Judul subyek di atas memang provokatif, tetapi itu yang dikemukakan oleh sebuah 
artikel baru yang dimuat di the Geophysical Research Letters edisi 29 Januari 
2008. Artikel ini didasarkan kepada data terbaru yang dikirimkan dari wahana 
angkasa luar Cassini (NASA) yang sedang mengeksplorasi bulan Saturnus berwarna 
jingga : Titan. Studi atas penemuan Cassini ini dipimpin oleh Ralph Lorenz dari 
Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory.

"Permukaan Titan ditutupi oleh materi karbon, mirip pabrik zat kimia organik 
berukuran raksasa", ujar Lorenz. "Cadangan karbon yang luar biasa ini merupakan 
jendela yang penting untuk menatap ke sejarah geologi dan iklim Titan."

Pada temperatur -179 C, Titan merupakan bulan raksasa yang sangat dingin. 
Daripada air, hidrokarbon cair dalam bentuk metana dan etana hadir di permukaan 
satelit Saturnus ini, dan zat bernama "tholin" menyusun "bukit-bukit pasir" 
(dunes)-nya. Istilah "tholin" digunakan oleh almarhum Carl Sagan, astronom 
terkenal, untuk menyebut molekul organik kompleks pada kimia pre-biotik (asal 
mula kehidupan)

Wahana angkasa luar Cassini telah memetakan sekitar 20 % permukaan Titan 
menggunakan radar. Beberapa ratus danau dan laut telah teramati, bukan berisi 
air tetapi berisi hidrokarbon cair yang kalau dijumlahkan cadangannya melebihi 
semua cadangan lapangan-lapangan migas di Bumi. Bukit-bukit pasirnya yang 
berwarna gelap dan tersebar sepanjang equator Titan mengandung volume zat 
organik yang kalau dihitung jumlahnya ratusan kali lebih besar daripada 
cadangan batubara di Bumi.

Ada lusinan danau metana dan etana di Titan yang masing-masing mempunyai volume 
yang sama dengan seluruh cadangan terbukti gas alam di Bumi (130 milyar ton).  
Semua danau yang teramati ini didasarkan kepada data di wilayah kutub utara 
Titan. Bagaimana wilayah kutub selatannya belum diketahui dengan pasti sebab 
Cassini baru melintasinya sekali dan hanya nampak dua danau kecil.

Para ilmuwan memperkirakan kedalaman danau dengan membuat beberapa asumsi umum 
berdasarkan danau2 di Bumi. Mereka menggunakan luas dan kedalaman rata-rata 
danau di Bumi sambil memperhitungkan topografi di sekitarnya seperti 
pegunungan. Di Bumi, kedalaman danau seringkali 10 kali lebih kurang daripada 
ketinggian topografi di sekitarnya. Di citra radar Cassini itu, semakin gelap 
warna danau semakin dalam.

Tetapi, bila semua cairan yang teramati di Titan ini adalah metana, maka ia 
juga akan menyebabkan greenhouse effect yang hebat. Para ilmuwan memperkirakan 
bahwa keberadaan danau metana di Titan ini hanya akan bertahan beberapa juta 
tahun karena ketika metana menguap ke atmosfer Titan, ia akan segera terurai, 
lalu lepas ke luar angkasa Titan. Bila metana ini telah habis, maka Titan akan 
menjadi jauh lebih dingin. Para ilmuwan percaya bahwa metana ini masuk ke 
atmosfer melalui mekanisme methane venting cryovolcanic eruptions - sebuah 
letusan volkanisme dalam temperatur di bawah titik beku di Bumi yang tentu saja 
tidak pernah terjadi di Bumi.

Misi Cassini berrikutnya adalah terbang mendekati Titan pada 22 Februari Jumat 
ini, instrumen radarnya akan mengamati dengan detail calon tempat pendaratan 
Huygens probe yang akan berjalan2 di permukaan Titan mengamati dengan detail 
satelit ini sambil melakukan ground-check atas citra radar yang telah 
diperolehnya.

Misi Cassini-Huygens merupakan proyek kerja sama antara NASA, ESA (Lembaga 
Antariksa Eropa) dan Lembaga Antariksa Italia. JPL -Jet Propulsion Laboratory, 
yang merupakan sebuah divisi di California Institute of Technology di Pasadena, 
melakukan pengelolaan dan pemantauan misi ini untuk Direktorat Misi Keilmuan 
NASA di Washington. Wahana pengorbit Cassini dirancang, dikembangkan, dan 
dibuat di JPL. Instrumen radarnya dibangun oleh JPL dan Lembaga Antariksa 
Italia, bekerja sama dengan banyak anggota tim dari negara2 Amerika Serikat dan 
Eropa.

Demikian sekilas informasi terbaru.

Salam,
awang




Kirim email ke