Pak Awang,

Waktu membaca berita ini minggu kemarin, saya teringat dengan teorinya
Mendeleev tentang asal usul hydrocarbon yang dibilangnya dari kerak bumi
atau kalo kasarnya dia tidak percaya kalo hidrokarbon berasal dari
organik. Dia percaya kalo di dalam bumi ada karbon deposit dan begitu
keluar ke permukaan serta bereaksi dengan unsur2 kimia lainnya yang ada
dalam perjalanan menuju permukaan bumi bisa menghasilkan hidrokarbon.
Tidak seperti Lomonosov yang bilang bahwa hidrokarbon asalnya dari
organik dan sampai sekarang teorinya masih dipercaya orang karena lebih
mudah dicerna. Tapi ada beberapa tempat di dunia ini yang menunjukkan
bahwa ada kemungkinan hidrokarbon tidak berasal dari organik seperti
halnya di bulan Saturnus ini. Salah satu contohnya ada di plateau basalt
di Syria. Nah kira2 pendapatnya Mendeleev ini masih bisa diterima?
Terlebih-lebih di planet seberang ternyata ada indikasi ini.

-doddy-

-----Original Message-----
From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, 19 February, 2008 12:47 PM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Titan, Saturnus : Lebih Besar dari Semua Cadangan
Migas dan Batubara di Bumi

 

Judul subyek di atas memang provokatif, tetapi itu yang dikemukakan oleh
sebuah artikel baru yang dimuat di the Geophysical Research Letters
edisi 29 Januari 2008. Artikel ini didasarkan kepada data terbaru yang
dikirimkan dari wahana angkasa luar Cassini (NASA) yang sedang
mengeksplorasi bulan Saturnus berwarna jingga : Titan. Studi atas
penemuan Cassini ini dipimpin oleh Ralph Lorenz dari Johns Hopkins
University Applied Physics Laboratory.

 

"Permukaan Titan ditutupi oleh materi karbon, mirip pabrik zat kimia
organik berukuran raksasa", ujar Lorenz. "Cadangan karbon yang luar
biasa ini merupakan jendela yang penting untuk menatap ke sejarah
geologi dan iklim Titan."

 

Pada temperatur -179 C, Titan merupakan bulan raksasa yang sangat
dingin. Daripada air, hidrokarbon cair dalam bentuk metana dan etana
hadir di permukaan satelit Saturnus ini, dan zat bernama "tholin"
menyusun "bukit-bukit pasir" (dunes)-nya. Istilah "tholin" digunakan
oleh almarhum Carl Sagan, astronom terkenal, untuk menyebut molekul
organik kompleks pada kimia pre-biotik (asal mula kehidupan)

 

Wahana angkasa luar Cassini telah memetakan sekitar 20 % permukaan Titan
menggunakan radar. Beberapa ratus danau dan laut telah teramati, bukan
berisi air tetapi berisi hidrokarbon cair yang kalau dijumlahkan
cadangannya melebihi semua cadangan lapangan-lapangan migas di Bumi.
Bukit-bukit pasirnya yang berwarna gelap dan tersebar sepanjang equator
Titan mengandung volume zat organik yang kalau dihitung jumlahnya
ratusan kali lebih besar daripada cadangan batubara di Bumi.

 

Ada lusinan danau metana dan etana di Titan yang masing-masing mempunyai
volume yang sama dengan seluruh cadangan terbukti gas alam di Bumi (130
milyar ton).  Semua danau yang teramati ini didasarkan kepada data di
wilayah kutub utara Titan. Bagaimana wilayah kutub selatannya belum
diketahui dengan pasti sebab Cassini baru melintasinya sekali dan hanya
nampak dua danau kecil.

 

Para ilmuwan memperkirakan kedalaman danau dengan membuat beberapa
asumsi umum berdasarkan danau2 di Bumi. Mereka menggunakan luas dan
kedalaman rata-rata danau di Bumi sambil memperhitungkan topografi di
sekitarnya seperti pegunungan. Di Bumi, kedalaman danau seringkali 10
kali lebih kurang daripada ketinggian topografi di sekitarnya. Di citra
radar Cassini itu, semakin gelap warna danau semakin dalam.

 

Tetapi, bila semua cairan yang teramati di Titan ini adalah metana, maka
ia juga akan menyebabkan greenhouse effect yang hebat. Para ilmuwan
memperkirakan bahwa keberadaan danau metana di Titan ini hanya akan
bertahan beberapa juta tahun karena ketika metana menguap ke atmosfer
Titan, ia akan segera terurai, lalu lepas ke luar angkasa Titan. Bila
metana ini telah habis, maka Titan akan menjadi jauh lebih dingin. Para
ilmuwan percaya bahwa metana ini masuk ke atmosfer melalui mekanisme
methane venting cryovolcanic eruptions - sebuah letusan volkanisme dalam
temperatur di bawah titik beku di Bumi yang tentu saja tidak pernah
terjadi di Bumi.

 

Misi Cassini berrikutnya adalah terbang mendekati Titan pada 22 Februari
Jumat ini, instrumen radarnya akan mengamati dengan detail calon tempat
pendaratan Huygens probe yang akan berjalan2 di permukaan Titan
mengamati dengan detail satelit ini sambil melakukan ground-check atas
citra radar yang telah diperolehnya.

 

Misi Cassini-Huygens merupakan proyek kerja sama antara NASA, ESA
(Lembaga Antariksa Eropa) dan Lembaga Antariksa Italia. JPL -Jet
Propulsion Laboratory, yang merupakan sebuah divisi di California
Institute of Technology di Pasadena, melakukan pengelolaan dan
pemantauan misi ini untuk Direktorat Misi Keilmuan NASA di Washington.
Wahana pengorbit Cassini dirancang, dikembangkan, dan dibuat di JPL.
Instrumen radarnya dibangun oleh JPL dan Lembaga Antariksa Italia,
bekerja sama dengan banyak anggota tim dari negara2 Amerika Serikat dan
Eropa.

 

Demikian sekilas informasi terbaru.

 

Salam,

awang

 

 

 

 

Kirim email ke