Pak Slamet,

Waktu dua minggu (Juni 1988) saya bekerja di perpustakaan Kanwil Dep.
Pertambangan di Jayapura, memang ada ratusan laporan geologi yang
sebagian tidak pernah saya lihat di perpustakaan P3G di Bandung. Kita
tahu Papua adalah wilayah yang paling terakhir ditinggalkan Belanda,
jadi laporan tentang Papua di sana cukup banyak. Kondisi laporannya
sebagian masih bagus karena disimpan rapih di lemari kaca, sebagian lagi
disimpan seadanya, ditumpuk tak keruan termasuk fieldbook Molengraaf,
Zwierzicky, dll.

Waktu saya suka baca2 laporan geologi di perpustakaan P3G Bandung semasa
kuliah (1983-1989), perpustakaan menggunakan sistem tertutup. Kita pilih
laporan di katalog, mencatat di secarik kertas yang disediakan, dan
menyerahkannya ke petugas perpustakaan. Laporan yang diperlukan hampir
selalu ada.

Tahun 2000, saya kembali ke perpustakaan P3G itu, kaget kini
perpustakaan sudah terbuka. Para pengunjung bebas mengambil
buku/laporan2 yang diperlukannya. Tetapi, dalam pandangan sekilas saja
kita akan tahu bahwa telah banyak laporan yang hilang atau rusak. Sayang
sekali...

Waktu saya masih di Pertamina Balikpapan 1990-1995, perpustakaan
eksplorasi Pertamina menyimpan banyak laporan geologi Belanda berangka
tahun 1900-1930, ada di antaranya laporan2 masuk ke pedalaman Kalimantan
yang paling dalam seperti ke Peg. Muller, dll, lengkap dengan foto2 asli
rumah Lamin Dayak. Waktu eksplorasi Pertamina pindah ke Jakarta 1996,
saya tak tahu lagi nasib puluhan laporan Belanda klasik itu. Itu
digolongkan sebagai arsip non-aktif dan kalau non-aktifkan ya dipetikan
saja dan dikirim ke suatu tempat. Di mana sekarang laporan2 itu ? Minggu
lalu saya berdiskusi dengan sebuah perusahaan minyak yang "ngotot" masih
ingin mengerjakan Barito Basin dan upper Kutei Basin, dan mereka bilang
akan mengejar laporan itu ke Shell di Belanda. Nah...laporan tahun
1900-1930an ternyata masih bisa berguna.

Benar Pak Slamet, yang sudah kita punyai sebaiknya dipelihara dengan
apik, daripada mengharapkan yang belum ada....

Jangan2 Pak Slamet mengoleksi kaset2 jazzy tahun 1970an yang didapat
dari pasar loak Cihapit nih ? Saya pernah dapat buku aljabar tahun 1910
di pasar loak buku Cihapit, sayang sekarang kios2 buku loak Cihapit itu
sudah tidak ada...

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: Slamet Riyadi [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, September 04, 2007 3:34 C++
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Siapa yang Harus Memperbaharui Buku "Geologi
Indonesia" ?

Pak Awang,
Kalau melihat perpustakaan di Jayapura  atau daerah lain . . . banyak
sekali
buku-buku kuno geologi peninggalan geologist Belanda, entah bagaimana
nasib
buku-buku berupa laporan, journal dsb (original) yang mulai lusuh dan
lapuk.


"Andaikata" buku-buku itu bisa dibeli oleh geologist penyayang buku,
mungkin
nasib buku-buku tersebut akan lebih aman dari keapekan, lusuh dan lapuk
-
cuma bagaimanapun itu milik perpustakaan nasional yang tidak
diperdagangkan?.

"Terbukti" kaset-kaset era 70-an dan 80-an yang mulai lapuk di Cihapit
Bandung, masih nyaring bunyinya ditangan kolektor penggemarnya. Atau
furnitur peninggalan zaman Majapahit-pun masih baik kondisinya ditangan
perorangan?!

Semoga ada yang lebih peduli dengan buku yang ada, tidak hanya peduli
untuk
memperbaruhi khasanah buku geologi.

p.s.: hal yang klasik, anggaran pemeliharaan tidak cukup?!

Salam,
SR


On 9/4/07, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> R.W. van Bemmelen datang ke Indonesia menjelang tahun 1930, bertugas
di
> Dienst van Het Mijnwezen (Dinas Pertambangan) di Bandung, diberi tugas
> utama mengamati beberapa gunungapi aktif di Jawa dan memetakan lembar
> Bandung. Tahun 1936 terbitlah peta geologi Bandung (van Bemmelen,
1936).
> Sementara itu, laporan2 dari para geoloog Belanda berdatangan terus.
> Menjelang tahun 1940, ada gelagat Indonesia mau merdeka, ada pikiran
> dari para petinggi Dinas Pertambangan di Bandung dan para pengawasnya
di
> Jakarta dan Holland agar segera dibuat laporan tentang geologi
Indonesia
> hasil pekerjaan Belanda selama hampir 100 tahun di Indonesia.
> Penyelidikan geologi di Indonesia dimulai tahun 1850. Sampai menjelang
> tahun 1940 itu katanya ada sekitar 6000 laporan dan artikel geologi
> tentang Indonesia yang diterbitkan oleh Dinas Pertambangan maupun
dimuat
> di majalah2 ilmu pengetahuan alam saat itu. Sebanyak itulah yang mesti
> dipilih2, diringkas, ditelaah, dan dikompilasi.
>
> delete--------
>

----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION:
228 papers have been accepted to be presented;
send the extended-abstract or full paper
by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and 
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke