Tambahan info saja, di dalam buku biografi ini bisa ditemukan juga ringkasan 
pendek (masing-masing satu paragraf) dari sekitar 200 publikasi Pak Katili 
(artikel di koran/majalah, paper di jurnal2 ilmiah, buku2, dan presentasi). 
Meskipun ringkas, daripadanya bisa ditelusuri bagaimana perkembangan pemikiran 
kegeologian Pak Katili. 
   
  Buku Pak Katili yang pertama, "3.000.0000 Tahun Sejarah Bumi"  (tahun 
1950-an) dan bukunya yang paling tebal "Geologi" (disusun bersama P. Marks 
untuk bagian geologi sejarah dan paleontologi) (tahun 1960-an) tentu sekarang 
sudah sangat sulit dicari.  Kedua buku itu menempati rak buku2 geologi klasik 
di rumah saya bersama buku2 geologi klasik lainnya dari Reinout van Bemmelen, 
Henry Brouwer, Umbgrove, dll.
   
  Paper2 klasik Pak Katili selama tahun 1970-an yang dimuat berbagai jurnal 
ilmiah bagus untuk dicermati sebab memuat penerapan konsep tektonik lempeng 
untuk Indonesia. Saat2 itu Pak Katili dan Warren Hamilton dari USGS bekerja 
sama meneliti geotektonik Indonesia berdasarkan konsep tektonik lempeng. 
Konsep2 tektonik yang dikemukakan Katili dan Hamilton masih bisa kita pakai 
walaupun ada beberapa di antaranya yang perlu ditinjau ulang berdasarkan data 
baru dan kemajuan konsep tektonik. 
   
  Seperti yang Mang Okim tulis, buku biografi Pak Katili ini cukup 
komprehensif, tak sia-sia usaha keenam penyusunnya mengumpulkan berbagai info. 
Kalau kebetulan jalan-jalan ke Gramedia, buku ini diletakkan di bagian 
buku-buku terbitan baru sebab umurnya belum sampai dua minggu sejak 
diluncurkan.  
   
  salam,
  awang
  
miko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Rekan-rekan IAGI yang budiman,
   
  Buku  Biografi J.A.Katili, HARTA BUMI INDONESIA,   yang yang mang Okim terima 
dengan pesan  : Untuk Sdr. Ir. Soejatmiko, disertai  salam ( tanda tangan Bapak 
J.A.Katili ), 25 Juli 2007 benar-benar sangat membahagiakan mang Okim. 
Bagaimana tidak bahagia mendapatkan perhatian begitu besar dari seorang tokoh  
super beken seperti  Prof. Katili. Padahal, kalau tidak dikirimpun insyaallah 
mang Okim akan membelinya juga di Gramedia karena mang Okim yakin isinya  
pastilah akan memberikan motivasi dan inspirasi kepada kita semua untuk doing 
good wherever you are and whatever you do ( meminjam prinsip Pak Untung ).
   
  Keyakinan mang Okim ternyata tidak meleset . Buku biografi setebal 421 
halaman tersebut , yang dikemas dengan elok , sungguh sangat mempesona. 
Kisah-kisah geologi  dan kehidupan disampaikan dengan untaian kata-kata yang 
sangat indah dan puitis seperti antara lain : Una-Una, Sorga di Tepi Bencana - 
- - - -  Dari Kampus Mengukir Matahari - - - - - Track record kegiatan John di 
Blantika Geologi Tidak Bertepi dan Jauh dari Sanjungan Media Massa  - - - - - 
Gelar Dijunjung Hingga ke Ujung - - - - -dll. Di buku inilah  mang Okim baru 
tahu bahwa Prof. Katili yang berprinsip there is no journey's end for a 
fighting man lahir dari suatu lingkungan yang sangat agamis sehingga tidak 
heran  kalau dalam setiap pembahasan selalu terselip kalimat-kalimat yang sarat 
dengan nilai-nilai spiritual, nilai-nilai cinta dan nilai-nilai pengabdian . 
Dan di buku ini pulalah mang Okim diingatkan akan para founders geologi 
Indonesia seperti Pak Soetarjo Sigit , Pak Yohannas, Pak Sartono almarhum,
 Pak Sukendar Asikin, Pak Klompe ( si jagal ! ) , dll. Selain dari itu, 
komentar yang diberikan oleh Pak Beni Wahju, Pak Suparka  dan Pak Sukendar 
Asikin melengkapi kehebatan  Prof. Katili khususnya  dalam kaitannya dengan 
konsep Tectonic Indonesia dan New Global Tectonic , dan dalam membimbing dan 
mencetak kader-kader ahli geologi penerus.
   
  Kisah masa kecil Prof. Katili tak kalah menariknya. Selain kecerdasan 
intelektual yang telah dilimpahkan Tuhan kepadanya sejak kecil , keinginan 
kuatnya untuk dapat survive dalam kehidupan ditunjukkannya misalnya dengan 
belajar silat dan mandi kebal. Mungkin karena hal inilah maka dalam dua 
peristiwa yang nyaris merenggut jiwanya yaitu jatuh ke sumur sedalam 4 meteran 
dan jatuh dari bubungan atap rumah, John kecil tidak sampai cedera . Membaca 
pengalaman masa kecil Pak Katili ini yang diuraikan dengan sangat menarik, 
mengingatkan mang Okim akan pengalaman sendiri - - - - - nostalgia !
   
  Rekan-rekan IAGI yang budiman,
   
  Suatu hari di tahun 1990 an, mang Okim dipanggil oleh Prof. Katili ke kantor 
beliau di Jakarta. Ketika itu Prof. Katili menjabat sebagai Penasehat Ahli 
Menteri Pertamben Bidang Geologi dan SDM. Beliau rupanya mendengar banyak 
tentang nasib dan kegiatan mang Okim di bidang batumulia khususnya yang 
berkaitan dengan temuan terbaru yaitu giok Jawa  di daerah Banjarnegara ( di 
utara kawasan Karangsambung ) . 
   
  Setelah Prof. Katili  mendengarkan penjelasan mang Okim, spontan  kesibukan 
beliau ditinggalkan  dan  mang Okim diajak ke teman pengusaha beliau yang 
tinggal cukup jauh dari kantor beliau di Jl. Gatot Subroto.  Walaupun upaya 
beliau tidak membuahkan hasil karena teman pengusaha beliau kebetulan banyak 
kesibukan di luar negeri, spontanitas beliau dalam memikirkan dan 
memperjuangkan  kemajuan " anak buah " dan para junior beliau sangat dikenal 
luas di banyak kalangan. Ketika mang Okim mendapatkan musibah  di akhir tahun 
1985 , Prof. Katililah  yang dengan spontan menjanjikan membawa persoalan mang 
Okim ke sidang Menteri.
   
  Dari kisah tersebut di atas, tak heranlah kalau dalam kunjungan Prof. Katili  
ke Yogyakarta tahun 1989 untuk pamitan di akhir tugasnya sebagai Dirjen Geologi 
dan SDM , Seksi Penyelidikan Gunung Merapi Yogyakarta menyerahkan 
kenang-kenangan  dengan pesan yang sangat tulus :
   
  Bapak yang baik,
  Kau telah curahkan jiwa raga dan pikiran untuk nusa dan bangsa Indonesia,
  Pula untuk kemajuan vulkanologi,
   
  Serasa ingin kami persembahkan untukmu,
  Gunung Merapi berlapiskan emas,
  Sebagai tanda terima kasih kami - - - - kepadamu !
   
   
  Semoga Prof. Katili dan Ibu Ileana Syarifa Uno dipanjangkan umur dan 
dilimpahi rakhmat dan berkah serta kebahagiaan dunia dan akhirat.
   
  Dan kepada para penyusun  yang dikoordinir oleh Amanda Katili Ph.D., mang 
Okim menyampaikan selamat atas keberhasilan para penyusun dalam mengemas dan 
meramu data dan fakta sehingga buku Geografi J.A.Katili : Harta Bumi Indonesia 
menjadi suatu karya tulis yang sangat pantas untuk dibaca dan disimak, tidak 
saja oleh para ahli kebumian, tetapi juga oleh masyarakat Indonesia yang 
berkeinginan mengasah jiwanya untuk menjadi insan yang tangguh dan berhasil 
seperti halnya  Prof. J.A.Katili - - - - - For a fighting man, there is no 
journey's end !!!!!
   
  Salam batumulia, mang Okim
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   


       
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

Kirim email ke