Sekedar membagikan cerita....

Tahun 1999, FOSI menyelenggarakan seminar Tectonics and Sedimentation of 
Southeast Asia. Ide ini disarankan oleh pak Yahdi Zaim (ITB) waktu saya 
berkunjung ke tempatnya setahun sebelumnya. Seminar ini dibuat dalam rangka 
memperingati 50 tahun buku van Bemmelen. Kami mendapat respons yang sangat baik 
dari tokoh-tokoh geologi Indonesia dan juga organisasi geologi di Belanda. 
Organisasi ini bahkan mengirimkan wakilnya untuk memberikan kata sambutan.

Sebenarnya seminar ini juga dimaksudkan untuk mengumpulkan data dan jaringan 
untuk pembaharuan buku geologi Indonesia. Jadi setelah seminar 1999, saya 
bekerja sama dengan Hasan Sidi dan rekan-rekan lainnya untuk menyusun buku 
tersebut. Buku Outline of the Geology of Indonesia terbit setahun berikutnya 
(2000) dengan sponsor IAGI. Pak Yanto 'Abah' Sumantri, sebagai ketua IAGI 
mendukung penuh. Buku ini terbit cepat (1 tahun) juga karena "kekawatiran", 
istilahnya Ismail Zaini. Kekawatiran ini disebabkan perusahaan tempat saya 
bekerja dulu memutuskan untuk menutup kegiatan eksplorasi, jadi saya harus 
minggat. Padahal perpustakaannya seperti museum, ... maklum salah satu operator 
tertua di Indonesia. Saya khawatir kalau saya tidak selesaikan tahun 2000, 
proyek yang direstui IAGI ini tidak jalan, dan saya tidak ada akses ke 
perpustakaan museum itu lagi. 

Beberapa kali saya diskusi dengan kawan-kawan, termasuk pak Awang, untuk 
membuat publikasi on-line. 
Systemnya: siapa mau boleh kontribusi dan siapa mau silahkan print-out, tapi 
perlu di edit dan di evaluasi. Jadi saya pikir mengenai sistem homepage atau 
blog. Hal ini saya usulkan karena dari penyusunan buku IAGI tersebut, saya 
belajar:
1. pencetakan / penerbitan buku itu sangat kaku. Begitu naik cetak tidak bisa 
dirubah atau diedit. Kalau masih bersifat elektronik, serba flexible.
2. biayanya sangat tinggi. Jadi terbatas dalam menerbitkan gambar berwarna. 
Dengan demikian kita kerja lebih banyak untuk mengalihkan gambar berwarna ke 
hitam putih. Beberapa gambar jadi kurang informatif.
3. begitu kita terbit, langsung kita dapat masukkan, sanggahan dan kritik. 
Tentunya kita tidak bisa menanggapi karena sudah naik cetak. 
4. data geologi Indonesia sangat banyak. van Bemmelen hanya mencakup geologi 
onshore. Sekarang sudah banyak offshore. Pertamina BPPKA pernah juga 
menerbitkan seri terbitan "Petroleum Geology of Indonesian Basins" (saya ikut 
kontribusi di 2 volume), sayang gambarnya banyak yang tidak bagus setelah 
dicetak. Ini hanya editorial problem, perlu pengalaman memang.

Saya sekarang lihat dari report USGS, semuanya pakai PDF. Kalau ada yang mau 
beli / minta bisa dikasih CD-ROM.

Semua proyek ini, tidak disponsor oleh perusahaan. Dikerjakan pada waktu luang 
setelah prioritas keluarga dan pekerjaan terselesaikan. Saya salut kepada 
kawan-kawan yang menyumbangkan pikiran, tulisan, tenaga untuk buku An Outline 
of the Geology of Indonesia ini. Benar-benar kerja bakti untuk negara. 

Kenapa saya mau mengerjakannya,...saya mau membuktikan orang Indonesia mampu. 
Seperti iklan Nike: Just do it.

Salam,

Herman Darman


-----Original Message-----
From: Ismail Zaini [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 05 September 2007 11:32
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Siapa yang Harus Memperbaharui Buku "Geologi
Indonesia" ?


Kalau dilihat dari paparan P.Awang ini , terbitnya Buku geologi Van Bemmelen 
ini mungkin didasari oleh "Kekawatiran"  akan lenyapnya data data geologi yg 
telah diperoleh semasa jaman Belanda apabila terjadi pergantian pemerintahan 
( adanya gelagat akan merdeka ) , disinilah "Kejelian" Dinas Pertambangan 
waktu itu untuk mendorong mengkompilasi data data geologi tsb dalam sebuah 
buku dan yg terpilih mengemban Tugas tsb  Van Bemmelen.shg menjadi hasil 
karya yg monumental sampai sekarang
Apakah Buku tsb perlu diperbaharui ?
Untuk mengerjakan pekerjaan  ini menyangkut biaya , tenaga ahli , dan waktu 
, shg harus dikerjakan oleh suatu institusi dan tentunya diperlukan suatu 
"Alasan" untuk mendapatkan skala prioritas .
Kalau dulu untuk mendorong terbitnya buku Van Bemmelan "hanya" tingkat 
"Dinas" ( Dinas Pertambangan Bdg ) , maka sekarang mungkin kelasnya sudah 
harus  "Badan" ( Badan Geologi , LIPI atau badan lain yg berkompeten). oleh 
Karena itu sumberdananya  dg APBN ( bisa APBN murni , bisa dg campuran dg 
dana swasta/kampeny atau bahkan kalau diperlukan bisa melibatkan institusi 
LN dg grant , mungkin juga Pihak Belanda tertarik dg Proyek ini ), Atau bisa 
juga dibentuk dg Tim antar Dept/Institusi ( Semacan Timnas gitu ) karena 
akan menyangkut akses data lintas sektoral. hal ini penting karena sekarang 
ini banyak sekali institusi 2 yang ngurusi penelitaian / data G&G dan kadang 
kadang saling overlap , oleh karenanya banyak data yg tersimpan di masing 2 
institusi tsb , yang kadang 2 sesama institusi saja sulit untuk 
memperolehnya.
Mengacu ke waktu penyelesaian kalau dulu dibutuhkan waktu 7-8  thn untuk 
menyelesaikan bukunya V.Bem , maka proyek ini nantinya juga bisa multi years 
mengingat alokasi dana yang besar shg anggaran bisa di bagi bagi.


ISM


----- Original Message ----- 
From: "Awang Harun Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Monday, September 03, 2007 7:18 PM
Subject: [iagi-net-l] Siapa yang Harus Memperbaharui Buku "Geologi 
Indonesia" ?


R.W. van Bemmelen datang ke Indonesia menjelang tahun 1930, bertugas di
Dienst van Het Mijnwezen (Dinas Pertambangan) di Bandung, diberi tugas
utama mengamati beberapa gunungapi aktif di Jawa dan memetakan lembar
Bandung. Tahun 1936 terbitlah peta geologi Bandung (van Bemmelen, 1936).
Sementara itu, laporan2 dari para geoloog Belanda berdatangan terus.
Menjelang tahun 1940, ada gelagat Indonesia mau merdeka, ada pikiran
dari para petinggi Dinas Pertambangan di Bandung dan para pengawasnya di
Jakarta dan Holland agar segera dibuat laporan tentang geologi Indonesia
hasil pekerjaan Belanda selama hampir 100 tahun di Indonesia.
Penyelidikan geologi di Indonesia dimulai tahun 1850. Sampai menjelang
tahun 1940 itu katanya ada sekitar 6000 laporan dan artikel geologi
tentang Indonesia yang diterbitkan oleh Dinas Pertambangan maupun dimuat
di majalah2 ilmu pengetahuan alam saat itu. Sebanyak itulah yang mesti
dipilih2, diringkas, ditelaah, dan dikompilasi.



Siapa yang mau ditugasi menyusun pekerjaan raksasa itu ? Pilihan jatuh
ke Reinout van Bemmelen. Maka dimulailah pekerjaan raksasa itu. Setelah
sekitar tiga tahun bekerja, datanglah Jepang, dan van Bemmelen termasuk
yang ditahan dan dikirim ke Saigon sebagai interniran (tahanan). Banyak
manuskrip buku geologinya hilang entah ke mana. Pulang dari tahanan,
walaupun Indonesia telah merdeka tahun 1945, tidak serta merta Dinas
Pertambangan Belanda diserahkan ke Indonesia; masih banyak geoloog
Belanda yang bekerja, bersama orang2 Indonesia tentunya; bahkan di
Hollandia sana (Jayapura maksudnya) pada tahun 1988 saya masih menemukan
buku lapangan kepunyaan G.A.F. Molengraaff berangka tahun 1962 saat dia
menjalani Cycloops Mountains dan Sarmi di perbatasan dengan PNG
(kebetulan saat itu saya sedang cuti kuliah dan bekerja menerjemahkan
laporan2 geologi Belanda di Papua untuk sebuah perusahaan emas dari
Australia).



Empat tahun kemudian (1945-1949), terbitlah buku van Bemmelen yang
monumental itu (van Bemmelen, 1949), berarti van Bemmelen mengerjakan
buku itu total sekitar 7-8 tahun, empat tahun sebelum Jepang datang,
empat tahun setelah Indonesia merdeka. Tiga buku dia terbitkan : Geologi
Umum, Geologi Ekonomi, Daftar Referensi, dan satu folder berisi puluhan
peta berukuran lebar. Kemudian, ternyata buku van Bemmelen bertahan
sampai sekarang, hampir 60 tahun. Saya pikir jarang ada buku keluaran
1940an masih diacu sampai sekarang. Apakah kita semua pernah memegang
buku-buku van Bemmelen, bukunya berat, karena tebalnya 732 halaman dan
memang bukunya berukuran besar, berwarna hijau. Buku cetakan keduanya
diterbitkan lagi (tanpa perbaikan apa pun, hanya penambahan referensi)
tahun 1972.



Jadi, buku van Bemmelen itu disusun sebenarnya sebagai buku laporan
pertanggungjawaban pekerjaan. Memang beberapa kali Belanda membuat buku2
semacam itu untuk menutup periode suatu pekerjaan. Misalnya Verbeek dan
Fennema tahun 1896 menerbitkan buku monumental geologi Pulau Jawa (de
Geologische Beschrijving van Java) sebagai pertanggungjawaban
penyelidikan geologi di Jawa sejak 1850-hampir 1900. Untuk Indonesia ?
Pertama kali dikeluarkan oleh Henry Brouwer (1927), pernah juga M.G.
Rutten,  tetapi yang komprehensif hanyalah buatan van Bemmelen (1949).



Katakanlah bangsa Indonesia mulai mengambil alih secara penuh semua
pekerjaan geologi di Indonesia sejak 1969, ini berdarkan program
Pembangunan Jangka Panjang (PJP) Tahap I, 30 tahun, yang dibagi-bagi ke
dalam Repelita lima tahunan. Akhir PJP I adalah tahun 1999. Pekerjaan
geologi selama 30 tahun ini sangat pesat karena tenaga ahlinya banyak
dan orangnya (para pekerja) pun banyak, dananya juga disediakan.
Dikatakan bahwa sampai 1999 sekitar 85 % wilayah Indonesia telah
dipetakan. Sebelum Pak Harto lengser, hasil penelitian selama PJP I ini
telah dipresentasikan di depan Pak Harto pada tahun 1996/1997. Adakah
buku pertanggungjawabannya ? Pak Rab Sukamto dari P3G (sekarang PSG -
Pusat Survei Geologi) pada tahun 2000 mengeluarkan buku berjudul
"Pengetahuan Geologi Indonesia : Tantangan dan Pemanfaatan" (Publikasi
Khusus P3G No. 22, Oktober 2000, 91 halaman). Di dalamnya, memuat
hasil-hasil ringkasan penyelidikan geologi di Indonesia selama 30 tahun
sebelumnya, peta2 skala seluruh Kepulauan Indonesia ditampilkan. Ini
jelas dimaksudkan bukan sebagai buku pertanggungjawaban ala Verbeek dan
Fennema untuk Jawa, dan van Bemmelen untuk Indonesia, tetapi sebagai
laporan ringkasan saja.



Tahun 1979, Warren Hamilton dari USGS menerbitkan "Tectonics of the
Indonesian Region", tahun 1985 Katili mengeluarkan buku kumpulan
paper2nya, tahun 1989 Charles Hutchison dari Universiti Kebangsaan
Malaysia menerbitkan "Geological Evolution of SE Asia", dan Robert Hall
serta Derek Blundell tahun 1996 (sebagai editors) menerbitkan "Tectonic
Evolution of SE Asia". Tahun 2000, 25 penulis (diorganisasi dan di-edit
oleh Herman Darman dan Hasan Sidi) menerbitkan buku "An Outline of the
Geology of Indoneisa" sebagai awal pembaharuan 50 tahun buku van
Bemmelen. Tahun 2003, P3G mengeluarkan "Atlas Geologi dan Potensi
Sumberdaya Mineral dan Energi Kawasan Indonesia Skala 1 : 10.000.000",
di dalamnya dapat ditemukan puluhan peta geologi hasil penyelidikan
geologi di Indonesia selama ini. Buku ini bagus dipakai untuk melihat
geologi regional Indonesia dalam berbagai aspek. Keenam buku tersebut
adalah buku-buku terpenting untuk mengetahui geologi Indonesia secara
regional dan beberapa bisa cukup detail.



Adakah publikasi detail pertanggungjawaban macam Verbeek dan Fennema
(1896) atau van Bemmelen (1949) sebagai hasil penyelidikan 30 tahun itu
?. Tidak ada. Atlas peta geologi (P3G, 2003) mungkin dimaksudkan sebagai
laporan pertanggungjawaban, tetapi tak ada bukunya.



Apakah kita bisa memperbaharui buku van Bemmelen (1949) menggunakan
semua data yang sudah kita punyai sampai sekarang, dan semua publikasi
yang telah kita punyai sampai sekarang ? Berdasarkan kemampuan, tentu
saja kita bisa. Berapa banyak profesor, doktor, dan master yang sudah
kita punyai ? Berapa banyak perguruan tinggi yang membuka jurusan
geologi yang sudah kita punyai ? Berapa banyak lembaga-lembaga riset
geologi yang sudah kita punyai ? Berapa banyak organisasi profesi
geosains yang sudah kita punyai ? Menurut hemat saya, itu sudah lebih
dari cukup kalau untuk menyusun buku seperti yang van Bemmelen
keluarkan. Lalu, mengapa dong kita tak kunjung menerbitkan buku "Geology
of Indonesia" terbitan baru ? Kata Prof. Adjat Sudradjat pada suatu
obrolan bersama beliau, "karena kita sekarang terlalu banyak orang
pintarnya, sehingga gak jadi-jadi" Ini tentu kata-kata bersayap.



Seingat saya IAGI pernah punya komisi (atau task force ?) pembaharuan
buku van Bemmelen awal  tahun 1990an di bawah komando alm. Dr. Bona
Situmorang, tetapi ini tidak berjalan sebab mungkin Pak Bona saat itu
sibuk di berbagai kegiatan dan organisasi (termasuk Timor Gap).



Nah, apakah kita memang perlu memperbaharui buku van Bemmelen (1949) ?
Atau cukup puas dengan publikasi2 yang ada yang cukup detail seperti
Hamilton (1979), Hutchison (1989) dan Hall dan Blundell (1996) dan atlas
peta-peta geologi (P3G, 2003) dan ribuan publikasi selama ini yang
tersebar di mana2. Dengan cara begitu, berarti kalau kita mau mengetahui
geologi suatu daerah di Indonesia, maka kita mesti mengumpulkan semua
publikasi tentang daerah itu lalu mempelajarinya satu demi satu.



Lalu, kalau kita mau memperbaharui buku van Bemmelen (1949), siapa yang
seharusnya menyusun buku itu ? Badan Geologi (Pusat Survei Geologi) ?
Konsorsium perguruan tinggi ? IAGI ? Lembaga-lembaga riset geologi
(seperti Pusat Geoteknologi LIPI) ? Perusahaan-perusahaan Konsultan
Geologi ?



Keluar dari itu, buku van Bemmelen (1949, 1972) masih baik sekali
dipakai untuk mengetahui geologi di pelosok pulau mana pun di Indonesia;
sekalipun sintesisnya masih menggunakan teori-teori yang dulu
dikembangkannya di rantai pegunungan di Spanyol (Beltic) dan diilhami
konsep geo-tumor Haartman tahun 1920-1930-an. Sebagai contoh, bisa dicek
di keterangannya tentang asal Laut Banda.



Demikian, untuk kita pikirkan bersama kalau kita cukup peduli dengan
Geologi Indonesia.



Salam,

awang








----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION:
228 papers have been accepted to be presented;
send the extended-abstract or full paper
by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and 
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION:
228 papers have been accepted to be presented;
send the extended-abstract or full paper
by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and 
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke