Abah, Info lengkap tentang JCB sudah di-posting Pak Maryanto, terima kasih Mas.
Soal Pulau Muria. Geografi Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah zaman Erlangga pada abad ke-11 sedikit berbeda dengan kondisinya sekarang. Saat itu, Bengawan Solo masih bermuara di depan Madura, bukan di Ujung Pangkah seperti sekarang (kalau saja masih seperti pada zaman Erlangga, maka teman2 Amerada Hess tak akan sebanyak sekarang mengeluarkan dana buat survey seismik transisi dan mendatangkan barge buat mengebor sumur2nya di Lapangan Ujung Pangkah), Tulungagung masih berupa rawa2, juga Wringinsapta (barat Mojokerto)dan muara Kali Brantas masih penuh rawa. Di Jawa Tengah utara ada Pulau Muryo dan ada Selat Muryo tempat Kali Lusi dan Kali Tuntang bermuara. Kerajaan Demak abad ke-16, setelah 500 tahun sejak zaman Erlangga. Selat Muryo telah banyak tertutup oleh sedimentasi dari Kali Lusi dan Tuntang yang membuang lumpurnya di celah sempit laut di selatan Pulau Muryo. Ahli sejarah Indonesia masa lalu, Rd. Moh Ali (buku teks sejarahnya mungkin dipakai Abah saat sekolah menengah dulu - saya hanya mendapatkannya dari pedagang buku bekas) pernah menulis dalam buku "Peranan Bangsa Indonesia dalam Sejarah Asia Tenggara" (Ali, 1963) sebagai berikut. Pada suatu peristiwa Raden Patah diperintahkan oleh gurunya yaitu Sunan Ngampel agar merantau ke barat dan bermukim di sebuah tempat yang terlindung oleh gelagah wangi. Saat itu, Raden Patah masih sebagai seorang bangsawan Majapahit. Dalam perantauannya, Raden Patah sampai ke daerah rawa di tepi selatan Pulau Muryo, yaitu rawa-rawa besar yang menutup laut atau lebih tepat selat yang terdapat di antara Pulau Muryo dan daratan Jawa Tengah. Di situlah ditemukan gelagah wangi dan rawa, kemudian nama itu berubah menjadi Demak sampai sekarang. Buku lain, "Negara Krtagama" (Slametmuljana, 1979) menguatkan tulisan Moh Ali, ahli sejarah ini menulis bahwa Raden Patah membuka hutan di Glagahwangi dan menjadikannya dukuh baru bernama Bintara, maka Raja Demak pertama ini suka disebut juga Sultan Bintara. Dulunya Demak terletak di tepi laut, tetapi sekarang letaknya dari Laut Jawa sekitar 30 km. Ini disokong oleh pendapat mahaguru sejarah Belanda De Graaf dan Pigeaud dalam bukunya "De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java" (Martinus Nijhoff, 1974) yang menulis : letak Demak cukup menguntungkan bagi kegiatan perdagangan maupun pertanian. Selat yang memisahkan Jawa Tengah dari Pulau Muryo pada masa itu cukup lebar dan dapat dilayari dengan leluasa, sehingga dari Semarang melalui Demak, perahu dapat berlayar sampai Rembang, baru sejak abad ke-17 Selat Muryo tak dapat dipakai lagi sepanjang tahun. Dalam abad ke-17, khususnya pada musim penghujan, perahu2 kecil dapat berlayar dari Japara menuju Pati yang terletak di tepi Kali Juwana. Pada tahun 1657 tercatat dalam sejarah bahwa Tumenggung Pati mengumumkan bahwa ia bermaksud memerintahkan menggali terusan yang menghubungkan Demak dengan Pati, sehingga Juwana dapat dijadikan pusat perniagaan kambali. Perhubungan Demak dengan pedalaman Jawa Tengah sendiri adalah melalui Kali Serang, yang muaranya di antara Demak dan Jepara. Sampai akhir abad ke-18, Sungai Serang dapat dilayari dengan kapal-kapal kecil sampai ke suatu pedalaman bernama Godong. Mata air Serang ada di lereng gunung Merbabu, ada juga yang di pegunungan Kendeng Tengah. Di sebelah selatan pegunungan ini terbentanglah bentang alam Pengging (sebelah timur Boyolali) dan Pajang (sekitar Kartasura). Nah, wilayah sekitar Boyolali ini kemudian akan berperan dalam episode sejarah pasca Demak, zaman Jaka Tingkir, keturunan Majapahit juga. Sedimentasi Selat Muria (Muryo) mudah dilihat dari foto2 udara dan satelit; tetapi catatan2 sejarah membuktikannya. Zaman Plistosen, selat dan rawa2 di sekitar Pulau dan Selat Muria ini menjadi tempat berkubangnya hewan2 besar mamalia sebangsa kudanil, tapir, bahkan gajah. Tahun 60-an fosil2nya mulai ditemukan, bahkan minggu lalu pun masih terus ditemukan oleh para ahli paleontologi seperti Pak Zaim maupun para ahli arkeologi dari balai2 arkeologi di Jawa. Patiayam antara lain daerah penemuan di wilayah ini, dan sisa hominids pun pernah ditemukan Pak Zaim di sini. Salam, awang -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, November 21, 2007 10:20 C++ To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Gagal Visa !! Awang "Pulau Muria" ????? Apa pula gerangan ???? Ngomong ngomong JCB - 2007 , kok belum ada komentar ya ??? Masa yang tua duluan yang ngomong ???? Si-Abah _______________________________________________________________________ ---------------------------------------------------------------------------- JOINT CONVENTION BALI 2007 The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

