Pak Awang, Kalau melihat perpustakaan di Jayapura atau daerah lain . . . banyak sekali buku-buku kuno geologi peninggalan geologist Belanda, entah bagaimana nasib buku-buku berupa laporan, journal dsb (original) yang mulai lusuh dan lapuk.
"Andaikata" buku-buku itu bisa dibeli oleh geologist penyayang buku, mungkin nasib buku-buku tersebut akan lebih aman dari keapekan, lusuh dan lapuk - cuma bagaimanapun itu milik perpustakaan nasional yang tidak diperdagangkan?. "Terbukti" kaset-kaset era 70-an dan 80-an yang mulai lapuk di Cihapit Bandung, masih nyaring bunyinya ditangan kolektor penggemarnya. Atau furnitur peninggalan zaman Majapahit-pun masih baik kondisinya ditangan perorangan?! Semoga ada yang lebih peduli dengan buku yang ada, tidak hanya peduli untuk memperbaruhi khasanah buku geologi. p.s.: hal yang klasik, anggaran pemeliharaan tidak cukup?! Salam, SR On 9/4/07, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > R.W. van Bemmelen datang ke Indonesia menjelang tahun 1930, bertugas di > Dienst van Het Mijnwezen (Dinas Pertambangan) di Bandung, diberi tugas > utama mengamati beberapa gunungapi aktif di Jawa dan memetakan lembar > Bandung. Tahun 1936 terbitlah peta geologi Bandung (van Bemmelen, 1936). > Sementara itu, laporan2 dari para geoloog Belanda berdatangan terus. > Menjelang tahun 1940, ada gelagat Indonesia mau merdeka, ada pikiran > dari para petinggi Dinas Pertambangan di Bandung dan para pengawasnya di > Jakarta dan Holland agar segera dibuat laporan tentang geologi Indonesia > hasil pekerjaan Belanda selama hampir 100 tahun di Indonesia. > Penyelidikan geologi di Indonesia dimulai tahun 1850. Sampai menjelang > tahun 1940 itu katanya ada sekitar 6000 laporan dan artikel geologi > tentang Indonesia yang diterbitkan oleh Dinas Pertambangan maupun dimuat > di majalah2 ilmu pengetahuan alam saat itu. Sebanyak itulah yang mesti > dipilih2, diringkas, ditelaah, dan dikompilasi. > > delete-------- >

