> Iman dan rekan rekan

Jangan hanya komentar dong , apa
pendapat Anda ?
Ngomong ngomong , mungkin IAGI atau pencinta buku
IAGI bisa bikin Club yang mencoba berdiskusi dan membahas /membongkar isi
buku.
Ndak usah terlalu ilmiah lah , apa yang kita rasakan setelah
membaca buku kita "share". 
Ya juga ndak usah Luxurious
lah.
Bagaimana kalau buku Gajah Mada (yang lima jilid) jadi pilot
project. Atau buku-nya ML,Pram .

Ya , tempatnya sih di Set IAGI
, tinggal daftar  (supaya konsumsi bisa pas , ya yang sederhana
umpama gorengan kopi /teh panas).Waktu diluar jam kantor.

Hayo
yuk.

Si-Abah.

______________________________________________________________________



    Wah, makin banyak
"sejarahwan2" dari G&G ....... Enak dibaca tutur 
>
bahasanya dan mudah dicerna, banyak yang sedikit "puitis" lagi.
Kapan2 
> mestinya ada lomba penulisan sejarah geologi modern tapi
dikemas dengan 
> bahasa bebas seperti ini ?? Misal dalam acara
Annual Convention-nya IAGI 
> ? 
> 
> 
>

> Just a comment. 
> 
> 
> 
>
Thanks. Iman 
> 
> 
> 
>
________________________________ 
> 
> 
From: OK
Taufik [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Friday, July 20, 2007
3:57 AM 
> To: [email protected] 
> Subject: Re:
[iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! 
>

> 
> 
> Bagaimanapun sebagai humanis Muchtar
Lubis tentunya tak terima kekejaman 
> PKI semasa 1948 dan 1965,
ingat bahwa pembantaian yang sadis telah 
> dilakukan oleh PKI
(Partai Komunis Indonesia) yang berideologi marxisme 
> dalam
Affair Madiun atau Peristiwa Madiun (Pemberontakan PKI di Madiun, 
> 18 September 1948 pimpinan Muso dan Amir Syarifuddin). Dimana
peristiwa 
> Madiun menunjukkan tentang hilangnya kemanusiaan
berganti dengan 
> kesadisan. dokumentasi di kantor berita foto,
Ipphos, menunjukkan 
> tentang foto genangan darah ulama yang
disembelihi PKI (Partai Komunis 
> Indonesia) dalam Affair Madiun
atau Peristiwa Madiun 18 Sepetember 1948. 
> Foto genangan darah
ulama itu menunjukkan setebal bercenti-centi meter 
> saking
banyaknya ulama yang disembelihi PKI. Di Kampung Gorang Gareng 
>
Madiun saja, ada seratusan lebih ulama beserta keluarganya yang dibantai

> PKI pimpinan Muso dan Amir Sjarifuddin. 
> 
>
Memang terjadi pergerakan massal untuk membalikkan fakta saat ini, bahwa

> komunis lah sebenarnya yg paling humanis, dan paling menderita
akibat 
> politik penguasa, menurut saya Pak Agus manusia-manusia
yg melupakan 
> kekejaman PKI dan komunis lainnya didunia lain
seperti kehilangan hati 
> nuraninya.Hal yg sebenarnya ingin
diungkap habis oleh Muchtar Lubis 
> "bagaimana Pram (bagian
dari ) politik kelam dunia komunis Indonesia 
> harus mendapatkan
penghargaan Budaya seperti yang dia dapatkan", ada 
>
perasaan jijik mungkin yg dirasakan oleh Pak Muchtar Lubis disejajarkan

> dengan Pram, sehingga begitu kuatnya prinsipnya untuk
mengembalikan 
> penghargaan Magsasay. Saya pikir Muchtar Lubis
mendahulukan sikap empati 
> humanisnya dalan case ini terlepas
apapun ideologi Pram. 
> 
> KH Yusuf Hasyim, pemimpin
Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa 
> Timur, secara tepat
mengimbangi "akal- akalan" pembalikan opini mengenai 
>
kejahatan PKI. Pada akhir 2001, ia memprakarsai Pameran Foto Kekejaman 
> Komunis 1948 dan 1965, juga di berbagai negara komunis di dunia.
Pameran 
> digelar kembali di Gedung KNPI Kuningan, Jakarta.
Foto-foto dokumentasi 
> langka kekejaman PKI di Madiun
terpampang, di mana puluhan kiai 
> dicemplungkan ke sumur tua.
Satu dua kiai yang selamat dihadirkan untuk 
> memberi kesaksian.
Kekejaman komunis di Kamboja pun digelar, di mana 
> rezim Pol Pot
membantai lebih dari dua juta warga Kamboja yang lalu 
> dikenal
sebagai The Killing Field. Di mozambique, satu juta orang tewas 
>
akibat kekejaman Party komunis dalam civil war. Fakta kekejaman komunis

> ini sulit dimanipulasi begitu saja. 
> Bukankah sejarah
menunjukkan bahwa ajaran komunislah yang senantiasa 
> menciptakan
konflik horizontal dan vertikal yang mengakibatkan 
> pembantaian
ummat manusia?, lantas kenapa "anda" mau balik jadi 
>
komunis?. 
> 
> 
> 
> On 7/19/07, Agus
Sutoto (BWM) < [EMAIL PROTECTED] 
>
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> > wrote: 
> 
>
Yth. pak Awang dan teman-teman semua, 
> 
> Mohon maaf
saya ikut nimbrung nih, tampaknya kita harus berhati-hati 
>
memasuki wilayah wacana ini, dengan lebih peka/sensitif lagi, apalagi 
> untuk wilayah publik yang lebih luas lagi. Apapun respek,
penghargaan 
> kita terhadap seseorang, tentunya tidak menghalangi
kita untuk tidak 
> kritis. Walaupun tampaknya wacana ini hanya
menyentuh wilayah sastra 
> ataupun budaya, tapi tampak nuansa
politisnya sangat kental. Seperti 
> lazimnya ranah politik, fakta
dan data sering tertutupi kepentingan 
> golongan atupun komunitas
tertentu. 
> 
> Saya cuma ingin berusaha menyeimbangkan
wacana ini dengan wacana yang 
> berseberangan, yang walaupun
referensinya sementara ini hanya 
> berdasarkan ingatan semata
(tetapi bisa dilacak, dan diyakini faktanya). 
> Benar, seperti
Uni Yuriza Noor kemukakan tentang Mochtar Lubis, bahkan 
> beliau
merupakan lawan polemik yang sangat tangguh. Kedua-duanya 
>
sama-sama pernah merasakan 'penindasan' rezim yang pernah berkuasa, 
> bahkan Mochtar, lebih 'lama' masa penindasannya, yaitu pada masa
orde 
> lama dan baru, sedangkan Pram hanya pada orde baru saja
(walaupun masa 
> pengasingan Pram di P. Buru lebih lama). Mokhtar
dua kali mengalami 
> pembreidelan,(kasus Manikebu dan harian
Indonesia Raya), sedangkan Pram 
> hanya pada masa orde baru saja.
Dari sini saja tampak bahwa Mochtar 
> lebih universal
perjuangannya terhadap totaliterisme, KKN, penghianatan 
>
terhadap demokrasi dll. Sedangkan Pram 'membisu seribu basa' kalau 
> tidak dapat dikatakan 'membonceng' arus kepentingan orde lama, vis
a 
> vis, kaum Marxis atau lebih dikenal sebagai diktator
proletariat. 
> Dalam hal ini tampaknya Pram lebih beruntung
karena trend wacana global 
> kiwari kaum humanis lebih memihak
kepadanya (Post-Marxist?), sedangkan 
> tipikal humanismenya
Mochtar kurang diminati, terkaburi oleh euphoria 
> 'post-marxist'
ini. Dapat dikatakan juga, Pram lebih piawai mengemas 
> tema,
teknik narasi, bahkan lebih kaya penguasaan wacana socio-historis, 
> sehingga tampak lebih mengena pada trend pasar humanisme global.

> 
> Selanjutnya tidak dapat dikatakan Pram sangat
eksesif meperjuangkan 
> kepentingan kaum tertindas. Sangat jelas
fakta sejarah yang merekam, 
> 'hiprokitnya' / ke diktatoran
budaya' Pram dengan Lekranya, menghantam 
> kelompok Mochtar
dengan Manikebunya. Sedangkan Mochtar tidak pernah 
> membonceng
kekuasaan siapapun (baik orde lama, orde baru, orde 
> silumanpun)
untuk menindas lawan-lawan budaya atau ideologinya 
> Hal inilah
yang membuat Mochtar dan kawan-kawan eks Manikebunya, 
> memprotes
keras pemberian hadiah Magsaysay, beberapa belas tahun yang 
>
lalu kepada Pram. Saya kira protes Mochtar dkk. Bukan karena ideologi 
> Pram, tapi lebih kepada ketidak konsistenan Pram dalam bersikap,
yang 
> terkesan pilih-pilih rezim, kritis pada suatu rezim, tapi
tidak pada 
> rezim lainnya. 
> 
> Saya juga
kurang setuju pendapat bahwa Mochtar lebih lembut paparannya 
>
dibanding Pram. Justru Mochtar lebih keras mengkritik penguasa, bahkan 
> bukan dalam bentuk sastra saja, malah langsung menyerang jantung
politik 
> kekuasaan pada masa Orba (dalam artikel-artikel
jurnalistik), khususnya, 
> sampai-sampai korannya dibreidel
(termasuk tulisan-tulisannya yang 
> mengkritik praktek-praktek
KKN di Pertamina pada masa itu).Ingat pula 
> bahwa Mochtar dapat
dikatakan mewakili etnis Sumatra/Tapanuli yang 
> dianggap lebih
lugas. 
> 
> Ada lagi hal yang 'tidak dibela' oleh Pram
(karena berlawanan 
> kepentingan/ideologi?). Taufik Ismail -
sastrawan yang sangat lembut dan 
> halus (termasuk kelompok
manikebu) dibandingkan dengan Pram maupun 
> Mochtar - malahan
pernah memaparkan fakta yang amat sangat mengerikan 
> (saya
mengikuti sendiri paparan Taufik, di Balikpapan, tahun 2001 yang 
> lalu, juga pernah dimuat di Tempo/Gatra? Tahun-tahun itu). Taufik

> kemukakan bahwa belum pernah dalam sejarah peradaban manusia
ini suatu 
> rezim ideologis yang membantai 100 JUTA MANUSIA
secara kumulatif dalam 1 
> 
> ABAD (1900 - 2000), selain
REZIM KOMUNIS DI SEANTERO DUNIA, dari Rusia, 
> Cina, Eropa Timur,
Kampuchia/Khmer, Kuba dll. (sayang sekali, tampaknya 
> saya harus
mencari-cari lagi tulisan Taufik, karena tertumpuk tidak 
> keruan
ketika menyelamatkan buku-buku dari amukan banjir Februari yang 
>
lalu). Wallahua'lam. Lebih kurangnya , mohon maaf. 
> 
>
Agus Sutoto 
> 
> PS. : Uni Yuriza, sekali2 ambil cuti ke
Jakarta, pada saat Book Fair 
> (Maret, Juni, September,
biasanya). Saya pernah dapet diskon buku 
> gila-gilaan, hanya 40
ribuan - dari harga lebih dari 100 ribuan, setebal 
>> 500
halaman. Judulnya Holy Blood, Holy Grail, lumayan baru, terbitan 
> July 2006, suatu buku yang menginspirasi The Da Vinci Code yang 
> legendaris itu. 
> 
> -----Original Message-----

> 
From: Awang Harun Satyana [mailto: [EMAIL PROTECTED] 
> <mailto:[EMAIL PROTECTED]> ] 
> Sent: Thursday, July
19, 2007 3:25 PM 
> To: [email protected] 
> Subject:
RE: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! 
> 
> Sayangnya, mengapa Mochtar Lubis mesti mengembalikan
penghargaan Raymond 
> 
> Magsaysay yang diterimanya saat
Pram diganjar penghargaan tersebut tahun 
> 1995 ? Protes karena
seorang yang dicap marxist diganjar penghargaan ? 
> Ah, itu kan
karena kisah lama perseteruan antara Mochtar Lubis dengan 
> Pram
tahun 1960-an. Asyik juga mengikuti karya sastra Mochtar Lubis, 
>
terutama "Harimau-Harimau !" 
> 
> Mbak Yuriza,
jalan-jalannya jangan hanya ke Gramedia, ke Jakarta saja 
> kalau
sedang digelar pameran buku di Senayan, 3x setahun oleh IKAPI. 
>
Banyak sekali buku bagus, dari penerbit bagus dan sangat beragam, dengan

> harga discount yang besar lagi - one stop shopping ! Mei lalu
saya dapat 
> dua buku klasik kumpulan prosa dan puisi "Gema
Tanah Air" dari H.B. 
> Jassin - masih buku2 aslinya, sudah
menguning, sisa di gudang Balai 
> Pustaka - yakin tak akan ada
dim ana pun selain di Balai Pustaka. 
> 
> Salam, 
> awang 
> 
> -----Original Message----- 
>

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Thursday, July 19, 2007 2:22 C++ 
> To:
[email protected] 
> Cc: [email protected] 
> Subject:
Re: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! 
> 
> Abah, 
> 
> Saya rasa tulisan tulisannya
Mochtar Lubis juga cantik dan berat seperti 
> Pram, dia pun juga
seorang idealis yang mengusung pesan nasionalis. 
> Sayang
semenjak tergusurnya Indonesia Raya namanya kok hilang ya ..... 
>
at 
> least dari perhatian orang umum seperti saya ... 
>
Pram dikagumi oleh "pihak luar", tapi selain dia juga ada
penulis 
> penulis 
> lain yang keren punya .... kenapa
kita cuma menengok kearah Pram ?, 
> karena 
> "orang
luar" menengok kedia?. 
> Sayangnya kalau kita jalan jalan ke
Gramed saat ini, nggak ada buku buku 
> bernuansa seperti itu
lagi, apakah jaman sudah berubah sehingga orang 
> lebih 
> global cara berpikirnya ?. 
> 
> y 
> 
> 
> 
> 
> 
> [EMAIL PROTECTED] 
> 
> 
> 
> 07/19/2007 01:51 
> To 
> PM [email protected] 
> 
> 
> cc 
> 
> 
> Please respond to 
> Subject 
> < [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Re: 
> [iagi-net-l] OOT "Saya 
> Terbakar 
> .id>
Amarah Sendirian" ! 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>

> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Awang 
> 
> Sedari saya kecil saya sudah
mengagumi Amarhum , buku buku lama eperti 
> Ceritera dari Blora ,
Keluarga Gerilya dsb saya baca berkali-kali. 
> Buku yang baru
sudah sedikit berubah , lebih romantis walaupun pesan 
> pesannya
mengeai penderitaan rakyat tertindas masih 
> mengemuka dengan
nyata . 
> 
> Apakah dia seorang marxist ? 
> 
> Menurut saya dia berfikiran atau menganut sikap / pemikiran seorang

> marxist 
> walaupun dia tidak mengakui-nya.Coba saja
baca dengan teliti pesan pesan 
> dalam buku buku-nya. 
>
Tapi dia adalah mrxist nasionalist. 
> Dia seorang nasionalist
yang mendambakan bangsa Indonesia bisa makmur 
> dan 
>
adil sejahtera , sebagimana diamanatkan dalam mukdimah Konstitusi kita.

> ==================sorry deleted to shorten
mail========================= 
> 
> 
> 
>
------------------------------------------------------------------------

> ---- 
> Hot News!!! 
> CALL FOR PAPERS: send
your abstract by 30 March 2007 to 
> [EMAIL PROTECTED] 
> Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the

> 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, 
> Bali
Convention Center, 13-16 November 2007 
>
------------------------------------------------------------------------

> ---- 
> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id 
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta 
> No. Rek: 123
0085005314 
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
> Bank BCA KCP. Manara Mulia 
> No. Rekening: 255-1088580 
> A/n: Shinta Damayanti 
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> 
> 
> 
> 
> -- 
> OK TAUFIK

> 
> 

Kirim email ke