Muchtar Lubis
"bagaimana Pram (bagian dari ) politik kelam dunia komunis Indonesia
harus mendapatkan penghargaan Budaya seperti yang dia dapatkan", ada
perasaan jijik mungkin yg dirasakan oleh Pak Muchtar Lubis disejajarkan
dengan Pram, sehingga begitu kuatnya prinsipnya untuk mengembalikan
penghargaan Magsasay. Saya pikir Muchtar Lubis mendahulukan sikap empati
humanisnya dalan case ini terlepas apapun ideologi Pram. 

KH Yusuf Hasyim, pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa
Timur, secara tepat mengimbangi "akal- akalan" pembalikan opini mengenai
kejahatan PKI. Pada akhir 2001, ia memprakarsai Pameran Foto Kekejaman
Komunis 1948 dan 1965, juga di berbagai negara komunis di dunia. Pameran
digelar kembali di Gedung KNPI Kuningan, Jakarta. Foto-foto dokumentasi
langka kekejaman PKI di Madiun terpampang, di mana puluhan kiai
dicemplungkan ke sumur tua. Satu dua kiai yang selamat dihadirkan untuk
memberi kesaksian. Kekejaman komunis di Kamboja pun digelar, di mana
rezim Pol Pot membantai lebih dari dua juta warga Kamboja yang lalu
dikenal sebagai The Killing Field. Di mozambique, satu juta orang tewas
akibat kekejaman Party komunis dalam civil war. Fakta kekejaman komunis
ini sulit dimanipulasi begitu saja.
Bukankah sejarah menunjukkan bahwa ajaran komunislah yang senantiasa
menciptakan konflik horizontal dan vertikal yang mengakibatkan
pembantaian ummat manusia?, lantas kenapa "anda" mau balik jadi
komunis?. 



On 7/19/07, Agus Sutoto (BWM) < [EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> > wrote: 

Yth. pak Awang dan teman-teman semua,

Mohon maaf saya ikut nimbrung nih, tampaknya kita harus berhati-hati 
memasuki wilayah wacana ini, dengan lebih peka/sensitif lagi, apalagi
untuk wilayah publik yang lebih luas lagi.  Apapun respek, penghargaan
kita terhadap seseorang, tentunya tidak menghalangi kita untuk tidak
kritis. Walaupun tampaknya wacana ini hanya menyentuh wilayah sastra
ataupun budaya, tapi tampak nuansa politisnya sangat kental. Seperti
lazimnya ranah politik, fakta dan data sering tertutupi kepentingan
golongan atupun komunitas tertentu. 

Saya cuma ingin berusaha menyeimbangkan wacana ini dengan wacana yang
berseberangan, yang walaupun referensinya sementara ini hanya
berdasarkan ingatan semata (tetapi bisa dilacak, dan diyakini faktanya).
Benar, seperti Uni Yuriza Noor kemukakan tentang  Mochtar Lubis,  bahkan
beliau merupakan lawan polemik yang sangat tangguh. Kedua-duanya
sama-sama pernah merasakan 'penindasan'  rezim yang pernah berkuasa, 
bahkan Mochtar, lebih 'lama' masa  penindasannya, yaitu pada masa orde
lama dan baru, sedangkan Pram hanya pada orde baru saja (walaupun masa
pengasingan Pram  di P. Buru lebih lama). Mokhtar dua kali mengalami 
pembreidelan,(kasus Manikebu dan harian Indonesia Raya), sedangkan Pram
hanya pada masa orde baru saja. Dari sini saja tampak bahwa Mochtar
lebih universal perjuangannya terhadap totaliterisme, KKN, penghianatan 
terhadap demokrasi dll. Sedangkan Pram 'membisu seribu basa'   kalau
tidak dapat dikatakan 'membonceng' arus kepentingan orde lama, vis a
vis, kaum Marxis atau lebih dikenal sebagai diktator proletariat. 
Dalam hal ini tampaknya Pram lebih beruntung karena trend wacana global
kiwari  kaum humanis lebih memihak kepadanya (Post-Marxist?), sedangkan
tipikal humanismenya Mochtar kurang diminati, terkaburi oleh euphoria 
'post-marxist' ini. Dapat dikatakan juga, Pram lebih piawai mengemas
tema, teknik narasi, bahkan lebih kaya penguasaan wacana socio-historis,
sehingga tampak lebih mengena pada trend pasar humanisme global. 

Selanjutnya tidak dapat dikatakan Pram sangat eksesif meperjuangkan
kepentingan kaum tertindas. Sangat jelas fakta sejarah yang merekam,
'hiprokitnya' / ke diktatoran budaya' Pram dengan Lekranya, menghantam 
kelompok Mochtar  dengan  Manikebunya. Sedangkan Mochtar tidak pernah
membonceng kekuasaan siapapun (baik orde lama, orde baru, orde
silumanpun) untuk menindas lawan-lawan budaya atau ideologinya
Hal inilah yang membuat Mochtar dan kawan-kawan eks Manikebunya, 
memprotes keras pemberian hadiah Magsaysay, beberapa belas tahun yang
lalu kepada Pram. Saya kira protes Mochtar dkk. Bukan karena ideologi
Pram, tapi lebih kepada ketidak konsistenan Pram dalam bersikap, yang
terkesan pilih-pilih rezim, kritis pada suatu rezim, tapi tidak pada
rezim lainnya.

Saya juga kurang setuju pendapat bahwa Mochtar lebih lembut paparannya
dibanding Pram. Justru Mochtar lebih keras mengkritik penguasa, bahkan 
bukan dalam bentuk sastra saja, malah langsung menyerang jantung politik
kekuasaan pada masa Orba (dalam artikel-artikel jurnalistik), khususnya,
sampai-sampai korannya dibreidel (termasuk tulisan-tulisannya yang 
mengkritik praktek-praktek KKN di Pertamina pada masa itu).Ingat pula
bahwa Mochtar dapat dikatakan mewakili  etnis Sumatra/Tapanuli  yang
dianggap lebih lugas.

Ada lagi hal yang 'tidak dibela' oleh Pram (karena berlawanan 
kepentingan/ideologi?). Taufik Ismail - sastrawan yang sangat lembut dan
halus (termasuk kelompok manikebu) dibandingkan  dengan Pram maupun
Mochtar - malahan pernah memaparkan fakta yang amat sangat mengerikan 
(saya mengikuti sendiri paparan Taufik, di Balikpapan, tahun 2001 yang
lalu, juga pernah dimuat di Tempo/Gatra? Tahun-tahun itu). Taufik
kemukakan bahwa belum pernah dalam sejarah peradaban manusia ini suatu
rezim ideologis yang membantai 100 JUTA MANUSIA secara kumulatif dalam 1

ABAD (1900 - 2000), selain REZIM KOMUNIS DI SEANTERO DUNIA, dari Rusia,
Cina, Eropa Timur, Kampuchia/Khmer, Kuba dll. (sayang sekali, tampaknya
saya harus mencari-cari lagi tulisan Taufik, karena tertumpuk tidak 
keruan ketika menyelamatkan buku-buku dari amukan banjir Februari yang
lalu). Wallahua'lam.  Lebih kurangnya , mohon maaf.

Agus Sutoto

PS. : Uni Yuriza, sekali2 ambil cuti ke Jakarta, pada saat Book Fair 
(Maret, Juni, September, biasanya). Saya pernah dapet diskon buku
gila-gilaan, hanya 40 ribuan - dari harga lebih dari 100 ribuan, setebal
> 500 halaman. Judulnya Holy Blood, Holy Grail, lumayan baru, terbitan 
July 2006, suatu buku yang menginspirasi The Da Vinci Code yang
legendaris itu.

-----Original Message-----
From: Awang Harun Satyana [mailto: [EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> ]
Sent: Thursday, July 19, 2007 3:25 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! 

Sayangnya, mengapa Mochtar Lubis mesti mengembalikan penghargaan Raymond

Magsaysay yang diterimanya saat Pram diganjar penghargaan tersebut tahun
1995 ? Protes karena seorang yang dicap marxist diganjar penghargaan ?
Ah, itu kan karena kisah lama perseteruan antara Mochtar Lubis dengan 
Pram tahun 1960-an. Asyik juga mengikuti karya sastra Mochtar Lubis,
terutama "Harimau-Harimau !"

Mbak Yuriza, jalan-jalannya jangan hanya ke Gramedia, ke Jakarta saja
kalau sedang digelar pameran buku di Senayan, 3x setahun oleh IKAPI. 
Banyak sekali buku bagus, dari penerbit bagus dan sangat beragam, dengan
harga discount yang besar lagi - one stop shopping ! Mei lalu saya dapat
dua buku klasik kumpulan prosa dan puisi "Gema Tanah Air" dari H.B.
Jassin - masih buku2 aslinya, sudah menguning, sisa di gudang Balai
Pustaka - yakin tak akan ada dim ana pun selain di Balai Pustaka.

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, July 19, 2007 2:22 C++
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" !

Abah,

Saya rasa tulisan tulisannya Mochtar Lubis juga cantik dan berat seperti
Pram, dia pun juga seorang idealis yang mengusung pesan nasionalis. 
Sayang semenjak tergusurnya Indonesia Raya namanya kok hilang ya .....
at
least dari perhatian orang umum seperti saya ...
Pram dikagumi oleh "pihak luar", tapi selain dia juga ada penulis
penulis 
lain yang keren punya .... kenapa kita cuma menengok kearah Pram ?,
karena
"orang luar" menengok kedia?.
Sayangnya kalau kita jalan jalan ke Gramed saat ini, nggak ada buku buku
bernuansa seperti itu lagi, apakah jaman sudah berubah sehingga orang 
lebih
global cara berpikirnya ?.

y





             [EMAIL PROTECTED]



             07/19/2007 01:51
To
             PM                         [email protected]


cc


             Please respond to
Subject
             < [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>          Re:
[iagi-net-l] OOT "Saya 
Terbakar
                   .id>                Amarah Sendirian" !


















   Awang

Sedari saya kecil  saya sudah mengagumi Amarhum , buku buku lama eperti 
Ceritera dari Blora , Keluarga Gerilya dsb saya baca berkali-kali.
Buku yang baru sudah sedikit berubah , lebih romantis walaupun pesan
pesannya mengeai penderitaan rakyat tertindas masih
mengemuka dengan nyata . 

Apakah dia seorang marxist ?

Menurut saya dia berfikiran atau menganut sikap / pemikiran seorang
marxist
walaupun dia tidak mengakui-nya.Coba saja baca dengan teliti pesan pesan
dalam buku buku-nya. 
Tapi dia adalah mrxist nasionalist.
Dia seorang nasionalist yang mendambakan bangsa Indonesia bisa makmur
dan
adil sejahtera , sebagimana diamanatkan dalam mukdimah Konstitusi kita.
==================sorry deleted to shorten mail=========================



------------------------------------------------------------------------
----
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED] 
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
------------------------------------------------------------------------
---- 
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
---------------------------------------------------------------------




-- 
OK TAUFIK

Kirim email ke