> 
 Awang 

Spirit untuk melakukan itu
jelas ada , kalau Anda ingat IAGI pernah menerbitkan buku rangkuman ( wah
saya lupa judul persis-nya...............) .
Komandan-nya waktu itu
Herman Darman , dijual di AAPG Int'l Conress di Bali tahun 2000, dan
anehnya (????) , kok ndak laku ya ???
Tapi pertanyaan yang pokok ,
dan menjadi diskusi waktu itu adalah :"Apakah memeng perlu dan
diperlukan" merangkum geologi Indonesia seperti yang dilakukan
oleh RW van Bemmelen , di hari ginee. ????
Jadi cost and benefit-nya
begituuuu.

Si-Abah

_______________________________________________________________________











i
Indonesia. 
> Penyelidikan geologi di Indonesia dimulai tahun
1850. Sampai menjelang 
> tahun 1940 itu katanya ada sekitar 6000
laporan dan artikel geologi 
> tentang Indonesia yang diterbitkan
oleh Dinas Pertambangan maupun dimuat 
> di majalah2 ilmu
pengetahuan alam saat itu. Sebanyak itulah yang mesti 
> dipilih2,
diringkas, ditelaah, dan dikompilasi. 
> 
> 
> 
> Siapa yang mau ditugasi menyusun pekerjaan raksasa itu ? Pilihan
jatuh 
> ke Reinout van Bemmelen. Maka dimulailah pekerjaan
raksasa itu. Setelah 
> sekitar tiga tahun bekerja, datanglah
Jepang, dan van Bemmelen termasuk 
> yang ditahan dan dikirim ke
Saigon sebagai interniran (tahanan). Banyak 
> manuskrip buku
geologinya hilang entah ke mana. Pulang dari tahanan, 
> walaupun
Indonesia telah merdeka tahun 1945, tidak serta merta Dinas 
>
Pertambangan Belanda diserahkan ke Indonesia; masih banyak geoloog 
> Belanda yang bekerja, bersama orang2 Indonesia tentunya; bahkan di

> Hollandia sana (Jayapura maksudnya) pada tahun 1988 saya masih
menemukan 
> buku lapangan kepunyaan G.A.F. Molengraaff berangka
tahun 1962 saat dia 
> menjalani Cycloops Mountains dan Sarmi di
perbatasan dengan PNG 
> (kebetulan saat itu saya sedang cuti
kuliah dan bekerja menerjemahkan 
> laporan2 geologi Belanda di
Papua untuk sebuah perusahaan emas dari 
> Australia). 
>

> 
> 
> Empat tahun kemudian (1945-1949),
terbitlah buku van Bemmelen yang 
> monumental itu (van Bemmelen,
1949), berarti van Bemmelen mengerjakan 
> buku itu total sekitar
7-8 tahun, empat tahun sebelum Jepang datang, 
> empat tahun
setelah Indonesia merdeka. Tiga buku dia terbitkan : Geologi 
>
Umum, Geologi Ekonomi, Daftar Referensi, dan satu folder berisi puluhan

> peta berukuran lebar. Kemudian, ternyata buku van Bemmelen
bertahan 
> sampai sekarang, hampir 60 tahun. Saya pikir jarang
ada buku keluaran 
> 1940an masih diacu sampai sekarang. Apakah
kita semua pernah memegang 
> buku-buku van Bemmelen, bukunya
berat, karena tebalnya 732 halaman dan 
> memang bukunya berukuran
besar, berwarna hijau. Buku cetakan keduanya 
> diterbitkan lagi
(tanpa perbaikan apa pun, hanya penambahan referensi) 
> tahun
1972. 
> 
> 
> 
> Jadi, buku van Bemmelen
itu disusun sebenarnya sebagai buku laporan 
> pertanggungjawaban
pekerjaan. Memang beberapa kali Belanda membuat buku2 
> semacam
itu untuk menutup periode suatu pekerjaan. Misalnya Verbeek dan 
>
Fennema tahun 1896 menerbitkan buku monumental geologi Pulau Jawa (de 
> Geologische Beschrijving van Java) sebagai pertanggungjawaban 
> penyelidikan geologi di Jawa sejak 1850-hampir 1900. Untuk
Indonesia ? 
> Pertama kali dikeluarkan oleh Henry Brouwer (1927),
pernah juga M.G. 
> Rutten, tetapi yang komprehensif hanyalah
buatan van Bemmelen (1949). 
> 
> 
> 
>
Katakanlah bangsa Indonesia mulai mengambil alih secara penuh semua 
> pekerjaan geologi di Indonesia sejak 1969, ini berdarkan program

> Pembangunan Jangka Panjang (PJP) Tahap I, 30 tahun, yang
dibagi-bagi ke 
> dalam Repelita lima tahunan. Akhir PJP I adalah
tahun 1999. Pekerjaan 
> geologi selama 30 tahun ini sangat pesat
karena tenaga ahlinya banyak 
> dan orangnya (para pekerja) pun
banyak, dananya juga disediakan. 
> Dikatakan bahwa sampai 1999
sekitar 85 % wilayah Indonesia telah 
> dipetakan. Sebelum Pak
Harto lengser, hasil penelitian selama PJP I ini 
> telah
dipresentasikan di depan Pak Harto pada tahun 1996/1997. Adakah 
>
buku pertanggungjawabannya ? Pak Rab Sukamto dari P3G (sekarang PSG - 
> Pusat Survei Geologi) pada tahun 2000 mengeluarkan buku berjudul

> "Pengetahuan Geologi Indonesia : Tantangan dan
Pemanfaatan" (Publikasi 
> Khusus P3G No. 22, Oktober 2000,
91 halaman). Di dalamnya, memuat 
> hasil-hasil ringkasan
penyelidikan geologi di Indonesia selama 30 tahun 
> sebelumnya,
peta2 skala seluruh Kepulauan Indonesia ditampilkan. Ini 
> jelas
dimaksudkan bukan sebagai buku pertanggungjawaban ala Verbeek dan 
> Fennema untuk Jawa, dan van Bemmelen untuk Indonesia, tetapi
sebagai 
> laporan ringkasan saja. 
> 
> 
> 
> Tahun 1979, Warren Hamilton dari USGS menerbitkan
"Tectonics of the 
> Indonesian Region", tahun 1985
Katili mengeluarkan buku kumpulan 
> paper2nya, tahun 1989 Charles
Hutchison dari Universiti Kebangsaan 
> Malaysia menerbitkan
"Geological Evolution of SE Asia", dan Robert Hall 
>
serta Derek Blundell tahun 1996 (sebagai editors) menerbitkan
"Tectonic 
> Evolution of SE Asia". Tahun 2000, 25
penulis (diorganisasi dan di-edit 
> oleh Herman Darman dan Hasan
Sidi) menerbitkan buku "An Outline of the 
> Geology of
Indoneisa" sebagai awal pembaharuan 50 tahun buku van 
>
Bemmelen. Tahun 2003, P3G mengeluarkan "Atlas Geologi dan Potensi 
> Sumberdaya Mineral dan Energi Kawasan Indonesia Skala 1 :
10.000.000", 
> di dalamnya dapat ditemukan puluhan peta
geologi hasil penyelidikan 
> geologi di Indonesia selama ini.
Buku ini bagus dipakai untuk melihat 
> geologi regional Indonesia
dalam berbagai aspek. Keenam buku tersebut 
> adalah buku-buku
terpenting untuk mengetahui geologi Indonesia secara 
> regional
dan beberapa bisa cukup detail. 
> 
> 
> 
> Adakah publikasi detail pertanggungjawaban macam Verbeek dan
Fennema 
> (1896) atau van Bemmelen (1949) sebagai hasil
penyelidikan 30 tahun itu 
> ?. Tidak ada. Atlas peta geologi
(P3G, 2003) mungkin dimaksudkan sebagai 
> laporan
pertanggungjawaban, tetapi tak ada bukunya. 
> 
> 
> 
> Apakah kita bisa memperbaharui buku van Bemmelen (1949)
menggunakan 
> semua data yang sudah kita punyai sampai sekarang,
dan semua publikasi 
> yang telah kita punyai sampai sekarang ?
Berdasarkan kemampuan, tentu 
> saja kita bisa. Berapa banyak
profesor, doktor, dan master yang sudah 
> kita punyai ? Berapa
banyak perguruan tinggi yang membuka jurusan 
> geologi yang sudah
kita punyai ? Berapa banyak lembaga-lembaga riset 
> geologi yang
sudah kita punyai ? Berapa banyak organisasi profesi 
> geosains
yang sudah kita punyai ? Menurut hemat saya, itu sudah lebih 
>
dari cukup kalau untuk menyusun buku seperti yang van Bemmelen 
>
keluarkan. Lalu, mengapa dong kita tak kunjung menerbitkan buku
"Geology 
> of Indonesia" terbitan baru ? Kata Prof.
Adjat Sudradjat pada suatu 
> obrolan bersama beliau, "karena
kita sekarang terlalu banyak orang 
> pintarnya, sehingga gak
jadi-jadi" Ini tentu kata-kata bersayap. 
> 
> 
> 
> Seingat saya IAGI pernah punya komisi (atau task force
?) pembaharuan 
> buku van Bemmelen awal tahun 1990an di bawah
komando alm. Dr. Bona 
> Situmorang, tetapi ini tidak berjalan
sebab mungkin Pak Bona saat itu 
> sibuk di berbagai kegiatan dan
organisasi (termasuk Timor Gap). 
> 
> 
> 
> Nah, apakah kita memang perlu memperbaharui buku van Bemmelen
(1949) ? 
> Atau cukup puas dengan publikasi2 yang ada yang cukup
detail seperti 
> Hamilton (1979), Hutchison (1989) dan Hall dan
Blundell (1996) dan atlas 
> peta-peta geologi (P3G, 2003) dan
ribuan publikasi selama ini yang 
> tersebar di mana2. Dengan cara
begitu, berarti kalau kita mau mengetahui 
> geologi suatu daerah
di Indonesia, maka kita mesti mengumpulkan semua 
> publikasi
tentang daerah itu lalu mempelajarinya satu demi satu. 
> 
> 
> 
> Lalu, kalau kita mau memperbaharui buku van
Bemmelen (1949), siapa yang 
> seharusnya menyusun buku itu ?
Badan Geologi (Pusat Survei Geologi) ? 
> Konsorsium perguruan
tinggi ? IAGI ? Lembaga-lembaga riset geologi 
> (seperti Pusat
Geoteknologi LIPI) ? Perusahaan-perusahaan Konsultan 
> Geologi ?

> 
> 
> 
> Keluar dari itu, buku van
Bemmelen (1949, 1972) masih baik sekali 
> dipakai untuk
mengetahui geologi di pelosok pulau mana pun di Indonesia; 
>
sekalipun sintesisnya masih menggunakan teori-teori yang dulu 
>
dikembangkannya di rantai pegunungan di Spanyol (Beltic) dan diilhami 
> konsep geo-tumor Haartman tahun 1920-1930-an. Sebagai contoh, bisa
dicek 
> di keterangannya tentang asal Laut Banda. 
> 
> 
> 
> Demikian, untuk kita pikirkan bersama kalau
kita cukup peduli dengan 
> Geologi Indonesia. 
> 
> 
> 
> Salam, 
> 
> awang 
>

> 
> 
> 
> 
> 

Kirim email ke